
Celemek sudah menutupi baju agar tidak kotor. Chandra ikutan memakai juga. Waktu terus berjalan, sehingga kami harus berlomba dengan waktu agar permintaan segera terpenuhi.
Tangan kami berdua mulai telaten mengaduk, menguleni, memanggang, dan menghias. Chandra baru pertama kali melakukan ini, tapi dia bisa dengan cekatan mengusai medan yang baru saja kuajarkan.
"Maafkan aku. Pasti sekarang kamu lelah sekali," Chandra sudah mengelap keringat yang ada dikeningku dengan selembar kain.
"Iya, tidak apa-apa. Sama-sama."
Rasanya bikin malu sekali atas sikapnya barusan. Bisa mengelap sendiri, kenapa harus cowok yang tampan ini harus mengelap kening ada aliran air.
"Ini semua gara-gara, Mama."
"Sudah lupakan saja. Tidak baik menyalahkan beliau terus."
"Terima kasih kamu telah pengertian."
"Iya."
"Mungkin ada kata-kata beliau yang menyakiti kamu, atas nama beliau aku minta maaf."
"Iya, Chan. Sudah, jangan dipikirkan lagi. Aku sudah memaafkan. Mungkin beliau tidak sengaja melakukan itu."
"Makasih sekali lagi atas pengertiannya."
"Hmm, sama-sama."
Walau mulut kami berbicara, tapi netra terus fokus sama pembuatan kue.
"Apakah kamu tidak ngantuk, huwaaah!" Chandra mulai menguap.
Jarum jam mulai terarah di angka satu malam. Sudah sekian jam tak terasa kami bergulat tanpa jeda melakukan pekerjaan. Sekarang belum terasa lelahnya, mungkin besok pagi badan akan tarasa remuk redamnya.
"Enggak juga. Mungkin karena semangat mengerjakan ini semua, jadi rasa ngantuk hilang."
"Iya juga sih. Entah mengapa aku mulai ngantuk banget ini, mungkin saja efek siang tadi kerja extra menguras tenaga, jadi sekarang berasa lemas dan capek saja."
"Yah, maafkan aku jika sekarang membuat kamu terlibat sama pekerjaanku," cakap tak enak hati.
"Seharusnya akulah yang harus banyak-banyak meminta maaf."
"Tidak usah bilang begitu. Kita hari ini impas saja saling memaafkan."
"Iya, terima kasih."
Mencoba duduk berduaan diteras belakang toko, sambil menikmati keindahan rembulan yang sedang membulat sempurna. Sedikit demi sedikit kopi terus kami seruput.
"Apakah kau sangat mencintai orang yang wajahnya hampir sama denganku itu?" Pertanyaan konyol Chandra.
Pekerjaan tinggal dikit lagi, yaitu menunggu memanggang dan menghias saja.
"Kalau dikatakan cinta, aku sangat mencintainya, tapi sayang kami tidak bisa bersama waktu itu."
Netra Chandra sudah melihat kearahku, tapi sikap pura-pura tidak melihat, karena fokus sedang melihat rembulan yang mulai sedikit tertutup awan.
"Kenapa bisa begitu?" imbuhnya.
"Maaf, aku tidak bisa menjelaskan secara detail. Ada sesuatu luka yang mengharuskan kami tidak bisa bersatu."
"Luka? Bukankah itu bisa disembuhkan? Mungkinkah kamu dulu terlalu larut dalam luka, sehingga orang yang sangat kamu cintai kini telah lepas."
"Yang kamu katakan ada benarnya. Saat itu aku tidak terima dia kembali dihadapanku, setelah sekian tahun telah berhasil mengoreskan luka."
"Apa kamu menyesal? Setelah kini dia telah tiada dan kamu tidak bisa memiliki, bahkan memaafkan kesalahan dia belum sempat kamu ungkapkan."
"Menyesal pasti ada, tapi tidak semua harus disesali lebih dalam lagi. Sikapnya dulu sangat memuakkan dan benar-benar kubenci, sampai-sampai melihat mukanya saja seperti ingin kuhancurkan selebur-leburnya," cakap mengeluarkan uneg-uneg.
"Sekarang lupakan itu semua. Buang emosi kamu yang telah membencinya. Tidak baik menyimpan dendam padanya," nasehat Chandra.
"Iya, Chan. Aku berusaha membuang itu semua. Tapi ingatan akan kebersamaan kami susah untuk dilupakan begitu saja."
"Kenangan yang hangat dan manis memang susah dilupakan, apaalagi orang itu adalah yang terkasih. Pelan-pelan saja atas semua itu, yang terpenting sekarang jangan buat itu semua jadi beban hidup, jadi kamu bisa terus maju kedepan menjalani cita-cita yang mungkin belum terwujud sekarang ini."
"Iya, chan. Terima kasih atas nasehatnya. Kamu baik sekali, selalu saja memberikan kata-kata bijak, sehingga aku sadar akan semua kesalahan."
"Sama-sama. Mungkin pengalaman hidup yang sempat terpuruk juga, yang menjadikan aku suka menasehati."
"Hemm."
Bau kue mulai matang, maka kami berdua siap melakukan pekerjaan lagi. Karena Chandra tidak menghias, maka akulah yang melakukan dan dia hanya memperhatikan sambil sibuk memanggang.
Kedekatan yang tak terduga diantara kami. Walau baru mengenal Chandra, rasanya begitu tentram saja berada didekatnya.
Tak terasa suara orang sedang mengaji mulai bergema, tanda kalau waktu shubuh mulai datang. Badan begitu lemas, tapi pekerjaan harus diselesaikan hari ini juga. Mungkin habis menyelesaikan semuanya, maka akan izin cuti sejenak agar bisa tidur sepuasnya, untuk membayar hutang ngantuk yan tertahan dari semalam.
Kue sudah siap semua. Akupun tak luput membantu Chandra memasukkan dalam mobil. Udara pagi yang menerpa badan begitu menusuk tulang. Akibat buru-buru jadi lupa memalai jaket, jadi jaket Chandra kini kupakai untuk menutupi tubuh yang mulai mengigil kedinginan. Chandra mungkin sama akan diriku, tapi berusaha ditutupi sebab lebih kasihan sama diriku, yang bibir mulai membiru tak tahan lagi atas dingin.