Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
Merananya hati. SEASON 2


Malam kian merangkak


Memutarkan roda kehidupan ini.


Suara ayam berkokok tanda menyosong pagi


Mata terjaga seakan-akan tak ingin tidur.


Apa yang terjadi dengan semua ini


Saat aku masih disini menunggu.


Hati seakan terus saja letih


Menanti semua jawaban atas perasaan.


Masa yang kelam dan indah


Sempat terkubur dalam jiwa dan raga.


Tapi kenapa rasa itu seakan-akan


Mulai menjalar ingin mengikat lagi.


Entah sampai kapan malam berhenti


Temani aku dalam menunggu hati sepi.


Sampai kapan hati yang lelah


Akan terus terhinggapi oleh cinta.


Kemunculannya bagai bom waktu


Untuk diriku kembali ke masa lalu.


Sakit, telah mengenang semua


Tapi takdir seakan-akan terus saja mengikuti.


Apa ini jawaban didekat mata namun jauh dalam doa.


Untuk kembali mengenggamnya lagi.


Setiap hari terus terjaga kala malam mulai merayap dipertengahan. Bayangan wajah itu selalu hadir, seakan-akan mulai mengurung hati yang sempat hilang.


"Oh Tuhan, rencana apa lagi yang Kau berikan untukku? Kenapa ada pria yang mirip sekali dengan, kak Adrian?" Tangan sudah menyangga kepala.


Dinginnya malam tak kuhiraukan, saat mata benar-benar terjaga tak bisa terpejam lagi. Senyuman itu benar-benar membuatku tersiksa kembali, ketika kerinduan pada kak Adrian telah hadir.


Doa tak pernah putus untuk kekasih, yang sudah tenang didunia yang berbeda. Namanya terus terukir indah dalam relungan hati. Larutnya cinta terus meracuni hati yang tersiksa.


Disepanjang malam mulut selalu berdoa. Bersujud dan selalu meminta agar aku bisa tenang didunia, dan untuknya selalu bahagia dialam sana. Aliran air bening tak lupa ikut menitik, saat teringat kenangan manis itu.


Sadar diri kalau tak mungkin lagi cinta kami tidak akan bersatu, tapi dalam dasar hati berangan-agan agar kasih ini akan tetap terjaga dan abadi selamanya.


"Apa yang terjadi dengan kehidupanku lagi, kak? Kenapa saat ingin melupakan cinta kita, namun ada orang yang mirip sekali dengan kamu. Apakah aku terlalu berlebihan meminta agar kau hadir untukku, saat hanya sekedar menemani walau dalam bayangan. Namun kenapa sekarang semua begitu nyata? Bagaimana aku bisa menghadapi kenyataan ini? Apakah kau tahu betapa sesaknya hati ini saat melihat kau didepan mataku lagi? walau yang kulihat tadi itu adalah orang lain," guman hati mengeluarkan keluh kesah.


Dijendela yang terbuka, kepala sudah mendongak ke atas langit. Bintang malam yang menerangi bumi nampak indah, walau sinar cahayanya redup-redup tak terang benderang, namun cukuplah yang memandangnya akan tenang. Begitulah kehidupan yang nampak bersinar dan baik-baik saja, namun pada kenyataannya hati selalu saja redup, ketika tak semangat lagi untuk mengarungi kehidupan didepan mata.



Takdir yang kelam telah menyelimuti, langkah begitu tak pasti setelah engkau pergi. Airmataku terus saja jatuh berdera saat kau tinggalkan aku, sehingga kini terasa begitu sendirian dalam menjelajahi bumi.


Hanya sekejap saja aku merasa indahnya, namun setelah itu kau tak ada disampingku. Seperti bagai mimpi dan tak nyata, saat kau pergi jauh nan disana.



Kebiasaan kalau banyak pikiran, apalagi teringat kenangan bersama kak Adrian, penyakit tak bisa tidur malam (Imsomnia) mulai kambuh lagi. Sampai adzan shubuh berkumandangpun kadang tetap tak bisa memejam, sampai-sampai sudah seperti panda yang banyak lingkaran hitam dibawah garis-garis pelupuk mata.


Hawa dingin telah menusuk tulang, maka dari itu sebuah air kehangatan harus terteguk. Sebuah teh yang mengepul asap kini telah kusruput. Akibat tidak bisa tidur, televisi jadi peneman untuk begadang malam ini.


Sebuah tayangan bola telah kutonton. Walau tidak suka sama acaranya, namun malam begini tidak ada tayangan yang bagus bisa kutonton. Sekarang tidak mengerti juga jalannya pertandingan sejauh mana, sebab seru pertandingan sudah menuju babak kedua.



"Karin? Kamu tidak bisa tidur lagi?" sapa suara Ibu.


"Eeh, Ibu."


Kubenahi tubuh agar duduk tegak, saat sedikit merosot bersandar dipembatas kursi.


"Iya nih, Karin terjaga dan tidak bisa tidur kembali," jawaban jujur.


"Ada apa lagi, Nak? Apa kamu ada masalah?" tebak beliau melangkah mendekati posisiku.


"Tidak ada kok, Bu. Tidak ada yang sedang Karin pikirkan," jawaban kebohongan.


"Beneran, nih!" Tatapan beliau sudah mengisyaratkan kalau sedang tidak percaya.


"Benar, Bu." Kemantapan pekataan.


"Ya sudah kalau tidak apa-apa. Ibu, hanya khawatir saja sama keadaan kamu, kalau masih tidak bisa melupakan kenangan manis itu bersama Adrian. Sangat tahu sekali posisi kamu itu, walau Ibu belum pernah merasakannya, tapi kehidupan yang serba kekurangan selalu mengajarkan arti hidup yang sesungguhnya. Maksudnya kita harus manerima semua takdir yang telah diberikan. Menghadapi semua cobaan dengan ikhlas dan sabar adalah sebuah kunci utama," panjang lebar ceramah beliau.


"Iya, Bu. Karin paham. Tapi entah kenapa, bayangannya selalu hadir dan menghantui. Sekian hari selalu berusaha melupakan, namun rasa itu selalu hadir dan kian membuatku terpuruk," Mengeluarkan uneg-uneg yang selama ini terpendam.


"Mungkin rasa bersalah kamu begitu kuat, akibat menghilangkan nyawa nak Adrian."


Tangan lebar beliau telah menyentuh rambut yang tergerai. Begitu nampak kalau beliau menyayangi, kelihatan dari cara terus mengelus pelan-pelan.


"Kamu tidak usah terlalu dalam memikirkan itu, bukan 'kah takdir kehidupan sudah digariskan pada masing-masing setiap manusia, dan mungkin takdir nak Adrian itu meninggal dengan cara menyelamatkan kamu." Berulang kali beliau berbicara sambil melempar senyuman.


Televisi sudah kukecilkan volumenya, namun gambar masih menyala dan bergerak-gerak terus.


"Tidak tahu apa yang terjadi padaku, Bu. Wajah itu begitu terkenang, sampai untuk menguburnya dalam-dalan dihati selalu saja susah!" Kesedihan yang terus berlanjut.


"Harus sabar, Nak. Ibu yakin kalau kamu bisa melakukan itu. Perlahan-lahan dan mulai melatih untuk melupakan. Jangan terlalu bersedih sebab tak baik untuk kesehatan kamu," Ibu terus saja menasehati.


"Iya, Bu."


Tubuh beliau kupeluk erat. Tetesan embun mengalir tanpa henti. Belakang pundak hanya ditepuk pelan-pelan.


Hanyut dalam kesedihan, tanpa sadar telah menyeret waktu untuk menemani sampai adzan shubuh berkumandang.


Mata terasa begitu ngantuk berat, namun harus kutahan sebab pekerjaan sedang menanti. Mungkin waktu luang yang tidak ada kerjaan, itulah kesempatanku untuk memejamkan mata segera nanti.