
Klek ... klek, ganggang pintu kupegang untuk kuputar knopnya, yang berusaha agar bisa terbuka.
"Aaah ... aaah, sial ... sial. Kenapa aku bisa kelupaan, bahwa kunci tadi kumasukkan dikantong baju kemeja mas Adit. Ahh ... aaah, benar-benar sial, ini semua gara-gara si janda sexy itu," gerutuku sangat kesal sekali.
"Hhhh, apa yang harus kulakukan sekarang? Kamar terkunci, ngak mungkin aku kembali ke restoran meminta kunci. Heeh ... huuf, rasanya kok malas sekali jika ketemu sama perempuan itu lagi," Tarikan nafasku yang tak tahu harus bagaimana.
Langkah kembali menuruni lift, dan sekarang mencoba berusaha keluar dari hotel, untuk menenangkan pikiran. Rasa marah dan bosan membuatku sekarang nekat pergi keluar, tanpa berpamitan lagi sama amas Adit.
"Aah, biarkan saja aku tak berpamitan, toh sekarang dia lebih mementingkan si janda itu, daripada diriku istrinya sendiri," ujarku dalam hati.
Selangkah demi selangkah kaki terus berjalan menyusuri trotoar. Bunga-bunga disepanjang perjalanan telah bermekaran, dan akupun begitu senang melihatnya, sebab begitu menenangkan hati dan jiwaku sekarang ini. Kedai-kedai makanan dan minuman, telah terjejer rapi disepanjang jalan, dan kini banyak muda mudi sedang nongkrong di kafe, sebab hari ini adalah hari libur yaitu minggu.
Mata sekarang tertuju ke sebuah taman yang luas, yang mana sudah ramai canda tawa orang dewasa maupun anak-anak kecil. Aku duduk dibangku taman yang sudah disediakan, dan hanya fokus menatap semua orang yang sedang bercanda ria penuh kegembiraan. Saat melihat anak-anak kecil tertawa, rasanya hati sudah merindukan baby Aliyaku.
"Hhhhhh ... huff," Tarikan nafasku kuat, akibat airmata sedikit lagi akan menetes teringat anak.
"Sabar Ana ... sabar, masih empat hari lagi kamu akan pulang ke Indonesia, jadi sabar dulu. Nikmatilah bulan madu yang mengesalkan ini," ujarku dalam hati berbicara pada diri sendiri.
Matahari mulai meninggi, dan aku hanya bisa terduduk memperhatikan aktivitas orang-orang dinegara yang baru kukenal. Rasa hauspun mulai terasa, dan kini tenggorokan kuraba-raba dengan tangan, sebab sudah terasa mulai kering. Mau membeli minuman, tapi malangnya lagi tak bawa uang, dan handphone sedang tertinggal berada dalam kamar.
Rasa panasnya mulai menyengat, dan akupun kini berpindah duduk di pepohonan yang rindang, sehingga bisa berteduh dan membantuku menghilangkan rasa haus. Entah sudah berapa jam diri ini ditaman, yang jelas semua orang satu-persatu kini mulai pergi.
Rasa ingin kembali ke hotelpun terasa malas sekali, dikarenakan rasa kesal dan geram masih terasa dihati.
"Aah ... apakah sekarang sebaiknya aku kembali ke hotel, ya? Pasti mas Adit sudah mencari-cari," gumanku dalam hati.
Rasa tak nyamanpun menghantui, takut-takut kalau mas Adit akan khawatir dan mencari, sehingga kini aku berencana kembali ke hotel secepatnya.
Dapat terlihat dari kejauhan diseberang jalan, ternyata mas Adit sudah mondar-mandir didepan pintu hotel.
"Waah, alamat aku akan kena semprot, nih!" ketakutanku jika mas Adit marah.
"Aah, biarkan saja dia marah, toh aku begini akibat ulahnya juga," gumanku untuk acuh tak acuh pada suami.
Netra sudah menengok ke kanan kiri, untuk melihat beberapa kendaraan, apakah masih ada yang sedang melaju apa tidak, sebab ingin segera menyebrang jalan.
Langkah sudah berjalan pelan-pelan, yang mana disaat kaki ini sudah mulai mendekati mas Adit, yang masih sibuk sama polahnya mondar-mandir melangkah ke kiri dan kanan.
"Tunggu disitu kamu!" Kekagetanku saat mas Adit sudah melihatku.
Mas Adit secepat kilat sudah melangkah menghampiriku.
"Ke sini kamu. Ayo ... cepat ke sini ... cepat!" tarik mas Adit dengan kuat, yang tiba-tiba mengambil pergelangan tanganku.
"Lepaskan dulu, Mas. Lepaskan tanganku, sakit sekali nih!" Permohonanku saat dia menyuruh ikut dengannya.
"Diam kamu. Cepetan ikut Mas sekarang!" bentaknya.
Ada alamat dapat kena semprot, tapi aku tak mau menanggapi serius sebab bisa jadi pertengkaran hebat nanti.
"Lepaskan, Mas. Malu dilihat orang!" ujarku saat semua orang sudah memperhatikan kami.
"Bisa diam ngak, sih. Jangan banyak ngeluh. Sekarang ikut."
"Adit! Ada apa ini?" sapa si janda Nola, saat suamiku sibuk menarikku.
Mas Adit hanya diam tak menanggapi ucapan si Nola, dan sekarang tetap sibuk menarikku untuk mengikuti langkahnya.
Tanpa memperdulikan permohonanku, suami semakin kuat mencekram tangan, dan kini terlihat ekpresi mukanya sudah menandakan dalam puncak kemarahan.
"Duduk kamu," ujarnya sambil membanting tanganku, sehingga tubuhpun kini ikut terhempas dan langsung membuat terduduk dikasur.
"Dari mana kamu, hah!" bentak mas Adit dengan gigi mulai gemerutuk.
Aku yang kini mulai ketakutan, hanya diam tak menanggapi pertanyaannya.
"Kenapa kamu diam? Jawab?" bentaknya dengan melengkingkan suara.
"Apa mulut kamu sudah bisu? Sampai-sampai kamu tidak bisa menjawab lagi, hah!" pekiknya marah dengan tangan sudah mengusap-usap wajahnya sendiri.
"Aku gak ke mana-mana, Mas!" jawabku sendu ingin menitikkan airmata, dikarenakan takut atas bentakkannya.
Wajahnya murka, tapi seperti menahan amarah. Sedikit tidak suka sama nada bicara.
"Bohong kamu! Kalau ngak ke mana-mana, ngapain diluaran sana tadi? Sampai-sampai kamu lama sekali tidak kembali ke hotel?" ujarnya yang masih dengan nada marah-marah.
"Sudahlah, Mas. Dijelaskan 'pun kamu tidak percaya."
"Haisst. Kemana handphone kamu? Berulang kali kuhubungi, tapi kenapa ngak dijawab-jawab!" tanyanya membentak.
Akibat suaranya yang keras disebabkan marah, akupun sampai terjingkat kejut.
"Tahu ah ... kamu itu banyak sekali bertanya! Seharusnya mas Adit itu ngaca, atas apa yang kamu lakukan padaku, apa sikapmu itu sudah betul atau enggak terhadapku. Jangan langsung main marah-marah saja, kalau ngak tahu sebab musababnya," balik kemarahanku padanya.
"Wah ... wah, kamu sekarang mulai pintar menjawab. Apa inikah yang diajarkan oleh orang tuamu, untuk tak patuh dan selalu menjawab ... menjawab bila suami sedang bertanya," ujarnya yang tak mau kalah untuk marah juga.
"Kalau kamu mau marah ... marah saja, ngak usah bawa-bawa nama orang tua. Asal kamu tahu saja, walau diriku orang miskin dan hanya dibesarkan oleh seorang ayah, aku masih punya harga diri, dan tahu apa artinya itu sopan satun. Jadi Mas Adit gak usah terlalu menguruiku, sebab akupun tahu bahwa pendidikan kamu lebih tinggi dari padaku," celotehku yang terus saja melawan ucapannya.
"Aah, bukan itu maksudnya."
"Serah, dan asal kamu tahu saja, walaupun pendidikanmu lebih tinggi dari pada diriku, tapi aku lebih mengerti yang namanya menghargai ucapan dan wanita itu bagaimana," sindirku yang kian meledakkan amarah.
Karena kesal dan tak tahan atas hinaan mas Adit, kini aku bergeser untuk berbaring dikasur, dan menutupi wajahku dengan selimut. Rasa hati yang tadi sempat gondok kesal, kini kian bertambah penuh kekesalan, dan amarahpun telah tercampur jadi satu.
Tetesan embunpun tak terelakkan untuk tak menyeruak keluar. Rasanya hati sudah sakit hati sekali, mentang-mentang dia adalah orang kaya, seenak saja menghinaku yang tak berpendidikan.
Airmata terus saja bercucuran, dan kini kasur terasa bergerak yang seperti ada orang sedang duduk, dan kemungkinan itu adalah mas Adit.
Suara tangisanku mulai pecah, jika orang bisa memahami pasti terdengar memilukan.
"Ana ... Ana?" panggilnya dengan nada lembut, tak ada intonasi tinggi lagi.
Tak ada pergerakan dan masih dalam posisi sama.
"Ana, maafkan atas ucapan Mas tadi, ya! Aku benar-benar tak sengaja mengatakan itu, sebab tadi emosi di ubun-ubun telah menguasaiku," ucapnya merasa menyesal.
Tak kupedulikan lagi suaranya, yang terpenting aku sekarang ini bisa menumpahkan segala sesak didada, dengan cara menangis sepuas-puasnya.
"Ana ... Ana, maafkan Mas, ya!" bujuknya dengan menarik-narik selimut secara pelan.
"Kumohon Ana ... maafkan aku ... maaf atas ucapan barusan," bujuknya lagi.
"Mas benar-benar minta maaf atas sikap dan uacapanku barusan, tadi itu benar-benar keceplosan tak sengaja, jadi kumohon kamu jangan menagis lagi ya ... ya!" rayunya yang kini memelukku dari belakang, yang mana aku masih bertutupkan selimut.
Berulang kali mas Adit menarik-narik selimut, dan mengoyang-goyangkan badanku agar aku keluar dari selimut, tapi semua usahanya sia-sia saja, sebab aku begitu marah tak ingin berbicara padanya lagi untuk sementara ini.
*****
Bunda dan kakak-kakak yang baik hati, author minta bantuan untuk like, komentar, rate, karena itu membuatku tetap semangat menulis. terima kasih kepada pembaca setia dan baik hati menunggu cerita saya. Semoga berkah apa yang kalian lakukan😊