Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
Kebersamaan jalan-jalan, bagian 2


"Ya ampun, apa lagi ini? Kenapa aku harus dihadapkan oleh situasi dekat-dekat lagi dengan kak Adrian? Kalau bukan Naya yang minta saja, ogah banget digendong sama dia. Aduuh, gimana nih! Apa yang harus kulakukan dengan jantung yang mulai terasa berdetak kuat begini," guman hati yang bingung, saat kak Adrian sudah berjalan duluan.



Meski enggan dan malas, tapi akhirnya aku mau juga mengikuti perintah Mama. Apalagi lagi tak mau mengecewakan hati anak juga.


Setengah berlarian kecil-kecil, kini kukejar kak Adrian yang sudah hampir sampai ditempat pendaftaran perlombaan.


"Kenapa kamu menyusulku, bukannya kamu tadi tidak mau?" tanya kak Adrian datar.


Hening, aku tak menjawab apapun, karena jika bukan mama yang menyuruh, pasti aku tak akan mau menyusulnya.


"Sudah, jangan berlebihan marah dan tak suka begitu, lagian ini demi anak kita Naya, paham!" Senyum sinis tersungging dari bibirnya yang tipis, dengan balutan pesona warna kemerahan.


Aku sekarang hanya bisa mengusap wajah sejuta kekesalan, karena bagiamanapun diri ini selamanya tak akan pernah menang, walau hanya sekedar untuk berdebat dengannya.


"Ingatlah, kak. Jangan pernah macam-macam dan mengambil kesempatan dalam acara ini," tegasku berkata.


"Ciih, tentu saja tidak akan. Kenapa? Apa kamu takut jika tanganku ini meraba sesuatu yang menjadi dalam lindunganmu?" ucap kak Adrian dengan tatapan nyelanangnya.


"Awas saja kalau berani, akan kuhancurkan muka kamu itu, paham!" Peringatanku memperjelas lagi, sambil kedua tangan kutangkupkan didada .


"Coba saja kalau berani menghancurkannya, sebab aku akan semakin memperosokkanmu dalam dekapanku," jawab kak Adrian santai.


"Ciieh, dasar."


Sumpah demi apa, rasanya saat ini juga ingin menghajar laki-laki yang sedang berdiri disampingku, sangat menyebalkan sekali ucapannya. Nampak kak Adrian hanya tersenyum sinis penuh kemenangan, hingga diri ini kini begitu merasa dikuasai oleh rasa merinding, akibat membayangkan akan tingkahnya nanti.


"Semoga saja tak seperti bayanganku saat ini. Kalau macam-macampun, tak hanya muka tapi sekujur tubuhmu akan bonyok oleh bogemanku. Awas saja, kak!" rancau hati ketakutan.


"Ayo cepetan Karin, kita siap-siap akan ikut lomba sekarang," suruhnya.


Tangan Kak Adrian langsung mengambil tanganku untuk ditariknya. Perbuatannya membuatku tertegun sejenak, tapi aku cepat-cepat manampikkan diri supaya segera sadar, karena jika kak Adrian tahu aku sedikit melayang atas perlakuannya, maka dirinya akan merasa semakin besar kepala.


"Cepatan naik ke atas punggungku," suruhnya sudah menepuk pelan bahu sendiri, ketika duduk berjongkok siap menerima tubuh ini.


Dengan penuh keraguan, tangan sudah berancang-rancang ingin menuruti, tapi ada sejuta halangan perasaan agar jangan melakukannya. Dengan berat hati kini kuturuti kemauannya. Akibat ngeri, hingga mata terpejam erat tak berani menyaksikan atas ulahku sekarang.


"Ayo cepetan naik. Kalau tidak, kita akan kalah dengan peserta yang lainnya, dan pasti akan membuat Naya kecewa," suruhnya lagi, yang tanpa ragu sudah menarik tangan agar segera memeluk lehernya.


Deg, dalam posisi seperti ini, jantung seketika semakin deg-degkan tak karuan lagi rasanya. Telapak tanganpun juga mulai dibanjiri keringat. Posisi kami sangatlah dekat ... dekat sekali, bahkan diri ini begitu mencium aroma maskulin, yang begitu menguar dari tubuh wanginya.


"Sudah, jangan banyak memperhatikan wajahku terus-menerus begitu, nanti bisa-bisa kamu makin jatuh cinta lagi padaku, hingga membuat si Chris itu akan semakin marah, sebab pacarnya kini berhasil kurebut" ucap kasar kak Adrian menyinggung.


Mendengar ucapan kak Adrian yang memergokkiku, langsung saja diri ini mengalihkan pandangan. Benar-benar mengesalkan sekali laki-laki ini, yang rasa-rasanya ingin sekali kutampol mulutnya yang asal jeplak menyinggungku.


Karena kesal, aku mencoba menarik tangan ini yang sempat sudah bertengger dilehernya, agar laki-laki sok angkuh ini bisa merasakan kalau diri ini sedang dilanda kekesalan padanya. Namun, baru sedikit melonggarkan tangan, kak Adrian kembali menarik tanganku dengan cepat dan kasar, hingga tubuh tiba-tiba terbentur kuat sekali ditubuh tegapnya yang terbungkus jaket kain berwarna hitam.



"Jangan tak berpegangan, kalau kamu tak ingin jatuh dan luka sia-sia," ketus ucapnya.


Lagi-lagi aku hanya bisa mendengus kesal dengan kepasrahan.


Berkali-kali tubuh ini dibenahi kak Adrian, untuk digerakkan keatas sedikit terangkat, supaya badan tak melorot jatuh.


"Ayo semua siap-siap untuk melakukan lombanya, dan jangan ada yang mau kalah. Siap ... siap, ya!" Aba-aba pemandu acara.


Duuar, sebuah letusan telah dibunyikan, yang menandakan acara lomba telah siap dimulai.


Saat tengah asyik menikmati laju lari kak Adrian mengendong dengan cepatnya, kini aku telah merasakan ketegangan hati dan suasana perlombaan. Tiba-tiba tangan satunya yang berkeringat, berhasil mengenggam tanganku yang terlingkar dileher, yang kemungkinan bermaksud agar mengeratkan tangan agar tubuh tak jatuh. Sementara tangan satunya menahan bobot berat tubuh ini.


Hangat, ya kini yang terasa dikulit tanganku yang dingin, yang semakin bertambah dingin karena perlakuannya.


"Ya ampun, apa ini? Apa yang terjadi dengan rasa ini? Kenapa aku tak bisa mengendalikan perasaan ini. Aah, entah ... entah, apa yang harus kulakukan sekarang?" rancau hati yang heran.


Semua rasaku berbaur jadi satu, tapi otak segera memberi peringatan dan menyadarkan pada hati, yang mulai tak karuan lagi atas rasa deg-degkannya.


"Ini hanya drama saja, Karin. Ikuti saja alurnya sekarang, dan jangan pernah memakai perasaan, sebab ada Chris yang selalu setia menunggu kamu," guman hati yang tersadar.


Meskipun pikiran begitu menegaskan, tapi sebagai wanita dewasa akan mengerti semua ini. Aku tak bisa menampik begitu saja atas perlakuan kak Adrian, yang telah berhasil memberikan sensasi yang begitu ngena dihati, hingga mulut ini tak bisa berkata apa-apa lagi.


Laju kak Adrian terus saja berlari kuat agar jadi yang terdepan, dengan suara hembusan nafas yang mulai terdengar ngos-ngosan. Mata kupejamkan kuat, saat tak kuasa melihat garis finish mulai didepan mata, yang mana ada sekitar empat saingan yang berusaha datang ke garis finish juga.


Laju lari yang sempat hampir jatuh, tak mengurungkan niat kak Adrian agar terus sampai ke garis merah yang menjadi pelabuhan terakhir lomba. Suara sorak ramai pengunjung memberi semangat, semakin riuh bersuarakan gembira atas peserta yang akan menyelesaikan perlombaan.


"Akhirnya ... akhirnya, pasangan mesra si cantik dan si ganteng telah memenangkan perlombaan. Beri tepuk tangan yang meriah kepada pemenang. Selamat ... selamat, untuk para pemenang. Plok .. pok ... pok!" ucap pembawa acara memberi arahan pada pengunjung untuk terus bertepuk tangan.


"Heeeh ... heeeh!" Suara kasar nafas kak Adrian menghembuskan dan menarik udara.


Aku yang sudah turun dari gendongannya, langsung memberikan sebotol air mineral untuk meredakan lelahnya, yang mana air itu diberikan oleh pemilik acara lomba sebagai hadiah khusus.


"Terima kasih. Buset dah, ternyata badan kamu berat sekali," keluh kak Adrian sambil mengelap keringatnya dengan tangan.


"Ciih, siapa suruh dan memaksa aku untuk ikut lomba. Ya, sekarang rasakan lelahnya," bantahku menjawab.


"Apa kamu lupa, bahwa ini semua demi anak kita, heeh ... heeh!" jawab kak Adrian masih kelelahan.


"Iya ... iya, maafkan aku atas nama Naya. Maafkan aku juga jika badan ini berat sekali, hingga kamu begitu merasa kelelahan. Nih!" jawabku mengalah, sambil menyodorkan tisu.


"Tidak apa-apa, Karin. Mungkin aku yang salah dan seharusnya tak perlu mengeluh, sebab kulakukan ini semua karena sayangku pada kalian akan tetap selalu utuh, dan selamannya tak akan pernah pudar," jelas kak Adrian.


Deg, lagi-lagi ucapan pria didepanku, membuat diri ini terus saja terhanyut atas pengertian akan cinta. Kenapa saat hati mulai berpaling, pria yang dulu kukagumi baru sekarang mengatakan rasa sayang dan cinta? Bukankah semua itu sudah terlambat, saat pengantinya sudah didepan mata tak bisa dihentikan begitu saja.


"Aah ... Karin, kamu jangan mulai terhanyut oleh pesona kakak kamu! Dia hanya masa lalu yang tak perlu diingat lagi, sebab rasa sakit hati yang sudah kau pendam, akan kembali muncul ke permukaan dengan menganganya, maka tepis saja rasa itu segera agar Chris tak engkau sakiti," guman hati yang tersadar.


"Hore ... hore, Bunda dan Ayah telah menang. Berarti keinginan Naya sudah terpenuhi. Terima kasih Ayah, Bunda!" ucap Naya yang begitu gembira, yang sudah memegang tangan kami berdua dengan cara mengoyang-goyangkannya secara cepat.


Tanpa kami sadari berdua, tangan mungil itu telah menyatukan tangan kami, hingga aku yang tersadarpun langsung menarik kilat. Kak Adrian yang kaget atas perlakuanku, langsung menatap sinis penuh tatapan tak suka, dan aku tak pedulikan itu semua sebab pandangan langsung tertunduk, saat netra sama-sama menatap ada guratan aneh tanpa ada janjian.



Hadiah tak sesuai dengan apa yang kami inginkan, yang ternyata juara pertama mendapatkan hadiah uang, dan pada akhirnya hadiah itu kami tukarkan pada pemenang juara tiga yang mendapatkan hadiah boneka.