
Tak kusia-siakan waktu untuk segera membututi si bahenol Nola. Pesan sms sudah kukirim pada sang sekertaris Rudi, dan tak berselang lama dia muncul, tapi sebelum masuk ke dalam ruangan mas Adit, kutarik tangannya dulu.
"Sini dulu, Rudi!" nada bicaraku pelan berbisik-bisik.
Semua harus berjalan dengan baik, jangan sampai gagal semua rencana.
"Ada apa sih, Ana?" tanyanya binggung.
"Kamu nanti kotak-katik handphone kamu untuk menelpon gawaiku, biar aku bisa mendengarkan percakapan mereka, walaupun tak ikut masuk ke dalam," pintaku.
"Ooh ... itu mah masalah gampang. Siiip dech! Aku akan setia membantumu," jawabnya menyetujui.
"Ya sudah, aku masuk dulu ke dalam, nanti lama-lama ngobrol sama kamu ketinggalan berita pulak," ucapnya berusaha pamit.
"Iya ... iya, cepetan masuklah ke dalam sana! Hati-hati, jangan sampai mas Adit curiga sama kamu," jawabku dengan nada sengau akibat masih memakai masker.
"Oke!."
Kini diri ini hanya bisa menatap punggung sekertaris Rudi, yang telah memasuki ruangan mas Adit. Diriku sudah begitu dilanda rasa cemas, sebab ingin tahu apa yang sedang mereka bicarakan.
Dert ... kring ... dert ... kring, gawai telah berbunyi, dan ternyata nama sekertaris Rudi sudah tertera, yang menepati janjinya untuk menelponku. Tanpa membuang waktu lagi, akupun langsung mengangkatnya, sebab rasa penasaran begitu menghampiri.
[Oh ... ya, Adit! Bagaimana dengan kerja sama kita nanti, apakah masih mau dilanjut apa nggak? Menguntungkan banget lho! Jika mau bekerjasama dengan perusahaanku]
Suara si janda Nola, sedang merayu supaya mas Adit mau diajak kerja sama.
"Ciiih, dasar perempuan ganjen! Oleh karena mas Adit adik kelas dan mengenalmu saja, pasti sudah kusingkirkan awal-awal lagi kamu itu," kekesalanku berbicara sendiri, yang menanggapi omongan si janda Nola.
[Iya tentu dong, kak! Kerja sama tetap kita akan lanjutkan. Pasti aku akan senang sekali bekerja sama dengan perusahaan kakak, tapi keuntungan nanti harus dibagi sama rata yaitu 50:50, bagaimana? Apakah kakak setuju atas persyaratan itu?]
"Ya ampun, mas Adit! Kamu itu bodoh apa lugu sih! Mau-maunya bekerja sama pada orang yang belum tahu asal usul perusahaannya," gumanku merasa kesal atas tindakan mas Adit, yang secara gampangnya menerima tawaran kerja sama.
Sebelumnya diriku sudah menyelidiki perusahaan kepunyaan Nola, dan itu adalah perusahaan yang baru saja didirikan, atas pembagian harta yang sama rata dari perceraiannya dengan mantan suami.
[Oke, aku akan terima tawaran kamu itu]
[Terima kasih, Adit. Kamu memang adik kelas yang selalu bisa kuandalkan]
[Sama-sama, kak]
[Oh ya, Adit. Besok kamu ada waktu luang ngak?]
[Memang kenapa, kak?]
[Enggak. Cuma itu, teman bisnis mau ngadain pesta peluncuran produk baru, dan aku diundangnya, dengan syarat mereka harus membawa pasangan, dan kamu tahu sendiri 'kan kalau aku sudah tidak ada pasangan lagi]
"Jangan mau ... jangan mau, mas!" bathin merancau agar mas Adit tak menyetujuinya.
[Disana nanti akan banyak bos-bos pebisnis, jadi kamu bisa kenal mereka untuk lebih memajukan perusahaan kamu, dan kalaupun maju 'kan kamu juga akan menikmati hasilnya]
Bujuk rayunya yang membuatku makin geram marah.
[Baiklah, aku akan menemani kakak]
"Aah ... ahh, kamu semakin gila aja, mas! Sudah berani-beraninya menerima tawaran perempuan lain. Awas saja nanti, kalau kamu sampai dirumah," hati sudah merasa dongkol marah.
Tiba-tiba terlihat ada pelayan perusahaan, yang sedang membawa tiga cangkir minuman, dan akupun tak menyia-nyiakan kesempatan itu, untuk mencoba mengambil alih membawanya.
Klik, gawai yang ditelpon sekertaris Rudi langsung kumatikan.
"Mbak .. mbak, berhenti!" suruhku.
"Ada apa, ya?" tanyanya.
"Biar aku saja yang membawanya ke dalam," suruhku.
"Tapi, Mbak!" ucapnya yang ragu ingin menolak.
"Oh iya, Mbak. Ya sudah kalau begitu, kalau anda ngotot benar-benar ingin membawanya," jawabnya menyetujui.
Mau bikin pelajaran agar si genit itu tidak terus berulah yang enggak-enggak.
"Tapi kita tukeran dulu seragamnya, biar tidak ketahuan," suruhku lagi.
"Baiklah, Mbak!" jawabnya mengaruk-garuk kepala, mungkin binggung atas tindakanku.
Tanpa butuh waktu lama, akupun sudah tersulap menjadi pegawai yang menghidangkan minuman, maskerpun tetap kupakai agar tak dikenali wajah ini.
Perlahan-lahan teh yang masih mengepulkan asapnya, kini sudah bertenger ditangan untuk kubawa masuk.
Tok ... tok, pintu ruangan mas Adit kuketuk.
"Masuk saja," jawab seseorang dari dalam.
Langkah kaki sudah berjalan mendekati mereka, nampak sekali sekertaris Rudi hanya diam memperhatikan mereka, sedangkan mas Adit sudah bercanda ria tertawa sumringah, terhadap si janda bahenol Nola. Aku yang melihat pemandangan itu sangat geram dan kesal sekali, ternyata mas Adit bisa ramah juga pada setiap wanita, dan aku tak begitu menyukai atas sikapnya itu.
Tangan sudah hati-hati sekali menaruh minuman yang berada dicangkir, satu-persatu kuberikan minuman teh pada sekertaris Rudi dan Mas Adit, dan yang terakhir pada si janda Nola, yaitu dengan cara memutari sofa dulu agar mendekatinya, biar mudah waktu memberikan tehnya. Otak sudah berputar jahat, untuk menjahili Nola.
Klek ... suuuur, dengan sengaja teh telah kutumpahkan dibajunya, yang merona pink menyala.
"Aaa .... awww, panas!"
Nola terkejut yang langsung berdiri, dan mengkibas-kibaskan gaun mini yang diatas lutut.
"Oh maaf ... maaf Nona ... maaf," ucapku yang sudah mengambil tisu, untuk membantunya membersihkan.
"Minggir kamu ... dasar kurang ajar! Mata kamu itu ngak lihat apa? Ada orang disini, hah! Gaunku ini sangat mahal, dan tak sudi rasanya disentuh oleh tangan pegawai kotor seperti kamu," hinanya yang marah.
"Uuuuh ... aaahh, dasar!" ujarnya kesal.
"Ya ampun, mulut kamu itu memang sadis bener, seperti wanita yang tak berpendidikan. Kalau saja aku tak menyamar, pasti akan kubalas perkataan dan hinaan kamu itu," guman hatiku yang kesal, masih bisa menahan sabar.
"Maaf Nona ... maaf, aku memang salah, maafkan aku," ucapku pura-pura menyesal.
"Sudah ... sudah, kamu jangan marah-marah lagi," ujar mas Adit mencoba menenangkan Nola, yang sudah marah ngomel-ngomel.
"Kamu gak pa-pa 'kan, Kak?"
Sialnya Mas Adit sudah membantu mengambilkan tisu.
"Aku ngak pa-pa, Adit. Habisnya panas sekali nih, akupun jadinya emosi," jawabnya penuh suara kemanjaan.
"Maaf aku, Nona. Maaf!" ucapku pura-pura lagi, sambil menundukkan kepala seperti merasa bersalah.
"Untung saja teh itu tidak terlalu panas, jika saja panasnya baru terseduh, pasti kulitku akan melepuh, dan kalau luka pasti akan kututut pegawai kamu itu," lengkingan suaranya marah-marah lagi.
"Maaf!" Pura-pura tertunduk.
"Aaah ... jadinya bajuku basah begini! Rasanya malu berjalan dengan baju basah, dikiranya orang-orang aku telah ngompol pulak nanti," imbuh ocehan Nola.
"Sabar, Kak! Dia sudah minta maaf dan bilang tidak sengaja!" ucap mas Adit yang masih sibuk memberikan tisu.
"Sudah, kamu kemasi saja semuanya," suruh mas Adit membelaku.
Tanpa meminta maaf lagi yang keluar dari mulutku, cangkir teh yang sempat berantakan, langsung saja kupungut untuk segera membawanya keluar. Sebelum keluar, kutatap sekertaris Rudi yang sudah menatapku heran, dan yang pasti dia sudah tahu sebenarnya siapakah diriku, sehingga tanpa ragu lagi kukedipkan mata satu padanya, dan sekertaris Rudi membalas memberikan acungan jempol.
"Saya permisi dulu Pak, Nona!" ucapku berusaha pamit.
"Iya, cepat pergi sana! Dasar perempuan dari kalangan bawah, masak naruh teh aja gak becus," ketusnya dia berbicara menghina lagi.
"Sudah ... sudah, kak Nola jangan marah lagi, dia tadi sudah meminta maaf. Pasti dia tadi gak sengaja, oke! Jadi kita lupakan saja kejadian tadi, nanti akan kusuruh pegawaiku membelikan gaun sebagai ganti permintaan maaf, atas kesalahan pegawai yang sudah ceroboh tadi," Mas Adit yang masih berbicara terdengar oleh telingaku, saat aku masih didekat pintu.