
Haripun terus merangkak tergantikan oleh bulan, hingga akhirnya proses persalinan Karin tinggal hitungan minggu, yang akan melahirkan anak yang ada diperutnya sekarang. Aku sebagai lelaki yang menyayanginya tetap harus siapa siaga, walau status kami belum terikat oleh pernikahan. Sehabis kerja walau dalam kelelahan, aku selalu menyempatkan waktu untuk mengunjunginya. Bagiku dialah wanita satu-satunya, yang telah mengisi hari-hariku dengan warna kebahagiaan, sampai-sampai melupakan masalah dengan orangtua yang selalu membuat hati kesal.
"Kita akan pergi berbelanja peralatan bayi saja, gimana?" tanyaku saat bertandang kerumah bu Fatimah.
"Ngak usah, Chris. Baju-baju bayi banyak yang sudah aku punya, karena dari tetangga sebelah banyak yang memberikan. Katanya mereka sudah tak bisa memakainya lagi, hingga diberikan padaku," jelasku.
Kini Karin sudah terbiasa memanggil namaku. Aku tak ingin dianggap terus-menerus sebagai tuannya sementara dia sudah tak jadi pembantuku, yang melainkan sekarang sebagai kekasih.
"Itu beda, sayang. Rasa-rasanya kalau tak salah aku dengar, tak baik kalau baru pertama ingin melahirkan memakai yang bekas-bekas, pamali sih katanya," ucapku memberitahu.
"Masak kamu percaya kayak gituan, sih. Mungkin diatas kata pamali dari orang tua zaman dulu, ada petuah maksud dan tujuannya. Contohnya kayak duduk dibantal ngak boleh, katanya akan bis*lan. Yang padahal ada petuah, bahwa bantal itu wujudnya untuk tidur khusus kepala, jadi kayak ngak sopan saja duduk bantal, sebab diandaikan seperti menduduki kepala, begitu sih yang kudengar," jawabku tak percaya.
"Ya, antara percaya dan tak percaya, tapi kebanyakan ada benarnya, sih. Lagian aku maunya dedek bayi yang kamu kandung sekarang merasakan bau baju baru, 'kan pasti dia akan senang juga. Iya 'kan?" cakapku yang ingin sekali menyentuh bayi dalam kandungan Karin, tapi kuurungkan sebab gak enak, takut sang empu marah.
"Kenapa tak jadi menyentuhnya?" tanya Karin yang memergokkiku.
"Memang bolehkah?" tanyaku malu-malu.
"Ya, tentu bolehlah."
"Benarkah?" ucapku gembira.
"Iya, Chris."
"Kamu baik-baik disana ya, sayang. Jangan nakal sama mama. Calon papa kamu ini tahu sekali kamu ini anak baik, jadi tak boleh nakal-nakal. Kamu sehat-sehat disini, jangan buat mama Karin khawatir, ya! Walau sementara ini aku bukan papa kamu, aku akan tetap menyayangi kamu sebagai anakku sendiri, jadi ketika sudah melihat dunia ini, jangan pernah lupakan calon papamu ini. Kamu sekarang sudah mendengarkan suaraku, jadi teruslah ingat dan mengenali suara calon papamu ini nanti, jika seandainya aku tak bisa menemani kamu untuk bermain," tuturku sedih saat mengajak berbicara pada anak Karin.
Tanpa terasa bulir-bulir airmata tiba-tiba menetes. Entah mengapa aku merasa sedih sekali, saat mengatakan hal-hal baik pada bayi Karin. Mungkinkah nasib malangnya yang tak diakui ayahnya sendiri, membuatku sedih sekali atas nasibnya nanti, atau sedih akibat nasibku yang tak bisa menjadi pelindung mereka berdua dengan waktu dekat-dekat ini. Semuanya sungguh memilukan atas nasib mereka berdua, tapi aku rasa atas kesabaran Karin mereka selaku bertahan dan semangat dalam perjuangan mengarungi hidup yang keras ini.
"Kenapa kamu menangis, Chris?" tanya Karin saat aku tengah diduk bersimpuh didepanya, ketika masih sibuk mengelus pelan kandungannya.
"Tidak ada, sayang. Aku hanya tak sabar saja menunggu si mungil ini melihat dunia, yang begitu indah ini. Aku tak sabar ingin mengendong dan mengenggam erat tangannya yang mungil," jelasku berbohong agar Karin tak khawatir.
"Kamu tak payah sesedih ini, sebab anakku yang lahir nanti pasti akan terus menyayangi kamu, sebab sebentar lagi dia akan berceloteh memanggil kamu papa," ujar Karin menghapus airmataku, untuk mencoba menenangkan diri ini yang sedih.
"Terima aksih, Karin. Walau kita masih belum bersatu, kamu masih mempercayaiku untuk menjadi pendamping kamu kelak. Makasih," tuturku memberikan senyuman.
"Sama-sama. Seharusnya akulah yang berterima kasih banyak-banyak atas semua kebaikanmu, Chris!" jawab Karin.
"Awwww ... aaah," Kekagetanku saat perut Karin tiba-tiba ada sebuah pergerakan, yang kemungkinan bayinya telah merespon.
"Hihihihihi, kamu lucu dech Chris," tawa kecil Karin akibat melihat ekspresiku.
"Sumpah, aku beneran kaget tadi. Mungkin baru pertama kali dalam pengalaman ini, jadi aku begitu kaget dan tak percaya atas apa yang kurasakan tadi," jelasku.
"Itu tandanya anak yang kukandung merespon baik, apa yang dikatakan oleh calon papa Chris ini tadi, benar 'kan nak?" balik ucap Karin pada anaknya sendiri.
Untuk yang kedua kali perutnya kembali kurasakan ada pergerakan. Sungguh respon yang baik, saat kami berusaha mengajaknya berbicara. Akhirnya atas bujukanku Karin mau diajak berbelanja semua peralatan dan perlengkapan bayi. Dari baju, bedak, minyak, sarung tangan dan kaki, kain bedong, dll. Semuanya sudah kami beli dengan lengkap, tanpa ada yang ketinggalan sama sekali.
Tanganpun sudah penuh oleh peper bag barang-barang yang kami beli. Karin hanya hanya kusuruh membawa paper satu saja, sebab tak ingin membuat dia bertambah kepayahan atas kehamilan yang sudah memasuki hari-hari H.
"Aku capek. Apakah boleh kita istrirahat sebentar saja," Ijin Karin saat kami sudah selesai berkeliling.
"Hemm, tentu saja, dong. Kenapa tidak bilang dari tadi kalau kamu capek," keluhku saat tak tega melihat wajah Karin yang mringis seperti benar-benar kelelahan.
"Sebentar, aku akan taruh barang-barangnya disana dulu. Kamu tunggu didisni," imbuh ucapku saat melihat bangku kosong yang disediakan mall dipinggiran kedai-kedai.
Dengan tergesa-gesa sambil berlarian, diri ini langsung saja menaruh barang yang sempat kami beli, dan kini aku balik berlari secepatnya menghampiri Karin yang sudah kelihatan lelah sekali.
"Terima kasih, Chris. Kamu pria yang pengertian sekali dan selalu siap siaga mementingkan diriku dulu," ucap Karin santai.
"Aku harus melakukan semuanya dengan siap siaga dan sedia, sebab memang aku 'kan calon yang akan mendampingi kamu nanti. Jadi kini harus pintar-pintar mengambil hati calon istriku ini, biar nanti aku tak ditendangnya langsung, jika suatu saat nanti tak sengaja telah berbuat jahat pada kamu," jawabku mencoba mengajaknya bercanda.
"Kalau ketahuan itu bukan saja kutendang, tapi bisa-bisa langsung kutebas itu leher menggunakan samurai, mau!" balik jawabnya bercanda.
"Ha ... ha ... ha, sadis amat calonku ini. Wah, bau-baunya aku takkan bisa berpaling ke lain hati, nih!" Godaku lagi.
"Kalau mau coba-coba, niiiih!" jawabnya sudah menunjukkan kepalan tangan.
"Benar-benar kejam dan sadis beneeeeer, hahahahah!" gelak tawaku puas memancing emosi Karin.
"Enggak kok, Chris. Selama kita belum ada ikatan, kamu bisa kok berpindah ke lain hati jika kamu menginginkannya, sebab bagiku masih tak percaya diri, bahwa aku ini bukanlah wanita terbaik untuk kamu pilih," jawabnya sendu.
"Maafkan apa yang kukatakan tadi, itu tadi hanya bercanda jadi jangan diambil hati," jelasku merasa bersalah.
"Heeeh, ngak pa-pa kok, Chris. Aku ngak tersinggung, lagian aku akan bahagia jika melihat kamu juga bahagia walau bersama orang lain, sebab bagiku kamu patut mendapatkan kebahagiaan lebih atas sesuai apa yang kamu inginkan. Aku tidak ingin terlalu mengikat kamu, sebab memang diriku belum pantas jika bersanding dengan kamu," ujarnya merendahkan diri.
Kamipun akhirnya telah sampai ke tempat duduk yang jadi tujuan, dengan paper bag sudah ditaruh dilantai mall.
"Kamu jangan katakan itu. Walau kamu tak pantas untukku atau apalah, yan jelas selamanya aku akan tetap mencintaimu, paham!" ujarku memperjelas lagi.
"Hufff, iya dech."
"Baguslah kalau begitu."
"Oh ya, bagian mana yang sakit biar aku memijitnya," tawarku saat melihat bawah kaki Karin yang berkali-kali dia pegang memijit pelan.
"Betisku rasanya sakit ngilu banget, mungkin ini efek kita terlalu lama berkeliling tadi," terangnya.
"Sini, biar aku pijit."
Dengan membuang rasa malu, kini aku duduk bersimpuh menghadap ke arah Karin, untuk segera memijit betis kaki agar bisa menghilangkan rasa pegalnya. Semua orang yang berlalu lalang melewati kami, nampak sekali tatapan mereka mengisyaratkan keanehan dan kekaguman.
"Wah ... wah, siapa ini? Macam sudah dijadikan budak saja," Suara seseorang tiba-tiba mengelegar menyapa kami.
"Mama?" Kekagetanku saat menoleh siapa gerangan yang barusan menyapa.
Karin yang kaget atas kedatangam mama, langsung menarik kuat kakinya kebelakang, yang sempat aku pijit akibat kelelahan.
"Super sekali kamu, nak. Ternyata kamu telah kena pelet wanita ini, hingga tak ada malunya memijit betis dia dimata umum, ckckcck," ucap mama merasa tak senang.
"Apa maksudnya, jeng? Anak? Apakah dia anak kamu?" tanya teman mama yang kini berdiri disamping beliau.
"Iya, ini anak pembangkangku, akibat kenal sama wanita si*lan ini, yang kini sudah mengajari anakku untuk membatah orang tuanya, akibat mau mempertahankan cewek kampungan dan tak tahu diri, ini," hina terang mama.
"Benarkah itu, jeng?" tanya teman mama tak percaya.
"Betul," jawab mama.
"Mama apa-apa'an sih? Jangan bikin malu kami. Aku sedang tak mau ada urusan sama kamu, paham!" keluhku tak suka.
"Kamu tuh yang apa-apa'an, sudah tak ada urat malu memijit perempuan didepan umum begini," jawab mama nampak sudah ada emosi.
"Haaah, malas sekali sekarang aku berdebat sama mama. Ayo Karin, kita pergi saja dari sini," ajakku padanya.
Tanpa banyak membuang waktu, langsung kuambil barang-barang pembelian kami, dan langsung mengenggam erat tangan Karin agar mau mengikuti ajakkanku.
"Hei, Chris. Hei kamu ... kamu mau kemana? Mama belum selesai berbicara, dasar anak tak tahu diri, mamanya ngajak bicara dianya malah kabur," teriak-teriak mama berbicara saat aku telah melenggang pergi dari hadapannya.
Hati kesal sekali saat ingin mencari udara segar sambil mencuci mata, tapi harus ketemu sama mama sendiri, dengan segundang celotehnya yang terus saja menghina Karin. Rasa sakit yang kemarin tak mau kutuangkan pada hati Karin lagi, saat hinaan orang tau masih terekam jelas dalam ingatan.