
Ingatan kini kembali mengingat siapakah Ana? Lama sekali otakku memutar-mutar ingatan, siapakah Ana sesungguhnya? Tapi tak kunjung jua otak bekerja untuk mendapatkan jawaban.
Ruangan sudah seperti kapal pecah berserakan oleh barang-barang kantorku, dan aku tidak memperdulikan itu semua, sebab yang kuinginkan sekarang adalah mencoba mengingat kembali tentang Ana.
"Ah ... aaah, apa yang harus kulakukan agar ingatanku kembali," Rasa frustasiku dengan menjambak rambut secara kuat.
Kepala dibuat pusing. Sekecil jalan lubang untuk mencari kebenaran tidak ditemukan. Mungkinkah ini memang takdir kam tidak bisa bersama lagi.
Tok ... tok, pintu ruanganku diketuk.
"Maaf, Pak. Menganggu. Diluar ada tamu. Katanya penting untuk ketemu " ucap pegawaiku.
"Suruh dia masuk saja," jawabku dengan netra sudah fokus menatap ke arah jalan.
Butiran debu membasahi jendela. Hati yang keruh terus merajai jiwa. Kehampaan akan kenangan masa lalu membuat sekujur raga meronta-ronta ingin kembali.
"Adit? Ada apa ini? Kok berantakan gini sih!" Suara cempreng Salwa yang sudah melangkah masuk.
Aku hanya menatapnya sesaat, dan melanjutkan aktifitasku yang ingin terus melamun. Kekuatan terasa terkuras. Kejernihan pikiran hilang seketika. Sekelebat nama Ana terus menghantui.
"Adit kamu kenapa? Ada masalahkah? Aku jauh-jauh datang lho kesini. Sekarang kok malah kamu cuekkin!" ucap Salwa yang berusaha memeluk lenganku.
"Lepaskan," ucapku sedikit kasar.
"Kamu kok gitus, sih. Maksud kamu apa, sayang?" Salwa mencoba merayu lagi.
Sikapnya masih sama ingjn bermanja ria dilengan.
"Maafkan aku, Salwa. Aku sekarang sedang merasa pusing, dan tidak ingin diganggu oleh siapapun, jadi tolong pulanglah ssbentar," ucapku halus mencoba menerangkan.
"Ada apa'an sih ini, Adit?" tanyanya merasa binggung.
"Gak ada apa-apa, Salwa!" Kelemahan membalas.
"Beneran Salwa. Aku sedang ada masalah sekarang, dan membuat kepalaku sedikit agak pusing," penjelasanku.
"Masak sih! Atau jangan-jangan kamu lagi mikirin perempuan yang bernama Ana itu," tebaknya berkata.
"Aah, kamu lama-lama banyak ngomong juga. Aku sudah bilang sedang ada masalah ya ada masalah, dan yang terpenting sekarang diriku benar-benar tidak ingin diganggu," bentakku marah-marah padanya.
"Sekarang kamu kok tega dan kasar sekali sih Adit!" protes Salwa sambil menangis.
Dari dulu sikap Salwa tidak pernah hilang yaitu suka bermanja ria.
"Maaf ... maaf, oke." Tangan sudah bertangkup.
Salwa terlihat terbelalak akibat sikapku barusan. Mungkin kata maaf jarang sekali kuberikan padanya. Sesat yang tak kunjung jua menemukan arah, semakin membuatku terperosok jauh hingga tersungkur.
"Aku sekarang benar-benar pusing dan emosi sedang mengusai, sehingga diri inipun tak bisa mengontrolnya lagi, jadi kamu harus bisa memakluminya. Dan maafkan ucapanku barusan," bujukku dengan mengelus-elus lengannya.
"Oke, aku akan maafkan!" Kegirangan Salwa dengan mengusap airmata.
Wanita yang baik dan cantik, namun sangat disayangkan sifatnya yang keras kepala dan mau menang sendiri membuatku terjebak akibat jeratan cinta.
"Kalau begitu kita jalan-jalan saja, biar rasa pusing kamu hilang," rayu Salwa berusaha membujukku.
"Maafkan aku Salwa, kali ini aku benar-benar tidak bisa menemanimu, oke!" tolakku berucap.
"Yahh ... Adit, kamu kok gitu sih," Kekecewaannya.
"Mungkin lain kali aja kalau ada waktu," imbuhku berkata.
"Baiklah kalau begitu, tapi hubungi aku ya, kalau kamu sudah ada waktu luang," ucap Salwa.
"Oke, baiklah Salwa."
Entah mengapa rasanya aku malas sekali untuk berurusan dengan Salwa lagi. Rasanya diri ini sudah mulai membencinya, yang mana kian hari diriku begitu muak dengan sikapnya yang sok kecentilan dan perhatian itu. Tapi rasa-rasanya aku akan susah sekali untuk lepas darinya, sebab wataknya dia keras sekali. Maka dari itu aku harus lebih halus dan hati-hati memperlakukanya, agar secepatnya bisa lepas dan memutuskan hubungan kami.