Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
N2=Istriku Yang Hilang >>> Malam Yang Panjang


Warning : Area 17+, bocil harap menepi dan dilarang baca


[Hallo juga sayang. Mas sudah mau pulang! Tapi ini masih dalam perjalanan, sebentar lagi sudah sampai rumah, tunggu aja! Kenapa, sudah rindu ya?]


Cadaannya mencoba merayu.


[Bukan gitu, Mas. Ini sudah begitu larut malam, jadi aku begitu mencemaskanmu. Itu saja sih]


[Iya ... iya, mas tadi cuma bercanda. Ini sudah sampai di tempat parkiran apartemen]


[Oh ya sudah, aku akan menyambutmu dengan penuh kejutan kemesraan]


[Wah, benarkah itu? Jadi ngak sabar ingin segera sampai rumah. Ya sudah, kamu tutup teleponnya, mas sekarang sudah naik lif. Assalammualaikum]


[Oke, mas. Walaikumsalam]


Rasa panas dingin kini menyelimutiku, saat detik-detik ingin menyambut kedatangannya.


Ceklek, suara pintu telah terbuka.


"Ana ... hallo, Ana! Kenapa gelap sekali?" tanyanya saat lampu sengaja kumatikan.


"Ana ... Ana, sayang. Come here!" lirih berucap dalam kebingungan.


Klik, saklar lampu kuhidupkan.


"Ten ... ten, suprise. Dor ... dor," tuturku dengan memecahkan balon.



"Ya ampun, sayank. Apaan ini? Kapan kamu menghias ini!" Kekagumannya bertanya.


Rumah kami kini sudah tersulap, dengan pernak-pernik hiasan ulang tahun.


"Ada acara apaan sih, sayang ini?."


"Masak Mas lupa sih!"


"Hhh, entah. Jadi orang pelupa sekarang."



"Berarti kamu benar-benar keterlaluan, sudah melupakan hari terpenting kita," Kekesalanku berucap.


"Ya maaf. Mas benar lupa ini hari apa?" jawabnya.


"Ini adalah hari universsary pernikahan kita."


"Wah, kamu benar-benar mengingatnya, setelah sekian tahun kita terpisah."


"Tentu dong, Mas. Ini adalah moment hari sejarah pernikahan. Ya, harus diingat."



"Iya, maafkan Masmu yang pelupa ini."


"Udah lupakan itu semua, kita tiup lilin saja," ajakku untuk mendekati kue, yang sudah terjejer rapi di atas meja ruang tamu.


"Nah, sekarang berdoalah, Mas! Apa yang menjadi permintaan kamu," ungkapku menyuruh.


"Kamu saja yang memimpin doa," balik suruhnya.


"Baiklah, ayo kita mulai."


Tangan sudah menyalakan lilin.


"Ya Allah, jadikanlah pernikahan kami langgeng sampai maut memisahkan kami, dan jangan buat kami dalam dunia perpisahan lagi. Jika suatu saat terjadi badai dalam rumah tangga kami, selesaikan urusan kami itu dengan kemudahan, serta jauhkanlah penghalang-penghalang yang membuat cinta kami bisa goyah. Sehatkanlah suamiku, lancarkanlah rezekinya, dan dewasakanlah dia," ucapku dalam doa.


"Amin ... amin," timpal Mas Adit.l mendengarkan secara khidmat.


"Aiiich, wah ... wah, yang terakhir sangat-sangat menyinggungku nih!" cetusnya tak suka.


"Memang kenapa? Mas Adit memang sudah dewasa, tapi kelakuannya seperti anak kecil, yang selalu manjanya minta ampun." Beberku menguak semua tingkahnya.


"Hehehehe, 'kan gak pa-pa manja sama istri sendiri, dari pada kepada orang lain" sambungnya cegegesan.


"Ooh ya, ada satu lagi yang kurang dari doa kamu tadi," jelasnya saat tangannya sibuk mencicipi kue.


"Apaan lagi, Mas. Perasaan sudah semua."


Wajah mengeryit saat penasaran.


"Mempunyai anak secepatnya," Gamblangnya dia berucap.


"What?" Kekagetanku.


Mas Adit hanya terdiam terpaku, dengan kedua tangan sudah ditenggelamkan di saku, dan dia hanya bisa membuang nafas halus, kemudian menatap lekat wajahku.


"Jangan membelalakkan matamu padaku begitu," ujarnya sambil mengigit ujung bibirku.


Tangannyapun tidak luput terlingkar dipinggangku.



"Aww, sakit Mas! Memangnya kenapa kalau mata terbelalak? 'kan kaget juga atas permintaan yang tertinggal tadi," tanyaku masih dalam kesakitan.


"Gak kenapa-napa juga sih, tapi-?."


"Tapi apaan!."


"Kamu begitu manis saat melototkan mata, dan aku begitu menyukai itu!" imbuhnya berucap dalam merayu.


"Apa?" Kini mataku semakin terbelalak.


"Hihihiiii, manis dan sexy."


"Dasar laki-laki kurang kerjaan. Gombal mukiyonya keluar," jawabku tak suka.


"Hahhaha, jangan marah, Ana. Semakin kamu marah semakin tambah manis dan cantik saja nantinya, hihihihiiiii," gelak tawanya mengejek.



"Mas Adit benar-benar manusia tak berperasaan. Sukanya mengoda melulu iiiihh," Kesalku dengan menghentakkan kaki.


Tanpa memperdulikan dia, langsung saja kaki melangkah pergi untuk mencoba meninggalkannya. Rasa kesal sudah tergiang-giang gondok didalam hati, hanya orang gila bisa bercanda seperti itu, saat dia telah berhasil mengerjaiku.


"Tunggu Ana, sayang!" tariknya hingga tubuhku berbalik badan, dan langsung menubruk lekat ditubuhnya.


Semburat wajahku kini sudah memerah jambu ketika berhadap-hadapan dengannya. Mata mas Adit kian mendekat dan membulat, saat dia terus saja ingin menempelkan wajahnya, nampak iris coklatnya berkilau indah tersinari oleh terangnya lampu rumah, sekarang benar-benar perfeck sekali aura ketampanannya keluar.


"Mas!" panggilku lirih saat wajahnya kian mendekati wajahku.


Jantung sudah begitu berpacu, dan sedetik kemudian rasanya ingin sekali copot dengan detakannya sudah tak karuan lagi, sehingga yang kulakukan sekarang hanya bisa memejamkan mata secara kuat.


"Hahahahha, wajahmu kalau sedang gugup semakin lucu aja!" ia terkekeh dan menatapku gemas.


"Kamu ini ya, Mas," pekikku kesal.


Ingin rasanya kabur dari hadapannya, namun lagi dan lagi kalah telak saat dia berhasil mencegahnya dengan posisi memeluk berhadapan.


"Aku semakin mencintaimu, tahu!" bisiknya lirih.


"Tahu ah! Dasar manusia kurang kerjaan, dan yang pasti sukanya cuma jahilin orang melulu" Cemberutnya mukaku lagi.


Sekali lengah, akhirnya bisa lepas dari pelukannya.


"Hahahah. Hei, Ana ... tunggu, jangan pergi kamu, tunggu!" ucapnya yang berusaha mengejarku berjalan dibelakang.


Melangkah lebar agar dia tidak bisa menangkap.


"Mas, turunkan!" pintaku saat mas Adit berhasil menangkap dan sekarang lebih parahnya menggendong.


"Aku tidak akan melepaskanmu, kita akan membuat baby dulu, hahhahha!" ucapnya yang membuat bulu kudukku sudah bergindik ngeri dan merinding.


"Ah, lepaskan aku, Mas! Mas Adit sudah mulai gila apa!" ujarku tak suka.


"Iya aku sudah gila, yaitu gila tak tahan ingin mengendong bayi!" cerocosnya yang tanpa henti terus mengendongku, dan kini mulai memasuki kamarnya.


Braaak, pintu sudah tertutup kuat akibat tendangan kaki mas Adit.


Rambut panjang yang tergerai indah, sangat nyaman sekali saat usapan tangannya mulai membelai rambut dengan lembutnya, yaitu akibat sapuan jari-jemarinya.


Debaran perasaan hati yang tadi sempat hilang, kini kian kacau berdegub kencang lagi, yang sudah tak tentu arah pompaannya, sebab tatapan netranya terus saja memandangi wajahku penuh kemesraan, dan jelas sekali ada guratan kebahagiaan disana, sehingga tanpa ragu lagi mas Adit sudah mengecup bibirku.


Aku merasa tangannya kini mulai merambat ke baju tidurku, yang tanpa rasa malu lagi mas Adit semakin lama semakin menguatkan tautan bibirnya padaku. Dan sekarang aku hanya bisa memasang wajah yang tak bisa berbuat apa-apa lagi, selain kata-kata pasrah saat dia kini semakin mencumbuku dengan liar.


Muka kini sudah bringsut sayu-sayu akibat rasa malu yang mulai mendera, dan hanya bisa tersenyum kecut, saat aksinya yang baru pertama kali dilakukan untukku.


Aku paham sekali bahwa mas Adit sekarang benar-benar kehilangan kontrol, atas terlenanya keharuman tubuhku, yaitu sebuah rasa gejolak yang sudah sampai ubun-ubun yang kemungkinan tak bisa dia kontrol lagi, sehingga sekarang aku benar-benar kehilangan mahkota yang selama ini terjaga, dan dia begitu tak sabar untuk menjadikanku miliknya.


Kata orang malam pertama adalah surga dunia yang nikmat, tapi ternyata semua itu telah terbanding terbalik, yaitu hanya ada rasa kesakitan yang telah kurasakan. Sekuat tenaga aku menahan agar tidak berteriak dan mengeluh, sehingga tanpa terasa sudah ada cakaran kuku terdarat di punggungnya, yang diiringi dengan kelakuanku mengigit bibir sendiri, agar mulut tak menggeluarkan suara.


Semua rasa sudah tercampur menjadi satu, yaitu antara rasa syukur dan terharu tengah menyelimuti diriku, bahkan bulir-bulir embun sempat terasa menetes di sudut pelupuk mata, sebab kini semua telah kuserahkan bersama orang terkasih, walau rasa malu dan canggung sempat menghampiriku.


Kini sudah kuberanikan diri untuk menatap wajahnya secara seksama, yaitu menatap laki-laki yang sudah membuatku kehilangan semua yang sempat terjaga.


"Terima kasih, Mas!" suaraku lirih, yang semakin mengeratkan pelukannya padaku.