Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
Bertandang ke rumah Karin


Alhamdulillah, tak ada hal yang serius mengenai penyakit buah hatiku Naya, walau sempat lama dirawat dirumah sakit selama sebulan, namun kondisinya tak berbahaya sebab tinggal pemulihan saja ketika dioperasi dulu. Mungkin rasa kelelahan dan ada pantangan atas makanan, membuat Naya makin melemah atas kondisinya kemarin.


Kesembuhannya begitu kusambut penuh antusias bahagia, hingga tangan kiri kanan penuh oleh mainan yang barusan kubeli. Bermacam-macam jenis mainan anak perempuan kini kubawa, termasuk boneka jumbo yang menjadi kesukaan Naya.


"Assalamualaikum!" salam teriakku.


Pintu yang terbuka, membuatku langsung nyelonong masuk saja, tanpa menunggu lagi sang empu yang punya rumah menjawab.


"Walaikumsalam," jawab kompak suara perempuan dan laki-laki.


Seketika langkah terhenti, saat melihat Karin tengah duduk bersama Chris. Kening langsung berkerut keatas, menandakan tak suka atas keberadaan Chris sekarang.


"Hmm, kenapa juga selalu ada Chris, saat tak tepat akan waktunya? Dasar dia ini, apa tak ada sopannya main tandang begitu saja kerumah orang? Jangan mentang-mentang sudah jadi calonnya, maka sekarang enak-enakkan datang kerumah ini sewaktu-waktu," Kekesalanku berkata dalam hati.



Rasa tak suka ini begitu kuat. Entah mengapa melihat wajah Chris, seakan-akan tangan begitu gatal ingin mengajak berkelahi saja. Walaupun aku merelakan Karin bisa bersama, namun sifatnya yang sok kalem dan minta perhatian itu membuatku eneg saja jika melihatnya.


"Aku langsung masuk saja kekamar Naya," terangku saat ingin melewati mereka.


"Emm," jawab Karin biasa saja.


Rasa sayang ini begitu kuat, hingga ketika melihat ada pria yang dekat-dekat dengan Karin, hawa yang ada dalam tubuh selalu panas saja. Entah apa yang terjadi padaku sekarang, dalam mulut rela namun didasar hati yang paling dalam belum sepenuhnya ikhlas melepaskan.


Tok ... tok, pintu kuketuk perlahan.


"Ayah ... Ayah!" Suara Naya nampak kegirangan.


"Hei sayang, gimana kabarnya?" tanyaku berbasa-basi.


"Naya baik, Ayah."


Semua barang-barang yang terbawa ditangan, kini kutaruh dilantai begitu saja, sebab ingin membelai sayang wajah buah hati.


"Alhamdulillah, kalau begitu. Itu tandanya Naya adalah anak baik, hingga bisa sembuh dengan cepat," cakapku sambil mengelus pelan rambut halusnya.


"Kan dari dulu Naya memang anak baik. Oh ya, Ayah. Banyak sekali barang yang Ayah bawa, memang itu apa?" tanyanya penasaran.


"Oh ini! Yang pastinya ini adalah hadiah buat Naya, karena sudah sembuh dengan cepat," jawabku.


"Benarkah itu? Wah, terima kasih ya Ayah. Naya jadi tidak enak, selalu saja merepotkan Ayah, terima kasih!" ucapnya penuh keluguan.


"Iya, sayang. Ngak pa-pa, Kok. Ayah tulus memberikan ini, sebab kamu adalah anak terbaik yang Ayah miliki," jelasku.


"Anak? Maksudnya apa Ayah?" tanya kepolosannya sambil mengambil paper bag.


"Ee'eh, tidak kok sayang. Maksudnya anak angkat yang terbaik bagi Ayah, begitu!" jawabku berbohong.


"Ooh. Wah, bagus-bagus sekali ini hadiah, Ayah. Terima kasih!" ucapnya kagum saat melihat boneka barbie, yang dia angkat dari dalam paper bag.



"Iya, sayang. Sama-sama."


Statusku sebagai Ayah yang asli belum terungkap juga, rasanya masih belum siap saja mengatakannya. Sementara ini Naya yang masih kecil, pasti belum mengerti tentang peliknya masalah kami, maka untuk sementara kami semua merahasiakan status kami, sampai suatu saat dia mengerti akan kami ceritakan segalanya.


Seharian penuh aku bermain dirumah orangtua angkat Karin. Mereka semua ternyata ramah dan selalu menyambutku dengan hangat, hingga selalu saja betah jika berlama-lama dirumah mereka.


"Mana bapak sama ibu kamu?" tanyaku saat Karin sibuk didapur.


"Mereka lagi bertandang ke kondangan tempat tetangga," jelas Karin yang menatap ke arahku, saat sudah selesai mencuci piring.


"Ooh. Apa kekasihmu sudah pulang, kok sepi?" tanyaku pura-pura kepo.


"Yang kakak maksud, Chris? Dia dari tadi sudah pulang, kenapa? Apa ada hal penting yang kak Adrian ingin bicarakan padanya?" ucap pertanyaan Karin yang menyingung.


"Memang hal penting apa yang harus kubicarakan padanya. Tidak, aku hanya bertanya saja, sebab nampak sepi saja rumah ini," jelasku.



"Tunggu," cegahku yang sudah menarik tangannya.


Karena tiba-tiba dan tak siap, membuat tubuh Karin membentur tubuhku secara kuat.


"Ada apa'an sih, Kak? Kalau ingin berbicara tak payah menarik tanganku kuat begini," keluhnya tak suka.


"Memang kenapa? Oh ya, kenapa wajahmu berubah ekspresi seperti kepiting, nampak terlalu merah merona begitu," bisikku ditelinganya.


"Siapa bilang aku merona, mengada-ada kalau ngomong. Ini 'tuh karena gerah habis masak tadi," pungkirnya menjawab.


"Benarkah itu? Bukan karena gerah oleh diriku 'kan?" tebakku penuh percaya diri.


"Ciih, terlalu besar sekali dugaan kamu itu!" ketus jawab Karin.


"Sekarang lepaskan tanganku, aku mau menemani Naya sebentar."


"Apa kamu tak bisa menemaniku sebentar juga? 'Kan tadi sudah bilang, kalau anak kita Naya sudah tidur," cakapku membelai pelan wajahnya.


"Jangan kurang ajar kamu, kak!" Tepis Karin secara kasar.


"Aku bukan ingin kasar, namun aku sangat merindukan kasih sayangmu. Jangan tinggalkan aku, Karin! Sebab jika tak ada dirimu disisiku, pasti tidak bisa berbuat apa-apa lagi untuk menjalani hidup ini," terangku menatapnya penuh gelora akan kerinduan.


"Apa maksudmu? Apa kakak kurang jelas, bahwa aku sudah ada yang punya," jawab Karin mengingatkan.


"Aku tahu, namun apakah kamu masih tak berpikir tentang rasa cintaku? Mungkin ini semua tak bisa berubah, tapi tolong pikirkan kembali keputusanmu itu, yang ingin bersama orang lain," pintaku sendu.


"Sudahlah, kak. Itu semua mustahil, sebab semua sudah terlambat. Sekarang cepat lepaskan tanganku, paham!" tekannya berkata.


"Aku tak bisa melepaskan genggaman tanganku ini, seperti halnya dengan hatiku sekarang. Aku bisa merasakan cinta yang semakin bergelora ini, hingga nafasmu yang mulai lambat, kini terasa semakin cepat dan membuatku semakin mabuk kepayang. Tatapanmu sekarang dingin seperti es, dan itu membuat tanganmu kini terasa dingin sekali," sindirku.


"Jangan bicara sembarangan! Mana ada tanganku dingin," cakap Karin sudah bringsut seperti ketakutan.


Diri ini sangat tahu sekali, bahwa Karin benar-benar grogi dan merona, namun dia terus saja memungkiri semua tebakkanku. Tatapan netra kami terus saja saling mengkunci, dan aku bisa membaca apa yang ada didalamnya yaitu sebuah kerinduan juga.


"Tak ada yang tersisa lagi, lebih baik kakak pasrah dan berusahalah memejamkan mata agar kau tak menyaksikan perpisahan kita, sebab setelah malam-malam ini semuanya akan segera berakhir. Tak usah banyak berfikir lagi, sebab mungkin ini adakah akhir kita masih bisa berdekatan seperti ini, karena acara sahnya aku dan Chris akan segera berlangsung dalam ikatan janji pernikahan," jawab Karin penuh penekanan.


"Aaah, sial ... sial. Bagaimana membuatmu jatuh cinta dan membiarkan aku masuk lagi, sebab aku sangat mencintaimu. Matamu kini sangat menyiratkan kau juga ingin mencobanya lagi, tapi rasa amarah dan kebencianmu begitu besar, hingga cinta yang sempat ada telah terkalahkan," rancau hati masih sibuk menatap Netra Karin yang nampak indah kecoklatan.


"Jangan biarkan ini berlalu begitu saja, karena aku ingin mulai malam ini hubungan kita masih bertahan selamanya, sebab aku berusaha melakukan apapun yang kau mau," bujukku santai.


"Tidak bisa, kak. Hubungan kita sudah terlalu jauh untuk mendekat lagi. Semuanya sudah retak tak bisa diperbaiki lagi, jadi kumohon lepaskan dan ikhlas aku bersama orang lain," jawabnya yang sudah memalingkan muka.


"Assalamuakaikum," cakap salam seseorang.


Seketika tangan dan tingkah terhadap Karin kubenahi, sebab tak ingin ketahuan oleh orang lain atas sikap kami yang nampak mesra.


"Walaikumsalam," jawab kami kompak.


Rasa terkejut kami berubah menjadi sebuah senyuman manis, ketika menyambut hangat kedatangan orangtua angkat Karin sudah pulang.


"Eeh, ada nak Adrian. Sudah lama disini?" tanya Bapak Karin.


"Lumayan lama sih, Pak. Oh ya, karena kalian sudah pulang, maka saya akan pulang juga, sebab ini sudah malam," cakapku berusaha pamit.


"Kok buru-buru amat, padahal Bapak sama Ibu baru saja datang," jawab Ibu Fatimah.


"Hehehe, maaf ya Bu, Pak. Lain kali saja Adrian akan berlama-lama disini. Lagian tadi sudah lama menemani Naya dan sekarang dia sudah tidur, jadi cukup nanti kusambung menjenguknya," tuturku lemah lembut.


"Oh ya, sudah. Kalau begitu hati-hati dijalan," simbatan jawaban Bapak Karin.


"Iya, Pak. Ya, sudah Adrian pamit dulu," cakapku ingin berpamitan dengan mencium tangan punggung mereka.


Kaki yang melangkah keluar, kini telah membawa luka kekecewaan, saat Karin tetap berpegang teguh ingin menikahi Chris. Kecewa yang telah kurasa sekarang, bagaikan ribuan jarum telah terasa menusuk hati ini.