Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
Dalang perpisahan


Kutatap wajah Karin dengan seksama, begitu juga dengan Chris. Harapan sungguh besar jika Karin memilihku, tapi apalah daya saat Chris telah resmi jadi miliknya.


"Oh Tuhan, berikanlah keajaiban untukku, agar Karin sepenuhnya bisa memilihku. Tak banyak harapan dariku, hanya saja Karin ingin lebih mengenal dan menghargai atas rasa cintaku ini," guman hati penuh harapan.



"Bunda ... bunda, jangan tinggalkan Naya!" rengek putri kecilku memohon.


Naya yang awalnya kuturunkan agak jauh dari posisi kami bertiga, sekarang datang untuk memelukku dari bawah.


"Naya tenang dulu, ya. Bunda lagi ada urusan penting," ucapku mengelus pelan kepalanya.


"Ayo, Karin. Jawablah sekarang!" paksa Chris tidak sabar.


Wajah Karin sungguh menyiratkan sebuah kebingungan. Chris memperlihatkan ketegangan dan kemarahan, sedangkan aku bersikap tenang dan pasrah apa yang akan menjadi keputusannya nanti.



"Bunda ... bunda, ayo kita ke tempat bermain disana!" pinta Naya.


"Iya, sayang," ucapku agar Naya sedikit mengerti, atas keadaan yang menegangkan ini.


"Maafkan aku, Chris!" jawab lemah Karin, sambil melepaskan tangan Chris perlahan-lahan.


Wajah Chris seketika pucat pasi, dengan melangkah mulai mundur-mundur, seperti tidak percaya atas pilihan Karin sekarang.


"Kamu beneran akan melepaskan aku begitu saja, hanya demi Adrian?" tanya Chris masih tidak percaya



"Bukan begitu, Chris. Tapi aku sekarang---?" jawab Karin lesu sambil menundukkan kepala.


"Tidak usah banyak ngeles. Semuanya telah jelas sekarang, bahwa kamu lebih memilih Adrian karena masih mencintainya!" geram Chris.


"Tapi, bukan .... bukan gitu!" bantah Karin.


"Benar, Chris. Mungkin Karin hanya ingin bersama Naya sekarang, sehingga tidak mau ikut denganmu," sautku membela Karin.


"Diam, kamu!" bentak Chris kepadaku.


"Kalian itu sama saja dari dulu, sama-sama selalu menyakiti hatiku. Sudah lama aku mengetahui, kalau kalian masih berat untuk saling melepaskan. Karinpun juga sama, pasti percakapan kami ujung-ujungnya selalu mengarah tentang dirimu, dan itu sudah cukup membuktikan bahwa dia sangat mencintaimu. Semoga kalian bahagia," jelas Chris sendu.


"Jangan begini, Chris. Aku mohon, kamu jangan begini!" cegah Karin sudah mengejar langkah pria yang sudah resmi menjadi tunangan, dengan mencekal lengan tangannya.


"Lepaskan aku!" hardiknya emosi.


Aku yang hanya bisa jadi penonton, tidak bisa masuk ikut campur urusan mereka. Sekali ikut-ikutan maka akan bertambah runyam urusan, karena Chris sedang dalam keadaan berkobarnya api kemarahan. Keputusan tadi murni dari Karin, jadi dia harus memberi penjelasan yang sesungguhnya agar Chris mau mengerti.


"Aku mohon, Chris. Kamu tenangkan dirimu dulu. Aku akan jelaskan kenapa tidak bisa memilih maupun ikut denganmu sekarang. Yang dikatakan kak Adrian tadi benar, bahwa ini semua demi Naya bukan demi Kak Adrian," terang Karin.


"Buls*t dengan semua itu. Janganlah anakmu itu dijadikan alasan. Aku tahu sekali sifatmu itu bagaimana. Dari dulu kamu hanya bersembunyi dibelakangku saja, hanya gara-gara ingin menghindari Adrian. Sekarang semuanya sudah jelas, jadi hubungan kita sudah jelas juga, yaitu segera putus dan batalkan acara pernikahan kita," tekan Chris yang kali ini benar-benar emosi.


"Tidak ... tidak, Chris. Kita tidak bisa membatalkan pernikahan ini begitu saja."


"Aku tidak bisa menerima kuputusanmu itu. Bagimana dengan orangtua kita, pasti mereka akan sangat kecewa atas keputusanmu yang tidak masuk akal itu," tolak Karin tidak terima.


"Jangan kau jadikan orangtua sebagai penghalang. Lagian mereka pasti akan mengerti, bahwa dari dulu kamu itu tidak bisa kumiliki," kekuh Chris.


"Tapi, Chris. Ayolah, jangan begini."


Keadaan semakin panas, hingga mau tak mau aku mencoba menghampiri mereka. Naya masih dalam gendonganku, untuk ikut menyaksikan pertengkaran dan adu mulut mereka.


"Kalian bisa bicarakan dengan kepala dingin. Jangan disini, banyak mata yang sedang menyaksikan aksi kalian ini. Kuharap kalian bisa paham dan mau mengerti," ucapku mencoba menegahi.


"Tidak perlu berbicara dengan santai maupun kepala dingin, saat semuanya begitu jelas. Kalian bersenang-senanglah diatas penderitaanku sekarang. Semoga kalian akan tetap bahagia, tidak mengalami kesedihan maupun terluka seperti diriku. Permisi ... bye!" pamit Chris sambil mengucapkan kata-kata pedas.


Saat langkah Chris yang sudah berjalan pergi, Karin mencoba ingin mencoba menyusul, tapi secara sigap kutahan tangannya agar tidak usah mengejar lagi.


"Lebih baik biarkan Chris agak tenang dulu. Percuma saja kalau kamu memberinya penjelasan. Pasti ujung-ujungnya Chris tidak mau mengerti, pasti dia akan selalu mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas diucapkan. Semoga kamu mengerti," cegahku.


"Tapi, Kak. Aku tidak mau acara pernikahan kami dibatalkan," jawab Karin masih tidak mau mengerti.


"Aku paham, tapi cobalah mengerti atas situasi yang kacau ini. Kalau kamu terlalu memaksa, semuanya akan bertambah rumit dan runyam," terangku.


"Baik, Kak!" jawabnya yang sudah menundukkan kepala dengan hati pasrah.


Akhirnya ucapanku didengarkan juga oleh Karin. Kami berdua terpaksa mengikuti keinginan Naya, walau hati kami merasakan sesuatu yang tidak mengenakkan.


Wajah Karin terus saja murung dan aku hanya bisa melihatnya saja, tidak berani menganggu maupun sekedar menyapanya. Mungkin dia butuh waktu juga, untuk mencerna dan menerima semua ini. Rasanya hati begitu menyesal, saat akulah yang jadi dalang utama perpisahan mereka.