Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
Pertengkaran


Semua keinginan anak tidak bisa kutolak langsung, sebab jika tak dituruti pasti akan ngambek dan ujung-ujungnya akan berpengaruh pada kesehatan Naya.


Taman bermain adalah tujuan utama kami menuruti keinginan buah hati. Sampai waktu untuk kerjapun harus terpaksa tersisih demi dirinya.


"Bunda, terima kasih karena telah menerima ajakkan Naya untuk datang kesini," celotehnya kelihatan gembira.



"Apakah kamu senang?" tanya Kak Adrian manja.


"Iya, Ayah. Naya suka sekali. Terima kasih juga buat Ayah, yang sudah meluangkan waktu untuk Naya, agar kita bisa bersama bermain," ucapnya sudah memeluk tubuh kak Adrian erat, saat berada diatas gendongannya.


"Iya, sayang!" ucap penuh kasih sayang dari kak Adrian.


"Tapi bukankah ini keterlaluan, Nak. Ayah sama Bunda 'kan lagi sibuk bekerja?" keluhku.


"Bunda jahat. Naya cuma merindukan suasana ingin bermain sama kalian," ketus Naya tidak suka dengan wajah mulai cemberut.


"Bukan gitu, sayang. Naya boleh-boleh saja mengajak Ayah dan Bunda bermain, tapi kalau ada waktu luang saja, begitu!" cakapku mencoba memberikan pengertian padanya.


"Naya tidak mau, Bunda. Naya maunya ingin bermain seperti sekarang ini," rengeknya yang mulai sedih.


"Sudah ... sudah. Tidak apa-apa kok, Karin. Malah aku senang bisa bermain seperti ini bersama Naya," ucap Kak Adrian berusaha menegahi perdebatan kami.



"Tapi, Kak. Nanti Naya akan bertambah manja jika selalu dituruti. Aku tidak mau, jika dia terus saja merengek minta ini itu," keluhku yang masih tidak terima.


"Lihat, Ayah. Bunda sangat jahat. Naya 'kan cuma kangen sama Ayah. Naya sekarang sendirian, ketika Bunda selalu saja sibuk sama om Chris," ungkap Naya yang bikin mengelus dada.


Kak Adrian langsung melotot tidak senang ke arahku. Begitu pulak diriku yang berbalik melihat ke arahnya, karena tidak percaya atas ucapan Naya yang berani membeberkan.


"Apakah benar itu, Karin?" ketus tanya kak Adrian.


"Heh, iya Kak. Tapi bukan begitu. Mungkin Naya terlalu salah sangka menganggap dirinya sendirian, padahal aku cuma bertemu ingin menghormati Chris sebagai tunangan," jelasku.


"Iya, aku tahu. Tapi tidak harus selalu mementingkan tunangan kamu itu dulu. Apa kamu tidak lihat, jika Naya itu juga berharga. Belum nikah saja kamu sudah melupakan Naya, gimana kalau sudah menikah nanti, pasti Naya akan kamu sia-siakan," tuduh Kak Adrian.


"Apa sih yang kamu bicarakan, Kak? Jangan asal nuduh sembarangan. Mana mungkin aku membiarkan anak sendiri tidak diberi perhatian dan kasih sayang." Perdebatan kami saat aku tidak mau mengalah.


"Iya, tapi itu sudah keterlaluan. Kalau kamu tidak bisa merawat Naya, maka aku saja yang akan mengasuhnya," pintanya.


"Ya, tidak bisa gitu dong, Kak. Naya sepenuhnya tanggung jawabku. Kakak jangan seenaknya mengambil Naya. Apa kamu tidak tahu, bagaimana susahnya diriku merawat Naya dengan baik, dengan cara berpanas-panasan memeras keringat," jawabku tidak setuju.


"Hmm ... hmm, paham. Tapi tidak juga mementingkan Chris duluan daripada anakmu sendiri," ucap Kak Adrian yang masih tidak mau mengalah dan diam.


Tanpa terasa, obrolan telah membawa kami terus saja masuk ke dalam taman permainan. Rasanya percuma saja terus berdebat, jika selamanya Kak Adrian yang selalu tidak mau mengalah. Mungkin ada benarnya jika sekarang aku jarang bermain dengan Naya, dan lebih sering keluar jalan-jalan bersama Chris.


Secara tiba-tiba tangan telah dicekal seseorang, sehingga langkah secepatnya berhenti. Wajah langsung menoleh ke arah orang yang sudah mencekal tanganku sembarangan.


"Iya, ini aku!" jawab ketus Chris.


"Ayo ikut? Aku ingin bicara sebentar dengan kamu," suruhnya yang mulai menarik kuat tangan.


Aku yang terdiam dan masih terkaget-kaget, tidak kuasa saat Chris mengajak.


"Bunda ... Bunda?" panggil Naya seperti tidak rela.


"Tunggu ... tunggu, Chris! Lepaskan dulu," ucapku mencoba mencegahnya.


"Tidak usah banyak omong kamu," balas Chris kasar dalam bertutur kata.



Bhuugh, secara tidak siap Kak Adrian memukul wajah Chris, sehingga tangan yang sempat dipegangnya telah terlepas.


"Jangan suka main paksa orang, untuk mengikuti permintaan kamu. Apa tidak lihat! Karin sedang ada urusan penting denganku," murka Kak Adrian ngomel-ngomel.


"Cuuuih, dasar kamu ini. Seharusnya kamu ngaca dulu, siapa Karin itu," balas Chris sudah meludahkan air liur ditanah.


"Apa maksud kamu? Apa kamu pikir aku tidak ada hak atas dirinya, yang sementara Karin itu adalah Ibu dari anakku," keluh Kak Adrian tidak suka.


"Karin adalah mantan orang yang kamu cintai, karena dia adalah tunanganku sekarang," ucap Chris masih ingin mengajak berdebat.


"Tunangan jangan kau jadikan alasan. Kalian belum sah, maka Karin masih bisa bebas bersama siapa saja, yang dia inginkan untuk pergi," jawab Kak Adrian yang tidak mau mengalah.


"Ciih, jangan ikut campur urusan kami. Ayo karin!" kekuh Chris ingin membawaku pergi lagi.


"Lepaskan dia, atau kamu ingin kutambahkan luka lagi diwajahmu itu," cegah kak Adrian yang mencekal tanganku.


"Seharusnya kamu yang harus melepaskan tangan Karin karena dia menjadi hakku sekarang," jawab Chris tidak mau mengalah.


"Itu lagi ... itu lagi. Hak apa yang kamu maksud, hah!" Emosi kak Adrian menjawab.


"Sudah ... sudah, apa-apaan kalian ini. Lepaskan tanganku sekarang," pintaku pada mereka berdua.


"Tidak bisa," kompak Chris dan kak Adrian menjawab.


"Aku tidak akan melepaskanmu, Karin. Sampai kapanpun itu," ucap Chris mantap, sambil netra menatap tajam ke arah Kak Adrian.


"Jangan harap. Apa kamu lupa, bahwa ada aku disini yang selalu menjaga Karin," ketus jawab Kak Adrian.


"Oke. Kita akan buktikan apakah Karin akan lebih memilihku atau kamu," tantang Chris.


"Oke. Ayo Karin, kamu harus memlilih siapa diantara kami?" tanya Kak Adrian.


Sungguh benar-benar diluar dugaan, jika aku sekarang dihadapkan untuk memilih diantara mereka berdua. Netra Chris dan Kak Adrian melihat ke arah wajahku dengan serius, sehingga membuatku semakin grogi dan takut harus memilih siapa.