
Aku begitu tersentak melongo, atas perjanjian kontrak yang menurutku gila akan isinya.
Isi poin-poinnya adalah:
Menjadi asisten pribadi selama 24 jam
Apabila bos memanggil secepatnya datang
Tidak boleh menolak keinginan bos
Tidak boleh ada yang disembunyikan, termasuk rahasia privasi masing-masing.
"Wah, Mas. Kamu kok kejam sekali! Namanya ini pemerasan tenaga. Aku tidak bisa menandatangani ini!" ucapku kesal.
"Kalau kamu ngak mau ya sudah! Berarti kamu siap untuk memberikan semua ganti rugi," jawabnya tanpa dosa.
"Ganti rugi!" jawabku ketar-ketir akibat teringat dengan harga guci.
"Apa tidak ada solusi lain. Menurutku perjanjian itu sangat merugikan," imbuhku menawar.
"Gak ada!" singkat jawabnya.
"Aku tidak mau menandatangani itu. Mas Adit bisa enak-enakkan, akunya yang tertimpa buntung. Apalagi yang nomor empat ini! Kenapa juga ada poin, privasi masing-masing harus tidak boleh disembunyikan, kita 'kan sudah lama tidak ada hubungan lagi, urusanku ya urusanku bukan urusanmu," ucapku sebal.
"Buatku selamanya kita masih ada hubungan. Tidak usah banyak tawar menawar. Pokok dari intinya, kamu mau tidak tanda tangani surat ini?" tanyanya terdengar menjengkelkan.
"Ngak!" ketus jawabanku.
"Waaah, berarti seumur hidup kamu akan bekerja disini, tanpa menerima gaji sepesenpun dari perusahaanku," ujarnya dengan nada ancaman.
"Mas Adit! Iiiihhhh, dari dulu kamu benar-benar tidak pernah berubah, kejam dan selalu saja menyiksa," ucapku yang sudah gondok kesal dan marah.
Ret ... ret, suara pena sudah menanda tangani penjanjian, yang bagiku sangat merugikan.
"Puas sekarang." Nada melengking.
"Nah, gitu dong sayang dari tadi! 'Kan gak perlu emosi dan pakai amarah," perkataannya sedikit merayu.
"Sayang ... sayang kepalamu peyang. Dasar orang tak berkeprimanusiaan, selalu saja mau menang sendiri, tidak penah memikirkan perasaan orang lain," jawabku dengan menghentakkan kaki, yang langsung melenggang pergi.
"Hei Ana, tunggu ... tunggu! Buru-buru amat sih!" cegah dengan mencekal tanganku.
"Apa lagi, Mas! Masih kurang 'kah memerasnya.
"Jangan marah gitu, kenapa! Tambah jelek saja wajahmu kalau lagi ngambek. Nanti dech aku kasih bonus bulan madu, tempatnya yang jaaauuuh ... sekali dari para penganggu, dan hanya ada kita berdua saja ditempat itu," rayuannya yang mulai kumat.
"Ciih, dasar!" decihku tak suka atas ucapannya.
"Gimana? Mau 'kan honeymoon cuma berdua?" tanyanya yang membuatku bergindik ngeri.
"Ooh, jadi surat yang harus kutandatangani tadi, ada sesuatu hal yang terselubung dari sebuah permintaan," tebankanku.
"Hahahah, anda benar sekali."
"Ciih, dasar manusia kurang kerjaan."
"Cepetan tadi manggil-manggil mau apaan? Ada kerjaan yang harus kukerjakan. Lagian lama-lama disini otak bisa meledak, dan nanti pasti akan kena semprot juga oleh omelan bu Nur," celotehku menyuruh.
"Iya ... iya, gak sabaran betul. Aku cuma mau bilang, kalau siang harus makan dikantin. Uang ganti makan tetap akan terbayar, dan makanannya akan kuberikan gratis khusus untuk ayang bebeb, emmu ... emuuach." Tangan mas Adit sudah menempel dibibirnya, mencoba memberi ciuman jauh.
"Iiiih, dasar manusia aneh dan kurang kerjaan."
Perasaan menyesal mungkin menghampiri Mas Adit, saat melihat tubuhku yang sudah kurus kering seperti triplek, yaitu akibat memikirkan beban kehidupan yang sempat menimpa, dan itu disebabkan oleh perasaan hati yang telah terluka akibat torehan yang diberikan olehnya.
"Udah bicaranya, kalau sudah aku mau pergi," pamitku.
"Ya ... ya ... ya, buru-buru amat kamu ini, selalu saja ingin sekali menghindar dariku," jawabnya tak suka.
"Biarin. Sudah, bye ... bye."
Sang sekertaris hanya terperangah menatapku aneh, mungkin binggung atas arah pembicaraan kami.
"Wah ... wah, bos! Kamu semakin lama semakin kejam dan gila. Bisa-bisanya memeras anak buah," ucap sang sekertaris, terdengar olehku yang belum pergi jauh keluar.
"Huuits," mereka berbicara berbisik-bisik, saat diri ini sudah mulai menutup pintu.
>>>>>>
Rasa capek dan pegal mulai terasa sekali dibadan, ketika sedang sibuk membersihkan lantai disekitaran kamar mandi.
She ... shet, suara sapu mengepel lantai.
"Eh ... eh, ada Ana?" sapaan Mas Adit dengan mulut cengegesan.
Kuacuhkan saja atas sikapnya. Entah mengapa, melihat muka dia terasa mual.
Mulutnya berbicara ke arahku, tapi matanya sedang fokus melihat ke karyawan yang numpang berjalan saat melewati kami.
"Permisi, Bos besar! Numpang lewat," ucap karyawan membungkukkan badan ingin melewati Mas Adit.
"Oh iya, silahkan!" jawaban Mas Adit ramah.
Rasa sungkan terhadap bos kelihatan sekali dari wajah mereka.
"Gak usah nyolot begitu, kenapa? Telingaku gak budek, masih normal mendengarkan omongan, tidak perlu ada teriakkan segala. Lagian ini sudah bersih, mata Bapak aja yang sudah rabun tidak kelihatan," ucapku sebal akibat nada bicara Mas Adit seperti memarahi.
"He ... he, maafkan aku ya, Ana! 'Kan tadi ada karyawan yang lewat, takutnya nanti ada salah sangka dan omongan tak enak diantara kita," jawabnya mengelus-elus leher belakang.
"Alasan saja! Gak bisa apa bicara baik-baik. Tidak usah pakai teriak-teriak," sewotku memberi saran.
"Maafkan Masmu ini, ya ... ya. Lain kali ngak gitu-gitu lagi deh! Jadi maafkan ucapanku barusan, ok! pintanya menangkupkan kedua tangan.
"Serah sama kamu 'lah, Mas. Sesuka hati mau ngapain."
"Hmm, pokoknya maaf yang tadi, ya. Kalau begitu aku permisi dulu, ada kerjaan yang gawat!" pamitnya.
"Ok, husss ... huuus, sana." Usir kasarku.
"Kerja yang baik-baik, ya sayang! Jangan capek-capek kerjanya, emuuuuuah." Cium jauh dilakukan Mas Adit, sambil langkah sibuk ingin terus melenggang pergi.
"Iiihh, dasar manusia aneh," gerutuku tak suka.
>>>>>>>
Perut rasanya sudah kenyang habis makan siang, dan akibat kekeyangan membuat pekerjaan menjadi tersedat agak malas untuk mengerjakannya.
Kini aku berusaha membersihkan jalanan lobi perusahaan, yang biasa dilalui para karyawan dibagian permodelan pakaian. Suara deru langkah para gerombolan orang-orang yang baru selesai pemotretan, kini sedang mendekatiku yang tengah bekerja.
"Kenapa bos?" Suara sang sekertaris Mas Adit menanyainya, yang sudah berdiri tegak berhenti.
"Gak ada apa-apa, kalian duluan saja. Aku ada perlu dengan seseorang, penting!" jawab Mas Adit dengan wajah sudah senyum-senyum penuh makna aneh.
"Wah ... wah ... egkhem. Bakal ada benih-benih tumbuhan akan bersemi lagi nich! Awas benih tumbuhan itu menjadi cinta, SEMANGAT BOS!" ujar sang sekertaris melihat ke arahku.
"Plook ... husssss, pergi sana! Ganggu orang lagi senang aja," ucap Mas Adit menepuk bahu sang sekertaris.
"Semangat, Bos!" suara pelan sang sekertaris, sebelum dia benar-benar pergi.
Sheet ... shet, suara sapu pelku tengah membersihkan lantai.
"Maafkan aku, Ana. Soal omongan sekertarisku tadi," ucap Mas Adit mulai mendekati posisiku.
Tak kuendahkan lagi omongan suami. Diriku terus saja tetap sibuk mengerjakan pekerjaan.
"Hey ... petugas kebersihan, lihat ... lihat! Ini masih sangat kotor sekali," ucap Mas Adit menghentak-hentakkan kaki, menunjuk ke tempat yang kotor.
"Kerja yang bener, jangan malas-malasan," nyolotnya lagi perkataan mas Adit padaku.
"Permisi bos besar," ucap karyawan yang ingin melaluinya.
"Iya silahkan." Senyuman palsu terlontarkan.
"Ini sudah benar, Pak bos. Jangan asal marah-marah sembarangan, ngak jelas gitu," bantahan ucapku berbalik nyolot.
"Husss ... huss, pergi sana! Ganggu orang sibuk kerja saja. Dasar Bos kurang kerjaan, sukanya ganggu pegawai kecil sepertiku," teriak-teriakku berucap dengan melengkingkan suara, agar semua orang yang tadi lewat bisa mendengar.
"Eeem ... emm," mulutku berusaha berontak, saat tangan Mas Adit tiba-tiba membekap mulutku.
"Heehehehe," Cegegesannya melihat ke arah karyawan, yang ternyata mereka ingin kepo terhadap kami.
Berulang kali tubuh mereka dan Mas Adit saling membungkuk, tanda sama-sama saling sungkan.
"Ahhhhh ... aaw," Suara kesakitan Mas Adit saat telapak tangannya berhasil kugigit.
"Syukurin, emang enak ganggu orang kerja," celotehku kegirangan.
"Kamu? Awas saja pembalasanku," ancam Mas Adit tidak suka.
"Ngak usah ngancam-ngancam begitu. Nanti akan kusebarkan gosip, kalau Mas itu adalah suamiku yang sah, dan sudah tega menyakiti hati istri demi wanita lain," ancamku balik.
"Ooh, jadi kamu sudah berani-beraninya mengancam! O ... oo, ingat perjanjian kertas yang sudah kamu tanda tangani," ujarnya mengingatkan.
"Aku tidak takut lagi sama ancamanmu, diriku juga ada bom rahasia, yang bisa juga membuat kamu mati kutu, jadi mas Adit ngak perlu mengancam lagi, hahahaha. Dasar orang aneh!" gelak tawaku keras mengejek, sambil langsung melenggang pergi meninggalkannya.
"Kamu? Hei tunggu," Tadi sempat melihat wajah Mas Adit sudah memerah dengan diiringi gigi gemerutuk, sudah menampakan ada kemarahan kalau aku berhasil membalikkan fakta.
"Ana?" panggilnya.
Cuuup, pipi sudah dicium kilat oleh Mas Adit, dalam keadaan sambil berlari menjauh.
"Mas Adit? Iiiiihhhh!" teriakku marah.
"Bye ... bye, sayang. Kerja yang benar, hahahhah!" ledeknya balik.
"Awas kamu! Akan kubalas nanti," lengkingan suaraku emosi sambil melepas sepatu, ketika rasanya ingin kehantamkan ke wajahnya.
Mata semua orang menatap heran atas teriakanku, yang sedang marah memanggil Bos besar mereka. Muka sudah kututup sebelah menggunakan tangan sebab malu, serta sebelah lagi mendorong cepat trolli kebersihan.
"Ana ... Ana. Cliiiing," teriaknya sudah jauh memanggil namaku, dengan mata mengerjap menutup sebelah yang diiringi jari-jari membentuk love.
"Iiih ... iih, dasar orang kurang minum obat! Kelakuan makin aneh dan tidak waras saja setiap hari," ucapku sudah membucah sebal.