Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
N2 = Istriku Yang Hilang >>> Marah pada mantan


Emosi kini sudah mengepul-ngepul pada puncaknya. Geram sekali atas kelakuan Salwa mantan pacarku.


"Kamu sangat keterlaluan, Salwa!" ucapku dengan emosi.



"Kenapa sih kamu malah membela dia bukannya aku," Tak sukanya Salwa atas sikapku.


"Aku patut membelanya, karena dia adalah istri yang sah. Jadi kumohon sekarang, kamu jangan pernah menganggunya lagi," gertakku dengan mata melotot melihatnya.


"Maafkan atas kecerobohan yang tadi, Adit! Aku hanya ingin kita kembali seperti masa-masa terdulu," pinta Salwa dengan kepala tertunduk.


"Apa katamu? Kembali?" kekagetanku berucap.


"Bukankah kamu sendiri yang meninggalkan aku dulu, demi cita-cita bodohmu itu! Sudah empat tahun dari SMA kita menjalin asmara, sampai aku bela-belain tidak menganggap Ana sebagai istri sah, tapi apa balasanmu! Setelah sekian tahun lamanya tidak bersama, dan tak ada kontak percakapan lagi diantara kita, kamu baru teringat akan kesalahannmu itu! Dan sekarang kamu bilang ingin kembali?" ucapan yang tidak percaya.


"Maaf ... maafkanlah aku ya, Adit."


"Ah sudahlah, Salwa. Selama setahun pernikahan, aku sampai tidak menganggap Ana sebagai istri demi kamu, dan pada akhirnya kita berhasil membuat Ana benar-benar membenciku, tapi apa yang kamu lakukan terhadapku sekarang, hah ... hah!" Kegeraman emosi.


"Maaf, Adit."


"Karena Ana kecewa dan sakit hati dia telah kabur selama enam tahun, dan meninggalkanku sendirian begitu saja. Tapi apa balasanmu, apa? Hah ... apa? Kamu ternyata pada akhirnya juga ikut-ikutan pergi, demi cita-cita bodohmu itu!" Pengungkitan masa lalu.


"Maafkan kesalahan dulu, Adit! Itu semua bukan keinginanku juga. Semuanya akibat desakan orangtua untuk segera kuliah diluar negeri. Mereka menyuruhku untuk tidak berpacaran dulu, dengan mengutamakan pendidikan terlebih dahulu, yaitu sampai aku benar-benar telah berhasil mengapai cita-cita kesuksesan," ucap Salwa mencoba menjelaskan.


"Aku sekarang sudah masa bodoh, dengan semua penjelasan kamu itu," acuhnya diri ini berucap.


"Tapi, Adit. Tolong dengarkan penjelasanku. Kamu jangan marah dulu, please."


"Terserah apa yang kamu katakan tentang diriku, Adit! Yang terpenting sekarang kita bisa balikan 'kan ... 'kan? Seperti masa-masa dulu, sebab sekarang aku sudah benar-benar di Indonesia sekarang," cakapnya merayu.



"Ngak bisa Salwa, Ana adalah wanita yang sudah terpatri dalam hidupku, baik sekarang maupun dimasa dulu. Dialah cinta hati selamanya dan satu-satunya istriku yang sah, dan tak akan bisa tergantikan oleh siapapun," jelasku.


Salwa tidak bisa berkata-kata apa lagi atas semua penjelasanku, dan dia segera kutinggalkan begitu saja. Niat hati sekarang adalah untuk segera mencari Ana yang sudah terluka akibat ulah bodoh Salwa.


Kaki kini sudah melangkah mencari sudut demi sudut ruangan perusahaanku, dan sudah beberapa menit mencari tak kunjung jua kulihat batang hidung Ana. Akalku tak kehabisan ide begitu saja, dengan berbekal kamera CCTV dikantor aku sekarang bisa langsung melihat keberadaannya.


Heh ... heeeh. Suaraku ngos-ngosan akibat lari sana-sini.


"Hhhhh. Buka semua kamera di perusahaan ini, ada seseorang yang ingin kucari!" perintahku pada semua karyawan petugas CCTV.


"Baik, Bos besar,!" jawab mereka kompak.


Setelah sekian lama mata melihat seksama ke arah layar, akhirnya dapat kulihat orang yang dicari-cari, dia sedang berdiri tepat di tempat area parkiran motor, seperti sedang menunggu seseorang. Tak berselang lama aku begitu dibuat terkejut, saat melihat Ana sedang menaiki motor temannya. Lebih parah lagi tangannya sudah terlingkar dipinggang teman yang memboncengnya itu.


Amarah yang tadinya cuma 96 persen karena ulah Salwa, kini amarah sudah 100 persen full berapi-api. Tanganpun sudah mulai mengepal dengan kuatnya, akibat melihat adegan yang membuat tersulutnya emosi jiwa raga ini.


Braak ... praak, sebuah meja kupukul.


Brees ... klunting, sebuah cangkir kopi yang baru setengah diminum oleh pegawai pengawas CCTV, tanpa aba-aba kubanting begitu saja jatuh berserakan ke lantai.


Tanpa memperdulikan para pegawai yang sudah menatapku aneh dalam menyalanya api amarah, langkah kaki langsung saja pergi secepatnya ketempat parkiran agar bisa menyusul dan menghentikan.


Dengan sigap, secepat mungkin menstater mobil sportku dengan melajukan sekencang-kencangnya. Tidak peduli lagi jika terjadi kecelakaan yang menimpa diri ini. Dalam otakku sekarang adalah kalau bisa mengejar Ana yang tengah asyik dibonceng pria lain.