
Kini hari-hariku sudah santai, dan berusaha melupakan rasa sakit itu. Dan rasa amarah kini sudah dimulai untuk menyegerakan aksiku, memberi pelajaran pada Ana.
Sudah dari pagi buta aku sudah mengawasi restoran bapak Ana, dengan mobil terparkir tepat didepannya, dan tanpa diketahui oleh siapapun diri telah menunggu lama, untuk menanti Ana keluar rumah yang mana aku duduk manis didalam mobil.
Pucuk di cinta ulampun tiba, setelah berjam-jam menunggu akhirnya dia keluar juga dipersembunyian rumahnya. Perlahan namun pasti aku mengikutinya dari belakang, dimana Ana sekarang sedang menaiki angkot. Setelah beberapa menit mengikutinya, akhirnya angkot berhenti juga di sebuah pasar didaerah asal kami.
Diri ini terus saja menunggu dengan sabar di dalam mobil, sebab tak mungkin aku menjalankan aksiku ditempat keramaian.
Tin ... tin, bunyi klaksonku berbunyi, saat Ana sudah kelauar dari pasar.
"Bisa kita bicara sebentar?" sapaku dibalik kaca mobil.
"Salwa? Kamu?" Keterkejutannya.
"Iya ini aku."
"Bolehkah aku berbicara denganmu?" Berulangnya ucapanku.
"Ada apa?" tanyanya seperti ragu.
"Biasa. Ada sedikit hal yang ingin dibicarakan sama kamu."
"Kalau tidak penting sangat, aku minta maaf sebab sedang buru-buru ingin pulang!" ucapnya sedikit ada penolakan.
Tapi aku tak kehabisan akal begitu saja, supaya dia benar-benar mau ikut denganku.
"Sebentar saja," jawabku.
"Kalau bisa lima belas menit saja, ini menyangkut masalah Adit, bisa 'kan?" bujukku.
"Emm, gimana, yah! Sebab belanjaan sedang ditunggu bapak."
"Sebentar saja, kok. 10 menit saja kalau mau."
"Hh, baiklah," jawabnya menyetujui.
Akhirnya tanpa mengeluarkan tenaga, Ana nurut juga.
"Naiklah dalam mobilku, sekalian mengantar kamu untuk pulang," basa-basiku menawarkan.
"Baiklah, terima kasih."
"Oh ya, kata kamu tadi ada yang ingin kamu bicarakan? Kalau boleh tahu, apa itu?" Ana sudah tidak sabar.
"Biasa masalah Adit. Aku sekarang sudah mengikhlaskannya untukmu, jadi kita akan menjadi sahabat. Boleh 'kan?" basa-basiku berpura-pura baik.
"Boleh ... boleh saja. Alhamdulillah kalau kamu sadar bahwa kalian tidak berjodoh," jawabnya dengan enteng.
"B*ngs*t, siapa juga yang menyerahkan Adit sama kamu. Jodoh bisa diubah jika aku mau. Kamu saja terlalu tolol ikut permainanku sekarang. Sebentar lagi senyuman kamu itu akan berubah tangisan, hahahha," Dalam hati sudah tertawa jahat penuh emosi.
"Terima kasih, ya. Sudah mau mengantar, jadi merepotkan kamu."
"Sama-sama. Tidak usah sungkan begitu. Anggap saja ini sebagai niat baikku ingin berteman sama kamu."
"Iya. Oh ya. Kamu kok bisa ketemu aku tadi?" tanyanya penasaran.
"Ooh ... oh, yang tadi ituu-! Aku kebetulan lewat, dan melihat kamu sedang berjalan, dan akhirnya nyamperin kamu tadi," responku berbohong dengan kikuknya menjawab, sebab binggung mencari alasan.
"Oh, begitu. Terima kasih sekali lagi, sudah mau memberiku tumpangan," ujar Ana.
"Iya sama-sama. Kita 'kan sudah berteman," kepura-puraanku memberi senyuman selebarnya, padahal hati sudah dongkol dan eneg sekali atas sikapnya.
Setelah berbicara keasyikan panjang lebar dengannya, otak mulai kembali berpikir untuk segera melaksakan rencana busukku.
"Ada apa, Salwa?" tanyanya saat mobil tiba-tiba kuhentikan dipinggir jalan.
"Gak ada apa-apa. Aku cuma mau ambil sapu tangan, untuk mengelap keringat yang mulai bercucuran di badanku," alasan saat tangan sedang sibuk mengambil sapu tangan dalam tas.
"Ooh, perasaan gak panas dech! Kok bisa kamu sudah keringetan," ucapnya penasaran, dengan netra melihat clingak-clinguk ke arah kaca mobil.
"Entahlah, aku kok bisa berkeringat begini, ya! Mungkin lagi masuk angin saja ini," ujarku yang terus saja berusaha mengajaknya berbicara.
Tanpa dia ketahui, siasatku ternyata dengan mudahnya sudah maju satu langkah. Tangan sudah berancang-ancang. Wajah Ana kutatap tajam. Dia tidak menaruh curiga sedikitpun.
"Eem ... emm ... eem," Suara tertahan Ana tak bisa apa-apa, sebab langsung kubekap dengan sapu tangan yang sudah kububuhi obat bius.
Plak ... plak, rontaan Ana memukul lenganku dengan memakai tangannya, akibat tak setuju yang telah kulakukan kini. Sebab takut jika tidak berhasil tangan kutekan kuat, sehingga sapu tangan harus benar-benar bisa membuat Ana menghirup udara sapu tangan saja.
Dan tak butuh waktu lama, kini dia sudah terkulai lemas tak berdaya. Akibat kuatnya pengaruh obat bius, sehingga membuatnya kini pingsan.
Mobil sudah kukendarai dengan sekencang -kencangnya, sebab rasa grogipun sudah menghampiri. Baru pertama kali ini aku melakukan penculikan, tanpa ada bantuan siapapun.