
Bayangan mas Adit dan wanita itu kembali berseliweran, dan sepertinya mas Adit tampak bahagia sekali bersama dengan kekasihnya itu. Dihari-hari pertemuan kemarin, wajahnya sungguh bisa tersenyum lebar ditunjukkan pada wanita itu. Sungguh rasanya begitu sakit sekali, kenapa mas Adit tak bisa tersenyum seperti itu padaku sekarang.
Kehampaan yang kurasa, terasa membuat tertekan. Ingin sekali tidak memikirkannya, namun sekuat apapun berusaha kenangan akan kami berdua, dikala merajut kebahagiaan rumah tangga tidak akan mudah dilupakan begitu saja. Menoleh kebelakang pasti akan terkenang jua.
Betapa malangnya nasibku lagi, orang yang kucinta kembali lagi mendua seperti enam tahun yang lalu dengan wanita yang sama pulak, dan tanpa terasa bulir-bulir airmata sudah luruh lagi.
"Ya Allah, aku hanya ada satu permintaan padaMu, yaitu kasih sayang mas Adit. Kalau bisa izinkan hanya tercurahkan padaku, heehheh." Tarikan nafasku dalam-dalam, sebab sudah sesak berat didada.
"Tapi kenapa rasanya berat sekali untuk bersamanya lagi. Apakah rasa benci mulai tertanam lagi padanya?" tanyaku pada diri sendiri.
Rasa benci yang sudah tertancap dan tertanam, membuatku harus menghadapi tak hanya penghianatan, tapi juga rasa kebencian tingkat tinggi terhadapnya.
Dari dulu selalu bermimpi memiliki kisah cinta yang abadi bersamanya dengan anak-anak kami nantinya, namun semua itu ternyata hanya angan-angan bodoh belaka.
Aku hanya bisa pasrah dengan status wanita yang hanya terpasung ketidakberdayaan, yaitu hanya bisa menyaksikan sebuah rasa penghianatan.
"Hai Ana dan cucu kesanyangan nenek. Gimana kabarnya?" sapa mertua saat aku sedang melamun, yang tengah duduk direstoran bapak.
"Alhamdulillah kami baik, Ma! Mama sama siapa kesini?" Sapaan beliau kusambut baik.
"Sendiri, Nak. Biasalah papa Adit sedang sibuk. Kamu sehat dan baik-baik saja 'kan Ana?" imbuh tanya beliau.
"Iya, Ma. Alhamdulillah baik."
"Ooh ya, kapan kira-kira Mama bisa melihat cucu nenek, nih!" Beliau bertanya sambil mengelus sebentar perutku.
"Kata dokter semingguan ini. Tapi rasa-rasanya belum ada tanda-tandanya, mungkin minggu depan kali ya, Ma?"
Penjelasan yang tidak kumengerti. Baru pertama merasakan kehamilan, jadi banyak ilmu yang belum kuketahui. Mungkin dengan curhat dengan mertua bisa berbagi pengalaman.
"Yang terpenting kamu sekarang sehat, dan jangan pikirkan hal itu. Sebab semua itu hanya prediksi dokter, tapi kalau sudah waktunya melahirkan, hari yang ditentukan dokterpun tak akan tepat sama prediksi itu," Penerangan Mama.
"Iyakah, Ma?" ucapku tak percaya.
"Bener itu, Ana. Dulu Adit juga begitu, kata dokter tanggal 23 akan lahir tapi tanggal 15 sudah pembukaan." Sedikit cerita yang beliau bagikan.
Mukaku kini lesu sekali, disaat mendengar nama suamiku disebut Mama. Rasa tidak ingin mendegarkan kuat sekali, tapi disebalik itu aku sangat merindukannya. Andai saja bisa kurengkuh tubuhnya sekarang pasti akan kupeluk erat denga penuh kemanjaaan.
"Ada apa, Ana? Kok kamu jadi diam? Ada yang sakit atau sedang menganggu?" tanya Mama curiga.
"Tidak ada. Gak kenapa-napa kok, Ma. Cuma ... cuma!" Mulut terasa tercekat tidak bisa menjawab.
"Cuma apa, sayang!" bujuk Mama.
"Cuma itu, Ma. Rasanya aneh saja mendegar nama mas Adit Mama sebut barusan," penjelasanku.
"Ohhh."
"Maafkan Mama, ya. Sangat paham betul bagaimana rasanya ingin melahirkan, tapi suami tidak ada disamping kamu," Pengertian beliau.
Hanya anggukan kecil tanda aku benar-benar menyimak perkataan beliau.
"Kamu yang sabar dulu, pasti Mama nanti akan usahakan membawa Adit," imbuh beliau mencoba menyenangkan hatiku.
"Betulkah itu, Ma! Tapi-?" Kegembiraanku berucap.
"Bener sayang. Sudah jangan khawatir berlebihan begini. Berdoalah yang baik-baik, jika Allah berkehendak pasti apapun yang kamu inginkan akan terkabul semua."
"Amin. Tapi, Ma! Bagaimana kalau dia nanti akan marah? 'Kan ingatannya belum pulih. Ana tidak ingin mencari gara-gara apalagi perut sudah membesar begini. Dengan Salwa juga, pasti dia akan berbuat ulah lagi jika aku mengusiknya," kegelisahanku berkata.
"Gak akan, Ana. Mama punya cara jitu yang ampuh, dan rencana Mama itu pasti akan berhasil. Masalah Salwa biarkan saja mau dia apa, kalau sudah lelah nanti juga berhenti sendiri. Kamu jangan menyerah. Yakinlah Adit mencintai kamu setulus hatinya. Pasti dia akan kembali ingat," ucap beliau meyakinkanku.
"Sama-sama, Ana. Walau kamu hanyalah berstatus menantu, tapi dari dulu sudah kuanggap sebagai anak sendiri," jawab beliau.
"Wah ... wah, keasyikan ngobrol sama
Mama, sampai lupa menyuguhkan minuman nih," ucapku teringat.
Akibat keasyikan ngobrol sampai lupa untuk memberikan minuman. Namun biasanya memang beliau menolak dikarenakan tidak ingin merepotkan kami. Walaupun begitu Bapak selalu antusias menyuguhkan entah itu air teh atau hanya sekedar air putih saja.
"Gak usah repot-repot, Ana. Mama gak haus kok! Dan dirumah tadi sudah minum kopi," tolak beliau.
"Gak pa-pa, Ma."
"Mama adalah seorang tamu, jadi aku harus menghormatinya. Tidk baik juga membiarkan tamu kehausan," kekuhku.
"Baikkah, terserah sama kamu saja," kepasrahan beliau diiringi senyuman.
"Sebentar dulu ya, Ma. Aku tinggal. Mau kedapur dulu membuatkan minuman," pamitku.
"Iya."
Tak butuh waktu lama untuk membuatkan minuman untuk Mama. Sekarang langkah kaki sudah berjalan membawa secangkir minuman teh beraroma melati.
Praaaank, nampan yang kubawa telah terlepas dari tangan, akibat merasakan sakit mules diperut.
"Aaww ... aaaaa," Suara tertahan menahan sakit.
"Astagfirullah, Ana." Pekik mama kaget.
"Kamu kenapa, Nak?" tanya mama kebingungan.
Mama begitu panik, saat aku tiba-tiba terduduk yang sudah tidak kuat berdiri.
"Perut Ana, ma. Rasanya sakit sekali, Aww ... aaa," jawabku sudah menahan sakit yang luar biasa.
"Ayo kita pergi ke rumah sakit, mungkin kamu akan melahirkan," ungkap mama menjelaskan.
"Aaaaa, Ma. Sakit ma, tolong!" Suaraku mengeluh akibat tak tahan lagi.
"Iya ... iya, Nak. Sabar. Sebentar."
"Besan ... besan. Ke sini! Tolong Ana, cepetan kesini," teriak Mama memanggil.
"Iya ... iya, sebentar. Tunggu."
"Astagfirullah, Ada apa ini?" suara Bapak tergopoh-gopoh lari, yang sudah menghampiri kami.
Raut wajah beliau berubah khawatir juga.
"Sepertinya Ana akan melahirkan," penjelasan Mama yang sedang sibuk membantuku.
"Ayo secepatnya kita bawa dia ke rumah sakit," ujar bapak yang ikut-ikutan panik.
"Iya, ayo. Bismillah."
"Hati-hati, Ana."
Bapak sudah membopongku, sebab tidak kuat lagi hanya sekedar berjalan.
Akhirnya kami bertiga sudah pergi ke rumah sakit, dengan menaiki mobil Mama. Bulir-bulir airmatapun tak tahan untuk tak menyeruak, akibat tak tahannya merasakan kesakitan.
Bapak berkali-kali membantu mengarahkan aku untuk mengambil nafas dalam-dalam, dan membuangnya secara perlahan-lahan. Mungkin tujuannya biar aku tenang, dan melupakan rasa nyeri yang tak terbentuk lagi rasanya.