
Rencana untuk memata-matai mas Adit telah kujalankan sekarang, dan pastinya semua atas dukungan penuh dari Mama mertua. Perasaan sudah yakin sekali akan terjadi sesuatu hal yang akan menyulitkanku yang terutama dalam rumah tangga kami, maka dari itu diriku dengan terpaksa harus jadi pegawai kebersihan lagi.
Pakaian kebersihan sudah lengkap, dan mulut sudah kututup menggunakan masker biar tak diketahui oleh mas Adit. Sebab kalau dia tahu, pasti semuanya akan bertambah runyam, dan pasti dia akan uring-uringan marah sebab tak menjaga Aliya, tapi malah bekerja demi sebuah misi pengintaian.
Set ... set, sapu pel telah terpakai untuk membersihkan lantai.
Mata sudah memperhatikan ke kanan kiri, sebab jangan sampai orang-orang perusahaan tahu wajah asliku, dikarenakan mereka sudah tahu statusku itu siapa? Bisa brabe juga jika ada yang mengadu.
Sapu pel kini berpindah tempat untuk mendekati ruangan mas Adit, biar telinga bisa mendengar percakapan apa saja yang dilakukan dalam ruangannya. Mata juga harus fokus, siapa saja yang bakal masuk dalam ruangannya, akibat tak ingin si janda bahenol bernama Nola melakukan hal-hal yang tak diinginkan.
Bruuk, pintu ruangan mas Adit ditutup oleh sang sekertaris Rudi. Akupun yang melihatnya, langsung berusaha menarik tangan sang sekertaris Rudi, untuk mengikuti langkahku.
"Eeeiiit ... siapa kamu? Main tarik-tarik tangan orang saja," ucap Sekertaris Rudi tak suka apa yang kulakukan.
Kutarik tangannya untuk sedikit menjauh dari ruangan mas Adit. Dengan tangan gercep bergerak memberikan kode.
"Suuuiiiit," balik jawabku agar sang sekertaris diam.
"Diam Rudi," suruhku yang sudah membuka masker.
"Ana?" Kekagetannya.
"Huuuus ... suuut, diam-diam Rudi. Nanti mas Adit bisa mendengar," ujarku menyuruhnya.
"Uupps, ok.'
"Ada hal yang ingin kubicarakan sama kamu, bisa ngak meluangkan waktu kamu untukku sebentar saja," suruhku untuk mengajak Rudi menjauh.
"Bisa-bisa, ayo kita keruangan rapat disana saja," ajaknya.
Masker kututup kembali. Melihat kanan kiri mencoba mengecek ada yang melihat kami atau tidak.
Secepatnya aku langsung mengikuti langkah sekertaris Rudi, untuk menuju ruangan yang ditunjuknya tadi. Maskerpun tak lupa kupakai, sebab orang-orang sudah menatap heran atas tingkahku, yang kini mengikuti langkah sekertaris Rudi.
"Ada apa, Ana?" tanya sekertaris Rudi.
"Aku hanya ingin meminta bantuan kamu saja."
"Maksudnya?" tanyanya binggung.
"Kamu tahu 'kan perempuan yang namanya Nola itu!" balik tanyaku.
"Ooh dia, aku tahu. Memang ada apa dengan dia?" ujarnya penasaran.
"Tapi ana! Kalau ketahuan pak Adit gimana? Aku gak mau kehilangan pekerjaan begitu saja," jawab Rudi berusaha menolak.
"Tenang saja, ngak bakalan akan ketahuan kalau kamu hati-hati bahwa sudah membantuku," kekuhku berkata.
"Tapi--?."
"Ayolah Rudi, sekali-kali bantu istri bos kamu ini. Aku janji dech kalau kamu perlu bantuan, pasti aku akan singgap segera membantu kamu," ujarku menawarnya.
"Aduh gimana, ya? Aku mau menolong kamu, tapi takut ketahuan sama pak bos saja, dia kalau marah tak segan-segan akan memecat siapa yang dia kehendaki, walaupun orang itu sudah setia dan kebanggaan perusahaan," keraguan sekertaris Rudi.
"Ayolah Rudi, sekali saja bantu aku ya ... ya. Apa kamu ngak kasihan sama keluargaku, jika perempuan itu benar-benar merusak rumah tangga kami," bujukku.
"Eeem ... mmm."
Wajahnya sedang berpikir, mungkin sudah binggung mau membantu apa tidak.
"Ayolah ... ya ... ya. Kita akan hati-hati saja, jangan sampai mas Adit tahu, sebab kalau mas Adit tahupun aku juga akan kena semprot kemarahannya," bujuk rayuku lagi.
"Heeeh ... oke ... oke, aku akan membantu. Tapi kalau bos Adit marah aku ngak ikut-ikutan ya," jawabnya yang masih khawatir.
"Siiiip, okelah."
"Ooh ya, kamu kok bisa menyamar begini? Wah ... aku salut sama kamu, berani sekali menyamar sebagai pekerja disini lagi, sebagai pegawai kebersihan pulak," pujinya heran.
"In
i semua usulan mama mentua sih! Sebab kalau aku menyamar sebagai pegawai lain tak akan bebas, tapi kalau begini 'kan bisa bebas mau kemanapun, dan muka bisa ketutup dengan masker, jadi penyamaranpun bisa aman," jawabku menjelaskan.
"Oke, baiklah. Aku akan siap siaga mengawasi, jadi kamu gak usah khawatir."
"Maaf ya, perkerjaan lagi numpuk banget nih! Jadi gak bisa lama-lama ngbrol sama kamu, nanti bos Adit curiga pulak aku gak ada diruangannya," sekertaris Rudi yang berusaha pamit.
"Oh iya, aku mengucapkan banyak-banyak terima kasih sama kamu," balasku menjawab.
"Iya, sama-sama."
Setelah kepergian sekertaris Rudi, kini aku perlahan-lahan mencoba keluar dari ruangan rapat, sebab tak ingin ada orang yang curiga dan melihatku.