Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
Kemarahan pada mama


Satu persatu akhirnya kini terkuak, saat para mantan bos bekerja sudah kupaksa untuk mengakuinya. Dan mereka semua telah berkata sama yaitu penyesalan dan meminta maaf karena sudah membuang model berbakat sepertiku.


Kesalahan orang tua dimasa sekarang, kini berdampak fatal dalam hidup, saat sudah beraninya telah mengatur rencana terselubung membatalkan semua pekerjaanku.


Braak, dengan kuat pintu telah kubuka kasar, saat bertandang kerumah orang tua.


"Wah, anak mama tumben-tumbennya sekarang bertandang terus kesini," ucap ramah mama menyambut, yang memegang pergelangan tanganku.


Dengan kasar langsung kubuang sentuhan beliau, sebab rasa amarah dalam hati kini begitu kuat dipuncak ubun-ubun.


"Jangan sentuh aku," ucapku tak sudi.


"Kamu kenapa, sayang. Kok, kelihatan tak suka sekali melihat mama kandungmu ini?" Keanehan beliau bertanya.


"Tak usah basa-basi dan banyak drama lagi, ma. Katakan sejujurnya pada Chris sekarang, apa yang kamu lakukan pada kerjaanku kemarin? Kenapa kamu bisa melakukan hal kejam begitu diluar dugaan? Kenapa mama selalu mencampuri urusan kehidupan Chris? Kenapa ... kenapa, ma?" lengkingan suara bernada tinggi akibat emosi.


"Apa maksud kamu, nak?" tanya beliau pura-pura tak mengerti.


"Tidak usah berpura-pura lagi, ma. Chris sudah tahu semua, atas pekerjaanku yang kemarin kamu batalkan, dan semua perusahaan tempat berkerja bosnya sudah kamu ancam dengan semua kekejaman dan sumpalan uang kamu," ucapku memperjelas.


"Oh, masalah itu. Biasalah, mama 'kan sayang kamu, jadi mama melakukan itu semua demi kebaikan dirimu," jelas beliau santai tanpa ada rasa bersalah sama sekali.


"Sayang? Kebaikan? Buls*t, tentang itu semua. Kalau memang sayang, pasti tak akan membuat anaknya ini kesusahan dalam mencari makan, dan sebagai orangtua yang baik seharusnya mendukung penuh atas pekerjaan pilihan anak, bukan seperti kamu yang kejam dan tak berperasaan itu," jawabku menghina.


"Diam kamu. Tahu apa kamu, tentang urusan sayang dan kebaikan? Kamu masih belum dewasa untuk mengerti itu semua. Yang jelas mama melakukan itu, sebab ingin kamu kembali lagi pada kami seperti dulu-dulu," bantahan ucap beliau tak mau kalah.


"Itu lagi ... itu lagi, apa tidak ada alasan yang lebih tepat untuk Chris tak selalu dikekang oleh kalian. Aku benar-benar muak atas sikap kalian, yang lama-lama semakin seperti orang yang tak waras melakukan hal apapun demi kebahagiaanku, yang belum tentu diri ini senang atas apa yang kalian lakukan. Aku sungguh kecewa pada mama, dan pastinya akan mengingat selamanya atas apa yang mama lakukan," jawabku mengeluarkan uneg-uneg.


"Terserah apa yang kau katakan sekarang, yang jelas mama tetap ingin kamu kembali pada kami. Oh ya, kamu sudah ada perjanjian sama kami diatas kertas hitam putih, jadi jangan lupakan itu kalau kamu ingin melihat si Karin itu baik-baik saja," ucapan mama yang begitu tega.


Prang, sebuah guci sudah kulempar segera, sebab tak tahan melihat dan mendengar kelakuan mama kandung yang semakin menekanku, untuk bisa menuruti semua keinginan beliau. Mama nampak terkejut apa yang barusan kulakukan, hingga wajahnya berubah berkerut seperti ketakutan. Selama ini, diriku tak pernah melempar barang walau emosi telah datang mengusai, namun kali ini amarah yang tak terkontrol telah berani melempar barang itu didepan beliau.


"Aku tak tahu kenapa mama begitu tega padaku? Sudah sekian tahun lamanya diri ini bersusah payah untuk menjalankan pekerjaan yang aku sukai, tapi sekarang apa? Kamu telah menghancurkannya tanpa memperdulikan perasaan anak kamu ini terluka, kecewa atau sakit hati sekalipun. Dalam pikiran mama hanya disiplin, uang, dihormati dan punya segalanya. Apakah mama sampai saat ini tak sadar bahwa semua itu tak abadi, tapi kasih sayangkulah yang akan terus abadi jika kalian memperlakukan dengan baik. Namun sekarang semua telah hancur berkeping-keping atas rasa itu, karena sakit hati kini telah bersemayam dalam sanubari jiwa untuk tak mau menyayangi kamu lagi," jelasku pilu agar mama kandung sadar atas apa yang sudah beliau lakukan.


"Bukan seperti yang kamu tuduhkan itu, Chris. Mama kemarin memang bermaksud agar kamu kembali ingat atas keluarga dan dari mana kamu berasal, namun semua jadi berantakan begini akibat ulah kamu sendiri, sebab terlalu mempertahankan wanita yang bernama Karin itu," jelas beliau yang membingungkan.


"Jangan bawa-bawa nama Karin tentang masalah keluarga kita, sebab dia tak ada hubungan sama sekali kepada kita. Ooh, aku baru sadar sekarang, apakah mama juga yang kemarin memecat pekerjaan pak Samsul, hah?" tanyaku kembali emosi.


Terlihat wajah mama hanya diam tak menimpali atas pertanyaanku, hingga dari inipun bisa menebak atas ekspresi beliau.


"Wah ... wah, aku benar-bebar tak menyangka jika mama sudah diluar batas melakukan kenekatan itu. Masalah keluarga kita tak ada kaitannya sama keluarga Karin sama sekali, melainkan sikap mama yang keterlaluan itu. Bukannya mama sadar akan hal ini, setelah Chris kabur dari rumah, tapi malah menjadi-jadi seperti bukan diri mama yang selalu menyayangiku diwaktu kecil dulu. Pokoknya aku sekarang begitu kecewa sekali sama mama. Maafkan aku jika ada kata-kata yang salah sama kalian, yang jelas selamanya dalam hati Chris kalian masih orangtua, yang membesarkanku dengan kasih sayang. Aku akan tetap menepati janji itu untuk pergi ke luar negeri, tapi tolong dan tolong jangan pernah usik kehidupan Karin lagi, karena jika terjadi aku akan lebih mengila lagi membenci mama," Kemarahanku berbicara yang kini meninggalkan beliau, yang masih terbengong atas ucapan kebenaran.


Jangan biarkan menjadi suatu lingkaran keburukan yang terus berlanjut.


Maka, jika sekarang kita mempunyai sakit hati, prasangka buruk, dendam dan kekecewaan terhadap orang tua kita, kalau bisa maafkanlah mereka.


Lapangkanlah hati kita.


Kekecewaan memang terasa berat tak bisa memaafkan, tapi sebagai anak yang berbakti, mau tak mau harus berlapang dada atas keagungan rasa maaf.


Kita punya pilihan, saat tersadar dengan suatu kesalahan.


Kita mau meneruskan kesalahan tersebut atau kita mau menyudahinya, dan memulai babak baru.


Namun yakinlah sebanyak apapun kesalahan mereka saat mendidik kita.


Tetaplah hutang budi kita, masih lebih banyak yang tak akan pernah bisa terbayar sampai sedewasa ini, yaitu saat kita tidak menyalahkan siapapun atas kondisi kita yang sekarang.


Perbanyak selalu bersyukur, perbanyak beri pintu kemaafan, fokus akan kebahagiaan keluarga. Allah sudah karuniakan orang tua yang nyaris sempurna, amat banyak kebaikan dan kasih sayangnya, amat banyak memberi dan selalu memaafkan dan memaklumi kekurangan kita sebagai anak.


"Maafkan aku, ma. Bukan maksud Chris menjadi anak yang tak berbakti pada kalian, tapi ulah kalian yang selalu membuatku terpuruk, hingga menimbulkan gejolak berontak kepada kalian. Rasa sakit hati ini kuusahakan akan terpendam didasar hati yang terdalam, biar kasih cintaku pada kalian tetap terjaga. Maaf ... maafkan aku, ma!" guman hati merasa bersalah sudah marah-marah, saat tubuh tak bergerak membisu dalam mobil.


Kepala mencoba berpikir, memutar atas apa yang baru kami lakukan. Sebenarnya apa diriku yang salah ataukah orangtua? Namun diri ini kembali tersadar, mereka melakukan itu pasti ada alasan yang pasti, agar diri ini kembali dalam pelukan kehangatan kerinduan mereka. Tapi bukan itulah cara agar diri ini kembali, namun yang kuinginkan adalah orangtua dapat menurunkan ego, sifat keras, selalu mengekang, dan terlalu over protektif mengatur segala kehidupanku.


*******


Hari berganti minggu terus saja berjalan, hingga pengobatan baby Naya terus bertahap dengan jalan operasi dulu. Begitu tak teganya diri ini melihat, saat jarum demi jarum terus saja menancap kekulit tubuh mungilnya. Namun perjuangan untuk kembali sembuh, patut dihargai memberikan kasih sayang lebih jika nanti dia sembuh dan tumbuh dewasa dengan baik.


"Ada apa, chris? Kuperhatikan kamu selalu murung dan banyak diam akhir-akhir ini? Apa ada masalah yang sedang kau pendam?" tanya Karin sudah khawatir.


"Enggak, Karin. Aku baik-baik saja. Mungkin hanya perasaan kamu saja," jawabku serileks mungkin.


"Tapi--? Beneran kamu baik-baik saja 'kan?" Keraguannya tak percaya.


"Iya, Karin. Oh ya, ada keinginan yang harus kusampaikan sama kamu, jadi dengarkan baik-baik apa yang akan kubicarakan ini," jelasku.


"Bicaralah. Kelihatannya kamu akan mengatakan hal yang serius amat, memang apa?" kecurigaannya kembali.


"Aku tahu kamu sangat membutuhkanku saat ini, tapi selamanya kita tak bisa tetap saling mengenggam erat tangan seperti ini, sebab kemungkinan nanti diriku diharuskan dituntut pekerjaan untuk menyambung hidup. Kamu jaga baby Naya dengan baik, jaga kesehatan kamu juga. Walau aku tak ada disisi kamu, cinta dan kasih sayangku akan tetap utuh hanya untukmu, jadi jangan berpaling pindah kelain hati selama aku tak ada, paham!" jelasku pilu dengan mengenggam erat tangan halusnya.


"Kamu kok ngomong begini? Memangnya kamu akan meninggalkan kami dengan pergi jauh sekali 'kah?" imbuh Karin mengajukan pertanyaan.


"Aku tak tahu sejauh apa kita akan berpisah, yang jelas mama sudah mempersiapkan segalanya untuk masa depan," jawabku dengan mata mulai memerah.


"Baiklah, Chris. Tidak apa-apa. Pasti orang tua memberikan jalan yang terbaik, untuk kamu lebih matang lagi dalam mengarungi hidup ini. Jangan khawatirkan kami, pasti aku akan selalu menjaga baby Naya dengan baik," ujar Karin menyetujui.


"Terima kasih, Karin. Inilah yang kusuka darimu, saat selalu sabar dan menurut saja atas rasa yang tak mengenakkan dan melelahkan ini. Perpisahan yang akan kita jalani ini, mungkin sebagai pelajaran bagi kita bahwa cinta harus tetap bertahan, saling menjaga kasih sayang walau jalan LDR kita tempuh," tuturku kini benar-benar menitikkan airmata.


"Iya, Chris. Tak payah sesedih ini, sebab ini hanya perpisahan antara jarak dan waktu saja bukan perpisahan ajal, jadi jangan sedih lagi, ok! Kamu baik-baik juga disana dan selalu jaga kesehatan. Kami berdua pasti akan selelu merindukan kehadiran kamu. Aku akan sabar menanti dengan tetap menjaga cinta ini," Penjelasan Karin setuju.


"Terima kasih, Karin."


Kami telah terhayut oleh senyuman sedih dalam tak ketidakrelaan, yang sama-sama memperkuat pelukan. Semuanya telah kuceritakan pada Karin, dan ternyata dia baik-baik saja akan hal itu, tak seperti atas bayanganku yang aneh-aneh. Semoga saja perasaan ini masih kuat dan tetap terjalin baik atas cinta yang terhalang oleh ruang dan waktu.