
Untung saja majikan sangat baik dan pengertian atas apa yang menimpa diriku. Ibu yang masih belum sembuh betulan, kini dirikulah yang masih saja menggantikan beliau.
"Kamu jangan capek-cepek, Karin!" tegur tuan Chris saat aku telah mengepel lantai rumahnya.
"Eeh, ada tuan. Baru pulang kerja ternyata. Ngak kok tuan, aku ngak capek. Aku ini kuat, lagian ini itung-itung dianggap sebagai olahraga saja," sautku menjawab.
"Eemm, baiklah kalau kamu ngotot masih kuat melakukan kerja. Tapi jangan minta bantuan sama aku jika terjadi apa-apa, oke!" ancam sang majikan dengan maksud mengajak bercanda.
"Iya, tuan. Aku pasti akan hati-hati dalam kerja. Tuan mau makan sekarang?" tanyaku saat dia duduk santai disofa ruang tamu sambil melepas kaos kaki.
"Enggak usah, aku tadi sudah makan ditempat kerja. Aku mau tidur sepuasnya saja hari ini, sebab sudah dua hari kerja lembur terus," terangnya.
"Baiklah, tuan. Selamat istirahat saja kalau begitu."
"Emm."
Walau tuan Chris sering kali memperingatkan agar aku tak kelelahan dalam bekerja, semuanya tak kugubris sebab diri ini tak mau dikatakan kerja tapi hanya tergiur atas upahnya saja, saat tak melakukan kewajiban itu sebagai pembantu.
Kadang tubuh begitu lemah sekali, karena seringnya perut yang tak bisa diajak kompromi akibat mengeluarkan semua isi yang sudah tertelan, tapi sekuat tenaga diri ini harus bisa menahan, demi mencari sebongkah recehan uang untuk menjaga kelangsungan hidup.
Tangan telah sibuk menjemur satu persatu pakaian majikan, diteras dekat kolam renang. Rasanya aku begitu kagum atas semua yang dimiliki majikan. Sudah tampan kaya pulak, hingga membuat para wanitapun berlomba-lomba ingin memilikinya, namun kejadian beberapa hari yang lalu telah membuat bekas trauma pada tuan Chris, hingga kini tak ada satupun wanita yang antri menjadi pacarnya lagi.
Ting ... tong ... ting, suara bel rumah telah dibunyikan.
Aku yang masih sibuk menjemur pakaian, segera menghentikan aktifitas itu, yang kini berusaha berjalan tergesa-gesa untuk membuka pintu.
Ceklek, pintu sudah kubuka. Nampak seorang pria dan wanita yang kelihatan seumuran dengan mama angkatku.
"Maaf, ada yang bisa saya bantu?" tanyaku sopan sambil manggut menundukkan kepala.
"Chris ada ngak dirumah?" tanya tamu wanita itu.
"Tuan ada dirumah, tapi lagi istirahat."
"Bolehkah kami ketemu?" Simbatan tamu si pria.
"Oh, boleh-boleh saja, pak. Tapi kalau boleh tahu anda-anda ini siapa, ya?" tanyaku sopan.
"Kami adalah orang tuanya Chris. Sudah ... sudah, tak payah meminta izin Chris segala, sebab kami adalah keluarganya, minggir!" ucap kasar mama tuan Chris.
"Iya, Nyonya. Maafkan atas kelancanganku tadi sebab tidak tahu," jawabku sambil menundukkan kepala.
Tanpa halangan lagi kedua orangtua tuan Chris, kini langsung saja masuk nyelonong kedalam rumah.
"Silahkan duduk tuan, nyonya!" cakapku mempersilahkan.
"Eemmm," jawab mama tuan Chris yang kelihatan sombong.
Dengan tergesa-gesa kini aku menaiki anak tangga menuju lantai kedua, untuk segera memanggil majikan.
Tok ... tok, pintu kamarnya kuketuk.
Tok ... tok, untuk yang kedua kali pintunya kembali kuketuk.
"Apa tuan Chris masih tidur, ya? Emm, apa sebaiknya aku langsung masuk untuk membangunkannya, tapi--? Tapi bagaimana jika nanti dia marah, akibat dibangunkan tidur? Aah, aku langsung masuk saja, sebab dari tadi kuketuk kamarnya tak kunjung jua dia buka. Lagian jika aku tak membangunkan tuan Chris segera, pasti orang tuanya akan marah-marah sebab tak bisa menemui anaknya. Iya, aku harus masuk sekarang untuk membangunkannya," ucapku dalam hati merasa antara iya dan tidak.
Ceklek, pintu kamar kubuka perlahan-lahan.
"Permisi, tuan!" izinku meminta masuk.
"Heeh, ternyata benar saja kalau tuan Chris masih tidur. Aku harus membangunkan sekarang," guman hati yang yakin.
"Tuan ... tuan, bangunlah! Tuan ... tuan," panggilku sambil mengoyang-goyangkan perlahan lengan tangannya.
"Eeh ... hhhhhh, ada apa?" jawabnya lemah yang masih memejamkan mata.
"Dibawah ada orang tua kamu, tuan!" jelasku.
"Benarkah? Kamu suruh mereka untuk menunggu sebentar," sautnya menjawab yang kini benar-benar sudah membuka mata.
"Baik, tuan. Saya permisi dulu," cakapku pamit.
"Eemmm."
Tangan kini sibuk menyeduhkan minuman untuk tamu. Nampan yang berisikan makanan dan minuman kini sudah siap juga untuk segera dihidangkan pada mereka. Nampak tuan Chris kini sudah duduk menemui mereka, dengan pakaian masih sama sewaktu dia tidur tadi.
"Ini tuan, nyonya. Silahkan diminum," ujarku menyuguhku.
"Aaa ... aww," Suara majikan perempuan merasakan kaget, saat air hangat teh telah mengenai bajunya.
"Maaf ... maafkan aku, nyonya!" ucapku bersalah yang kini berusaha membantu mengelap baju yang basah dengan tisu.
"Aaah, minggir. Tak sudi tangan kamu yang kotor itu menyentuh pakaian yang mahalku ini. Dasar pembantu tak becus melakukan perkerjaan yang mudah saja," keluh majikan perempuan marah-marah.
"Maaf ... maaf, nyonya. Aku tadi benar-benar tak sengaja menyenggolnya," jelasku.
"Dasar, byuuuuuuur!" Dengan kasarnya majikan perempuan kini menyiram teh yang lainnya yang sudah kuhidangkan tadi.
"Ma! Apa-apaan kamu ini," teriak tuan Chris yang kelihatan marah.
"Diam kamu, Chris. Jangan membela pembantu yang tak becus melakukan pekerjaannya. Dasar, pembantu tak guna," hina beliau lagi.
Aku hanya bisa mengelap kasar wajah, saat sisa air teh masih bertengger membasahi wajahku. Untung saja teh tadi kubuat hangat-hangat kuku, hingga panasnya tak akan melepuhkan wajah ini.
"Mama yang seharusnya diam. Karin tadi sudah meminta maaf padamu, karena memang dia tadi tak sengaja, namun apa yang kamu perbuat sekarang. Kamu malah menyiram dan marah-marah padanya," saut jawab tuan Chris berusaha membelaku.
"Kamu kenapa jadi nyalahin mama, bukannya pembantu kamu yang tak berguna ini yang harus disalahkan?" balik keluh majikan.
"Sudah ... sudah, kalian ini apa-apaan, sih? Ngak malu apa berdebat hanya gara-gara masalah sepele saja. Kelakuan kalian bagaikan anak kecil saja," tuan besar kini ikut marah dengan cara mencoba menengahi.
"Habisnya mama sih, pa. Selalu saja buat gara-gara, hanya masalah ketumpahan air begitu saja sampai marah besar," jawab tuan Chris sewot.
"Mama tadi cuma agak emosi saja, Chris. Kamu tahu sendiri mama benci banget sama orang yang lelet maupun tak bisa mengerjakan pekerjaan dengan baik," jelas majikan perempuan melembutkan kata-kata.
"Maaf aku, nyonya dan tuan Chris. Saya tadi benar-benar tidak sengaja, jadi jangan dibuat berdebat lagi," Keusilanku mencoba ikut andil berbicara, saat ada bau-bau ketegangan antara anak dan ibu ini.
"Ciiieh, dasar pembantu sok tahu dan usil. Sudah pergi sana, muak sekali rasanya melihat muka kamu yang sok polos itu," usir majikan perempuan tak suka padaku.
"Baik, nyonya. Maaf ... maaf, saya permisi dulu," ucapku pamit sambil menganggukkan kepala pelan-pelan.
Saat baru beberapa langkah berjalan, lagi-lagi tuan Chris kembali ingin mengajak berdebat pada ibunya itu. Rasanya aku begitu tak enak hati akibat kecerobohan sedikit saja, hingga membuat mereka makin tegang saling adu mulut.
"Haduh, Karin. Apa yang kamu perbuat tadi, tindakan kamu begitu cerobohnya, hingga mereka berdebat terus?" guman hati yang menyesal dan tak enak hati, saat mendengar suara keras saling bersitegang.
Karena tak enak atas perbuatanku tadi, aku kini mencoba menyibukkan diri dengan cara memasak sembarang bahan sayur untuk menghilangkan mood yang tak menyenangkan lagi, sebab jika muncul maka akan membuat mereka semakin memuncakkan emosi. Satu persatu bahan sayur kini kupotong perlahan dan kecil-kecil. Entah apa jadinya rasa masakanku sekarang, yang jelas semuanya kuluapkan kesal dengan cara memasak beberapa menu lauk.
"Aaaaaaa," Suaraku kesakitan saat tiba-tiba tangan telah teriris sebuah pisau.
Darah segarpun tak terhindarkan lagi telah mengalir begitu derasnya, hingga darah merahnya sekarang sampai jatuh menetes kelantai ubin keramik.
"Kamu kenapa, Karin?" tanya tuan Chris yang tiba-tiba datang, saat melihat tangan kugenggam erat mencoba menghentikan darah yang mengalir.
"Aku tak sengaja mengiris tanganku sendiri, saat mengiris sayuran tadi," jawabku yang meringis menahan sakit.
"Kenapa kamu begitu ceroboh sekali, sini!" ucap majikan kini menarik kuat tanganku.
Aku yang tak siap, begitu tidak menyangka ketika tuan Chris akan melakukan tindakan yang tak terpikirkan olehku, yaitu m*nghis*p darah yang keluar dengan cara memasukkan jari yang terluka kedalam mulutnya.
"Ya ampun, apa yang kamu lakukan tuan. Kamu tak payah melakukan ini sampai begitunya," guman hati yang sudah malu atas tindakan majikan.
Tindakannya membuat aku seketika terpana begitu lamanya, saat wajahnya yang tampan tak henti-hentinya begitu cool masih saja m*ngh*sap jari bagai anak kecil yang memakan lolipop.
"Gimana? Apakah sudah agak baikkan?" tanyanya yang kini sudah melepas jariku.
"Eeh'eehhhh, iya tuan!" Kesadaranku seratus persen atas tindakan majikan barusan.
Aku yang kaget seketika langsung menyembunyikan tangan yang sakit agar majikan tak khawatir lagi. Walau masih ada sedikit keluar darahnya, aku berusaha kelihatan baik-baik saja, agar majikan tak melakukan tindakan yang sempat membuatku meleleh.
"Kok tuan ada disini? Orangtua tuan apakah sudah pulang?" tanyaku berbasa-basi.
"Iya, mereka barusan pergi."
"Maafkan aku, tuan. Atas ketidaknyamanan kecerobohan yang menumpahkan teh tadi, hingga tuan bertengkar sama nyonya," cakapku tak enak hati.
"Tak apa, Karin. Aku sudah biasa bertengkar dengan mama, sebab dari dulu aku tak suka sifatnya yang selalu keras dan mengatur-ngatur hidupku. Kamu tahu sendiri kenapa aku tidak bersama mereka tinggal dirumah? Ya, karena aku tidak cocok sama sifat mereka yang angkuh dan kelihatan punya segala-galanya, makanya sekarang aku berusaha hidup mandiri dan tak bergantung sama mereka. Awalnya kerjaanku menjadi model sangatlah ditentang oleh mereka, sebab banyak perusahaan yang nantinya akan diwariskan dan terpegang olehku. Tapi aku tak mau melakukan itu, sebab pusing memikirkan tulisan dan angka-angka yang tak mau masuk dalam otakku. Lagian aku ingin kebebasan dalam hidup, yang tak ingin dikekang maupun disetir oleh mereka," jelas panjang lebar majikan.
"Tapi bukankah enak kalau punya segalanya, tanpa bersusah payah dalam mengarungi hidup ini?" tanyaku heran penuh penasaran.
"Benar katamu itu, tapi kalau kita sering diatur dan kena marah, rasanya itu sungguh memuakkan. Kamu tak usah merasa bersalah begitu. Kamu juga lihat betapa kasarmya mereka memperlakukan kamu tadi, jadi jangan marah dan diambil hati sebab memang begitulah sifat orang tuaku, yang selalu kasar dan merendahkan orang lain, tanpa memikirkan lagi perasaan orang yang dihina itu apakah sakit hati apa tidak," imbuh jelas majikan.
"Iya, tuan."
Ternyata tak semua kehidupan orang kaya bahagia, kadang didalam bergelimangan harta ada saja masalah yang melibatkan keutuhan keluarga itu sendiri. Sungguh sedih rasanya mendegarkan kisah tuan Chris yang selalu saja dikendalikan oleh orang tua agar menuruti semua perintah mereka. Walau aku bukan siapa-siapa majikan, tapi rasanya kisahnya itu telah membawaku hanyut kedalam perjuangan untuk hidup mandiri.