
Disiang hari yang cerah dengan langit biru, dibumbui oleh sedikit goresan awan putih, kutatap lekat langit-langit yang menawan indah dikantorku lantai empat puluh, sambil tangan memegang secangkir kopi. yaitu untuk menghilangkan stres akibat pekerjaan yang menumpuk, yang mana dari tadi mengadakan rapat untuk terobosan baru.
Namaku Aditya Wijaya Putra, seorang CEO muda dengan karir sukses dibidang fashion branded, yiatu dengan menjual baju ternama kelas atas yang harganya selangit, dan hanya orang yang berduit tebal yang mampu membelinya.
Betapa menenangkan jiwa, menikmati kopi kesukaanku sambil melihat pemandangan diluar kaca. Tiba-tiba ada seorang wanita yang menendang-nendang meja dibalkon atap kantorku, mungkin dia sekarang sedang sebal. Anehnya setelah menendang meja wanita itu memegang kakinya yang telah terbungkus sepatu putih, mungkin sudah merasakan kesakitan pada kakinya. Terlihat sesekali dia meloncat-loncat kecil, yang langsung duduk dimeja sambil memijit-mijit kakinya.
Kulihat seksama wanita itu, kini dia tambah aneh saja tingkahnya, yang tiba-tiba saja langsung berdiri lagi, tapi bedanya sekarang dia naik bangku dari tempat duduknya tadi. Wanita itu mengacungkan-acungkan telunjuk, seperti sedang marah, terlihat dari caranya memegang mulut seperti berteriak, dan lebih parah lagi sekarang mengacak-acak rambutnya sendiri, yang tadinya rapi sekarang jadi berantakan. Karena ada pembatas kaca dari ruanganku, sehingga aku tidak dapat mendengarkan apa yang dia ocehkan.
"Hemm ... hiiihi," Aku tersenyum-senyum sendiri, akibat melihat tingkah konyol wanita aneh itu.
Membayangkan tingkah wanita itu, membuatku terus saja sumrigah tersenyum. Bagaimana tidak tersenyum, sudah tahu menendang meja kayu pasti keras masih saja ditendangnya, kemungkinan rasanya sudah sakit tak terkira. Yang jadi tidak keterimaanku sekarang, diri ini tidak bisa melihat muka wanita itu sebab ada pembatas kaca diantara kami.
Sambil membelakangiku, terus kuperhatikan secara terus-menerus wanita itu didalam ruanganku. Dibatasi oleh kaca hitam, dimana kalau diluar tidak terlihat, tapi didalam bisa melihat jelas keadaan yang ada diluar.
Ditangannya sudah ada kantong plastik, sepertinya adalah makanan, terlihat saat wanita itu membuka, dan mengambil sesuatu didalamnya.
Benar saja, itu adalah bekal makan siangnya, dia terlihat lahap sekali mengunyah kasar, mungkin sudah kelaparan. Tak lupa air minuman kaleng sudah ia teguk sampai tandas habis, yang langsung dibuangnya kebawah dan diinjak-injaknya sampai tipis-setipisnya.
"Hihiihi," Diriku terus saja tersenyum, melihat tingkah konyol wanita itu.
Tok ... tok, pintu diketuk seseorang.
"Masuk!" jawabku pada orang yang mengetuk pintu ruangan kantorku.
"Bos, ini ada yang harus ditandatangani, dan jam 15.00 ada pertemuan klien di restoran seefood xxx," ucap sekertarisku.
Rudi adalah sekertarisku, sekaligus juga sahabat dari sejak kami kuliah. Tiba-tiba dia langsung saja nyelonong masuk ke ruangan, dengan menyodorkan sebuah berkas yang harus ditanda tangani aku langsung. Mulutnya terus mengoceh sambil menjelaskan apa-apa yang harus kukerjakan nantinya.
"Ekhmm ... ekhmm," deheman Rudi, karena diri ini tidak memperhatikan penjelasannya.
"Bos, lagi lihat apaan sih diluar!" ujar Rudi, sambil menatap ke arah kaca yang gordennya terbuka, sudah memperlihatkan seorang wanita sedang duduk menikmati makanan.
"Gak ada apa-apa, cuma melihat pemandangan luar saja!" jawabku sambil menaruh kopi, dan berjalan ke arah meja mengambil berkas yang diberikan Rudi untuk segera kutanda tangani.
"Bener nih, cuma lihat pemandangan luar saja!" Tatapan Rudi penuh selidik padaku.
"Bukan menatap wanita itu ... tuh 'kan?" Telunjuk Rudi mengarah ke luar, menunjuk pada gadis yang sedang duduk.
"Apaan sih!" Kupukul kepala Rudi, dengan berkas yang sudah kutanda tangani, lalu duduk dikursi kebesaranku.
"Aaw ... aaw " ucap Rudi, sambil mengelus-elus kepala.
"Hanya kebetulan saja, wanita itu duduk disana!" penjelasanku sambil menghindari pertanyaan Rudi, yang memang kenyataannya sedang memperhatikan wanita itu.
"Kamu kenal gak Rudi sama wanita itu?."
"Katanya bos tadi, tidak memperhatikan wanita itu!" ujarnya dengan telunjuk dan alis dinaik-naikan, menunjuk ke arah luar kaca.
"Kenapa bos? Naksir ya? Hayoh ngaku?" candaan Rudi padaku.
"Apaan sih!" Diriku langsung berdiri dari tempat duduk, dan langsung kupukul kepala Rudi, tapi kali ini menggunakan tangan.
"Aku itu cuma nanya doang! Cuma aneh dan heran saja, baru kali ini ada karyawan tumben makan disitu?" tunjukku mengarah kearah kaca jendela.
"Bukankah karyawan mendapatkan makan gratis dari perusahaan, dan tumben ada karyawan makan disana?" tanyaku di Rudi, dengan raut muka penasaran.
"Yang aku dengar dari kepala kebersihan, dia tidak mau makan dari perusahaan, tapi minta diganti dengan uang saja," penjelasan Rudi.
"Wanita itu benar-benar langka, dikasih makan dari perusahaan malah minta uang," Keanehanku.
"Dia cantik lho bos!" terang Rudi sambil membayangkan gadis itu.
"Banyak lho dari karyawan sini, yang merebutkan untuk dijadikan pacar!" ucap Rudi lagi menerangkan.
"Bos kalau sudah bertemu dengannya, pasti aku jamin akan jatuh cinta kepadanya!."
"Ciiiih," decihku.
"Untuk saat ini, cintaku hanya satu yaitu untuk Ana saja," penjelasanku.
Kaki melangkah ke kaca lagi dan mata mencoba menatap wanita tadi, tapi ternyata dia sudah main hilang, mungkin telah menyudahi makan siangnya.
"Kalau bos gak mau, aku akan mencobanya untuk mengambil hatinm cewek itu," Cerocos Rudi terus saja berucap.
"Silahkan!" jawabku.
"Beneran, nih!"
"Iya."
"Aah, senangnya bila jadi pacarnya!" Rudi sedang membayangkan.
"Dih."
"Aku akan mengambil hatinya, dan akan kujadikan istri kali ini! Pasti itu!" omongan Rudi dengan penuh keyakinan.
"Mimpi."
"Beneran, itu Bos. Aku yakin, pasti akan mendapatkannya!" ucap Rudi berkali-kali, dengan percaya dirinya yang optimis.
"Hahahhaah, mimpi jangan disiang bolong!" Kulempar kertas ke wajahnya, yang sudah kuremas-remas menjadi bulatan.
"Wah, bos gak setia banget. Teman sendiri gak didukung, sungguh kejamnya dirimu padaku. Oh ya, namanya Mila bos! pegawai baru dibagian kebersihan," penerangan Rudi padaku.
"Hmm."
"Aaah, cantiknya wajahnya itu. Sungguh dia adalah bidadari yang sudah diturunkan dari langit, untuk menjadi jodohku!" kembali Rudi membayangkan.
"Kulit sudah putih, bibir bawah mungil, hidung mancung, rambut hitamnya yang selalu tergerai, manambah kesan betapa cantiknya dia. Pokoknya dia cantik banget dech bos! Tipe-tipe istri idamanku, hihihihi," Rudi sudah cengar-cengir terus saja membayangkan.
"Maksud kamu, wanita yang ke tiga puluh jadi wanita idaman istri kamu? Lagian pacar yang sudah banyaknya tiga puluh lebih itu, kemana? Heran jadinya aku, sebab ngak ada satupun yang menjadi istri beneran kamu," kutekankan omonganku pada Rudi dengan serius.
"Aah, bos selalu saja membuyarkan impian-impianku, untuk mendapatkan istri yang kuidam-idamkan. Jadi teman itu mendukung sedikit kenapa? Jangan bisanya cuma menciutkan nyaliku saja, untuk mendapatkan calon istri," ujarnya tak suka, sebab diri tak mendukungnya.
"Habisnya kamu selalu pacaran melulu, ngak ada yang diseriusin. Dasar playboy cap kabel! Sukanya php wanita, jangan lama-lama ngerjain hati wanita, nanti malah berbalik pada diri kamu sendiri, contohnya seperti diriku," Kesedihan mengenang kembali istri.
"Itu lain bos, kita beda cerita. Bos sudah menikah jadi dapat karma, sedangkan aku masih bujangan, jadi sah-sah aja gonta-ganti pacar," Ngelesnya berucap.
"Dasar tak punya hati pada perempuan, mau enaknya saja. Pluuuk," Kulempar kertas lagi, kemukanya.
"Ayo kita berangkat meeting sekarang," berucapnya diri ini, sambil melihat jam tangan yang sudah menunjukkan pukul 14.30.