
Jantung sudah berdetak sangat cepat yang sudah tak karuan lagi pompaannya. Rasa pahit dihati terasa hilang seketika, dan kini bergantikan dengan rasa manis, akibat Mas Adit dengan mesranya telah mengendongku.
Kulirik wajah Mas Adit sudah tersenyum-senyum manis, sebab telah menang mengajakku bersamanya walau dengan paksaan mengendong.
"Kamu harus duduk diam-diam disini!" perintahnya dengan meletakkan tubuhku dimobil sportnya yang berwarna merah.
Hanya dapat terdiam membisu tanpa bisa berkata-kata apa-apa lagi, atas perlakuan Mas Adit yang kini juga sudah duduk dalam kursi mobil.
"Kamu itu tadi sengaja menghilang, dari pandangan saya, 'kan?" pertanyaannya.
"Entah!" ketus akibat merasa dongkol.
"Kok, gitu sih jawabannya!" Tatapannya yang heran. Muka yang masam tidak ingin merespon berlebihan.
"Kamu jangan mencoba menghindar lagi dariku Ana, mengerti!" imbuhnya berucap.
"Emmm," jawabku dengan melempar senyum sinis dan kecut.
Tidak menyangka jika wajah Mas Adit kini mulai mendekati wajahku dengan tatapan penuh pesona, yang kemungkinan sedang membaca mimik wajah ini yang kini sudah nampak mulai grogi memerah.
"Benar 'kan apa yang kutanyakan tadi? Kamu tadi memang sengaja menghilanguntuk bisa menghindariku?" ujarnya sambil tersenyum.
Mulut terasa terkunci tak bisa menjawab pertanyaannya, saat betapa groginya diri ini disaat wajah Mas Adit tak menyisakan jarak lagi diwajahku.
"A ... nu ... Mas, itu ... anu," Mulutku yang tersedat-sedat tak bisa menjawab.
"Anu apaan?" Tatapan yang kian tajam.
"Duh, kenapa orang ini bertanya saja begitu mendekatkan wajah. Apa tidak kerasa dan mendengar kalau jantungku jedag jedug berlari kencang akibat ulahnya," guman hati yang sedang salah tingkah.
Parfumnya yang harum begitu menguar diindra penciuaman. Bola mata kehitaman bergerak-gerak semakin ingin dalam membaca mimik wajah yang berubah matang kepanasan.
Kini tangan mas Adit yang sebelah kanan mendekati pundakku, dan saking ketakutannya mata ini tiba-tiba kupejamkan secara kuat, sebab takut jika dia akan melakukan hal yang tak senonoh lagi terhadapku.
"Duh ... duh, orang ini mau ngapain lagi. Astagfitullah ... astagfirullah, lindungilah aku ya Allah, semoga suami tidak macam-macam lagi," Ketakutanku.
Rasanya tubuh sudah mulai berkeringat dingin kepanasan, padahal ac pendingin mobil sudah dinyalakan.
Ceklek, bunyi sabuk pengaman.
"Kenapa dengan mata kamu, kok dipejamkan begitu?" Suara Mas Adit penuh tanya.
Kubuka mata sebelah kiri secara perlahan-lahan, dan ternyata tidak terjadi apa-apa seperti yang kupikirkan.
"Ya ampun, Ana. Pikiran kamu saja yang kotor dan mesum, minta dicium lagi oleh suami, padahal dia cuma membantumu memasang sabuk pengaman saja," hatiku berbicara pada diri sendiri.
Dapat terlihat wajah Mas Adit sudah tersenyum-senyum manis, akibat melihat tingkah konyolku barusan.
"Pikiran yang kotor dan aneh-aneh pasti tadi!" ucapnya dengan mengacak-acak rambutku yang tergerai hitam lurus.
"Hhehe, enggak juga. Tebakkan Mas saja yang aneh!" ngelesnya perkataan.
Tanpa terasa mobil sport yang kami naiki sudah menuju jalan besar. Rasa-rasanya jalan yang sudah dilewati, akan membawaku ke sebuah tempat yang menjadi kenangan pahit.
"Mas, mau bawa aku kemana? Sekarang bawa aku pulang!" pintaku.
"Kita akan pulang kerumah," jawabnya santai.
"Kenapa harus kesitu lagi, sih. Aku tidak mau kesitu lagi."
"Cukup diam dan nurut saja, ok."
"Enggak juga maksa begitu 'lah. Mas Adit harus menurunkanku sekarang juga, kalau tidak mau mengantar pulang ke rumah kos akan melompat dari mobil ini, paham!" ancamku yang sudah kesal.
"Lakukanlah kalau kamu bisa!" Entengnya jawaban Mas Adit.
"Hiiiiihhhh," Kegondokan hati yang kesal, ingin sekali kuremas-mulutnya itu.
Muka sudah kutekuk dan bibir sudah monyong maju sebab tak suka apa yang telah Mas Adit lakukan sekarang, yaitu seperti orang yang sedang menculikku.
"Kita akan pulang ke apartemen segera," sahutnya diiringi senyuman kecil.
Rasanya benci sekali jika kembali ke rumah itu lagi, sebab takut akan mengenang lagi semua penderitaan dan luka hati. Dia hanya diam atas permintaanku untuk pulang ke kos-kosan, rasanya aku harus pasrah pada Mas Adit sekarang, yang kekuh ingin membawaku ke apartemennya.
"Mas Adit harus menceraikanku sekarang, SECEPATNYA!" emosiku berucap.
Rasanya hati sudah gondok marah dan kesal, karena tindakan dia yang mulai seenaknya saja tanpa bertanya dulu padaku.
Sheeeeet, bunyi rem mobil berhenti mendadak, yang tentunya sudah bertepikan dipinggir jalan.
"Apa yang kamu bilang barusan? Cerai? Jangan gila kamu. Ingat ya Ana, aku selamanya tidak akan pernah menceraikanmu, paham!" pekik Mas Adit dengan mengatur nafas pelan-pelan akibat menahan kemarahan.
"Tapi, Mas. Rasa ini sudah hilang selama enam tahun yang lalu. Rasanya sudah musnah semua, dan hati ini sekarang hanya terisi kebencian dan rasa sakit terhadapmu," sautku emosi juga mengeluarkan uneg-uneg.
"Aku tidak peduli itu. Pokok intinya, aku tidak akan menceraikanmu selamanya, titik!" Suara Mas Adit yang tetap kekuh dengan pendiriannya.
"Hheeeh. Selalu saja mementingkan egomu sendiri" Nada kesalku dengan tangan bersedekap didada.
"Pokoknya kita harus tetap bersama."
"Serah. Sesuka hati kamu mau apa, yang jelas aku tidak mau."
"Ok 'lah. Eghem ... heemm," Deheman Mas Adit, yang diiringi senyuman tanda menang dalam pertengkaran kami.
Diriku hanya bisa diam membisu saja, yang melihat pemandangan dari luar kaca mobil. Rasanya sudah kesal sekali untuk berdebat lagi. Selamanya aku akan tetap kalah berdebat dengan mas Adit, sebagai suamiku yang sah walau kami sudah enam tahun berpisah.
Mata rasanya mulai sayu-sayu mengantuk, ingin secepatnya terpejam dalam mobil. Sebab hari ini banyaknya pekerjaan yang kulakukan, badan sudah mulai terasa lelah dan pegal, ditambah lagi banyaknya kejadian-kejadian yang menguras tenaga dan pikiran, oleh kelakuan Mas Adit yang sudah enam tahun kubuang jauh-jauh rasa cintaku padanya. Diri ini semakin tak tahan untuk segera memejamkan mata. Menit demi menitpun berlalu, tanpa terasa akupun tertidur pulas dalam mobil.
Begitu nyenyaknya tidur ini, tanpa terasa mobil sudah berhenti di bangunan yang menjulang tinggi bertingkat-tingkat, yaitu sebuah apartemen mewah kelas atas.
Lelah tenaga dan pikiran, membuat mata masih terpejam, enggan sekali rasanya untuk membukanya. Dapat kurasakan dengan samar-samar, tubuh sudah terasa melayang di udara, mungkin mas Adit mulai mengendongku dalam mata tertutup yang semakin terlelapnya tidur.
Ceklek ... toutok ... jedook.
"Aaa ... aww," suaraku sedang mengelus-elus kepala, yang sudah terasa sakit dan pusing.
"Mas Adit? Aww ... aaw," Tangan masih mengelus-elus kepala, yang ternyata kejedok pintu.
Tadi saat tidur mungkin Mas Adit terus-menerus memandang wajahku, tanpa melihat keadaan jalan disaat-saat mengendongku menuju kamar. Tujuan utamanya mungkin untuk membaringkan tubuhku dalam kasur. Karena pintu kecil mungkin lupa untuk memiringkan tubuh, sehingga tubuh yang panjang tak muat untuk dibawa ke dalam.
"Eeh, maaf ... maaf. Tadi tidak sengaja."
Tangannya ikutan mengelus saat melihat keadaanku yang kesakitan. Rambutpun sudah menjadi acak-acakkan.
"Maafkan aku, Ana! Kamu gak pa-pa, 'kan?" tanya penyesalannya.
"Hmm. Maksudnya apa, Mas! Kok kamu ngotot banget bawa aku kesini!" Pertanyaan penasaran, sambil mata melihat-lihat ke sana-sini menatap rumah yang dulu sudah kutinggalkan.
"Gak ada maksud apa-apa! Cuma ingin mengembalikan rumah yang dulu pernah ditinggalkan oleh penghuninya," jawab santai suami.
Tak kupedulikan lagi penjelasan Mas Adit, mataku terus saja berkeliling melihat rumah, yang dulunya menjadi saksi biksu atas rumah tangga kami.
Masih dengan warna dan cat yang sama, barang-barang juga masih sama terjejer rapi ditempatnya, tapi bedanya kini dinding telah dipenuhi oleh foto-foto pernikahan kami, yang tak terkecuali foto keluarga juga.
"Cantik, hhhhhhh!"
Rasanya hati trenyuh merasakan betapa bahagianya kala acara resepsi itu, sebab banyak senyuman indah terlontarkan dari pihak keluarga dan teman.
Kulihat satu persatu foto itu, yang tak lupa juga mengusap-usap foto yang menjadi saksi bisu cinta akibat pernikahan yang dijodohkan.
"Kamu minumlah ini!" sebuah tawaran teh masih mengepul-ngepulkan asapnya, tanda masih panas dan baru diseduh oleh Mas Adit.
"Hmm, terima kasih."
"Duduk 'lah."
"Terima kasih, tapi antarkan aku pulang ke rumah sekarang, Mas! Bapak pasti sedang menungguku," kekhawatiran.
"Kamu tidak usah pulang hari ini, sebab rumah ini milik kamu juga! Tadi bapak sudah kukirim pesan, bahwa kamu tidak bisa pulang ke rumah hari ini! Dan tadi kugunakan memakai handphonemu untuk membalas," Keterangan Mas Adit.
Langkah menuju sofa yang sudah ada tas yang tergeletak disitu. Ternyata benar saja, kulihat gawai yang masih tersimpan dalamnya, ketika sudah tertera ada tiga panggilan tak terjawab, dan pesan sudah terkirim ke bapak, yang menyatakan bahwa aku tidak bisa pulang.
"Aah ... percuma saja berdebat dengan Mas Adit sekarang, sebab orangnya memang keras kepala. Kalau sudah mengatakan tidak bisa, ya harus tetap tidak bisa. Mungki lebih baik memang harus bermalam disini. Lagian sudah dipertengahan malam," hatiku yang mengeluhkan sikapnya.