
Sikap Edo membuat kagum. Nampak damai wajahnya. Tidak ada percikan amarah ataupun dendam terhadapku. Pasti memalukan sekali setelah kemarin membuat ulah padanya, namun kini akulah yang sudah merepotkan dan meminta bantuan padanya.
"Maafkan aku Edo, tentang masalah kita kemarin, sehingga menyebabkan kamu kehilangan pekerjaan," ucapku yang sudah berada dalam taxinya.
"Gak pa-pa Ana, aku paham sekali atas tindakan pak Adit kemarin. Sebab memang sikapku yang sudah keterluan pada kamu," jawabnya yang melihatku penuh kecurigaan.
"Ada apa, Edo? Apa ada yang salah dengan wajahku," tanya berbalik melihatnya.
Dari tadi merasa tidak nyaman sekali, saat Edo berkali-kali mencuri pandang.
"E'eh, ngk ada apa-apa. Cuma aku merasa penasaran saja. Kamu tadi kenapa menangis sendiriran ditaman? Apa aku salah lihat saja, ya! Emm, dan kenapa kamu tidak masuk ke dalam apartemen rumah pak Adit saja?" tanya Edo yang membuatku mati kutu tidak bisa berkata-kata.
"Kenapa kamu diam, Ana? Apa kamu sedang ada masalah sama pak Adit?" imbuh ucapan Edo.
"Aku baik-baik saja kok, Edo. Ditaman tadi lagi ingin sendirian saja, mungkin kamu salah lihat saja tadi. Sedangkan mas Adit sekarang biasa 'lah sedang sibuk diluar dengan kerjaaannya, jadi bosan saja jika dirumah sendirian," kilahku menjawab.
"Ohh, gitu. Terus kenapa kamu ingin ke restoran bapak, sedangkan rumah kamu ada dan kelihatan nyaman sekali?" Dia bertanya lagi.
"Aku hanya ingin bantu-bantu pekerjaan beliau saja. Lagi sepi dirumah jadi merasa bosan." Kebohonganku yang ingin menutupi semuanya.
"Oh, ya sudah. Maaf aku ya, terlalu banyak nanya sama kamu."
"Heem. Ngak pa-pa, santai saja."
"Naah, sekarang kita sudah sampai," Edo memberitahu.
Tidak terasa obrolan kami telah membawa cepat ke tempat tujuan.
"Ayo kamu masuk dulu kedalam, biar aku minta dulu ongkos sama pada bapak," suruhku ketika berbicara berdiri didekat pintu mobil.
"Oke, baiklah." Setujunya Edo.
Pintu mobil sudah ditutup, manampakkan pria yang tampan dan baik hati telah siap berjalan dan menghampiriku. Kami berjalan beriringan. Tidak enak jika mendahului. Dia sudah berbaik hati dan sudi mengantar, manalah elok jika tamu agung ditinggal dibelakang.
"Masalah ongkos biarlah, tapi aku ingin mampir menemui bapak saja. Sudah lama tidak bertemu beliau," imbuh Edo berucap.
"Tapi 'kan itu pekerjaan kamu. Tidak enaklah jasa mengantarnya tidak dikasih upah."
"Santai saja. Aku ikhlas mengantar kamu. Anggap saja gratis dan itu kendaraanku sendiri. Jangan merasa sungkan begitu. Kita adalah teman, jadi biasa saja atas pertolonganku barusan."
"Baiklah kalau kamu tidak merasa keberatan. Terima kasih, ya."
"Iya, Ana. Sama-sama."
"Assalamualaikum. Pak ... Pak?" panggilku.
"Waalaikumsalam. Ada apa, Nak?" tanya beliau ketika telah keluar dari dapur
"Ini ada, Edo."
"Eeh, ada Nak Edo. Lama kita tidak bertemu. Gimana kabarnya sekarang?" tegur bapak sambil menerima salaman tangan dari Edo.
"Iya pak, kita sudah lama tidak bertemu
Seperti yang Bapak lihat, alhamdulillah akau baik-baik saja." balik sapa Edo.
Kepala sekarang rasanya sudah sedikit pusing semakin lama kok semakin berat, dan perut terasa mual ingin muntah. Tidak terhindarkan lagi badanpun sudah terasa berkeringat dingin, dengan pandangan mulai berkunang-kunang seperti bintang-bintang mulai berkeliling diatas kepala, dan mata mulai sayu-sayu mengabur yaitu sebelum aku benar-benar terjerembab jatuh.
Bhuuugh, suara tubuhku tiba-tiba tergolek dilantai.
"Ana ... Ana?" Suara bapak dan Edo panik memanggil.
Kurasakan badan sudah melayang diudara, mungkin tubuh sudah diangkat seseorang, dan kini terasa juga tubuh terdarat di permukaaan yang empuk. Tidak bisa lagi kudengar kata-kata orang disekitarku yang sedang memanggil. Entah berapa lama aku dalam keadaan tak sadarkan diri yang tak bisa membuka mata, sehingga bau minyak kayu putih sudah menusuk hidung, dan memaksa mata untuk terbuka.
"Ana kamu sudah siuman?" ucap Bapak terdengar khawatir.
"Eh ... eh, iya, Pak." Lirih suaraku lemah.
"Alhamdulillah Pak, dia sudah sadar. Sekarang minumlah ini!" Edo menyodorkan segelas air putih.
"Iya, Nak Edo. Terima kasih."
Bapak sudah membantuku untuk memegang bahu, agar bisa meneguk air pemberian Edo, dan tenggorokan terasa segar sekali saat air hangat mengalirinya.
"Cukup, Pak!" tuturku saat beliau membantu memegang gelas.
"Gimana keadaan kamu, Ana?" tanya Edo ikut khawatir juga.
"Baiklah kamu istirahat saja, pasti kamu sedang kelelahan. Aku dan Edo akan membiarkan kamu untuk istirahat," pamit beliau ingin undur diri.
"Iya pak, Edo. Terima kasih."
"Iya Ana," jawab Edo.
Mereka berdua sudah hilang dari balik pintu. Badan yang sempat bersandar dipembatas pembaringan, kini sedikit merosot agar nyaman dan enak posisi tidurannya.
Satu tiga tetesan embun kembali mengalir dengan derasnya, akibat ucapan-ucapan mas Adit yang kini kembali tergiang-ngiang dipikiran. Rasanya dada sesak sekali terasa bagai tidak bisa lagi bernafas.
Tak tahu lagi sudah bebarapa jam aku tertidur akibat kelelahan menangis, mata rasanya sudah pedih, sakit, dan sedikit membengkak.
Tubuh terasa lemah sekali, sebab belum ada sesuap nasipun masuk ke dalam perutku, akibat terlalu banyak pikiran dan kuatnya mengenang musibah.
"Ana kamu kok belum makan?" Bapak menghampiri.
Nasi yang sudah disediakan beliau belum kusentuh sama sekali.
"Maaf, Pak. Rasanya Ana tak berselera sekali untuk makan," jawabku lesu.
"Bapak tahu kamu ada masalah sama Adit, tapi kamu jangan begini terus, jagalah kesehatanmu, kasihan sama anak yang sedang kamu kandung. Dia tidak tahu apa-apa tentang masalahmu, jadi sekarang makanlah jangan siksa dia," Bapak mencoba memaksa.
"Tapi pahit dilidah, Pak."
"Bapak tahu. Jika kamu terus bersedih begini nanti bayimu juga tidak tenang sebab merasakan kesedihan juga," nasehat beliau.
"Makanlah nak!" suruh bapak lagi.
"Baiklah, Pak!" jawabku lemah.
"Keadaan kamu lemah. Apa Bapak saja yang suapin kamu?" Beliau khawatir.
"Tidak usah, Pak. Ana bisa sendiri."
"Baiklah kalau begitu. Hati-hati makannya."
Dengan terpaksa sesuap demi sesuap nasipun masuk ke dalam mulut, akibat tak ingin melihat bapak terlalu khawatir. Benar kata bapak, aku harus menjaga kesehatan demi anak yang kukandung. Aku harus tegar dan kuat membesarkannya, walau mas Adit bakal tak turut andil untuk membesarkannya.
Kau begitu dekat denganku
Tapi hanya bisa menatap saja.
Dari kejauhan terukir indah senyum itu
Tapi hanya bisa melihat dibalik persembunyian.
Tiap hari hiasan suaramu mengalun mesra
Tiap hari tulisanmu menenangkan jiwa.
Namun, kenapa kau tidak rindu akan itu
Padahal tiap menit ku menunggu.
Dalam gelapnya kesendirian
Kuhanya bisa mengalirkan bulir-bulir bening ini.
Hembusan nafas itu membuat candu
Terpaan itu membuat jantung berdetak.
Namun seakan-akan semua tersapu waktu
Hingga aku tidak bisa bergerak lagi.
Mengapaimu akan terasa sulit
Menyayangimu akan terasa hancur.
Mengenggammu akan terasa lepas
Saat kau memilihnya aku.
Kaki terpaku saat melihat semuanya
Dengan segudang harapan semoga ini hanya mimpi.