
Patah hati memang suatu kondisi yang dapat dialami oleh siapa saja. Terutama pada orang yang sedang menjalani hubungan romantis dengan kekasih. Patah hati sering kali datang ketika orang terkasih mengingkari janji, atau mengkhianati kasih sayang yang telah kita berikan. Tentu saja hal ini akan menimbulkan rasa kecewa dan sedih yang sangat mendalam.
Perasaan kecewa dan sedih setelah putus cinta pun tidak dapat dihindarkan. Meskipun tidak nyaman, namun kondisi sulit ini harus tetap dilewati. Salah satu cara melewati kondisi ini adalah dengan jujur pada diri sendiri bahwa sedang mengalami perasaan sedih, kecewa, dan patah hati. Dengan begitu, bisa mulai menerima keadaan dan belajar ikhlas dengan kondisi yang sedang dijalani. Sikap jujur terhadap diri sendiri juga dapat diwakili dengan kata-kata kecewa dan sedih karena cinta.
"Apakah aku harus merasakan letihnya cinta? Sampai kapan aku akan mengalami ini?" guman hati yang kecewa saat melihatnya berjalan dengan pria lain.
Karin sudah hilang dari pandangan, yang kelihatan menuju ruang kerja milik toko. Mata semua karyawan tertuju padaku, seakan-akan mereka tahu kalau ada sebuah kekecewaan sedang terbesit dalam benak hati yang terluka.
"Aku akan pergi. Jangan bilang pada Karin kalau sudah ke sini!" cegahku pada semua karyawan.
"Tapi, Bos."
"Sudah, nurut saja. Tidak ada gunanya juga kalian memberitahu sama Karin."
"Iya, baiklah."
"Cukup melihat dia baik-baik saja itu sudah membahagiakan diriku," Wajah sudah mencoba tersenyum lebar, walau sempat menahan rasa perihnya hati.
"Iya, Bos. Kami paham."
"Baguslah. Kalian kerja baik-baik disini. Jaga Karin agar dia bisa semangat lagi. Aku titipkan pada kalian." Rasanya berat sekali mengatakan ini semua.
"Baik, Bos. Maafkan kami jika tidak bisa mempertemukan dengan mbak Karin," ucap salah satu pegawai mewakili.
"Iya, tidak apa-apa. Itu bukan salah kalian, mungkin takdir lagi tidak berpihak untuk bertemu. Ya, sudah. Aku mau pergi dulu. Bye ... bye!" pamit yang sekarang segera ingin undur diri.
"Iya, Bos. Hati-hati."
Para karyawan sudah melambaikan tangan.
Beberapa kali masih menoleh kebelakang, ketika masih ada perasaan menganjal, yang seakan-akan tidak rela jika tidak bisa bertemu Karin, padahal sudah bela-belain datang dari jauh namun hanya kekecewaan yang didapat.
Para pegawai nampak berbisik-bisik dengan tatapan ke arahku. Tahu kalau sedang mengunjing, tapi tak peduli apa kata mereka, yang terpenting ingin menata hati yang teluka dulu.
Mimpi indahlah kamu
Sekalipun itu bukan memimpikanku.
Yang jelas engkau tersenyum bahagia
ketika terbangun dari keterpurukan itu.
Di dunia ini tak hanya ada satu cinta
Tapi banyak hampir tak terkira.
Cintaku mungkin hanya kau anggap biasa Tanpa melihat adanya ketulusan yang terdalam.
Semakin punggungku diterpa hujan
Semakin bayangmu terngiang-ngiang.
Semakin panas api besi
Semakin dalam kau cabik hati ini secara diam-diam.
Karena begitu indah dan bahagia.
Namun yang aku sesalkan
Kenapa terlalu awal untuk mengenal kata berpisah.
Entah kapan malam akan berhenti
Menemani diriku yang terus menunggu.
Padahal hujan belum sempat menyambangi bumi
Namun rintiknya telah membasahi pipi.
Hingga rasa sakit ini
Begitu menusuk dalam relung hati.
Mencintaimu dalam waktu lama tentu bisa
Namun kehilanganmu sebentar saja sungguh berat rasanya.
Ibarat bulan tak pernah meninggalkan bumi
Bintang pun tak pernah meninggalkan langit.
Wahai pujaan, begitu juga diriku...
Yang tidak akan pernah meninggalkan kenanganmu.
Semakin tajam do’a menyirami sanubari Maka semakin deras tetesan air mata yang bernada.
Cukup bagiku hanyalah
Melihat senyuman bahagia yang terukir indah diwajahmu.
Tes, sebuah titikan air tiba-tiba jatuh.
"Ada kesadaran dalam diam. Ada penghargaan dalam teriakku, tapi tetap saja kau akan pergi meninggalkanku. Apakah harus lagi dan lagi tidak bisa memilikimu?"
"Hilangmu kini tak lagi menarik perhatianku. Sebab aku sadar, harusnya jika kau menyayangi yang kau pilih adalah pulang memelukku, bukan hilang dibawa orang," Hati terus saja mencoba sadar akan luka ini.
Tanpa terhindarkan airmata keluar dengan sendirinya.
Menurut sebagian orang adalah tabu atau pantang, kalau pria kedapatan menangis. Pria yang menangis sering dicap lemah atau yang paling parah dibilang banci. Kadang banyak air mata pria lebih jujur daripada wanita.
Seseorang mengekspresikan perasaannya. Sebagai makhluk sosial, adalah hal wajar jika manusia melakukan itu. Sayangnya, ada beberapa pengecualian untuk pria dalam menyatakan perasaan khususnya saat menangis.
Selama ini stereotip pria nangis tandanya lemah memang bukan hal baru lagi. Didikkan sedari kecil juga membawa efek yang sama. Sebagai laki-laki harus kuat, keras, tidak boleh lemah, dan pantang menangis.
Berdasarkan survei, pria memang lebih tegar soal urusan hati dibanding para wanita. Pria selalu mengutamakan logika, sementara wanita selalu menggunakan hati.
Karena ungkapan tadi, banyak pria yang malah tidak bisa mengekspresikan perasaannya dengan benar. Makanya, kaum perempuan selalu bilang kebanyakan pria itu gak peka! Tapi, menangis adalah perkara emosional. Gak adil rasanya kalau pria dicap lemah hanya karena menangis. 'Kan, pria juga punya perasaan, jadi ya wajar kalau bisa menitikkan airmata juga.