
Obrolan serius terus berlanjut. Rasanya tidak nyaman saja jika menyeret suami ketika ada kekhawatiran.
"Oh ya, Ana. Jadi kamu tahu 'kan dimana Putri sedang dirawat? Gimana kalau kita menjenguknya saja, sebab Mas penasaran banget sama keadaannya sekarang," pinta Mas Adit.
"Bisa Mas, aku akan antarkan kamu."
"Baiklah, kalau begitu kita berangkat sekarang saja, gimana?."
"Iya Mas, aku akan mengantar kamu sekarang," jawabku menyetujui.
Rencana Mas Adit setelah menemani makan kembali bekerja, sekarang ambyar menjadi ingin menemui Putri. Aku begitu pasrah saat Mas Adit meminta ditemani untuk menjenguk Putri, sebab selain itu aku masih penasaran dan ingin membuktikan bahwa yang dipanggil Adit apakah suamiku atau bukan.
Perjalanan yang sepi, semakin cepat melajukan mobil, sehingga tak butuh waktu lama kamipun telah sampai.
Karena identitas Putri tidak boleh diketahui oleh orang lain lagi, maka dengan terpaksa aku meminta bantuan kepada pegawai pria yang kemarin. Pada awalnya dia menolak lagi, tapi dengan desakkan Mas Adit akhirnya petugas itu menyetujui dan memperbolehkan kami untuk menemui Putri, tapi dengan syarat masih harus hati-hati agar tak diketahui oleh petugas yang lainnya.
"Ini Mas, dia yang namanya Putri!" ucap pria petugas RSJ.
"Ya ampun, dia beneran Putri adik Bowo," Wajah keterkejutan mas Adit.
Tanpa banyak basa-basi, Mas Adit langsung nyelonong berdiri tepat dihadapan Putri, yang masih sama yaitu menyiratkan tatapan kosong. Netra mas Adit menatap tajam kearah Putri, yang kemungkinan masih tak percaya apa yang dilihat didepannya sekarang.
"Putri ... Putri?" panggil Mas Adit pelan.
Wajah putri masih sama datar dengan tatapan kosong.
"Putri ... Putri ... Putri," Untuk kesekian kali Mas Adit sibuk memanggil adik Bowo itu.
Wajah Putri kini tidak ada tatapan kosong lagi, saat mendengar suara Mas Adit memanggil namanya, dan kini wajahnya beralih berubah menatap ke arah mas Adit, yang mana matanya telah mengeluarkan sebuah tetesan embun airmata.
Netra yang tajam masih saja mengalirkan bulir-bulir airmata, yang kian lama kian deras.
"Kamu masih mengenalku, Putri? Ini aku Adit, yang dulu adalah sahabat karib kakakmu Bowo," Suamu membujuk dengan tangan menepuk-nepuk dada secara pelan.
"Adit?" sepatah kata nama suamiku, telah keluar dari mulut Putri.
"Iya aku ini Adit. Apakah kamu masih ingat denganku!" ujarnya meyakinkan.
"Adit ... Adit?" Suara Putri yang terlihat teringat sesuatu. Kepala terus tergeleng-geleng.
Putri yang semula menatap kosong sambil duduk dipembaringan kasurnya, sekarang tanpa aba-aba langsung menubruk tubuh Mas Adit dengan cara memeluk.
Deg, jantung yang berdetak pelan sekarang begitu kencangnya berguncang, saat diri ini telah kaget melihat perlakuan Putri barusan pada suamiku.
"Astagfirullah, benarkah yang dipanggil Putri tentang Adit adalah suamiku," gumanku dalam hati, dengan kaki sudah lemah berjalan pelan mundur-mundur akibat terlalu syok.
Lama sekali netraku menatap pemandangan pelukan didepan mata, yang bagaikan seorang kekasih telah lama dirindukan, kini telah bertemu kembali. Kulihat mas Adit begitu tersenyum sumringah bahagia, saat mengetahui adik Bowo masih mengenalnya.
"Adit jangan tinggalkan aku. Sangat merindukanmu dan sudah lama aku menunggumu, tapi kamu tidak pernah datang lagi," Suara pilu Putri yang kian pecah menangis, saat masih bertengger memeluk mas Adit.
"Sudah ... sudah, aku sudah berada disini untuk datang menemui kamu, jadi kamu gak usah bersedih lagi, oke!" ucap Mas Adit menenangkan, yang tangannya sudah mengelus pelan lengan Putri.
"Aku tidak mau kamu menghilang lagi dari pandanganku. Sungguh aku sangat-sangat merindukanmu," ungkap Putri bahagia.
Tubuh sudah terasa bergetar, namun kaku sekali untuk mencoba melangkah menghampiri mereka. Sungguh aku sekarang ini tak mau menjadi penghalang, pertemuan bahagia mereka.
Walau hati terasa sedikit ada goresan tidak percaya dan sakit, tapi semua bisa kutahan sekuat tenaga, mempercayai bahwa semua tak akan terjadi di luar kebatasan mas Adit terhadap Putri. Mungkin diriku hanya dilanda kecemburuaan sesaat, saat suami telah bermain memeluk wanita lain dihadapan istrinya sendiri.