
Begitu lelahnya hari ini banyak pekerjaan yang harus dikerjakan, yaitu membersihkan ruangan demi ruangan. Badan rasanya sudah sakit semua, ditambah sekarang kepala rasanya pusing mau pecah, mungkin efek dari kejadian tadi siang yang sudah menyesakkan dada.
Kini sudah jam 17.40, sudah waktunya para pekerja diperusahaan mas Adit untuk pulang kerja. Lif sudah terasa penuh sesak oleh orang-orang yang lelah oleh pekerjaan, agar cepat pulang kerumah masing-masing.
Lif terus meluncur ke bawah, dan sudah menunjukkan diangka 3, menandakan sebentar lagi akan sampai dilantai dasar.
"Mila, kamu pulang bareng aku saja naik motor," tawar Edo ketika kami masih menaiki lif.
"Sebelumnya terima kasih, Edo. Tapi aku sebaiknya naik angkot saja. Lagian nanti merepotkan kamu saja!" jawabku menolak tawarannya dengan nada suara kelembutan.
"Kamu gak ada ngrepotin, kok!."
"Tidak usah. Makasih."
"Tapi--, ya sudahlah. Kalau kamu gak mau sekarang, tapi lain kali mau 'kan bareng pulangnya!" tawar Edo lagi.
"Insayaallah," jawabku agar tak ada kekecewaan, atas tawaran yang diberikan Edo.
Akhirnya setelah beberapa menit menaiki lif yang penuh sesak, kami berdua sudah keluar dengan berjalan beriringan, yang mana kami akan menuju berlaianan arah, yaitu Edo akan pergi ketempat parkiran sedangkan diriku akan menuju jalan pintu masuk utama.
Dalam langkah menuju ke tempat tujuan masing-masing, kami berjalan sambil bercanda gurau menceritakan pengalaman pribadi, yang tak lupa diiringi gelak tawa kecil dari kami.
Dapat terlihat dari kejauhan, mas Adit tengah berdiri santai sambil bersandar di mobil sportnya.
Tak berselang lama, dia berjalan mondar-mandir didepan pintu utama seperti menunggu seseorang. Para pekerja semua membungkukkan badan, untuk menyapa mas Adit saat mereka berpapasan dengannya.
"Ana ... Ana, sini!" lambaian tangan Mas Adit memanggilku untuk datang ke hadapannya.
"Mati aku!" gumanku dalam hati, dengan satu tangan berusaha menutupi wajah.
"Ana ... sini ... sini!" Mas Adit tetap memanggilku, secara terus menerus tanpa ada rasa malu.
Semua orang kantor yang akan pulang, menatap heran clingak-clinguk ke kanan kiri, mencari siapa gerangan yang dipanggil suamiku, tak terkecuali Edo yang juga sudah ikut kebinggungan.
"Siapa sih yang dipanggil, bos besar?" tanya Edo, dengan wajah penasaran ikutan melihat ke kanan kiri.
"Emm, apakah kamu, Mila?" Edo bertanya penasaran sebab wajah kututup, seperti orang yang sedang bersembunyi.
"Eeh, bukan aku kok! Mungkin orang itu!" tunjukku mengarah pada salah satu wanita, yang sedang berjalan keluar juga.
"Lalu siapa, ya?" Edo masih mencari.
"Edo, boleh ngak! Aku numpang naik motor sama kamu? Sampai dipengkolan angkutan saja," permintaanku pada Edo untuk menghindari Mas Adit.
"Ok! Tadi saja ditawari untuk pulang bersama tidak mau, tapi sekarang kok-?" Muka penasaran Edo atas permintaanku yang tiba-tiba.
"Baiklah kalau begitu, ayo kita pulang!."
"Hmm, makasih banget, ya!"
"Iya."
Wajah masih saja kututup menggunakan tangan, dan mulai bersembunyi dibelakang orang yang tinggi gemuk, yang cukup aman juga untuk menyembunyikanku agar tidak diketahui oleh mas Adit.
Mas Adit sudah kelihatan clingak-clinguk melihat ke kanan kiri, melewati para kerumunan karyawannya yang lalu lalang berjalan keluar kantor, mungkin sedang mencariku yang tiba-tiba telah hilang, sebab aku memang sedang bersembunyi untuk menghindarinya.
"Aman ... aman," gumanku dalam hati, sambil mengelus-elus dada, sebab akhirnya bisa terlepas dari mas Adit.
Kini aku menunggu Edo, yang sedang mengambil motor ditempat parkiran, dan tentunya sudah jauh dari hadapan Mas Adit, yang kemungkinan sekarang masih sibuk mencari-cari diriku.
"Ana!" Mas Adit sudah mencekal tanganku, dengan raut wajah melotot dan memerah marah.
"Mas Adit!" Ekspresiku yang terkejut.
"Mau kemana kamu?"
"Bagaimana Mas Adit bisa tahu, kalau aku sedang disini?" tanyaku penasaran.
"Ayo ikut sekarang, cepat!" perintahnya kasar dengan menarik tanganku untuk mau mengikutinya.
"Aku tidak mau, Mas. Lepaskan ... lepaskan tanganku sekarang, Mas!" tangan kutarik kuat-kuat, biar lepas dari pegangan Mas Adit yang sibuk memaksa untuk ikut.
Mataku sudah melihat ke kanan kiri, sebab malu banyak sekali mata yang melihat adegan bos besar mereka denganku ketika sedang tarik ulur tangan. Semua karyawan sudah tertarik melihat ke arah kami, mereka semua sudah berbisik-bisik dengan tatapan aneh kearah kami, seperti tidak suka apa yang telah kulakukan pada bos besar mereka.
"Mila ada apa ini?" Edo sudah turun dari motornya.
Kini Edo berjalan melangkah menghampiriku, dan mempertanyakan apa yang telah terjadi pada kami.
"Kamu ngak usah ikut campur, ini urusan kami!" gertak perintah mas Adit pada Edo, agar tetap diam mencampuri atasannya.
"Ayo ikut sekarang!" Tanganku ditariknya lagi.
"Aku ngak mau ikut sama kamu, Mas!" tolakku kesal karena Mas Adit masih ngotot ingin membawaku pergi bersamanya.
Mungkin karena kesal aku tak menuruti permintaan Mas Adit, tanpa aba-aba langsung saja dia mengendongku berjalan menuju mobil sportnya, yang masih terparkir rapi didepan pintu utama.
"Mas, turunkan aku! Mas, aku mohon turunkan. AYO MAS TURUNKAN!" bentakku sambil berteriak.
Kekuatan kukerahkan untuk meronta-ronta, agar bisa diturunkan, namun pada kenyataannya hanya sebuah kesia-siaan saja.
Muka sudah kututup rapat-rapat memakai tangan, karena malu sekali saat dilihat para karyawan Mas Adit. Semua orang sudah melongo dan terkejut apa yang telah dilakukan bos besarnya, yang tak terkecuali Edo yang hanya diam membisu, saat melihatku digendong paksa oleh suami sendiri.