Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
N2=Istriku Yang Hilang>> Dia yang terluka


[Hallo ... hallo, mas. Ada apa, mas? Hallo, tolong jawab aku. Hallo]


Berkali-kali berbicara namun tidak ada sautan, ditambah panik kini sudah datang melanda membuat makin kalut.


"Ada apa, Ana?" tanya Bapak yang tiba-tiba datang.


"Ini Pak, tadi ada telephone dari mas Adit, tapi sekarang Ana kok merasa aneh, tidak ada sama sekali sautan dari suaranya. Takutnya sudah terjadi apa-apa sama dia, Ana jadi takut dan khawatir sekali sama mas Adit," Kegelisahanku menerangkan.


"Kamu tenang dulu, mungkin ada masalah sama handphone Adit, doakan saja semoga dia baik-baik saja," bapak berusaha menenangkanku.


Kring ... kring, gawaiku kini berbunyi dan sudah tertera nama mas Adit.


[Hallo, mas Adit?Keadaan kamu baik-baik saja 'kan? Kenapa tadi sambungan terputus]


Suaraku menyambut dengan gembiranya.


[Maaf mbak, saya bukan pemilik handphone ini, tapi orang lain]


[Lha memang suamiku kemana? Kok gawainya kamu yang pegang?]


[Maaf mbak, suami anda sekarang sedang tertimpa musibah kecelakaan, dan sudah dibawa ke rumah sakit xxx]


[Apa? Kecelakaan?]


[Iya, mbak]


Klutaaak, gawai sudah terlepas begitu saja, dan kini terjatuh dilantai akibat terkejut.


"Ada apa, Ana?" tanya Bapak khawatir.


"Mas Adit, Pak. Dia kecelakaan," jawabku diiringi tangisan.


"Tenang Ana ... kamu tenang dulu. Lebih baik sekarang kita langsung berangkat ke rumah sakit saja," suruh bapak.


"Iya pak, cepat ... cepat, ayo Pak! Kita berangkat sekarang!" Kepanikanku berucap.


Dengan perasaan khawatir, aku dan bapak secepatnya berangkat menaiki taxi. Tangan terasa mulai gemetaran dingin, akibat rasa cemas yang sudah datang begitu memuncaknya.


"Pak, ayo. Cepa, Pak," suruhku tidak sabar.


"Iya Buk, sebentar lagi kita akan sampai," jawab pak sopir taxi.


"Sabar Ana, semoga saja tidakak terjadi apa-apa sama Adit," ucap Bapak menenagkanku.


"Amin Pak, semoga saja."


Benar kata pak sopir taxi, tidak butuh waktu lama akhirnya kami sampai juga dirumah sakit.


"Maaf Mbak, ada yang ingin saya tanyakan. Di sini ada pasien yang baru saja kecelakaan tidak? Kalau ada di nomor berapa dia dirawat?" tanyaku tergesa-gesa.


"Oh iya, Mbak. Memang ada, dia sekarang sedang berada diruang operasi, sebab tadi keadaannya sedikit parah. Mbak, lurus aja dari ruangan ini, terus ada belokan mbaknya nanti menuju ke arah kanan, disitu nanti tertera ada ruangan operasi, disitulah korban berada," terang pegawai receptionist.


"Terima kasih, Mbak."


"Ayo Pak," ajakku.


Kaki terus saja melebar-lebar berjalan, yaitu agar secepatnya datang ke ruangan yang dimaksud pegawai rumah sakit tadi. Saat sampai ditempat tujuan, lampunya sedang menunjukkan warna merah, yang menandakan operasi sedang berlangsung.


"Bagaimana, Ana?" tanya Bapak dan Ibu mertua yang sudah datang juga.


"Belum tahu, Ma, Pa! Ana juga baru datang," terangku.


"Kamu yang sabar ya Ana, kita doakan saja semoga Adit baik-baik saja," Bapak mertua berbicara.


"Iya, Pa. Semoga mas Adit baik-baik saja," jawabku.


Rasannya sungguh lama sekali ruang operasi belum berganti warna lampunya, Mama terus saja melangkah mondar-mandir akibat rasa khawatir.


Kling, lampu kini sudah berubah menjadi hijau.


Gradaaak, ruang operasi kini telah terbuka, dan sudah menampakkan beberapa orang memakai pakaian putih sedang berjalan keluar.


"Gimana dok? Keadaan anak saya?" tanya mama tidak sabar.


"Alhamdulillah, operasinya berjalan dengan lancar," ujar dokter.


"Alhamdulillah," ucap kami serempak.


"Luka dikaki sudah kami jahit dan operasi, sebab tadi ada masalah dikaki yang sedikit bengkok akibat terjepit," penjelasan dokter.


"Oh ya, satu lagi. Nanti ada terapy untuk kakinya, sebab keadaan kakinya kira-kira belum sembuh total," ucap dokter.


"Baik dok!" jawab mama.


Hati rasanya lega sekali, ternyata mas Adit masih disayang oleh Yang Maha Memberi Hidup, dan sudah menyelamatkannya walau beberapa luka berada di tubuhnya.


Airmata tak henti-hentinya menetes, saat melihat keadaannya sudah terbaring lemah, dengan kaki dan kepala dibungkus perban.


Sungguh tak tega sekali rasanya untuk menatapnya, dia begitu pucat tergolek dengan mata masih terpejam didalam kesakitan.


"Kamu yang sabar ya sayang, ini adalah ujian kamu berdua. Kamu jangan terlalu banyak pikiran, kasihan dengan baby yang kamu kandung nantinya," peringatan mama.


Mungkin bahagia yang akut telah membuat Mama tahu kehamilan dari suami.


"Iya, Ma. Mama tidak usah khawatir, airmata ini adalah sedih saat dia tergolek lemah, dan bahagia saat dia masih terselamatkan," jawabku yang sudah memeluk beliau.


"Iya, sudah ... sudah. Mama tahu. Ternyata Allah masih menyayangi Adit, sehingga nyawanya terselamatkan," ujar beliau sambil mengelus-elus pundakku.


"Terima kasih, Ma. Kamu selalu ada untukku."


"Sama-sama, sayang."


Aku sudah ditemani mama mertua untuk menunggu mas Adit selama 24 jam, yang mana dia masih enggan membuka matanya.


Diri ini sudah berusaha tetap bersabar, dan tak terhanyut dalam kesedihan yang sedang menguji kesabaranku.