Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
Marah Sama Ibu Sendiri. Season 2


Ada mitos yang mengatakan jika tiap manusia di bumi setidaknya memiliki satu hingga tujuh kembaran tidak sedarah. Mitos ini berkembang dan banyak dipercaya masyarakat di berbagai belahan dunia.


Bukan suatu hal aneh ketika kita bertemu orang lain yang mirip dengan orang yang kita kenal. Hal ini lumrah terjadi, dan setidaknya hampir pernah dialami. Kita salah mengenali orang asing, hanya karena fisik atau sekilas wajahnya mirip seseorang yang dikenal.


Sebenarnya fakta asli soal manusia punya tujuh kembaran masih belum bisa dibuktikan. Namun, bisa jadi tiap manusia memang memiliki kembaran atau seseorang yang sangat mirip dengannya.


Susunan genetik yang kurang lebih hampir sama menyebabkan wajah dan penampilan seseorang mirip atau bahkan hampir identik dengan orang lain, walaupun belum pernah saling bertemu.


Diperkirakan masing-masing manusia membagikan setidaknya 99,5 persen gen yang dimiliki dengan tiap manusia lain. Sisanya atau sekitar 0,5 persen gen menyebabkan manusia tampak atau terlihat berbeda satu sama lain.


Akibat pembagian dan susunan genetik yang kurang lebih hampir sama, manusia bisa terlihat mirip satu sama lain. Contohnya dari warna rambut, warna mata, bentuk wajah, bentuk hidung, tinggi badan, hingga penampilan.


Mungkin Anda pernah salah memanggil orang asing karena mirip dengan seseorang yang Anda kenal. Lalu apakah mungkin ada juga yang mirip dengan Anda sendiri?


Faktanya menurut ilmuwan kemungkinan hal itu terjadi ternyata cukup besar berkat terbatasnya genetik fitur wajah seseorang.


Menurut peneliti kini fenomena orang mirip mungkin akan lebih sedikit karena informasi genetik juga semakin meluas di masyarakat modern. Banyak individu yang datang dari satu ras menikah dan memiliki keturunan dengan ras lain. Barangkali manusia memang mempunyai 7 kembaran tidak sedarah. Atau setidaknya mempunyai orang yang benar-benar mirip dengan dirinya.


Menurut sains hal ini memang sangat mungkin terjadi, karena kemiripan susunan genetik yang dimiliki tiap manusia. Selain itu, faktor lain yang mungkin berpengaruh adalah faktor geografis serta kelompok etnis.


Sumber dari google


*******


Sangat aneh sekali pada wajahku yang katanya sangat mirip dengan kenangan masa lalu Karin. Waktu ditunjukkan foto ternyata benar saja, bahkan sangat mirip sekali tanpa ada celah sedikitpun dari mata maupun garis-garis wajah.



Karin kelihatan wanita baik-baik. Dari cara berbicara dan sikapnya sudah kelihatan kalau dia orangnya murah hati dan selalu ceria. Aku suka sama sifatnya yang tidak pandang bulu mau berteman, baik orang miskin maupun kaya sekalipun. Anak adalah penghubung perteman kami, mungkin ini sudah jalan yang ditakdirkan oleh sang pencipta alam semesta ini.


Kesederhanaannya selalu kukagumi. Manisnya wajah selalu enak dipandang. Sikap sopannya semakin memesonakan jiwa. Tiada kurang yang ada pada diri Karin, semua nampak perfeck dan sangat nyaman sekali dijadikan teman.


Keponakan besok akan menikah. Pekerjaan yang menyita waktu, harus membuatku sore-sore baru bisa datang untuk membantu. Walau datang terlambat dan tidak banyak membantu, tapi kehadiran kami sekeluarga mungkin sudah cukup untuk membuktikan bahwa kami peduli dan sayang pada mereka.


Masih banyak orang sedang repot membenahi dekorasi, dengan pernak-pernik hiasan bunga-bunga palsu namun kelihatan nyata. Warna sepertinya sudah ditempah khusus yaitu nuansa merah putih. Kelihatan mewah dan anggun sekali disegala penjuru ruangan dan sudut-sudutnya. Semua nampak mempesona, bak antusias ingin menyambut calon pengantin besok.



Sekian lama langkah berjalan ke dalam rumah, sedikit terdengar ada ribut-ribut saling berbicara keras.


"Ada apaan sih didalam? Kayak ada orang yang sedang bertengkar saja," guman hati yang merasa aneh.


Ternyata setelah dilihat, Mama sedang adu mulut dengan pihak keluarga yang punya acara. Telinga sedikit menguping, dan dari arah pembicaraan hanya masalah sepele kue yang dibatalkan tidak jadi dipesan.


"Ada apa sih ini?" tanya mencoba menengahi.


"Ini nih Mama kamu, Chandra. Dia membatalkan pesanan kue yang sudah jadi kami pesan. 'Kan tadi sudah diantar sama pihak toko mereka, tapi Mama kamu malah marah-marah dan menolak kue itu," simbat adik Mama.


"Habisnya memang kenyataan, kalau kue dari toko mereka itu tidak enak, makanya Mama menolak biar para tamu nanti tidak kecewa," jelas Mama.


"Tapi ngak harus gitu juga, Bu dhe. Waktu kita mepet . Lihat sendiri 'kan kalau banyak toko tidak sanggup menyiapkan semua kuenya dengan waktu singkat untuk besok pagi. Masalah enak dan tidak seharusnya tadi urusan belakangan, yang penting besok terpenuhi untuk para tamu," bantah keluarga lain.


Mama hanya diam menanggapi dengan sewot, menyunggingkan sebelah bibir keatas. Rasanya terlihat aneh saja, melihat muka Mama dan itu bikin mencurigakan. Tidak biasa-biasanya Mama ikut campur urusan masalah kecil seperti ini.


"Sudah ... sudah, tidak usah diperdebatkan lagi. Kalau memang tidak ada lagi toko yang mampu memenuhi permintaan untuk acara besok, kenapa kalian tidak menghubungi kembali toko yang kalian tolak tadi?" tanyaku mencoba membantu memecahkan solusi.


"Hah, rasanya malu 'lah, Chandra. Mama kamu tadi sudah keterlaluan mengolok mereka, yang belum tentu benar tidaknya kue mereka tidak enak," simbat Tante.


"Hah, masak sih?."


"Yang dikatakan mereka benarkah, Ma?" tanyaku penasaran


"Iya, Chandra. Bahkan Bu dhe tega mengusir mereka."


"Astagfirullah, Mama. Apa yang kamu lakukan? Kenapa juga harus sampai mengusir segala? Kalau tidak suka janganlah sampai kasar begitu," keluhku tidak suka atas sikap beliau.


"Terus gimana 'nih! Apa rencana kalian?" tanyaku pada suami istri yang punya acara.


"Tidak tahu, Chandra. Kami sangat pusing memikirkan ini. Mana waktu sekarang mepet sekali, karena besok jam delapan pagi-pagi kue itu akan kami sungguhkan pada tamu yang datang," jawab suami dari Tanteku.


"Berikan alamat toko kue yang kalian pesan tadi. Semoga saja kita bisa memintanya lagi dan masalah ini bisa selesai, tidak bikin pusing kepala semua orang," usulku.


"Jangaaaaaaan!" Keanehan ucapan Mama.


Mata memicing sebelah sebab aneh saja sikap beliau barusan. Netra menatap kearah beliau dengan tajam. Kecurigaan semakin kuat sebab gelagat dan ekspresi beliau beda sekali.


"Apa maksudnya jangan? Apakah ada hal yang kamu sembuyikan dariku, Ma?" ungkap sebab penasaran.


"Ehh, enggak ... enggak ada kok. Menyembunyikan apa coba? Mama cuma berharap kalian nanti tidak kecewa saja atas toko itu," elak beliau yang makin mencurigakan.


"Tapi kalau tidak meminta sama toko mereka lagi, apakah Bu dhe bisa mencari solusi cepat sedangkan waktu tidak ada?" keluh suami Tenteku.


"Sudahlah, Paman. Jangan dengarkan ucapan Mama itu. Bikin masalah dan repot saja, tapi untuk cari solusinya tidak bisa. Makanya sebelum mengambil keputusan dipikir dulu, jangan main gegabah gitu jadinya merepotkan dan bikin pusing semua orang," bantah tak suka atas sikap Mama.


"Sini, Paman. Kasih alamat toko itu," suruhku.


Tanpa peduli jika Mama marah, alamat yang kupinta akhirnya diberikan juga. Satu persatu huruf mulai kuteliti, dan tulisannya bikin syok sebab tokonya milik orang yang kukenal.


"Astagfirullah, apa yang kamu lakukan, Ma?" keluhku tak suka.


"Mama, tidak ngelakuin apa-apa, cuma menolak pembuatan kue dari mereka sebab takut semua orang keracunan, dan pastinya nanti yang disalahkan pasti pihak keluarga kita," Ngeles beliau.


"Tapi tidak begini juga. Mama terlalu berpikiran picik terhadap toko itu. Jangan gara-gara Mama tidak suka sama Karin, tapi malah menghancurkan kerja kerasnya untuk mencari rupiah. Kali ini Chandra benar-benar kecewa atas sikapmu itu," Tangan sudah meremas kuat kertas dan langsung saja melemparnya ke sembarang arah.


"Tapi, Chandra. Wanita itu memang patut dicurigai, apalagi tokonya yang kemungkinan memang rasanya tidak enak."


"Ahhh, sudahlah, Ma. Kalau tidak tahu tentang Karin cukup diam saja, tidak usah menuduh sana-sini seakan-akan Mama itu lebih tahu dariku," Kekecewaan atas sikap Ibu kandung sendiri.


Semua orang hanya mlongo mendengarkan perdebatan kami. Banyak tidak tahu arah pembicaraan kami, makanya hanya bisa menyimak saja.


"Om sama Tante, tenang saja. Nanti akan kuusahakan untuk membujuk pemilik toko itu, agar mau membawa balik pesanan kalian. Kebetulan dia teman baik jadi jangan pusing dan khawatir lagi."


"Iya, Chandra. Terima kasih atas bantuannya. Alhamdulillah, kalau sekarang ada solusinya," Kelegaan Tante.


"Iya, sama-sama. Kalau begitu aku permisi dulu."


"Baiklah."


"Kamu mau kemana, Chandra?" tanya Mama.


"Bukan urusan, Mama. Lebih jelasnya aku ingin menyelesaikan masalah yang sudah Mama buat," ketus menjawab.


"Tapi--! Tunggu ... hei Chandra, tunggu!" teriak beliau terus saja memanggil, saat sudah melenggang jauh dari mereka.


Hari ini semua harus beres, jika tidak bisa berantakan acaranya nanti. Hanya gara-gara sebuah ocehan Mama yang sembarangan menuduh, membuat semuanya jadi berantakan. Harus menyelamatkan acara sebab waktu tinggal hitungan jam saja.


Hari sudah begitu larut, hati sedikit khawatir takutnya toko kue Karin sudah tutup. Terlebih lagi Karin pasti sakit hati, jadi harus mencari akal agar bisa membujuknya. Walau berteman baik, ucapan Mama mungkin sudah keterlaluan, makanya semuanya ditarik pengantaran tadi.