Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
N2=Istriku Yang Hilang>> Saingan Yang Tak Diundang


Dia sudah berjanji akan mencintaiku selamanya, dan aku percaya bahwa kekuatan cinta kami, pasti akan dapat mengingatkan mas Adit siapakah diriku.


"Ana? Kamu kenapa?" tanya Rudi saat kami berpapasan berjalan.



"Aku gak pa-pa. Maaf saya ingin pergi!" ucapku terburu-buru.


"Biar kuantar kamu, sepertinya keadaan kamu sekarang sedang kacau," tebakkan Rudi.


"Gak pa-pa, Rudi. Tidak usah kamu antar, aku baik-baik saja kok. Kamu temui mas Adit saja, mungkin dia lebih membutuhkan kamu," suruhku.


"Tapi--?" Keraguan Rudi.


Mungkin Rudi sudah heran melihat wajah yang nampak kacau. Rantang yang pada awal mulanya tertata rapi, sekarang sedikit miring dengan beberapa nasi tertempel diluar.


"Beneran, aku gak pa-pa. Ya sudah aku permisi duluan," pamitku dengan tergesa-gesa.


"Heem. Hati-hati saja kalau gitu, dijalannya nanti," jawab Rudi.


"Iya. Terima kasih atas perhatiannya."


Didalam taxi, airmata sudah menganak sungai. Bapak sopir taxi sempat bertanya, namun kujawab baik-baik saja seperti tidak terjadi apa-apa.


Walau sempat agak tenang menuju kediaman suami, namun lelehannya tidak bisa ditahan, hingga membuat tangan berkali-kali sibuk menghapusnya.


>>>>>


Langkah kian lemas sekali saat memasuki rumah, entah berapa lama lagi harus menahan semua ini, tapi aku akan berusaha tetap kuat dan menerima semuanya dengan kesabaran.


Satu dua tetes embun dimata ini mulai deras lagi, yaitu bersamaan dengan guyuran air shower yang mengenai tubuh. Demi merendam isakkan, kini kututup wajah menggunakan kedua tangan. Kamar mandi merupakan tempat yang paling tepat, saat hati tak bisa lagi menahan kesakitan.


Raga terlihat sekali ingin tegar, biar dia tahu aku adalah wanita kuat yang tidak bisa menyerah begitu saja.


Kenyataan badai rumah tanggaku tak semulus penyelesaikan masalah seperti yang lainnya, dan sekarang sudah terancam akan berakhir lagi seperti hari-hari kemarin.


"Apakah kisah kita akan terulang lagi, Mas? Aku sudah tidak kuat menjalani hari kemarin, tapi apakah kau akan menambah rasa sakit itu lagi, setelah kau berhasil melamarku lagi? Kenapa cintamu begitu mudah goyah?."


Badan hanya bisa terdiam dipembaringan. Pikiran terbang kemana-mana mencoba mencari jalan ketika hilang arah. Tangan sibuk mengelus-elus bekas bayangan mas Adit yang selalu terbaring manja didekatku. Begitu mesra dan terindukan. Hanya bisa menghela nafas panjang saat bayangan hanya berlalu sekejap saja.


Ting ... tong ... ting ... tong, bel rumah mas Adit dibunyikan berkali-kali. Orang yang memencet seperti tidak sabar. Sampai belum sempat membuka, bunyi nyaringnya berpuluhan kali terdengar.


"Iya ... iya, sebentar!" jawabku di dalam rumah dengan tergesa-gesa.


Sebenarnya malas membukanya, namun tata krama untuk menyambut tamu harus terlakukan, walau sedang tertimpa kesedihan sekalipun.


Ceklek, pintu kubuka.


"Kamu?" Kekagetanku saat Salwa datang.


"Hmm!" Tanpa disuruh Salwa nyelonong masuk.



"Bukan urusan kamu."


"Wah ... cck ... ck, ternyata Adit sayang juga sama kamu, sampai rumah penuh dihiasi oleh foto-foto penikahan kalian yang tak bermutu ini!" ejeknya tak suka.


Praaaankgh, sebuah foto pernikahan kami telah dibuang Salwa.


"Apa yang telah kamu lakukan? Jangan kurang ajar dirumah orang," pekikku marah sebab tak suka atas tindakannya.


"Ini belum seberapa! Aku bisa berbuat lebih dari ini kalau kamu banyak b*cot," ancam Salwa dengan menunjuk jarinya ke arah mukaku.


"Kami jangan macam-macam sama hubungan rumah tangga kami, aku juga bisa melawan kamu jika mas Adit berani kamu usik," balik ancamku.


"Lakukan saja. Toh Adit sudah tak mencintaimu lagi, dan sebentar lagi dia akan kembali padaku, dan selama-lamanya pasti menjadi milikku, hahaha" Gelak tawanya merasa sudah menang.


Perempuan aneh dan terlalu percaya diri. Ingin kuremas-rem*s mukanya itu, tapi tertahan tidak ingin mencari masalah dulu.


"Kamu jangan berharap dan bermimpi lebih, aku takkan membiarkanmu begitu saja untuk merebut mas Adit, sebab aku yakin dia akan mengingatku kembali," Kemarahanku berucap.


"Ooh ... oh, ternyata kamu punya nyali juga untuk melawanku," ucap Salwa yang sudah mencengkram pipiku.


Sudah keterlakuan sikapnya. Tidak mau kalah begitu saja.


"Aku tak takut padamu, cam 'kan itu!" ucapku dengan memelintir tangan salwa ke belakang.


"Aaaa ... aahhh, lepaskan b*ngsat" Suara kesakitan Salwa.


"Jangan harap. Siapa dulu yang mulai."


"Lepaskan aku perempuan gila. Patut Adit tidak suka padamu, karena kamu benar-benar wanita yang sudah tidak waras lagi," hinanya berkata.


"Gak usah banyak omong kamu, cepat pergi dari sini," ucapku yang sudah menyeret Salwa untuk segera keluar dari rumah.


Kuberikan sedikit dorongan padanya.


"Kamu!" Muka Salwa yang sudah merah padam akibat kesal.


"Awas saja pembalasanku, aku pasti akan buat perhitungan lebih dari ini. Tunggu saja!" ancam Salwa padak sebelum pergi.


"Lakukanlah kalau kamu berani, aku tidak takut sama sekali padamu," ujarku penuh keberanian.


"Awas kamu, ya."


Ada nyeri yang mengiris saat mengingat bagaimana aku berupaya keras mempertahankan mas Adit dulu.


Hari ini teramat yakin perjuangan cintaku takkan sia-sia, dan aku takkan berhenti begitu saja saat Salwa sudah mengancamku.


Mas Adit adalah lelaki kesayangan yang selamanya sudah terpatri dalam hatiku, jadi aku takkan menyerahkannya begitu saja, pada orang yang sudah membuat ulah pada rumah tangga kami.