Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
N2= Istriku Yang Hilang>>> Tragedi hidung berdarah


Tidak kuhiraukan lagi sikap-sikap Mas Adit yang masih berpegang teguh pada keputusannya.


Mata terus saja betah fokus pada foto-foto, dan tanpa terasa Mas Adit sudah berdiri belakangku.


"Eeit ... eit, mau ngapain?" ujarku pada Mas Adit sebab ketahuan seperti ingin memelukku , yang terlihat samar-samar dari kaca bingkai foto.



"Jangan macam-macam, awas!" sebuah kepalan tangan mengarah padanya, memberi ancaman dan peringatan.


"Heheheh, cuma mau memeluk kamu sedikit saja, masak tidak boleh! Galak amat jadi perempuan, aku masih suami kamu yang sah lho!" senyumnya yang cengar-cengir sebab tak kuizinkan memeluk.


"Gak boleh, titik!" jawabku dengan nada penuh penekanan.


"Sedikit saja Mas ingin memelukmu, boleh ya ... ya!" Tangan direntangkan terbuka, mencoba menyambut kedatanganku supaya mau dipeluk.



"Iiiiih, mimpi kali!" ucap tak suka atas permintaannya.


"Dosa lho, nolak permintaan suami."


"Dosa juga lho, menyakiti hati istri. Apalagi sampai menyia-nyiakannya, dan berani berselingkuh dibelakang," jawabku yang mematahkan omongannya.


Mas Adit hanya langsung bisa terdiam membisu, atas sindiranku yang memang ada kenyataannya. Rasa sakit hati yang sudah terlalu dalam, membuatku rasanya muak dan sebal sekali atas tindakan Mas Adit baru-baru ini. Rasanya belum siap sama sekali atas perlakuannya akhir-akhir ini, yang selalu ingin memberi pelukan maupun ciuman.


"Aku permisi dulu mau masuk kamar!" pamitku.


"Tapi aku belum selesai ingin menghabiskan waktu bersama kamu."


"Maafkan aku. Hari ini cukup lelah. Permisi!" Langkah tergesa-gesa agar dia tidak banyak bicara dan ulah lagi.


Brook, pintu kututup kuat. Badan bersandar lemah dibalik pintu.


Sekarang aku hanya bisa berdiri mematung memandangi kamar, dimana yang dulu pernah menjadi saksi biksu atas airmata yang terus menerus mengalir, karena setiap hari selalu ditinggal suami hanya demi bertemu dengan pacarnya. Walau mereka ketahuan hanya sekedar berkencan saja, bagiku itu sudah sangat-sangat menyakitkan, sebab status Mas Adit yang sudah menjadi suami sahku.


Satu tahun bertahan dalam biduk rumah tangga yang hampa, tanpa Mas Adit mencintai dan disampingku. Hanya akulah yang dulu mencintainya, sehingga cinta yang bertepuk sebelah tanganpun terjadi.


Dulu dari seujung rambut sampai mata kaki, Mas Adit tidak pernah menyentuh, maupun ingin berbicara ngobrol terhadapku, dan sering kali dia berbicara hanya seperlu saja. Jadi boleh dikatakan aku masih perawan, walau diusia pernikahan kami yang sudah menginjak hampir tujuh tahun dalam pernikahan, dimana yang enam tahun telah berpisah.


Pakaian yang dulu kutinggalkan masih berjejer rapi dalam lemari. Semua kebanyakan dibelikan oleh ibu mertua, sebab dia dulu sangat menyayangiku, dan sudah mengangap sebagai anak sendiri bukan menantu. Semuanya masih tersimpan utuh tak ada satupun yang hilang, seperti dulu ketika kutinggal kabur.


>>>>>


Sinar mentari dipagi hari sudah masuk dicelah-celah gorden yang sedikit terbuka, sehingga membangunkan tidur lelapku, tapi rasa-rasanya masih sangat malas sekali untuk bangkit dari tempat tidur. Kami sudah tidur terpisah dari kamar yang berbeda.


Tok ... tok," Suara pintu diketuk.


"Mungkinkah itu, Mas Adit?" bathinku bertanya.


Ceklek, pintu sudah terbuka.


"Ana ... Ana, kamu belum bangun!" Suara deru langkahnya yang mulai mendekati tempat tidurku.


"Duh, benar dia. Mau ngapain sih pagi-pagi masuk kamar?" Hati bergulat heran.


Tapi diri ini masih saja tergolek berbalut selimut, berpura-pura masih memejamkan mata.


"Ana ... Ana! Ayo bangun" panggilnya lagi sambil menarik-narik pelan selimutku.


Masih berpura-pura, sebab malas banget jika mendengar ocehannya.


"Dih, nyenyak banget kamu tidur."


Dapat kulirik dalam keadaan mata terpejam dalam kepura-puraan tidur, wajah Mas Adit mulai mendekat dan menatap tajam wajahku yang masih saja melekatkan mata. Tanpa terasa semakin dekat saja dia mengamati wajahku, dan terasa sekali hembusan nafasnya yang harum mulai menyapu wajah ini. Sedetik ... dua detik, karena sudah tidak kuat akibat grogi, secepat kilat langsung saja kubuka mata ini dan menatap tajam beberapa detik netranya, sehingga tak terelakkan sudah sama-sama saling mengkunci.



Kepalanya mulai bergerak akan lebih dekat lagi.


"Eeh, mau ngapain kamu!" Kepanikan.


Dhuuuuk, suara kening kubenturkan ke wajah Mas Adit.


"Aaw ... aww, Ana!" Suara kesakitannya.


Kedua tangannya sekarang menutupi wajah, untuk memegang hidung. Ketika dibuka tangan itu, betapa terkejutnya diriku saat melihat yang ternyata sudah mengeluarkan aliran darah.


"Ya ampun, Mas! Maaf ... maafkan, aku!" Kepanikanku datang akibat melihat banyaknya darah keluar dari hidung.


"Aah, sakit Ana."


"Sebentar, tunggu disini."


Secepat mungkin langsung berlari mengambil tisu dimeja kamar Mas Adit, agar bisa segera mengelap darah.


Terlihat, sesekali kepala Mas Adit sudah nampak mendongak ke atas, mungkin teringin menghentikan tetesan darah yang semakin deras mengalir.


"Ini ... ini, Mas. Maaf banget tadi!" Beberapa lembar telah tercabut dan langsung memberikan padanya.


Empat sepuluh tisu yang tadinya berwarna putih kini sudah memerah, dan tanganku terus saja berusaha membantu Mas Adit mengelap darah.


"Maafkan aku, Mas. Maaf ... maaf, tadi benar-benar ngak sengaja," ujarku penuh penyesalan.


"Emm ... aaahhh," jawaban dalam kesakitan.


Setelah kejadian hidung berdarah, sekarang kami duduk di ruang makan. Kami berdua hanya terdiam menikmati makanan, yang sudah disediakan oleh suami sebelumnya.


Sesekali wajahku tersenyum-senyum geli, melihat kedua lubang hidung suamiku kini kedua-duanya sudah tersumpal tisu, untuk menghambat agar darah tidak keluar lagi.


"Mas, itu ... itu? Hidungnya masih sakit nggak?" tanyaku sambil tunjuk jari mengarah ke hidung.


"Kamu ini!" ucapnya tak senang.


Mata mas Adit sudah melototiku, sambil tangannya memegang sendok yang terisi nasi untuk dimasukkan ke dalam mulut.


"Hehehe, ya tidak sengaja 'kan tadi!" Penyesalan cegegesan.


"Padahal aku tadi cuma mau membangunkan kamu saja! Lihat ulahmu ini sekarang!" ujarnya tak suka menunjuk kearah hidung.


"Maafkan aku, Mas! Habisnya Mas Adit .sih! Mukanya sudah dekat-dekat seperti orang mau mencium saja. Jadi kena hukuman dariku dech!" jawabku santai tapi kepala tertunduk sebab merasa bersalah.


"Hahahaha, pede amat sih! Siapa juga yang mau mencium kamu. Padahal aku tadi cuma memperhatikan wajahmu saja, sebab sudah lama tak menatapnya sedekat tadi, dikarenakan rinduku yang begitu kuat padamu. Lagian tadi ada kot*ran mata yang mau kuambil, eeeh sialnya malah kamu bikin hidung ini tambah pesek " Penjelasan yang terdengar masih kesal.


"Hahahahha, kamu benar-benar lucu, Ana! Ha ... ha ... ha," gelak tawanya secara lepas.


Mukaku kini sudah memerah karena malu, akibat salah menduga sikap Mas Adit.


>>>>>


Setelah beberapa menit sarapan, kamipun akhirnya meluncur ke perusahaannya, yaitu kembali ke aktifitas kami untuk bekerja pada posisi masing-masing. Dipertengahan sebelum menuju perusahaan untuk diturunkan, sebab takut jika kepergok oleh semua karyawan. Awalnya suami menolak, namun kalah telak juga ketika berusaha menjelaskan semuanya.


"Ana, kamu dipanggil keruangan bos besar," ucap Bu Nur kepala kebersihan.


"Baik, Bu!" jawabku.


Alat kebersihan kuletakkan dan segera memenuhi panggilan.


Tanpa menunggu lama, aku langsung saja meluncur ke ruangan bos besar sekaligus suamiku.


Tok ... tok, pintu ruangannya kuketuk.


"Masuk saja!" Suara perintah Mas Adit.


Kepalaku sekarang hanya bisa tertunduk, saat berjalan mendekati sofa yang sekarang sudah ada dua orang laki-laki menatap tajam atas kedatanganku, yaitu Mas Adit dan sekertarisnya.



"Ooh, jadi kamu yang memecahkan guci kesayanganku!" tanyanya.


"Guci! Hah, masih saja jadi urusan," ucapku dalam hati.


"Maafkan aku, Pak. Kemarin tidak sengaja menyenggol dan akhirnya jatuh pecah," Menerangkan dengan badan bergetar takut jika kena semprot.


"Terus gimana itu? Benda itu kesayanganku lho!" ucapnya sambil berjalan melangkah dibelakangku.


"Nanti pasti akan kuganti."


"Benarkah akan diganti?" Wajah Mas Adit mendekat untuk berbisik ditelingaku.


"Harganya sangat mahal lho itu! Guci yang pecah, merupakan peninggalan dinasti kerajaan dahulu," Penjelasan mas Adit yang melihatku sudah ada raut cemas dan gugup.


"Nanti pasti akan keganti, tapi jangan dipecat dari pekerjaan," Permintaanku.


"Tapi mau ganti pakai apa? Harganya hampir setengah milyar!" ucap suamiku dengan tangan sudah bersedekap didada.


"What?" kekagetanku berucap.


"Duh, gila amat harganya," Kepanikan hati.


Akibat terkejut, air liur langsung saja kuteguk, sebab mendengar harganya yang begitu fantastis, yang kemungkinan memang tiga tahun bekerja sebagai pegawai kebersihan atau OB tidak akan bisa terbayarkan. Bahkan kemungkinan seumur hidupun, tidak akan dapat menikmati gaji selama bekerja.


"Hahahahhah" Mas Adit tertawa puas melihat ekspresi wajahku.



"Dih, apa dia makin sedeng akibat kutinggal. Orang lagi kesusahan malah diketawain," guman hati tak suka.


Kini pikiranku sedang kalut. Mencari cara bagaimana untuk membayarnya.


"Hahahaha, aduh ... duh" gelak tawanya makin riang.


Aku dan sang sekertaris saling berpandangan, sebab menatap aneh sikap Mas Adit, kami cukup dibuat binggung terhadapnya. Orang lagi serius membicarakan tentang ganti rugi guci, tapi dia malah tertawa terbahak-bahak tak berhenti.



"Bos!" panggil sang sekertaris tak tahan.


"Maaf... maaf, habis lucu melihat kepolosan wajah my honeyku," penjelasan yang sedang memegang perut.


"Dih, dasar. Suami tidak ada akhlak. Manggil mesra pulak, memalukan sekali."


"Kamu bisa mengantinya dengan ini!" ujarnya, sambil menyodorkan sebuah map biru yang tadinya sempat dipegang sang sekertaris.


"Apa ini!" Segera mengambil map.


"Baca saja dulu, nanti kamu akan paham."


Langsung kubuka saja map biru itu. Mataku begitu melotot ingin meloncat keluar dengan terbuka, sebab tak percaya dengan isi poin-poin dari kertas yang kupegang sekarang.