
Satu tahun dalam pernikahan kami dulu, sebenarnya dalam diriku sudah ada benih-benih cinta terhadapnya. Saat dia sudah resmi menjadi istri sah akibat terlena atas kebodohan sendiri, diri ini masih saja menikungnya dengan menjalin asmara dengan teman SMA tanpa sepengetahuannya, tapi sayangnya serapat apapun keburukan yang kubuat, tetap akan terbongkar juga, sehingga dia pergi begitu saja membawa luka hati.
Ketika kasih sayang cintaku datang. Dia pergi kabur begitu saja selama enam tahun, dan sungguh itu semua membuat diri ini begitu tersiksa akan sebuah penyesalan, sebab sudah menyia-nyiakan orang yang pernah tulus mencintaiku.
Sebuah minuman kaleng sudah berada ditangan, dengan menatap pemandangan diluar kaca apartemen. Diri ini kini sedang mengenang-mengenang kesalahan yang kuperbuat pada istri, dimana netra sedang fokus melihat pemandangan mobil, yang sedang berlalu lalang dalam kegelapan malam.
"Aah, betapa bodoh dan lemahnya diri ini, urusan satu cinta saja begitu susah untuk mendapatkannya," gerutu dalam hati ada rasa penyesalan.
Dalam pikiran yang kalut, galau, dan sedih, mencoba membuka tabir kisah cinta antara diriku dengan Ana kembali, yang mana sudah enam tahun terpisah oleh ruang dan waktu. Begitu kejam sudah terpaksa menyudutkannya untuk meninggalkan diri ini sendirian. Setelah kepergiannya baru terasa sekali kehilangan cintanya, dan dia pergi sebab kesalahanku yang telah menganggapnya tidak pernah ada dalam hidupku.
"Maafkan aku, Ana. Mulai sekarang akan kubuktikan bahwa cinta ini telah tulus untukmu. Berharap sekali jika hatimu bisa membalas."
Gelora cinta yang membara telah berhasil memisahkan kami, yang sama-sama sudah merasakan akan namanya terluka. Cintanya yang benar-benar tulus padaku, mulai merasuk terlalu dalam dijantung hatiku, sehingga tidak dapat dipungkiri lagi untuk tidak mencaintainya balik.
Dalam hati yang terdalam, sejujurnya telah berpikir bahwa aku mulai tak bisa hidup lagi tanpa Ana, dan sekarang sungguh membuatku merasa gila atas nama cinta, karena bagiku dialah cinta satu-satunya dan untuk selamanya. Andaikan saja waktu dapat berputar kembali, mungkin takkan kusia-siakan lagi dirinya.
>>>>
Waktu pagi untuk bekerjapun sudah menjelang. Sekarang aku sedang menunggu Ana di pintu utama perusahaan, yang hampir setengah jam lebih diliputi rasa cemas menunggu kehadirannya. Mata rasanya sudah tak sabar sekali, ingin melihat sosoknya yang sudah sangat kurindukan. Dengan terpaksa kini aku bersembunyi di ruang informasi tamu, sebab sudah berjanji tidak akan berhadapan langsung dengan Ana.
Berkali-kali mata hanya fokus ke arah pintu masuk yang terbuat darI kaca, dan akhirnya sosok yang kutunggu-tunggu sudah tiba, yang ternyata ia telah menepati janjinya untuk bekerja kembali. Baju kaos putih, yang bertutupkan jaket hitam, ditambah balutan bawahan celana levis yang berwarna hitam juga, kini sungguh menampakkan betapa casual dan modisnya dia cara untuk berpakaian, sehingga memperlihatkan bahwa dia sungguh cantik dan menawan.
Diri ini hanya bisa melihatnya dari kejauhan, yang tidak berani menyapanya, sebab sudah ada kesepakatan diantara kami.
"Ana, tunggu!" seseorang sedang memanggil istriku.
"Eh, kamu Edo, ada apa?" jawab Ana pada temannya seperti sesama pegawai kebersihan.
Telinga terpasang untuk menguping.
"Bareng ke dalamnya!" Percakapan mereka yang terdengar olehku.
"Kamu kemana? Kok seminggu tidak kerja?."
"Gak kemana-mana, dirumah saja. Badan lagi gak sehat, jadi kemarin minta cuti," penjelasan Ana.
"Ooh, gitu."
"Eh, nanti siang kita makan bareng, yuk?" tawarnya.
"Oke, sipp 'lah!" jawaban Ana diiringi senyuman.
Tanpa Ana mengetahui bahwa aku mendengar percakapan mereka, ketika masih sibuk tengah bersembunyi. Rasanya hati sekarang begitu mulai panas, sebab mendengar obrolan yang memuakkan saat mereka ingin makan siang bersama, sehingga membuat cukup gelisah tak menentu dan was-was.
"Aku harus tahu apa saja yang mereka lakukan di kantin nanti," Hati berkata pada diri sendiri.
"Awas saja kalau pria itu macam-macam."
>>>>
Sekarang aku dan Rudi duduk tepat disebelah samping Ana, yang sedang makan siang. Sekertaris Rudi sudah begitu lahapnya menyantap makanan dikantin, dan sesekali wajahnya menatapku tajam, diiringi dengan mengeleng-gelengkan kepala, mungkin sedang merasa aneh dan konyol saat melihat diriku memata-matai istri sendiri.
"Ana, ini makan yang banyak, ya!" tawar temannya, dengan menaruh ayam dipiring Ana.
"Terima kasih, dan ini ambilah juga?."
"Terima kasih, ya."
"Egkhem ...ehmm. Uhuk ... uhuk," Suaraku yang mengagetkannya.
Diri ini rasanya begitu kesal, tak setuju atas pertukaran makanan yang mereka lakukan. Apalagi Ana, berani-beraninya berbasa-basi memberikan lauk makan balik.
"Hehehe, maafkan temanku yang sedang batuk ini!" ucap Rudi menerangkan pada mereka.
Kini Rudi melihatku dengan tatapan tidak senang, sambil menendang-nendang kakinya kepadaku, mungkin tak senang atas kelakuan yang barusan telah kuperbuat.
"Ekghem ... hemm," Gantian Rudi berdehem, akibat mereka menatap kami secara terus-menerus dengan tatapan aneh.
"Oh ya, Ana! Kamu sama Bos besar ada hubungan apa? Kelihatannya kok akrab banget?" tanya temannya.
"Gak ada apa-apa sih! Dia hanyalah masa lalu yang dulu aku pernah mencintainya, tapi sekarang rasa itu sudah kubuang jauh-jauh ke sungai, dan cinta itu sudah hanyut dibawa pergi oleh arus deras, yaitu dengan rasa cintaku yang hilang sudah terhadapnya, seperti arus tadi yang membawanya pergi," jawab panjang lebar Ana.
"Uhuk ... uhuk, ahhh" Rudi tiba-tiba terbatuk mendengarkan jawaban Ana.
"Bapak ngak pa-pa?" Sebuah sodoran air putih diberikan Ana.
"Eghm, uhuk ... uhuk. Aku ngak pa-pa ... ngak pa-pa," jawab Rudi.
"Ini klien nya ya, Pak? Kok kelihatannya dari tadi ada gelagat aneh, seperti mencuri-curi melihat ke arah kami? Lagian, kok makan dikantin memakai masker?" tanya Ana sudah mulai curiga.
"Oh iya, dia adalah klien, dia sedang nlgak sehat jadi memakai masker. Sebab aku mau makan dikantin, jadi kami tadi janjiannya berada di sini," ujar Rudi mencoba menjelaskan.
"Oooh," jawaban Ana ber-oh ria.
Walau dia sudah mendapat jawaban, dan mulai duduk untuk melanjutkan makan, tapi matanya terus saja melihat kearahku dengan tatapan aneh dan curiga.
"Oh ya, Ana! Kamu hari minggu ada acara ngak? Ikut aku jalan-jalan ke taman hiburan, yuk? Disana banyak permainan, lho!" Tawaran temannya mau mengajak Ana.
"Gimana ya, Edo! Aku sedikit ada keperluan, tapi insyaallah akan kuusahakan, tapi kayaknya siang kita bisa baru pergi, sebab paginya aku ada perlu sedikit. Terima kasih atas tawaran kamu. Untung saja kamu mengajak, sebab lagi banyak pikiran, nih! Sekali-kali bolehlah cuci mata dan menghilangkan stres," ucapan Ana menerima tawaranya.
Disisi lain, diri ini masih saja mendengarkan percakapan mereka secara jelas, apa yamg sedang dibicarakan. Sehingga hati rasanya sudah panas, akibat terkorbarkan api yang mengepul penuh kamarahan, dan juga sudah diiringi muka merah padam. Serta tak lupa tangan sudah mengepal begitu kuat, tanda tak setuju atas percakapan mereka.