Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
Penculikan


Hubunganku dengan kak Adrian semakin membaik, tapi hati masih kepikiran sama Chris. Walau bagaimanapun, dia masih menjadi bagian yang terindah dalam hidupku.


Naya yang selalu manja pada Ayah kandung, mau tidak mau harus mengikuti alur keinginannya. Kebahagiaan anak yang paling utama dan selalu kujaga. Dia adalah yang berharga dalam hidupku. Sekuat apapun keadaan kami, akan terus memberikan yang terbaik.


"Bagaimana keadaan kamu sekarang, Chris? Apakah kamu baik-baik saja, setelah sekian hari kita tidak bertemu," Bathin hati yang ingin menemuinya.



Pekerjaan yang sudah dipecat, membuatku hanya mengangur dirumah sambil merawat Naya. Dalam hati selalu mengucapkan untaian doa agar semuanya baik-baik saja, antara kehidupan kami dan orang-orang yang menyayangiku.


Secercah harapan terus saja kuimpikan. Sebuah dosa terasa sudah membelenggu tidak bisa telepas, ketika orang yang sudah tulus mencintaku sekarang sudah terluka. Bukan maksud hati begini, tapi keadaan takdir yang sudah menentukan segalanya.


Butiran halus dipipi, yang terus menghujam dada tidak bisa terhenti. Kenangan itu begitu indah. Hanya sekedar untuk melupakan saja, harus bertarung dengan hati supaya semuanya bisa terlepas. Kesedihan terhadap Chris telah berhasil menusuk jiwa, yang telah sukses membawa terbang separuh nafasku.



"Ada apa, Nak?" tanya Ibu yang sudah pulang dari sawah.


"Eeh, Ibu, Bapak. Kalian kok sudah pulang pagi-pagi begini?" tanyaku saat mereka baru datang dari sawah.


Tangan yang ada sedikit kotoran tanah, tetap kuambil dan mencium sebagai tanda rasa hormat kepada mereka.


"Iya, Nak. Tadi Bapak sama Ibu cuma matun (Mencabut rumput) saja disawah," jelas Bapak.


"Ya sudah, kalian berbicaralah dulu. Bapak akan ke dalam sebentar, untuk membersihkan tubuh," pamit beliau saat pakaian sudah kotor bekas ada tanahnya.


"Iya, Pak."


"Ibu, tidak ikut membersihkan diri dulu?" tanyaku.


Beliau sudah duduk santai dikursi luar rumah, berada tepat disampingku.


"Nanti saja. Rasanya keringat masih mengalir, akibat tadi disawah panas banget," terang Ibu sudah mengipas-ngipaskan capil (Topi sawah dari anyaman bambu) kearah tubuh beliau.


"Oh, begitu. Lagian tidak baik jika keringat masih mengalir, tiba-tiba mandi pakai air dingin. Memang segar sih, tapi efeknya ketubuh bisa-bisa nanti akan menjadi ngilu," sautku menerangkan.


"Benar itu, Karin. Banyak orang yang kadang langsung demam, akibat masih terasa kepanasan tapi langsung mandi."


"Oh, ya. Ibu perhatikan kamu sekarang banyak melamun. Apakah ini semua masih berkaitan dengan, Chris?" tanya beliau penasaran.


"Hhh ... begitulah. Ibu, tahu sendiri kalau Chris telah membatalkan pernikahan. Pasti sekarang dia sangat terluka dan rasanya Karin sangat berdosa sekali padanya," jelasku sendu.


"Kamu sekarang memang kelihatan banget, selalu terbayang-bayang oleh sebuah rasa bersalah. Tapi cobalah kamu tenang dulu, siapa tahu Chris nanti mau kamu bujuk lagi. Kalau masih tidak bisa kamu harus bersabar, untuk terus meminta maaf kepadanya sampai dia benar-benar memaafkan, agar kamu tidak terbebani oleh rasa menyesal telah melukainya," tutur lembut beliau.


"Benar itu, Bu. Bahkan akupun tidak tahu harus mencari celah dimana lagi, untuk bisa meminta maaf kepadanya. Chris, pasti tidak akan bisa memaafkan kesalahanku kali ini," jawab lesu.


"Tidak ada yang tidak mungkin, jika kamu tetap berusaha. Sebelum terlambat, cobalah untuk meminta maaf, siapa tahu dengan kegigihanmu dia akan luluh juga," nasehat ibu.


"Baik, Bu. Nanti Karin akan mencobanya lagi. Semoga saja berhasil. Doakan anakmu ini, Bu!" pintaku.


"Ibu selalu mendoakan kamu, agar diberikan yang terbaik termasuk jodoh," cakap beliau lemah lembut, sambil mengelus pelan rambut.


"Emm, sama-sama."


Perbincangan kami terus berlanjut begitu lama. Sampai pada akhirnya, inilah waktu untuk menjemput Naya pulang sekolah.


Sepeda yang selama ini kugunakan untuk bekerja, beralih fungsi untuk menjemput Naya.


Jarak yang tidak jauh, membuatku santai untuk melewati jalan raya yang kelihatan sepi. Mungkin masih banyak pegawai yang bekerja, jadi sekitaran jam segini belum banyak yang keluar untuk makan siang.


Sheet, sebuah mobil jip tiba-tiba mengehentikan aktifitasku, yang tengah fokus mengayuh sepeda.


Kelihatan ada dua orang sudah keluar dari mobil itu, yang sedang memakai penutup mulut. Tubuh mereka menakutkan akibat kekar-kekar. Mereka sudah menghampiriku dengan langkah tergesa-gesa.


"Turun kamu!" Bentak salah satu dari mereka.


"Apa yang kalian inginkan?" tanyaku yang mulai ketakutan.


"Diam kamu, ikut kami sekarang!" cakap mereka kasar, yang sudah mulai menarik lenganku agar segera mengikuti perintah mereka.


"Eeh, lepaskan ... lepaskan aku. Kalian mau apa?."


"Lepaskan ... lepaskan!" berontakku ingin melepaskan diri.


Sepeda langsung jatuh secara kasar diaspal jalanan yang sepi.


"Tolong ... tolong," teriakku agar ada orang yang mau menolong.


"Diam kamu," bentak mereka lagi.


"Tolong .... tolong. Lepaskan aku!" imbuhku sekencang-kencangnya.


Rontaanku ternyata kalah tenaga dengan mereka.


"Emm ... emm!" Tanpa diduga ada sebuah tangan sudah membekap mulutku menggunakan sapu tangan.


Lama-kelamaan mata mulai sayu-sayu ngantuk sekali. Badan terasa kian terkulai lemas. Tanpa sadar, akupun mulai ingin terjatuh, namun bisa ditahan mereka.


Entah apa yang terjadi padaku sekarang. Antara sadar dan tidak, badan mulai terasa melayang diudara, yang sepertinya mereka sudah mengangkat badanku.


****


😱😱Ada apa ini?


Waduh, kenapa Karin diculik dan siapakah dalang dibalik ini semua?


Ikuti kisah selanjutnya😉😉


Yang sudah mampir, saya mengucapkan banyak-banyak terima kasih🙏🙏tanpa dukungan kalian author remahan rempeyek ini, tidak akan semangat lagi untuk up😊.