Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
N2=Istriku Yang Hilang>>Mengunjunginya Yang Masih Sakit


Ceklek, pintu ruangannya kubuka.


Nampak Ana telah terlelap tidur, dan akupun tak tega untuk membangunkannya, sehingga akupun hanya duduk ditepian tempat pembaringan dia dirawat. Netra sudah menatap lekat-lekat wajah Ana yang kelihatan masih pucat.


"Hhhhh, sungguh besar sekali perjuanganmu mencintaiku, Ana! Tak pantas rasanya aku yang selalu menyakitimu, terlalu berlebihan kau perjuangkan. Tanpa cintamu pasti hidupku tak akan bahagia seperti sekarang ini, maafkan aku Ana," guman hati yang terus mengenggam erat tangannya.


"Mas Adit," panggilnya pelan.


"Iya, sayang. Ada apa?"


"Kamu sudah lama berada disini?" tanyanya yang sudah bangun, yang mulai berusaha menyandarkan tubuh.


"Baru saja sampai, kok."


"Kok ngak bangunin Ana, kalau Mas berada disini?" tutur lembutnya.


"Mas ngak enak sama kamu, yang kelihatan sangat nyenyak tidur. Gimana keadaan kamu sekarang?" tanyaku.


"Alhamdulillah baik Mas, walau perut masih agak sedikit sakit," jawabnya sambil mengecutkan wajah.



"Kamu ngak usah terlalu benyak gerak dulu, istirahatlah banyak-banyak, biar tubuh cepat fit dan bugar kembali," nasehatku.


"Iya, Mas."


"Ooh ya, mama sudah pulang. Katanya Aliya menangis terus, jadi beliau terpaksa harus pulang dulu," Keterangannya.


"Gak pa-pa, asal kamu baik-baik saja ngak ada yang menemani."


"Aku baik dengan semua ini, walau tak ada yang jaga, 'kan ada suster apabila ada keperluan mendesak."


"Bagus. Kalau enggak, nanti kusuruh bibi pembantu ke sini untuk bantuin jaga."


"Iya. Mas kelihatan lesu begitu! Ada apa? Apa masalah di perusahaan sedang kacau lagi?" tanyanya khawatir.


"Enggak, Ana. Cuma aku sedikit merasa tak baik, akibat mendengar penuturan pria yang mendorongmu kemarin, bahwa kak Nola adalah pelakunya," jelasku.


"Nah ... apa yang kubilang. Bener 'kan kalau kak Nola yang melakukannya. Mas aja sih matanya telah buta, akibat tergiur melihat kebahenolan dia," sindirnya.


Aku hanya mengeryitkan wajah, sebab dia seperti menuduhku, dan akupun tak ingin diam begitu saja, yang berbalik ingin mengerjainya.


"Iya sih, Mas cukup tertarik sama yang semok-semok kayak kak Nola, 'kan enak sayang bisa sodaap nanti dikasur," jelasku pura-pura mesum.


"Ciiieh, dasar manusia mata keranjang. Kalau mau, nikah sono noh, sama si janda bahenol itu," Nyolotnya suara Ana marah.


"What?."


"Jangan melototkan mata terkejut begitu, ahh."


"Habisnya Mas gatel. Dasar makhluk mesum, bini satu saja ngak terurus-urus, mau nambah lagi 'kah? Bisa-bisa kepala m


Mas Adit nanti melayang, akibat kepenggal sama bini-binimu," ketus Ana marah.


"Hahahaha, memang psikopat wanita itu. Mas 'kan harus cari yang baik, cantik, bahenol, dan pastinya gak cerewet seperti kamu," godaku lagi.


"Dasar, ngatain istri cerewet? Aku banyak ngomong begini akibat Mas Adit juga. Aku bakal diam, kalau Mas ngak banyak ulah dan tingkah mengoda cewek," geramnya dia berkata lagi.


"Iyakah?" tanyaku tak percaya.


"Kamu itu tahu madu?."


"Tahu, kenapa?."


"Madu itu memang manis pada awal mencicipinya, tapi kalau sudah banyak meminum akan terasa gak enak kayak panas, dan kalau kebanyakan minum itu bisa membuat sedikit tak enak badan. Begitulah dengan madu poligami, enak-enak pada awalnya, lama-kelamaan kamu sendiri yang akan pusing, dan akan menimbulkan penyakit pada diri kamu sendiri, sebab tak bisa menjalankan kewajiban membimbing istri dengan baik," jelasnya.


"Bukankah madu itu sunah rasul?."


"Memang Mas, tapi Nabi menikah bukan karena nafsu, beliau memang sanggup menjalankan kewajiban sebagai suami."


"Mas juga bisa." Bertambah mengodanya.


"Kamu lupa apa yang kamu ucapkan tadi? Kamu mencari wanita baik, cantik, bahenol, dan tak cerewet? Kalau itu bukan nafsu, terus apa? Itu yang namanya memilih pasangan secara nafsu, bukan dicari kesholehannya," jawabnya yang pintar.



"Hihihii, kamu memang pintar membalikkan fakta," pujiku.


"Bukan pintar, Mas. Itu cuma pengalamanku saja banyak temannyang jadi korban. Lagian banyak yang punya istri, tapi para istri tersebut saling bertengkar, dan akhirnya terpecah belah dan timbulnya permusuhan," imbuhnya berkata.


"Bener juga apa yang kamu katakan, sayang. Tenang saja, Mas tadi cuma bercanda kok, yang tidak mungkin menghianati cintamu yang tulus pada Mas," jelasku sambil mencium tangannya.


"Tapi bercanda Mas tadi, bagiku cukup agak kelewatan. Ingat lho! Setiap ucapan biasanya adalah doa."


"Iya ... ya, Mas minta maaf, oke!."


"Heem, oke deh!."


Memang wanita kalau berdebat dengan pria bisa mengalahkannya. Tapi bener juga apa yang dikatakan Ana, bercandaanku tadi terlalu kelewatan, dan bisa mengakibatkan amarah dan kecemburuan, tapi untung saja Ana bisa memahami itu semua.