Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
N2= Istriku Yang Hilang >>> Gosip diperusahaan suami


Beginilah hari-hariku menjadi clening servise, di perusahaan suami sendiri. Suami sudah menyuruh untuk tidak bekerja seberat ini, tapi aku tak mau mengantungkan hidup dengan kekayaan yang dia miliki. Entah mengapa diri ini lebih senang bekerja dari hasil keringat sendiri, daripada berharap dari hartanya.


Rasa benci yang sempat tertanam dalam hati yang terdalam, sungguh tak semudah itu untuk meluluhkannya. Walau segunung emas dipersembahkan hanya untukku, aku tak akan terlena dan mudah untuk segera kembali padanya.


Pekerjaan dimata orang dipandang sebelahpun akan tetap kulakukan, yang tepenting halal dan bisa mencukupi hidup tanpa bergaya berlebihan.



Tangan kembali sibuk membersihkan beberapa tempat yang jadi kewajiban atas kerja.


"Eh ... eh, kamu tahu tidak yang namanya Mila, petugas kebersihan itu ... tuh?"


"Ehh, tahu ... tahu. Kenapa?


"Biasalah. Apa tidak dengar yang jadi bahan semua orang sekarang."


"Eeh, iya tahu. Jangan bilang kamu mau bicarain tentang gosip itu, ya?" simbatan wanita lain.


"Ya iyalah. Sekarang tambah keganjenan banget dia. Mentang-mentang wajahnya cantik, sekarang sok-sok'an mendekati bos besar," ucap salah satu karyawan mas Adit mencoba menghina diriku.


"Eeehh, bener-bener keganjenan sekali dia, ya. Selain karyawan cowok disini yang sudah dia pikat, sekarang bos besar juga diembatnya juga. Dasar perempuan j*l*ng yang tak tahu diri dan malu banget," simbatan pegawai lain.


Terus saja mendengarkan pembicaraan mereka. Telinga kupasang tajam dan hati-hati agar tidak ketahuan. Ingin tahu sejauh mana karyawan disini telah parah membuat isu yang bikin gedeg.


"Memang tidak tahu malu ya dia itu! Cantik-cantik tapi kelakuannya seperti perempuan yang ngak pernah laku saja sama cowok. Pasti ada sesuatu yang dia pakai untuk memikat, sehingga semua para cowok di sini sudah tergila-gila padanya," ucapan sahutan yang lainnya.


"Ahh, benar ... benar itu. Pasti dia memakai susuk ataupun pelet. Mau sama pria saja, rela melakukan itu," Kekejaman mulut mereka berkata terus menjadi-jadi.


"Astagfirullah. Kenapa mereka begitu kejamnya mengosipkan sesuatu yang tanpa menyelidikinya dulu. Sabar ... sabar, Ana. Mungkin ini adalah ujin kamu saat bersuamikan orang kaya," rancau hati yang tidak terima.


Braaaak, suara pintu toilet sudah kubuka, dengan membantingnya secara kuat.



"Aaaahhhh, apa yang kalian bicarakan tadi?" teriakku tidak terima.


"Eeeh, kamu ... kamu kok, Mila! Sejak kapan kamu ada disana?" Telunjuk salah satu wanita pengosip mengarah ke arah pintu toilet.


"Sejak kalian membicarakanku dari tadi. Boleh dibilang cukup lama 'lah."


"Jjj-jaa-di, kamu dari ta-tta-di disitu?" Kegagapan salah satu dari mereka.


"Kalau iya, kenapa? Ngak usah banyak cincong. Mulut kalian bener-bener ember dan tidak bisa dijaga, ya. Kalian tadi ngomong apa? Aku cantik tidak laku dan memakai barang-barang seperti pelet, hah?" nada marahku yang memuncak akibat dikatain wanita penggoda.


"Eii-eeh, bukan itu maksud kami."


"Bukan itu gimana? Telingaku masih baik-baik saja mendengarkan ocehan kalian. Emm, apa tidak kebalik nih! Kalian ini para tante-tante yang sudah mendekati usia tua begini, tapi tidak ada satupun cowok diperusahaan ini yang mendekati kalian. Dasar perawan tua," balasanku mengejek mereka.


"Kamu?"


"Apa ... apa?" Tantang tidak takut.


"Dasar perempuan tidak punya malu!" bantahan mereka.


"Apa? Aku tidak punya malu? Harusnya kalian tuh yang ngak punya malu. Dasar perempuan emak-emak yang bisanya cuma ngegosip, tidak bisa mengait para pria disini, hahahah. Guling-guling ditanah sana, sebab ngak laku," gelak tawaku puas berhasil membalikkan fakta mengejek mereka.


"Iiiihhhhh. Awas kamu, Mila." Kekesalan mereka.


"Maa-maa-maafkan kami, Mila."


Ada salah satu yang ketakutan dengan bersembunyi dibelakang temannya. Mungkin melihatku yang melawan dan ganas, nyali mereka seketika ciut tidak berani melawan.


"Makanya jangan menor-menor kalau berias. Muka oplas plastik saja, tebal amat ngasih lipstik," Balasan kata-kataku lagi.


Tangan yang memegang tisu, berjalan ke arah salah satu wanita pengosip, yang langsung membantu menghapus sedikit coretan lipstik dipipinya, mungkin kaget akibat pintu toilet yang mendadak terbanting membukanya tadi.


"Dasar tante-tante ngak laku. Cumanya hanya bisa ngegosip," gumanku yang langsung melenggang pergi, meninggalkan mereka yang terdiam tak membalas lagi.


Hati terasa dongkol sekali, terhadap gosip-gosip yang beredar diperusahaan sekarang. Beginilah kalau menjalin hubungan dengan orang kaya, pasti ada saja omongan yang tak sedap. Mentang-mentang diri ini dari keluarga miskin, seenaknya saja mereka ceplas-ceplos ngatain wanita pengoda.


"Haaah, benar-benar para wanita yang ngak laku, bisanya cuma ngatain orang dan iri saja," kekesalanku sambil mengetok-getok sapu ke lantai.


Banyak para mata memandang aneh ke arahku yang kembali kerja. Berbalik mencoba menatap mereka, namun anehnya lagi mereka malah berbisik-bisik seperti tak suka saja melihat diriku.


"Ada apa lagi ini? Kenapa tatapan semua orang hari ini jadi aneh sekali, sih?" Keheranan.


Bekerjapun jadi terhambat. Kini berpindah tempat sepi, agar orang yang berlalu lalang menatap diriku tidak menganggu lagi.


"Eeh kamu, Mila! Kamu dipanggil bos besar tuh, untuk keruangannya. Dia berpesan harus secepatnya datang ke sana! Gak pakai lama, katanya," ucap salah satu karyawan Mas Adit.


"Oh, iya. Terima kasih," jawabku.


"Ingat ya. Ngak pakai lama," Peringatnya.


"Iya ... iya."


Orang yang disuruh sudah melenggang pergi.


"Ada apaan lagi sih ini! Benar-benar mas Adit ini, selalu saja merepotkan dan membuat ulah. Tidak lihat apa, sudah banyak gosip yang beredar tentang kejelekanku," ucapan berbicara sendiri.


"Benar-benar mengesalkan bekerja disini. Apa salahku coba mendekati suami. Dasar para karyawannya saja yang terlalu heboh dengan gosip murahan, tanpa tahu dan menyelidiki dulu kenyataan hubungan kami," Masih saja ngedumel saat hati dibuat dongkol.


Hanya butuh beberapa menit saja, aku sudah sampai ke ruagannya.


Tok ... tok, pintu kuketuk. Masih menjaga kesopanan walau itu ruangan milik suami sendiri.


"Masuk!" suruhnya dari dalam.


"Ada apa lagi sih, Mas! Ngak berhenti-hentinya ganggu orang saja," cerocosku mengeluh.


"Wah, datang-datang main marah saja, nih! Benar-benar ngak ikhlas pasti datang kesini," ujarnya heran.



"Cepetan dech ngomongnya! Gak usah basa-basi. Banyak kerjaan numpuk yang harus segera kukerjakan," ketusku berucap.


"Pakailah ini," Sodoran Mas Adit memberikan beberapa sebuah paper bag.


"Apa'an ini?" tanyaku.


"Buka dan lihat sendiri. Kamu pasti suka."