Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
Kedatangan ke rumah


Wajah cantiknya yang mirip dengan Karin kini sudah kupandangi terus, hingga akupun sangat ingin sekali mencubit pipi chubby Naya anakku. Tubuh yang sedang tergolek bersama anak tercinta, terasa begitu tentram sekali saat setelah sekian tahun tak pernah merasakan moment seperti ini.


"Maafkan Ayah kamu ini, Nak. Sungguh berdosa sekali disaat kau menangis, tak pernah diwaktu kecil tangan ini mengendong kau. Disaat kamu mulai belajar melangkah, Ayah sungguh berbuat salah tak pernah mengajari kau. Ayah sungguh gagal sekali menjadi sosok pemimpin, yang seharusnya selalu ada untuk bunda dan kamu, tapi sedetik bayanganpun tak pernah muncul sama sekali. Dosa ini sungguh banyak telah mengabaikan pertumbuhan kamu, dimasa-masa membutuhkan pegangan telapak tangan ini. Maafkan aku, Nak!" ucapku dalam hati pilu menatap lembut wajah Naya.



Jari mungilnya yang kecil terus saja kupermainkan, yang rasa-rasanya belum merasa puas sama sekali saat rindu ini begitu mengebu datang, walau kami sudah sedekat ini bertemu. Rasa kasih cinta yang mulai tumbuh pada buah hati bagaikan tak bisa tertepi, agar selalu memeluknya erat tanpa bisa melepaskan lagi seperti hari kemarin-kemarin.


Ceklek, secara kasar tiba-tiba pintu dibuka.


"Apa yang kamu lakukan kak Adr--?" Suara tertahan Karin, saat melihat kearah kami sedang tergolek bersama.



"Shuuuuuutsss!" jawabku agar Karin segera diam, sambil telunjuk ini sudah tertempel dibibir.


"Apa maksud dari semua ini? Apa yang kamu lakukan sekarang?" tanya mengelegar Karin yang sepertinya tak sabar.


Karena suara Karin yang keras, kini aku menoleh melihat ke arah Naya yang sedang tertidur pulas, untuk memastikan bahwa si kecil tak terbangun.


"Justru seharusnya aku bertanya, apa yang kamu tanyakan itu? Apa maksudnya apa?" balik tanyaku tak mengerti.


Kini langkah mencoba mendekati Karin, yang datang-datang membawa pertanyaan segudang teka-teki.


"Tidak usah pura-pura dech, Kak. Aku tahu kamu ada maksud terselubung dengan membawa Naya kemari," jawabnya.


"Maksud terselubung? Apakah yang kamu maksud itu ... itu adalah--?" tanyaku yang terus memajukan langkah mendekati Karin.


Tangan sendiri sudah terikat ke belakang, dengan langkah terus saja mencoba maju memepet Karin, yang kelihatan sekali mulai ada kebringsutan ketakutan.


"Apa yang akan kamu lakukan? Jangan kesini kamu, kak?" cegahnya melangkah mundur-mundur, yang kini sudah terpojok ditepian ranjang.


"Menurut kamu apa?" godaku yang sudah mendekatkan wajahku diwajah Karin.


Karena kekagetannya atas aksiku tiba-tiba, tanpa keseimbangan tubuh Karinpun terduduk mental dikasur empuk dalam kamarku.


"Kamu jangan macam-macam, atau ... atau?" jawabnya kikuk.



"Atau apa, sayang!" godaku sudah mengelus pelan pipinya.


Phak, dengan kasar tangan sudah tertepis.


"Jangan kurang ajar kamu, kak!" ucap Karin dengan sorot mata tajam seperti marah.


"Bukanlah aku sudah pernah kurang ajar sama kamu, terutama pernah juga mencicipi betapa lembut dan memberi sensasi ketagihan atas rasa kulit halusmu ini? Tapi kenapa kamu harus ketakutan berlebihan begini," ucapku penuh kesinisan mengoda.


"Kamu memang pernah merengut semuanya, tapi bukan berarti juga kak Adrian bisa seenaknya main kurang ajar begini, dasar berengs*k!" jawabnya mendengus kasar.


"Aku bisa brengsek dan kurang ajar begini, sebab aku sudah lama mencintai dan ingin memilikimu," ungkapan hati.


"Sudah kubilang, aku kemarin bejat karena naluri dalam lubuk hati yang paling dasar sekali, bahwa kamu itu harus menjadi milikku. Bukankah itu yang dinamakan takdir?" jawabku yang mulai sedikit ada emosi atas kata-katanya yang kasar.


Tangan Karin kutindih kuat menggunakan tanganku untuk mengkunci, dan tubuh sudah duduk bersimpuh diatas perut Karin. Wajahnya yang mulai kutakutan, kini telah kupandangi mesra penuh hasrat ingin segera mengusainya. Netra kami begitu tajam sama-sama saling mengunci keindakan bola mata hitam, untuk sama-sama mencari jawaban rasa aneh yang mulai mendesir.


"Lepaskan aku, Kak!" pintanya meronta kuat.


"Tak akan, sebab kita akan melakukan kejadian lima tahun silam akan terulang kembali, gimana?" ucapku penuh rasa ingin terus mengodanya.


"Haaaah, lepaskan ... lepaskan aku. Jangan kurang ajar kau itu," pintanya teriak-teriak.


Mppphhh, karena sudah sekian lama menahan segalanya, bibir Karin yang merah delima tanpa ampun kini kukuasai. Karinpun begitu terkejut atas aksiku ini. Bibirnya terasa begitu tak siap menerima perlakuannku ini, hingga sekali terasa diatara garis-garis ranumnya kelembutan sexy bibir begitu mengatup rapat sekali.


Karena terkesan begitu tak nyaman atas perlakuanku barusan, segera kugerakkan kepala dan badan untuk menjauh dari wajah Karin yang sudah ada bias-bias kemerahan.


"Dasar brengs*k kamu, Kak. Sudah kubilang bekali-kali agar kau tahu dan mengerti, tapi sepertinya kau itu selalu saja tak mau ambil pusing masalah ini, yang padahal kau tahu sendiri bahwa aku sudah jadi milik orang lain. Kau itu sudah kubuang secara tak hormat dari hatiku. Bagiku kau itu sudah mati, paham!" tekan ucap Karin ada guratan emosi.


"Diam kamu," bentakku melengkingkan suara.


"Bunda sama om ganteng lagi apa?" Suara tiba-tiba Naya yang sedang memergokki kami, sambil tangannya sibuk mengucek mata yang masih terlihat mengantuk.


Seketika akupun melompat dari posisi yang tak mengenakkan, yaitu sempat terduduk diatas badan Karin. Wajah ini mulai merasa kebingunggan sambil mengusap tekuk yang tak gatal, akibat lupa bahwa Naya ada dikamarku hingga kepergok dia. Sungguh bodoh sekali atas tidakan, saat emosi tentang hasrat sesaat telah mengacaukan tidur nyenyak si Naya.


"Ee'eh, kami tidak ngapain-ngapain kok, Nak!" jawab Karin Kikuk tak bisa memberikan jawaban yang tepat.


"Iya, sayang. Om sama Bunda tadi ngak ngapa-ngapain. Om tadi, cuma hanya bantuin Bunda ingin berdiri sebab sempat jatuh dikasur. Iya 'kan Bunda?" ucapku memberikan alasan, sambil mengelus rambutnya si Naya yang lurus.


"Hmm," jawab Karin setuju.


"Sekarang kita pulang ke rumah saja ya, Nak!" ajak Karin sudah ikut duduk mendekati kami.


"Ini 'kan sudah malam, kenapa tidak menginap disini saja," simbat jawabku ketus, sambil memicingkan mata sebelah akibat merasa aneh.


"Aku tak ada kuasa ditempat ini. Lagian urusanku datang kesini untuk jemput Naya bukan menginap," jawabnya berbalik ketus.


"Aku tahu, Karin. Mungkin kamu tidak suka padaku, tapi tolong menginaplah satu hari saja disini, sebab ini demi kebaikan Naya juga. Tak baik larut malam-malam begini kalian keluyuran dijalanan," ujarku kekuh untuk meyakinkan.


"Tapi kak, aku benar-benar tak bisa bermalam disini."


"Kenapa? Apa gara-gara cowok baru kamu itu, yang menjadi alasan utama kau tak mau sekali menginjak dan bermalam rumah ini? Tenang saja, aku juga masih waras untuk berbuat aneh-aneh kepadamu, jadi jangan khawatir berlebihan begitu," tegasku menjawab.


"Tapi, kak."


"Tidak ada tapi-tapian. Kau tahu sendiri kalau aku tak suka sekali dibantah. Pokok dan intinya kamu dan Naya hari ini harus tidur bermalam disini, titik!" tekanku berbicara.


Walau dengan berat hati menuruti permintaanku, namun pada akhirnya Karin nurut saja atas semua ucapanku. Lagian aku tak mau dipertengahan malam begini, akan terjadi apa-apa pada mereka nanti.


"Yes ... yes, akhirnya langkah awal telah tercapai. Semoga saja secepatnya aku akan mendapatkan kamu lagi, Karin!" guman hati yang gembira, saat sudah diluar kamar milik sendiri.


Sebab tak ingin menganggu ketenangan Karin dan Naya ingin terlelap tidur, maka aku sekarang tidur dikamar Karin yang sudah lama tak disentuh pemiliknya lagi.