
Keadaan makin sunyi dikala malam telah tiba. Banyak orang yang sudah masuk rumah. Jam sudah menunjukkan di angka sembilan. Mungkin aktifitas hanya terjadi didalam rumah, sehingga disekeliling rumah tetangga sepi tidak ada lalu lalang orang lagi, yang bagaikan tidak berpenghuni.
Akupun yang kelelahan hanya baring-baring santai dikamar sendiri. Kaki berusaha kuselonjorkan, agar otot-otot bisa kendor akibat seharian diajak bekerja. Duduk bersandar diatas papan kasur yang kini kulakukan, sambil tangan sibuk membaca buku resep pembuatan kue. Netra terus menjelajahi satu-persatu tulisan berserta gambarnya.
Dert ... dzzzzt, gawai diatas nakas telah bergetar.
Tertera nama Chandra sedang melakukan panggilan.
"Tumben, ini orang malam-malam telephone?" guman hati yang merasa aneh.
Klik, tombol yang tertera hijau sudah kugeser ke atas.
[Hmm, ada apa Chandra?]
[Kamu masih ditoko atau sudah dirumah?]
[Aku sudah lama berada dirumah. Memang kenapa?]
[Kalau begitu aku jemput dirumah kamu saja, nanti akan aku jelaskan semua]
[Ada apa'an sih? Kamu kelihatan gelisah begitu?]
[Kalau sudah bertemu nanti akan kujelaskan, tidak enak kalau berbicara lewat telephone]
[Emm, baiklah kalau begitu]
[Hm, tunggu kedatanganku]
[Iya]
Sang empu yang barusan menelpon sudah mematikan, netra hanya memicing sebelah sebab sudah merasa aneh.
"Ada gerangan apa yang terjadi pada, Chandra? Kok dia rela malam-malam begini datang," rancau hati.
"Ahh, lebih baik aku siap-siap, dari pada berpikir keras tapo tidak tahu jawaban, sebab Chandra mau kesini," Langsung saja bangkit dari tempat tidur.
Baju yang lusuh untuk dipakai sehari-hari dirumah, sudah kuganti agar lebih bagus lagi. Tidak enak kalau kita menemui tamu, tapi pakaian tidak layak kayak compang camping, walau masih bisa dipakai tapi khusus dirumah saja, sebab tidak ada yang melihat dan bakalan mencemooh.
Ibu dan bapak angkat kelihatannya sudah tertidur pulas. Mereka hari ini lelah, setelah sawah mereka yang ditanami padi telah panen. Aku tidak bisa bekerja seperti mereka, sebab kalau kena matahari suka pusing mendadak, mungkin efek tidak pernah sama sekali menjajaki perkerjaan yang bergulat dengan matahari.
Tangan mengaduk-aduk gula agar bisa secepatnya larut bersama teh. Ketika sedikit melamun, terdengar suara mesin mobil mulai berhenti didepan rumah.
"Sepertinya itu Chandra sudah datang?."
"Itu siapa, Nak? Kok mobil berhenti didepan rumah kita?" tanya Ibu tiba-tiba mengagetkan, yang kemungkinan sedang terbangun.
"Sepertinya itu, Chandra."
"Ohh. Kenapa malam-malam begini bertandang?" imbuh Ibu.
"Tidak tahu, Bu. Karin tadi bertanya sama dia, tapi katanya mau menjelaskan setelah kami bertemu."
"Ooh gitu. Ya, sudah. Kamu temui tamu itu, Ibu mau ke kamar mandi dulu."
"Iya, Bu. Silahkan."
Nampan yang berisikan dua cangkir teh, kubawa sekalian kedepan untuk tamu yang belum kubukakan pintunya.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Pintu yang sudah terkunci dari tadi segera kubuka.
"Eeh, kamu sudah datang. Mari masuk."
"Iya, terima kasih. Maafkan aku sudah merepotkan kamu."
"Iya, ngak pa-pa. Mari, silahkan duduk."
"Iya, terima kasih."
"Emm."
"Aku beneran minta maaf, sebab malam-malam begini menganggu kamu yang sedang istirahat."
"Ohh.
"Aku datang kesini dengan tujuan dan maksud tertentu, tapi sebelumnya meminta maaf sama kamu, sebab mama sudah membuat masalah," Chandra sudah menangkupkan kedua tangan didada.
"Masalah itu aku sudah melupakannya. Mungkin memang bukan rezeki kami disitu," jawab keramahan.
"Tapi beneran minta maaf atas semua itu, dan malam ini datang kesini sebab ada perlu mengenai hal itu."
"Maksudnya apa, nih?" Kebingungan bertanya.
"Maksudnya kami menginginkan kue itu lagi, apakah bisa? Sebab tidak ada toko lagi yang bisa membantu kami?" Chandra memelas.
"Wah, kalau itu tidak bisa, sebab kue sebagian sudah kami berikan sama anak panti."
"Ahh, gimana ini? Karena harapan satu-satunya hanya bergantung pada toko kamu," Chandra nampak sedih.
"Gimana, yah. Soalnya kue sudah tidak ada lagi."
"Terus, apa tidak ada cara lain bisa membantu kami? Karena ini sangat penting sekali buat acara besok. Contohnya apakah kalian bisa buatkan untuk kami sekarang?" Ide Chandra.
"Wah, kalau itu tidak bisa, sebab para karyawan sudah pulang semua. Lagian ini sudah larut malam, jadi aku tidak bisa menganggu mereka yang pastinya juga sedang kelelahan."
"Gimana ini, yah? Kalau kalian tidak menyediakan, pasti akan berantakan sekali acara besok. Kasihan tanteku yang harus menanggung malu sebab tidak ada kue itu," Chandra kelihatan murung.
"Hhhh, mau gimana lagi? Sebab kamu baru bilang sekarang."
Ibu yang tadi pamit ke kamar mandi sekarang sudah kembali. Chandra langsung mencium tangan punggung beliau.
"Ada apa, Karin? Kenapa Nak Chandra malam-malam begini datang?" Ibu bertanya.
"Masalah permintaan kue, Bu. Tapi pihak Karin tidak bisa memberikan sekarang, sebab sudah malam dan karyawan pulang."
"Memang penting benget 'kah itu?" Ibu sudah duduk disampingku.
"Yang jelas iya, Tante. Kue akan dipakai acara nikahan besok pagi."
"Emang kamu beneran tidak bisa menyediakan, Karin? Kasihan sama Nak Chandra yang butuh banget kue itu."
"Di toko masih ada sebagian, cuma sebagian lagi tidak bisa memenuhi."
"Lha, memang kenapa?."
"Kan karyawan tidak bekerja lagi, jadi tidak ada orang yang bisa membantu membuat nanti."
"Butuh banyak orang 'kah?."
"Tidak juga sih, Bu. Mungkin dua atau tiga orang saja cukup."
"Kalau kamu beneran mau membantu Nak Chandra, kenapa tidak kamu ajak dia untuk buat kue itu? Tapi harus minta tolong sama Nak Chandra untuk membantu kamu, sebab karyawan sedang tidak ada," Ide Ibu.
"Wah, benar itu, Tante. Aku akan siap membantu kamu Karin, karena ini keadaan gawat darurat dan penting banget. Gimana?" Usul mereka membuatku bingung.
"Gimana, yah?"
"Bantulah Nak Chandra sebentar saja. Kalau tidak darurat dan sangat penting, Ibu tidak akan mengizinkan kamu kerja malam-malam begini," Ibu sudah mendukung penuh.
"Iya, Karin. Pleaseeee, bantu sekali ini saja."
"Hhhhh, baiklah. Kalau menurut kalian ini adalah jalan utama."
"Alhamdulillah, kalau kamu mau membantu," ucap syukur Ibu.
"Makasih atas idenya, Bu. Terima kasih juga untukmu Karin, yang sudah mau membantu."
"Iya, sama-sama," jawab Ibu dan aku kompak.
Akhirnya dengan terpaksa aku ganti baju lagi, untuk segera memenuhi keinginan Chandra. Walau sudah letih badan, apa salahnya kalau membantu dia sejenak.
Ibu sudah mengantar kami berdua sampai teras rumah. Tangan mulai melambai-lambai saat akan masuk dalam mobil. Siap berkutat lagi dengan tepung, walau mata terasa sudah berat sekali akibat ngantuk.