Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
N2=Istriku Yang Hilang>>Obrolan Suami Yang Mengila


Ceklek, pintu kamar mandi telah terbuka, dengan rambut sudah tergulung oleh handuk, agar cepat mengeringkannya akibat habis keramas.


"Hehhh, ya ampun, ternyata kamu tidak bersuara lagi akibat tertidur, Mas!" desahku saat suami sudah memejamkan mata.


Kini suami yang tidur kuhampiri, untuk segera menyuruhnya bangun supaya mandi.


"Mas, bangunlah! Mandi, ini sudah malam. Apa kamu tidak mau mandi dulu?" tanyaku yang sudah mengoyang-goyangkan badannya.


"Heeh ... eeh, gak usah sayang. Nanti saja mandi, mataku ngantuk banget nih!" jawabnya pelan, yang sedang bertelungkup tidur.


"Ya sudah, kalau begitu."


Merapikan selimut untuk menghangatkan tubuhnya.


Kini rambut sudah kuusap-usap dengan handuk, supaya cepat kering dan hilang air keramasannya. Perlahan-lahan rambut telah kusisir, dan secepatnya ingin tidur sebab mata mulai ngatuk juga.


Setelah berganti pakaian tidur, kini badan sudah tergolek dikasur, dengan menarik selimut agar sama-sama bisa berbagi dengan mas Adit.


"Kamu sudah mandi?" tanya Mas Adit, dengan badan sudah terlentang.


"Sudah, Mas! Kamu mandi sana, masak seseorang yang tampan dan cool, gak mau mandi 'kan jorok amat tuh," ledekku.


"Hemmm, iya!" Senyum manisnya yang masih memejamkan mata.


"Aaah ... hehhh. Rasanya Mas kok malas banget hari ini mau mandi, tapi badan terasa lengket sekali. Ok 'lah aku akan mandi sekarang!"


Sudah bangkit tiba-tiba. Berkali-kali mengendus bau badan sendiri


"Nah gitu dong! Masak CEO gak mandi, jorok amat," ucapku menyetujui.


"Ya ... ya, tuan putri. Kekasihmu ini akan cuuus berangkat mandi sekarang," jawabnya.


Entah berapa lama Mas Adit mandi, yang jelas diri ini tak tahan berlama-lama, untuk menunggunya agar bisa tidur bersamaan, sebab rasanya mata sudah berat sekali ingin terpejam. Pada akhirnya, dibagian perut terasa ada tangan yang sudah berjalan mengelitik dan sepertinya terasa ingin memeluk. Hidung sudah mencium bau keharuman sabun, yang sepertinya Mas Adit telah selesai menjalankan ritual mandinya.


"Kamu sudah selesai, Mas!" tanyaku sudah membuka mata.


"Sepertinya," jawaban yang sudah menautkan kedua alisnya.


"Kok sepertinya, berarti dari tadi ngapain? Sampai sekarang belum mandi-mandi,


Juga 'kah?" tanyaku heran.


"Iiichhss, kamu ini memang istri yang ngeselin. Mana mungkin hampir setengah jam didalam tak mandi, yang pastinya sudah 'lah! Kamu aja yang molor tidur duluan, sampai tidak tahu Mas sudah selesai, dan ninggalin diriku sendirian melek," jawabnya yang menarik hidung mancungku secara pelan.



"Ya maaf, Mas! Huaaaah ... habisnya aku ngantuk banget, tak tahan rasanya mataku tadi cepat ingin terpejam," ujarku yang sudah berkali-kali menguap.


"Kamu gak mau melakukan ritual yang Mas minta tadi!" tanyanya yang membuat mukaku membulat kaget.


"Iiicch, apaan sih! Itu melulu yang dalam pikiran kamu, ngak bosen apa!" jawabku.


"Hahahaha, mana ada Mas bosen kayak gituan, justru malah nambah dan nagih tahu," responnya yang tak malu lagi.


"Ck ... ck, dasar kamu ini, Mas! Manusia berotak mesum, selalu dipenuhi pikiran kayak gituan," keluhku tak suka.


"Hiihihi, tapi kamu suka 'kan? Lagian gak pa-pa melakukan kayak gituan sama istri sendiri, sah-sah aja lho," jawabnya santai.


"Entahlah," jawabku yang sudah tidur membelakanginya.


"Kok entah!" tanyanya.


"Hei, sayangku Ana. Jangan marah! Mas tadi hanya bercanda, iya deh sekarang kita tidur," rayunya yang sudah memelukku dari belakang.



"Tahu ah, Ana mau tidur."


Klitik ... klitik, tangan jahil mas Adit sudah mengelitik perutku.


"Hihihihi, hentikan mas! Geli tahu," tawaku pelan, mencoba menghindari tangan jahilnya.


"Hentikan Mas ... hentikan," Permohonanku.


Cuuup, bibirnya tanpa basa-basi lagi telah terdarat dibibirku.


"Kamu istri paling manis yang selalu akan kusayangi," ujarnya merayu.


Cuuup, untuk yang kedua kalinya bibir telah tertempel melekat dibibirku.


Tangan mas Adit sudah mengrayahi, dan mengusap-usap lenganku. Rasanya gairah Mas Adit terlihat sudah memuncak, dan aku hanya bisa terdiam atas perlakuannya, toh diri ini memang haruslah mengalah, sebab ini semua adalah kewajibanku.


"Kamu memang cantik sekali wahai istriku, aku sangat mencintaimu melebihi apapun yang ada di dunia ini," bisiknya ditelinga sambil mencium tengkukku.


Aku yang merasa gelipun, hanya pasrah saat suami terus saja mencium leher tanpa henti. Sungguh hati terasa bahagia, saat dia tak henti-hentinya mengatakan kata-kata romantis ditelinga.


Malam kian hari kian larut, saat kami berdua telah terbuai akan keindahan malam yang syahdu. Kasurpun kini tak berbentuk lagi, yang sudah porak poranda disembarang arah. Setelah melakukan ritual yang panjang. Tubuh sudah terbungkuskan selimut, yang dibenahi oleh tangan mas Adit.


"Tarima kasih, sayang. Cuuuup," ujarnya yang sudah mengecup keningku.


Diri ini tak menyia-nyiakan kesempatan untuk merengkuh dalam pelukannya, dengan kepala melekat berada dalam dada bidang, sehingga rasa kehangatanpun telah menghampiriku. Mata kamipun akhirnya terpejam, yang tidur saling berdekatan untuk berpelukan.