
Rasa rindu pada bayi Ana begitu mengebu, entah perasaan apa yang kurasakan sekarang, rasanya begitu kuat sekali ingin melihat wajah mereka berdua. Terik matahari terasa menyengat sekali, panasnya begitu terasa sampai dalam mobilku, yang mana padahal sudah dihidupkan Ac. Tak henti-hentinya tangan berkipas-kipas, saat mobil terus saja melaju menuju restoran bapak Ana. Hati begitu kesal sekali pada jalanan yang begitu macet, sepertinya didepan sedang ada kecelakaan lalu lintas.
"Aah, berapa lama lagi aku bisa sampai ke sana?" keluhku yang tak sabar untuk segera sampai ketempat Ana.
Mobil begitu merayap-rayap berjalan, dan selama tiga puluh menit akhirnya mobil lepas juga dari macet, sehingga tanpa menunggu lama langsung kutancap gas sekuat-kuatnya, agar secepatnya sampai ke sana.
"Aku merindukan kalian. Semoga kamu berbaik hati untuk menemui bayi itu. Entah perasaan apa ini, Ana! Yang jelas aku ingin mengendong anakmu itu," guman hati.
Perasaan yang tadinya begitu mengebu-gebu ingin cepat sampai, kini menjadi ciut saat mobil sudah terparkir dihalaman restoran. Kini rasanya sudah malu sekali akibat marah dan menghinanya kemarin, sekarang malah berbaik hati ingin menemui, rasanya sungguh aneh sekali tapi nak berkata apa lagi, rasa rinduku pada bayi itu begitu kuat.
Ceklek, pintu mobil sudah ingin kubuka.
Saat kaki ingin menginjakkan tanah, betapa terkejutnya aku disana ada teman Ana yang bernama Edo, yang sibuk sedang mengendong bayi Ana. Dia nampak sumringah bahagia sekali, saat mencoba mengajak bicara pada bayi mungil itu. Dan tak kalah terkejutnya lagi, ternyata Ana menyusul Edo dari belakang, mereka tampak tertawa bahagia sekali antara satu dengan yang lainnya.
"Aah, apakah Ana akan bahagia dengan laki-laki itu?" tanyaku dalam hati.
Hati terasa sesak dan begitu panas. Dada bermonohok sakit sekali melihat kedekatan mereka, yang mana sedang tertawa begitu rianvmgnya, sedangkan aku hanya bisa memasang wajah kecut saat melihat mereka.
Padahal selama ini aku sebelumnya tidak pernah macam ini terhadap Ana, malahan kemarin diri ini berusaha mempersilahkan hubungan mereka. Tapi kenapasekarang aku merasakan hal yang berbeda, yaitu merasa tidak senang dan nyaman atas kedekatan mereka berdua.
"Apakah aku sedang cemburu? Aah tidak ... tidak, itu tidak mungkin. Bukankah selama ini aku membenci Ana, tapi kenapa hati sepertinya sedang merasakan begitu cemburu?" Kekesalanku bertanya pada diri sendiri.
Cemburu adalah tanda cinta, begitulah yang sering orang katakan. Aku tahu perasaaan ini mungkin salah, sudah memaki dan menghinanya, malah kini aku berbalik mencintai Ana.
Jatuh cinta padanya pasti akan sulit dan tak semudah dibayangkan, dan Ana pasti akan menolak dan tak nyaman, atas sikapku yang mulai tertarik dengannya dengan kata lain jatuh cinta.
"Ya Allah, apa yang harus kulakukan? Kenapa aku harus jatuh cinta pada orang yang sedang kubenci? Apakah ikatan hati kami yang sedang terputus, kini Engkau coba menautkannya kembali? Jika itu benar adanya, maka buatkanlah jalan yang Engkau kehendaki, agar kami bisa membina rumah tangga lagi dengan bahagia," Doaku yang sedang galau.
Tanpa rasa malu lagi, aku ingin segera turun dari mobil untuk menemui Ana dan anakku itu. Aku tak peduli lagi atas apa yang akan diucapkan mereka nantinya. Walau dengan caci makian sekalipun, diri ini akan tetap menerima dengan lapang dada, sebab akupun pantas mendapatkan balasan hinaan akibat sikapku yang kemarin-kemarin.
"Hai, putri ayah yang cantik?" sapaku berbasa-basi.
"Mas Adit?" Terkejutnya Ana.
"Maaf menganggu."
"Apa yang ingin kamu lakukan? Kenapa kesini lagi?" ucap Edo bertanya
" Iya, ada apa lagi kamu kesini? Bukankah ada kesepakatan jika kita akan bercerai, dan tak akan ada hubungan lagi diatara kita," ketus Ana berucap.
"Aku hanya ingin berkunjung."
"Kamu ini ya, Mas. Semakin tak waras saja."
Begitu pedas hinaan Ana. Aku hanya bisa berpura-pura tidak dengar.
"Sini, biar ayah gendong kamu!" ucapku mengacuhkan perkataan Ana dan Edo, dengan tangan sudah terulur mencoba mengambil anak Ana.
"Tunggu! Mau ngapain kamu?" cegah Ana sambil mencekal tanganku.
"Ya mau mengendongnya 'lah. Himana sih kamu? Masak mau mengajaknya berjalan 'kan tidak mungkin," ujarku mencoba memecah ketegangan.
"Jangan harap," jawabnya sinis.
"Kenapa tidak boleh? Bukankah aku ini adalah ayah biologisnya. Seharusnya lebih mendekatkan bukan dijauhkan" Mencari seribu alasan. Sekuat hati sambil tersenyum.
"Apa? Anak? Ayah biologis?" ucapnya mendengus kasar.
"Iya anak. Bukankah dia memang anakku," jawabku mantap.
"Ciiih, bukankah kamu kemarin tidak mau mengakui dia sebagai anakmu. Dasar manusia aneh, selalu saja mau enaknya saja. Setelah aku berjuang sedirian dengan penuh rasa sakit dan luka, dengan mudahnya sekarang pakai ngomong anak kamu segala," sahut Ana tak suka.
"Benar itu Ana. Seenak jidatnya saja. Kemarin tidak mau ngakuin sebagai anak, dan sekarang mau mengambilnya dengan mudah. Tidak bisa ... tidak bisa," pembelaan Edo.
"Bukan begitu kawan, aku ingin sekali bertanggung jawab, dan sekarang sudah sadar apa yang telah kulakukan kemarin, jadi izinkan aku menimangnya sebentar saja," responku mencoba menjelaskan.
"Tetap tidak bisa, Mas. Ingat permintaan kamu kemarin. Aku sudah melakukan, jadi jaga sikap kamu yang mulai aneh saja."
"Wah ... wah, setelah menghina dan mencoba menelantarkan Ana istrimu, dan bermain api dibelakanngnya, baru sekarang 'kah kamu sadar. Dihari-hari kemarin kamu kemana? Banyak kelukaan dihati Ana," Edo kini ikut-ikutan marah padaku.
"Bukan begitu bro, berkali-kali sudah dibilangin. Aku melakukan itu semua sebab tak sadar akibat kena penyakit amnesia!" sautku dengan gigi gemerutuk dan melemparkan senyuman kecut ke arah Edo.
"Sudah ... sudah, kalian jangan ribut disini. Malu sama pelanggan bapak, dan Aliya sedang tidur, jadi bisa ngak suara kalian itu dipelanin sedikit," pinta Ana sedikit marah.
"He'eh, dengar itu Edo. Pelan-pelan bicaranya, kamu sih ngajak bicara terus," sautku menimpali, dengan senyum tipis terukir di sudut bibir.
"Ciih, Dasar. Dia yang memulai malah berbalik menyalahkan." saut Edo tak suka padaku.
"Aku mau pergi keluar saja Ana, malas meladeninya."
"Iya pergi sana! Hust ... huuuuss," usirku.
"Dasar orang yang tak berperasaan, aku pergi mau lanjut kerja, bukan menghindari kamu! Tapi sebenarnya malas juga ketemu kamu, dari pada lama-kelamaan disini bikin emosi saja, lebih baik aku kerja dulu, bener gak Ana!" tanyanya pada Ana.
"Bener Edo," saut Ana membenarkan.
Geramku terasa memuncak, saat Ana sudah berani-beraninya membela temannya dari pada diriku.
"Aku pamit dulu, Ana. Bye ... bye," ucapnya berpamitan.
Memuakkan saja kedekatan mereka ini. Tidak ada alasan yang pasti untuk menghajar pria itu.
"Iya ... iya, hati-hati dijalan. Bye ... bye" sahut Ana.
"Awas kalau kamu berbuat macam-macam sama Ana, aku duluan yang akan menghadapimu, untuk segera membuat perhitungan," ancam Edo.
"Oke, pasti aku akan menjaganya dan tak akan berbuat macam-macam. Sudah pergi sana! Huuust ... huss," Kegembiraanku mengusirnya.
"Mas Adit!," pekik Ana dengan mata melotot.
"Hehehee, 'kan sewajarnya kalau dia yang harus pergi," cegegesanku mengaruk kepala yang tak gatal.
"Mas Adit sebenarnya mau nagapain sih datang ke sini? Dan masalah surat perceraian kenapa belum kamu tanda tangani juga?" tanya Ana penuh kehalusan.
"Oh masalah itu. Kamu tenang saja sebab aku masih berpikir, dan kedatanganku ke sini hanya mau memberikan ini!" ucapku dengan tangan terulur memberikan pakaian si kecil, yang mana masih rapi terbungkus peper bag.
"Terima kasih," jawab Ana kecut.
"Maksud mas Adit apa?" tanya Ana lagi.
"Yang mana?" tanyaku binggung.
"Masalah surat perceraian!" penjelasan Ana.
"Ooh itu, entahlah. Tunggu kabar baik dariku, oke!" jawabku dengan melempar senyuman selebarnya.
"Maksudnya apaan sih?" tanyanya yang masih binggung.
"Pokoknya tunggu kabar selanjutnya dariku," ucapku mendekati Ana, berusaha merebut si kecil Aliya dari tangan Ana.
"Pelan-palan, kanapa! Nanti bisa membangunkannya," protes Ana menyuruh hati-hati.
Rasa syukur teruz terucap dalam hati. Untaian kasih sayang pasti akan kucurahkan pada bayi mungil yang sedang mengeliat pelan saat bergantian yang mengendong.
"Iya, aku takkan membangunkannya," timpalku berkata.
Untuk sementara aku tidak mau berdebat dengan Ana, sehingga pertanyaan tentang perceraian kualihkan untuk mengendong anakku. Aku sudah beribu kali berpikir, bahwa kedekatan kami bukanlah tanpa alasan, mungkin ini semua sudah ditakdirkan.
Tatapannya menyiratkan suatu keteduhan sendiri bagi hatiku, sehingga akupun nyaman sekali berada didekatnya. Matanya yang anggun, lembut, serta memikat, selalu saja membuatku terbuai akan menyiratkan ingin banyak bercerita padanya.
Kini diri ini hanya bisa tersenyum-senyum sendiri seperti orang gila, dan selalu saja bertannya pada diri sendiri, sejak kapankah aku benar-benar dekat dan mulai jatuh hati pada wanita disampingku sekarang, sehari tak bertemu serasa sekali ada yang kurang.
Walau bertengkaran kami kemarin terus saja terjadi, dan telah sempat menghancurkan hubungan kami, namun diriku tak akan pantang menyerah begitu saja berusaha mendekatinya.