Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
Tak kuasa melihatnya lamaran (Bagian 2)


Flashback bagian 2


Sudah beberapa menit berlalu, kini nampak banyak mobil mulai beriringan datang, dengan sejumlah rombongan yang lumayan nampak banyak. Mobil berhias bunga merupakan mobil calon pengantin, sudah tepat berhadapan dengan mobilku, hingga kini terlihat dari kejauhan Chris telah sumringah tersenyum bahagia, yang diiringi orangtuanya kiri kanan untuk segera masuk ke dalam rumah karin.


"Andaikan saja itu adalah aku, pasti wajahku akan sama tersenyum bahagia seperti, Chris. Kenapa aku harus menyaksikan ini, yang padahal akan membuat hati teriris sakit sekali? Oh Tuhan, terus kuatkan aku untuk menyaksikan ini. Aku sekarang benar-benar rapuh, rasanya untuk berdiri saja kakiku tak sanggup lagi untuk melangkah," ucapan dalam hati sudah menitikkan airmata.


Ragamu tak lagi dapat kugapai.


Harumnya aroma tubuhmu tak lagi bisa kuhirup.


Tangan lembutmu tak bisa lagi kusentuh.


Rambutmu yang hitam, kini tak lagi bisa kubelai.


Hanya wajahmu yang terukir dihatiku.


Tak kan pernah pudar, dan selamanya akan abadi.


Aku sangat merindukan tawamu kala itu.


Hingga aku terjatuhpun tak bisa melihat lagi.


Apakah aku memang orang yang harus tenggelam.


Dengan semua kekalahan ini, dan aku terus mencoba bertahan.


Namun aku hanya bulan yang selalu hilang dalam kegelapan.


Hingga kau tak sanggup lagi menatapnya.


Amarah ini selalu kutahan, agar kau bisa mengerti.


Namun sayangnya semua tak bisa kembali pada keadaan semula.


Dan kau pergi tinggalkan aku setelah peristiwa itu.


Kau hilang menjauhiku, dengan meninggalkan semua luka.


Semua kurindukan, namun semua sudah terlambat.


Hingga luka ... luka hatilah yang kurasakan.


Tangan hanya bersedekap didepan dada, dengan ekspresi wajah begitu sendu. Lelehan airmata tak henti-henti terus saja mengalir dipipi, hingga sesak dada begitu terasa, sampai sekedar menghirup udara tak bisa lagi.



"Aku hanya bisa menatap semua, dengan merasakan kesedihan yang terdalam ini. Semoga engkau bahagia didalam sana, Karin. Aku masih belum mengerti atas semua ini, saat kau tega melepaskan diriku. Aku paham semua atas kecerobohanku, tapi kenapa engkau tak bisa memaafkan aku kembali," guman hati yang masih sibuk mengalirkan airmata.


Kepala terasa berdenyut sakit, hingga tak mampu menyangganya lagi, dan terpaksa kini kugolekkan di setir kemudi. Entah berapa lama aku dalam keadaan ini, namun rasanya nyaman sekali dengan menutup mata, dengan maksud menghilangkan segala yang ada dipikiran sekarang.


"Awww!" Suara teriak seorang perempuan.


Sebab kaget, aku langsung bangkit dari posisi yang tak mengenakkan ini. Wajahpun dibuat lebih terkejut lagi, saat melihat Karin sedang mengendong Naya yang sedang menangis. Airmata yang masih tersisa dipipi, segera kuhapus dan mencoba menghampiri mereka.


"Ayah ... ayah!" panggil Naya yang kian mengeraskan tangisannya.


Tubuh mungilnya langsung kuambil alih, untuk segera kugendong. Dengan cara mengusap pelan bahunya, agar dia secepatnya diam.


"Sudah ...sudah, jangan menangis lagi. Ayah ada disini untuk Naya," cakapku membujuk, yang terus mengelus pelan bahunya.


Kini tubuhku mencoba berjongkok, yang masih dalam keadaan mengendong Naya saat masih tersedu-sedu menangis. Kuraba pelan kaki Karin, untuk mencoba membantunya melepas higheels yang sudah patah sebelah. Awalnya dia menolak dengan cara menarik kaki sedikit ke belakang, namun karena sudah kupegang kuat, dia tak bisa berbuat apa-apa lagi.



"Kamu seharusnya hati-hati, sebab ini adalah hari bahagia kamu. Jangan sampai semua jadi kacau, karena kesalahan kecil akibat kaki terkilir," cakapku yang sudah melepas higheels dari kaki kirinya.


"Jangan lakukan ini, kak!" tolaknya yang mungkin sudah malu.


"Tak apa! Kau sangat cantik sekali memakai kebaya itu. Aku sangat bahagia akhirnya bisa melihat kamu memakai pakaian itu, walau kau kini tak bisa menjadi milikku," ujar mulut ini yang mulai bergetar, sebab ingin sendu lagi saat mengingat semuanya.


Karin hanya bisa terdiam membisu, dengan tatapan penuh keterprangahan.


"Sekarang sudah selesai, dan kamu tak akan terluka lagi. Aku hanya bisa mendoakan kamu, agar tetap bahagia bersamanya. Selamat menempuh hidup baru, semoga acaranya tetap lancar," Do'aku mulai memerahkan netra lagi, mencoba menahan sekuat tenaga agar airmata tak menyeruak keluar.


"Naya akan kubawa, sebab aku tak tega melihat dia menangis saat menyaksikan Bundanya bersanding dengan orang lain," ucapku sedih.


Badan secepatnya kubalikkan mengarah ke mobil sendiri, sebab mencoba menghindari Karin, yang tak ingin melihatku sudah tak tahan lagi ingin segera mengeluarkan airmata. Tangan berkali-kali menghapus lelehan airmata, sambil tangan sebelah masih sibuk mengendong Naya.


...Berakhirlah sudah cerita kita...


...Setelah sekian lama bersama...


...Kau hadirkan dia dalam cerita...


...Yang hanya menyisakan luka...


...Kucoba, menahan perih yang kurasa...


...Walau ini menyakitkan...


...Jika menyakiti aku, bisa membuatmu bahagia...


...Maka lakukanlah itu, tanpamu kuyakin bisa...


...Ikhlas kumencintaimu...


...Ikhlas kukehilanganmu...


...Semoga kau bahagia dengan pilihamu itu...


...Kau bersama dia, aku besama doa...


(Band SouQy : Cinta dalam doa )