
"Ana ... Ana," panggilku yang semakin khawatir.
"Eehh, Mas sakit. Aaaaa ... sakit," tingkah Ana yang telah memegangi perutnya.
Mata begitu terbelalak kaget, saat kaki Ana sudah mengeluarkan darah segar begitu banyaknya.
"Astagfirullah, apa yang terjadi sama kamu?" Kekalutanku bertanya.
Tubuhnya yang akan ambruk kupegangi erat. Darah semakin tak terbendung keluar terus.
"Rudi ... Rudi!" teriakku memangil tidak sabar.
"Hhhhh ... heeh. Iya, Bos." Suara nafas Rudi terengah-egah, akibat habis lari tergopoh-gopoh.
"Astagfirullah, ada apa dengan ,Ana!" Rudi sudah panik juga, saat melihat sudah banyak darah keluar, yang telah menetes diubin keramik.
"Tidak tahu. Sekarang Panggilkan ambulan. Cepat ... cepat," suruhku diiringi berteriak.
"Iii-iyy-ya," Kepanikan Rudi menjawab.
"Aaa ... sakit. Tolong ... tolong, Mas!" Suara Ana memelas pilu dalam kesakitan.
"Iya, sayang. Kamu tahan!"
Karena aku tjak tahan melihat penderitaan Ana yang semakin berteriak kesakitan, langsung saja badannya kuangkat, dengan tujuan untuk membawanya keluar dari perusahaan.
"Ayo Rudi bawa Ana keluar dari sini dulu sambil menunggu ambulan datang. Takutnya malah terjadi sesuatu yang tidak diinginkan jika kita tidak gerak cepat," perintahku.
"Baiklah, ayo cepat."
Langkah sudah tergesa-gesa membopong Ana, untuk segera keluar dari ruanganku.
"Jaga dia Edo. Tolong amankan dia! Aku akan membawa Ana ke rumah sakit dulu," perintahku sebelum benar-benar keluar dari ruangan.
"Baik, Bos. Hati-hati," jawab Edo sudah memegang tangan pria yang mendorong Ana, yang ditekuknya ke belakang.
Edo nampak khawatir juga, namun dia harus menjaga pelaku, sehingga tidak bisa ikutan bersama kami.
Tet ... klik, suara lif ditekan Rudi. Dengan cepat telah meluncur ke bawah.
Kling, suara pintu lif dengan cepat terbuka, tanda sudah sampai ke lantai dasar.
"Alhamdulillah, ambulannya sudah datang."
"Iya, Rud. Ayo cepat ... cepat."
"Baik, Bos." Rudi sudah berlari menambah power.
Wiu ... wiu, suara sirine ambulan berbunyi, sudah bertenger terparkir dipintu utama perusahanku.
"Itu! Ambulan telah datang, ayo cepat ... cepat Adit," suruh Rudi.
Kami berduapun sudah lari dengan tergesa-gesa, tapi bedanya dari Rudi diriku sedang membopong Ana. Rudi terlihat sudah berlari duluan dari pada diriku, untuk memberi tahu pada petugas ambulan. Pembaringan tempat tidur ambulan telah didorong petugas menghampiriku dan Ana, dan secepat kilat merekapun datang, dan tubuh Ana langsung saja kugeletakkan dipembaringan itu.
Mengikuti dari belakangan tempat pembaringan menuju mobil ambulan.
Setelah tubuh Ana masuk tepat di mobil ambulan, akupun tak membuang waktu untuk segera masuk juga didalamnya. Sekertaris Rudi ikut masuk juga. Terlihat wajah Ana sudah pucat pasi, dengan selakangan masih saja mengalirkan darah.
"Ya Allah selamatkanlah Ana, aku tak mau kehilangan dia. Berikanlah kekuatan lebih padanya, serta lindungi dia dari marabahaya ini," doaku dalam hati.
Tubuh Ana terlihat kian lama kian lemah, dengan mata sudah sayu-sayu seperti ingin terpejam.
"Iya pak, ini kita hampir sampai," jawab sang sopir.
Ambulan telah datang cepat dirumah sakit, dan para petugas sudah tergesa-gesa membawa masuk tubuh Ana ke dalam.
"Kamu harus kuat, sayang! Aku yakin kamu akan baik-baik saja," ucapku sesak terasa pilu.
"Iya, Mas!" jawabnya lemah.
Tangan Ana tak lepas kugenggam erat, sambil terus ikut mendorong tempat pembaringan menuju ke ruang UGD.
Lama sekali aku menunggu, dengan perasaan begitu gelisah, cemas, dan khawatir apa yang terjadi pada istri tersayang sekarang.
"Gimana, Adit?" tanya Rudi yang telah datang menyusul.
Kusuruh dia menyelesaikan urusan data-data Ana, untuk melengkapi prosedur rumah sakit bahwa dia adalah pasien.
"Aku belum tahu, Ana masih berada didalam, sedang ditangani oleh dokter," jawabku.
"Kamu yang sabar, pasti Ana kuat menjalani ini," ujar Rudi sekertarisku memberi semangat, dengan menepuk-nepuk pelan bahu.
"Iya, Rudi. Terima kasih."
Kerjaanku bersama Rudi hanya bisa duduk menunggu, untuk menanti kabar selanjutnya tentang keadaan Ana. Sempat ada tanda tangan, sebab panik tidak membaca apa isinya tadi.
Ceklek, pintu telah terbuka, dan ternyata sang dokter sudah keluar dari ruangan UGD.
"Bagaimana, Dok?" tanyaku tergesa-gesa, sebab penasaran dan khawatir sedang melanda.
"Istri anda baik-baik saja. Tapi-?" jawab dokter.
"Alhamdulillah," jawabku kompak bersama Rudi.
"Memang apa yang sebenarnya terjadi, Dok?" tanyaku.
"Istri anda tadi telah mengalami keguguran," penjelasan dokter.
"Apa?" Kekagetanku menjawab.
"Benarkah itu?" tanyaku lagi, sebab masih tak percaya.
"Iya, Pak."
"Memang bapak tidak tahu kalau istri anda sedang hamil?" respon sang dokter penasaran.
"Saya benar-benar ngak tahu, kalau istri saya ternyata telah hamil," terangku menjawab lemah.
"Mungkin itu adalah hal yang wajar, sebab kandungannya baru menginjak sekitar tiga mingguan, jadi diumur segitu memang masih rentan sekali untuk mengalami keguguran. Pesan saya jaga istri anda dengan baik lagi, dan selalu awasi dia agar tak terlalu terbebani oleh pikiran, sebab biasanya ibu yang keguguran akan berdampak trauma psikis, seperti tak rela bahwa dia telah kehilangan anaknya. Tadi sudah dilakukan pembersihan darah yang tersisa, dan pasien sekarang boleh dijenguk. Alhamdulillah keadaannnya sangat baik," Panjang lebar nasehat dokter.
"Baik, Dok. Aku akan menjaganya."
"Baiklah kalau begitu, saya ingin permisi dulu. Untuk Bapak sebagai suami, saya berpesan lagi yaitu jangan lemah atas kejadian istri anda, justru anda harus kuat dan memberi semangat pada istri, agar dia tabah menerima cobaan ini. Sekarang kalian boleh masuk untuk menjenguknya," perintah dokter sambil meminta izin untuk pergi.
"Iya, Dok. Terima kasih."
Setelah kepergian dokter, akupun langsung masuk kekamar rawat inap punya Ana, dan terlihat dia terpejam tidur nyenyak sekali, dengan tangan sudah terpasang selang infus.