
Siang berangsur senja, matahari pelan-pelan membenamkan diri diufuk barat, menyisakan warna jingga keemasan dilangit lepas. Indah, ya sangat indah yang seindah pertemuanku tadi, hingga kelenaan atas kebencian dan kekecewaan hampir saja melupakan siapakah kak Adrian.
"Kenapa aku harus ketemu lagi sama kamu, kak Adrian? Kenapa kenangan pahit itu kini akan terjalani lagi? Sungguh, rasanya aku tak sanggup lagi harus menjalani kisah kekejaman yang menyakitkan hati seperti tahun kemarin. Semoga saja pertemuan tadi tak terulang lagi dan hanya cukup hari ini saja, amin!" rancau hati yang sangat berharap.
"Hei cantik!" Suara Chris yang tiba-tiba menyapa.
"Hei juga Chris," jawabku saat tersadar dari lamunan.
"Kamu kenapa? Kok kelihatan murung dan seperti sedang ada yang dipikirkan?" tanyanya sudah merasa curiga.
"Aku baik-baik saja, Chris. Mungkin perasaan kamu saja aku lagi ada masalah," jawabku memungkiri.
"Ya, baguslah kalau kamu baik. Takutnya kamu ada masalah yang tak bisa diceritakan padaku, hingga aku takut jika nanti kamu jadi sakit akibat banyak pikiran. Kalau bisa, seberat apapun masalah yang kamu hadapi, semuanya harus diceritakan padaku, sebab aku sangat mencintai kamu," jelasnya khawatir.
"Iya, Chris. Pasti itu, sebab kamu adalah orang yang berarti dan sangat penting bagiku," Seutas senyuman manis kuberikan untuk menjawab.
"Terima kasih, Karin. Kamu masih mempercayaiku seperti dulu. Terima kasih juga, sebab selama ini kamu masih menjaga rasa sayangmu hanya untukku," tutur lembut Chris sambil meraba pipi ini dengan mengusapnya pelan.
"Iya."
Entah mengapa masalah tentang kak Adrian tak bisa kuungkapkan jujur atas kebenarannya pada Chris. Mungkin inikah yang dinamakan takut jika Chris sakit hati jika mengetahui segalanya.
Pertemuan tadi begitu menampar hati, saat luka yang dusembuhkan oleh Chris kini telah terbuka lagi untuk mengenang masa-masa kepahitan itu. Naya anakku, kini sudah diantar pulang oleh Rohmat, hingga diriku yang ingin giat bekerjapun tak ada gangguan darinya.
Hari mulai nampak gelap, saat gema adzan magrib telah berkumandang begitu merdu dan menentramkan hati. Seusai melakukan kewajiban untuk menjalankan sholat, kini aku disibukkan menuju depan toko untuk membereskan segala peralatan pembuatan kue. Ada sekitar delapan pegawai yang bekerja ditoko ini, dan aku hanyalah sebagai pengantar dan melayani pelanggan, namun Chris mempercayakan sebagai tangan kedua untuk memiliki tokonya. Pegawai lain kini sudah pulang ke rumah, sedangkan aku masih saja sibuk membereskan, sambil menunggu jemputan Chris yang tadi sempat pamit, karena ada keperluan mendadak sebentar.
Klinting ... klinting, suara lonceng pintu masuk telah berbunyi, menandakan sudah ada orang yang masuk kedalam toko.
"Maaf, toko kami sudah tutu--?" Suaraku tertahan saat kaget melihat siapa yang datang.
"Oooh, ternyata sudah tidak melayani pelanggan lagi, ya?" ucap santai kak Adrian.
"Kamu?" Kekagetanku.
"Kenapa ada disini? Bagaimana kakak bisa tahu aku ada disini, apakah sekarang kerjaan kamu adalah penguntit orang?" ketusku berkata.
"Ha ... ha, penguntit? Ada-ada saja kamu itu. Masak orang sekaya ini mengikuti kamu dengan cara yang aneh. Apakah kamu lupa, jika kotak kardus toko ini telah meninggalkan jejak dimana kamu berada? Ya, sekarang nasib memang selalu berpihak padaku, agar bisa ketemu kamu lagi," jawabnya santai yang membuatku mulai kesal.
"Diriku tidak tahu alasan kau datang kesini, yang jelas silahkan pergi sekarang sebab toko ini akan aku tutup, jadi pergi ... pergilah sana," usirku kasar sudah menarik tangan kak Adrian kuat, agar dia mau keluar segera dari pintu masuk.
"Eeit ... eeeiit, aku kesini bukan untuk membeli roti, melainkan ingin bertemu sama kamu," cakapnya yang sudah mencekal tanganku balik, memakai tangan kirinya.
"Aku belum puas berbicara sama kamu, jadi jangan main usir begitu saja," cakapnya yang kini benar-benar menarik tangan, hingga sekali tarik tubuh inipun sudah membentur ditubuh bidangnya.
Pandangan kami sudah betemu, sampai posisi wajahnya sejajar denganku. Melihat tatapan kak Adrian dalam posisi seperti ini membuat dadaku berdebar. Entah, entah apa yang terjadi padaku sekarang? Hingga detakan jantung bertalu-talu begitu kuat, bagai gendang telah bertabuh.
"Ternyata kau tambah tampak sangat cantik sekarang," ucapnya semakin memajukan posisi tubuh, hingga jarak lengket diantara kami tak tersisa lagi.
Namun kini aku sadar dan mencoba mundur, tapi sayangnya posisiku kini telah terpojok ditembok dekat pintu utama toko. Kak Adrian sepertinya tak mau menyerah, yang kini terus saja memepet tubuhku mengkunci menggunakan kedua tangan.
"Kenapa kau menjauh? Apakah jawaban kau masih sama, yaitu tak merindukanku?" Kak Adrian bertanya, sembari mengulurkan tangannya seperti hendak menyentuhku.
"Jangan sekali-kali kurang ajar, kak!" sergahku sambil menampik keras tangannya.
"Wow ... wow, ternyata kamu bisa kasar dan banyak sekali perubahan sama kamu. Jangan munafik Karin, aku yakin sekali kalau kau tidak akan mudah melupakanku dan kenangan-kenangan manis kita," Kak Adrian mengedipkan mata sebelah kepadaku, hingga membuat diri ini sangat jijik menatapnya.
"Sudah berapa kali kujelaskan kepadamu, bertemu dengan kamu lagi rasanya adalah bencana bagiku," ketus jawabku.
"Aah, sudahlah. Aku beneran tak akan terpesona oleh bualan manis, kakak. Yang jelas benteng dalam hatiku tak akan runtuh begitu saja, sebab tak akan semudah itu bayangan-bayangan halumu itu jadi nyata untuk mendapatkanku. Lagian seleraku sudah tinggi, tak seperti bualan omong kosong kau itu," ujarku sinis.
Tangan kak Adrian yang sudah kurang ajar, sekarang telah berani membelai pelan wajahku. Aku yang berusaha berontak, harus kalah tenaga saat tangan satu kak Adrian menahan kedua tanganku.
"Apa kau yakin sekarang aku bukan seleramu, hah?" tanyanya penuh goda.
Saat rasa geli atas tangannya, kini mulutku seakan terkatup tak bisa dibuka hingga lidahpun terasa kelu, bahkan hanya sekedar untuk menjawab pertanyaan kak Andrian tak bisa, sebab rasa belaian lembutnya seakan-akan berhasil mengunci mulut ini.
"Apa menurut kamu, aku sekarang kurang tampan bagimu, sehingga kau tak mau denganku sekarang?" imbuh tanyanya lagi.
"Ya Tuhan, jawaban seperti apa yang harus kuberikan pada laki-laki ini? Sedangkan matanya kini sudah tak berkedip, terasa menusuk hingga jauh dalam manikku," guman hati ketakutan sambil bergindik ngeri, yaitu ketika wajah kami tak menyisakan jarak lagi.
Semua rasaku kini berbaur jadi satu, tetapi otakku segera memberi peringatan pada hati yang mulai tak karuan.
"Dia adalah laki-laki yang sudah menyakiti kamu Karin, ingat ... ingat! Jadi kamu sekarang jangan terbuai atas seutas pesonanya sekarang," guman hati berbicara.
Meski pikiran menegaskan, tapi sebagai wanita dewasa aku tak bisa menampik, kalau pelakuannya padaku memberikan sensasi yang tak mudah kuucapkan dengan kata-kata.
"Sudahlah, kak. Masa lalu itu lupakan saja, sebab kebahagiaan sudah menghampiri diri kita masing-masing, jadi jangan berangan-angan untuk mendapatkanku lagi," jawabku mencoba menghentikan tingkahnya.
"Kebahagiaan? Yang mana? Perasaan selama ini aku yang telah menderita, karena tak bisa menemukan kamu. Aku selalu saja merasa begitu sesak, saat dosa-dosa ini terus saja membayangi kehidupanku. Apakah sekarang kita bisa kembali? Aku berharap sekali bisa menebus dosa itu dan bisa membahagiakan kamu," ungkap perkataan kak Adrian yang kini sudah melepaskan cekalan tanganku.
"Sudahlah, aku tak bisa ... ya tidak bisa. Itu adalah kenangan masa lalu yang sudah terkubur, dan mustahil untuk kembali merubahnya. Sekarang aku mohon kakak pergilah dari sini, sebab aku mau pulang ke rumah sekarang," jawabku mulai santai dan berusaha berlalu pergi.
"Tunggu, aku belum selesai berbicara," cegah kak Adrian, lagi-lagi mencekal tanganku.
"Lepaskan aku, kak!" pintaku sudah meronta.
"Tidak bisa," kekuh ucapnya.
Kami berduapun dengan sengitnya mulai tarik ulur tangan, diriku mencoba melepaskan tapi malah kak Adrian tak mau melepasnya.
"Lepaskan dia," Tiba-tiba suara Chris datang.
Betapa terkejutnya diri ini, saat tangan Chris sudah terletak diatas tangan kak Adrian berusaha balik mencegah. Kini nampak sorot mata keduanya seperti sama-sama tak senang dan mulai ada sulutan emosi.
"Siapa kamu?" tanya kak Adrian sinis.
"Aku adalah tunangannya," jawab gamblang Chris.
"Apa? Tunangan?" Ekpresi wajah kak Adrian yang begitu terkejut.
"Iya, kenapa? Apa kamu tak senang? Sekarang lepaskan tangan kekasihku," ucap cool Chris penuh berani.
"Iya, aku tak senang. Karena aku adalah calon suaminya," Pengakuan aneh kak Adrian.
Aku dan Chris begitu terkaget-kaget atas pengakuan kak Adrian, yang aneh dan membingungkan.
"Kamu jangan mengada-ngada, itu tidak mungkin. Dasar aneh. Sekarang lepaskan tangan tunanganku, paham!" ucap Chris mulai emosi.
"Aku ngak aneh, kok. Memang dia calon istriku. Kamu itu baru calon tunangan, dan aku adalah calon suaminya, jadi kini aku lebih berhak atas diri Karin, lagian ... lagian hmmmm, aku kemarin sudah pernah mencicipi tub---?" ucap kak Adrian yang mulai kurang ajar, sambil netranya menelusup penuh gairah dari bawah sampai atas tubuhku.
"Kamu jangan asal bicara, sekarang kamu lepaskan tangan Karin, enggak?" cakap peringatan Chris.
"Enggak."
"Haiiissst, bhuuuug!" Tanpa diduga Chris sudah melayangkan tinjuan dimuka kak Adrian.
Karena secara tiba-tiba dan terlalu kuatnya pukulan itu, membuat tubuh kak Adrian kini jatuh tersungkur ke lantai, yang membuat pergelangan ini akhirnya terbebas dari cekalan tangan orang yang sudah kesakitan akibat bogeman kasar Chris.