Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
Dugaan yang salah (Lamaran bagian 2)


Hati begitu diliputi rasa bahagia yang tak terperi lagi rasanya, sungguh ini bagaikan mimpi yang tersadar dari tidur panjang.


"Kakak? Apa maksudmu, sayang?" Suara pria yang berbisik pelan didekat telinga.


"Astagfirullah, bukankah ini suara Chris, dan ternyata bukan kak Adrian? Waduh, mati aku ... mati ... mati," guman hati yang tak menyangka.



Tubuh sudah bergetar dibanjiri keringat, akibat berpikir apa yang harus kukatakan selanjutnya atas alasan, sebab takut-takutnya kalau Chris marah dan tersingung akibat kesalahpahaman ini.


"Heheehhe, bukan apa-apa, sih. Maksudnya itu, kamu sekarang patutnya dipanggil sebagai kakak bukan lagi dengan sebutan Chris. 'kan kamu sekarang sudah resmi jadi kekasihku, masak tak ada hormat-hormatnya memanggil," alasanku menjawab, yang sudah berbalik badan agar leluasa menatap wajahnya.


"Ooh, begitu. Baguslah kalau kamu manggil kakak sekarang, lagian itu didengar lebih enak, yang tandanya kamu masih mau menghormatiku," jawab Chris tak curiga.


"Ok 'lah, sipp pokoknya."


"Syukurlah ... syukurlah, kalau Chris tak curiga kalau yang barusan kupanggil kakak bukan dia," Kelegaan hati berbicara.


Seketika Chris langsung melepaskan pelukan belakangnya dari tubuhku, dan langsung saja bersimpuh dan bersujud dihadapanku.


Tangannya kini nampak sibuk sedang merogoh saku, yang sepertinya ada yang sedang diambil. Sebuah kotak berwarna merah sudah bertengger dalam genggaman Chris, yang selanjutnya membuka kotak itu, hingga nampaklah sebuah cincin bermatakan sebuah hiasan berlian yang mengkilat, akibat terpantul oleh cahaya lampu dalam toko.



"Maukah kau menerima pinanganku ini?" tanya Chris penuh keseriusan.


Cincin sudah terpegang diujung jarinya, yang tanpa ragu disodorkan langsung padaku. Sebuah aliran bening-bening airmata, entah mengapa ingin sekali menyeruak keluar, saat tak sanggup menatap kemantapan Chris melamar.


"Oh Tuhan, apakah Chris beneran akan melakukan lamaran ini? Dia begitu mencintaiku dengan sepenuh hati, rasanya sungguh tak tega melihat sikapnya ini. Berilah aku petunjuk jawaban, apakah kali ini aku benar-benar harus menerima lamarannya ini?" rancau hati yang bingung.


Semua orang mulai bertepuk tangan begitu semangat, yang nampak sekali begitu mendukung apa yang dilakukan bos mereka.


"Ayo mbak Karin, terima ... terima ... terima. Plok ... pok, terima ... terima," ucap semua orang memberikan dukungan.


Aliran airmata terus saja tak bisa kuhentikan, saat bendungannya kian lama kian deras agar terus menyeruak untuk mengalir.


"Apakah kau menerima lamaranku ini? Aku sangat mencintaimu dengan sepenuh jiwa dan raga. Aku akan berjanji terus menjagamu, agar kita tetap bahagia bersamaku selamanya," ucap sendu Chris yang tak mau menyerah atas lamarannya.


"Bismillah, semoga jawabanku ini adalah benar," Kemantapan hati yang sudah siap.


Dengan perlahan namun pasti, kepala telah memberikan jawaban atas apa yang dipinta Chris.


"Benarkah kamu menerimaku?" ujar Chris dengan cara berteriak akibat tak percaya.


Kepala semakin kuat kuanggukkan, dengan tangan berusaha sibuk segera menghapus airmata.


"Hahahahah, benarkah ... benarkah kamu menerimaku? Aku sungguh tak percaya ini, ha ... ha ... ha!" imbuh tanyanya tertawa riang.


"Iya, Chris! Aku menerima dan siap dijadikan pendamping," jawabku pelan.


Dengan rasa kegembiraan yang membuncah, Chris tanpa malu lagi memelukku erat dari depan. Wajahnya nampak begitu gembira sekali, sampai melupakan bahwa banyak orang yang sedang menonton.


Setelah dirasa puas memeluku, langsung saja melepaskan tubuh ini, kemudian aksinya yang bikin kejutan tak berhenti sampai disini, sebab cincin kini telah dia usahakan sematkan dijari manisku.


"Amin. Iya, Chris."


"Selamat ... selamat ya, bos, mbak Karin!" ucap semua orang terlihat ikut merasakan bahagia juga.


"Iya, makasih semuanya. Kalian ternyata nakal juga, yang ikut-ikutan dalam rencana bos kalian," keluhku.


"Habisnya kami begitu greget ingin segera melihat kalian bahagia, jadi ya terpaksa kami ikut-ikutan juga dalam acara ini," jawab salah satu pegawai.


"Tapi aku benar-benar mengucapkan terima kasih banyak-banyak pada kalian, sebab sudah capek-capek menyiapkan segalanya," imbuhku berkata tak enak hati.


"Iya, mbak. Sama-sama."


Tanpa rasa sungkan lagi, kami terus saja berpelukan dengan mesra, sebab rasa bahagia begitu meliputi hati kami masing-masing.


Klinting ... klinting, suara pintu toko tiba-tiba ada yang membuka, yang menandakan ada orang yang masuk.


"Bunda ... bunda?" teriak suara Naya berlarian kecil kearahku.


Aku yang kaget atas kedatangannya, langsung melepaskan diri secara kilat dari pelukan Chris.


"Hati-hati, sayang!" Suara kak Adrian datang menyusul Naya.


"Ya salam, apa ini? Kenapa kak Adrian ada disini juga?" ucapku dalam hati sebab kaget.


Seketika wajah kak Adrian nampak begitu kecut, dengan netra terus saja melihat ke sekiling keadaan ruangan toko.


"Ada apa, sayang? Kenapa kok jam segini sudah pulang?" tanyaku langsung memeluk tubuh mungil si Naya.


"Dia tadi jatuh dengan kaki sudah banyak luka, lihat saja banyak plaster dikakinya. Dan sang guru tadi menelponku untuk menjemputnya, sebab anak kita Naya tidak bisa diam, yang mana terus-menerus menangis," jelas kak Adrian dengan sorot mata penuh ketidak sukaan.


"Ya ampun, anak? Apa maksud kak Adrian barusan? Apakah dia berusaha menyindirku dan Chris? Sudah tahu anaknya, kenapa juga harus keras-keras memberitahu bahwa Naya adalah anaknya, apakah biar semua orang tahu?" rancau hati merasa aneh.


"Apakah itu benar, nak?" tanyaku pada si buah hati.


"Iya, Bunda!" jawab sendu Naya.


Tubuhnya yang ringan langsung kugendong didepan, dengan belakang punggung kuelus-elus pelan, dengan maksud supaya Naya tenang.


"Oowh, baguslah kalau begitu. Terima kasih sudah membawa Naya untuk datang kesini. Mungkin sudah ditakdir kamu untuk datang kesini, sebab biar tahu bahwa aku telah berhasil melamar Karin, dan semua itu barusan terjadi," ucap Chris dengan mengangkat tanganku, sebab ingin pamer cincin yang terlingkar dijari.


Seketika tangan kutarik kuat, agar Chris segera menghentikan atas kepamerannya. Tapi Chris seketika melihat kearahku, yang nampak tak suka atas tindakanku barusan.


"Baguslah kalau kalian ternyata sudah resmi tunangan, berarti sudah ada kejelasan atas hubungan kalian itu," ujar kak Andrian santai.



"Hmm, oklah."


Aku tak bisa mengambarkan dengan jelas atas apa yang terjadi pada kak Adrian, dia kelihatan tabah menerima pertunangan ini, namun aku begitu menangkap ekspresi sebuah kekecewaan.


"Maafkan aku, kak. Aku juga menginginkanmu, tapi rasa cinta ini tak mengharuskan kita untuk bersama. Mungkin sampai disini hubungan kita. Jodoh memang tak bisa diatur oleh manusia itu sendiri, sebab hanya Sang pencipta alam semesta ini yang menentukan, jadi kita hanya bisa menerima kepasrahan hati saat kita tak bisa bersama," ucapku yang merasa kasihan dan sedih atas sikap kak Adrian.