Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
Lamaran kepada Karin


Baju sudah terlihat rapi, dengan atasan kemeja putih dilapisi oleh jas hitam. Beberapa persiapan sudah disiapkan oleh pihak keluarga, dan aku hanya bisa diam menyaksikannya saja. Keluarga dari jauhpun sudah rela datang kesini, untuk melihat acara pelamaranku pada Karin.



"Apa kamu sudah siap, Nak?" tanya Mama, sambil merapikan kerah baju.


"Alhamdulillah, Chris sudah siap, Ma. Doakan semoga acaranya nanti akan lancar-lancar saja," cakapku tersenyum ramah pada beliau.


"Iya, Nak. Pasti itu."


"Makasih, Ma. Huuufff, rasanya Chris begitu grogi dan sedikit takut-takut ngeri, padahal ini masih acara lamaran bukan sedang resepsi pernikahan, tapi kenapa Chris begitu dibuat keringat dingin begini?" tanyaku tak mengerti.


"Ini wajar terjadi pada setiap orang, sebab ini adalah pengalaman pertama kali yang terjadi. Kamu rileks saja, jangan terlalu gugup sebab bisa mempengaruhi acara nanti. 'Kan ada kami para keluarga yang menemani kamu, jadi tak payah terlalu khawatir berlebihan begitu," cakap Mama mencoba menenangkanku.


"Heeh ... huuuf, semoga saja sampai disana aku akan lebih tenang. Terima kasih pada Mama yang selama ini memberikan dukungan penuh pada Chris," cakapku terharu atas sikap berubah Mama, yang sudah merestui hubungan kami.


"Iya, Nak. Sama-sama."


Semua keluarga sudah nampak siap, dengan senyum mengembang penuh kebahagiaan. Aku yang baru saja keluar dari kamar rias, jadi malu sendiri saat semua mata memandangku takjub.


"Ayo semua, kita akan siap berangkat mengantarkan calon pengantin pria, untuk acara pelamaran ini," ajak ucap Papa pada semua orang.


"Iya, Mas. Kami akan siap sedia menemani Chris, untuk mendapatkan cinta yang halal dan sah dunia akherat," Antusias jawab adek Papa.


"Terima kasih untuk semua orang, yang sudah rela datang jauh-jauh demi menyaksikan dan memeriahkan acara ini," cakapku tak enak hati.


"Iya, Chris. Sama-sama."



Tak dapat kulukis rasa, saat rasa bahagia sebentar lagi datang. Mobilpun sudah beiring-iringan melajukan mesinnya. Mobil yang kutumpangi hanya terdiri dari empat orang, yang satu sebagai sopir dan yang lain hanya aku serta kedua orangtua. Semua eneka hantaran sudah dititipkan pada mobil keluarga. Begitu penasarannya semua keluarga terhadap calon pengantinku, hingga semua yang datang hampir empat puluh orang dari keluarga sendiri.


Tak membutuhkan waktu lama untuk datang, sebab jarak rumah kami lumayan agak dekat. Kini mobil berjalan perlahan-lahan memasuki area gang, dekat rumah orangtua Karin. Tangan mulai diliputi rasa keringat dingin, dengan suhu tubuh mulai panas. Rasa deg-degkan begitu membuncah kuat sekali, hingga diriku akan turun saja terasa berat.


"Ayo, Chris. Kenapa malah melamun!" pinta Mama menyuruh.


"Ee'eh, iya Ma!" jawabku tersadar.


Saat turun semua keluarga sudah berkumpul, mengiringiku dari belakang. Sambutan begitu meriah didepan rumah Karin, yang pastinya juga banyak keluarga dan para tetangga yang antusias ingin melihat acara ini.


Kamu semua telah disambut dengan sopan dan hangat. Saking banyaknya orang sampai tidak muat untuk tamu duduk, hingga yang lain terpaksa duduk diluaran yang sudah ada tendanya. Aku dan keluarga besar sudah masuk rumah, hingga menampakkan kedua orangtua Karin sedang berdiri dengan tenang, saat menyambut kedatangan kami.


Orang yang ditunjuk sebagai wali bicara, kini mulai mengeluarkan suara untuk mengutarakan maksud dan tujuan kami datang kesini.


"Kedatangan keluarga besar kami kesini, untuk menyatukan ikatan yang sah antara nak Chris dan Karin. Apakah pihak orangtua setuju dan merestui tujuan kami datang kesini," cakap wali bicara.


"Gimana nak Karin? Apa kamu mau menikah dengan nak Chris?" tanya juru bicara.


Wajah Karin yang menunduk sebab malu, kini tarangkat sedikit untuk menatap kearahku, hingga netra kami sama-sama sempat terkunci, yang kemudian Karin kembali menundukkan kepalanya.


"Bismillah, saya siap untuk menjalani ikatan sah ini, yaitu menjadi istri Chris," jawab Karin santai tapi masih sama yang malu-malu.


"Alhamdulillah," jawab kompak semua orang.


Rasa gembira yang terliputi, hingga membuat wali bicara langsung berdoa memanjatkan syukur atas acara ini, yang berhasil tanpa ada halangan apapun.


Karin yang nampak cantik dengan balutan kebaya putih bawahan kain batik, begitu membuat dia kian cantik mempesona, hingga netra tak jemu-jemu untuk terus melirik ke arahnya. Walau jarak kami sedang berjauhan, akibat bercekrama pada keluarga masing-masing, namun netra Karin mengeskpresikan ingin membagi kebahagian ini bersamaku.


"Tunggu saja, Karin. Pasti aku akan selalu membahagiakan kamu. Cintaku akan terus bersemi hanya untukmu, jadi tunggulah kebahagiaan kita nanti," guman hati yang masih melirik kearah Karin.


Hidangan begitu banyaknya tersedia dengan masakan khas padang. Akupun yang lapar, tak malu lagi untuk mencoba mencicipi masakan itu. Perlahan-lahan lauk yang lezat sudah kumasukkan dimulut. Acaraku yang sedang makan, seketika buyar saat melihat Naya sedang duduk sendirian dipojok dekat kamar. Nasi yang sempat ingin kumakan, langsung saja kutaruh dan mencoba menghampiri Naya anak Karin.


"Hei cantik, kenapa nih? Kok mukanya ditekuk begitu! Nanti cantiknya hilang lho, kalau terus-menerus cemberut begitu," sapaku pada Naya, yang langsung duduk didekatnya .


"Eh, om Chris. Tidak terjadi apa-apa kok sama Naya," jawabnya nampak sendu.


"Om Chris tahu kalau Naya sekarang sedang berbohong, jadi bolehkah Om tahu apa sebabnya?" tanyaku masih curiga.


"Heeeh. Lihat, Om! Kenapa semua orang tertawa riang, sedangkan Naya tak suka melihat itu. Naya rasanya sedih saja, saat Bunda kini terlihat bahagia dan melupakan Naya," celotehnya sedih.


"Sini ... sini, sayang!" cakapku yang kini bersimpuh duduk menghadapnya.


"Bunda bahagia sebab sebentar lagi akan menikah dengan om Chris. Bukan berarti bunda hari ini begitu senang, namun bisa melupakan Naya yang jadi satu-satunya anak kesayangan Bunda. Bunda akan selalu sayang, Naya. Jadi sekarang jangan sedih lagi, sebab Om mulai sekarang akan menyayangi Naya juga," jawabku membujuk, agar dia tak bersedih lagi.


Namanya juga anak kecil, jadi pikirannya begitu singkat dalam kinerja otaknya sekarang. Rasa kekhawatiran Naya termasuk terlalu berlebihan, dan kurasa itu sangat wajar saja, ketika melihat Karin bisa tertawa riang akibat kebahagiaan, yang kini tak peduli sama anaknya yang sedih sendirian.


"Terima kasih atas kasih sayang yang akan diberikan om Chris, namun Naya sekarang hanya mau Ayah," jawab Naya yang tiba-tiba menangis begitu kencangnya.


Aku yang kaget langsung mengambil tubuhnya, untuk segera kugendong dan menepuk pelan bahunya. Semua orang nampak melihat kearahku, termasuk Karin yang sekarang malah menghampiri kami.


"Ada apa, Chris?" tanyanya yang sudah ingin mengambil alih Naya.


"Tidak tahu, Karin. Tadi dia murung dipojokan sendirian, dan aku berusaha berbicara padanya, namun dia malah menangis sekarang," jelasku.


"Oh, begitu. Ya sudah, maaf ya! Aku akan menenangkan Naya dulu," jawab Karin yang ingin membawa Naya menjauh dari hadapanku sekarang.


"Apa yang sebenarnya terjadi ini? Apakah ini petanda kalau Naya tak menginginkanku sebagai Ayah? Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan? Apa aku harus menyakiti semua orang, biar diriku bisa bahagia? Mengapa rasanya jadi kacau begini, saat ucapan Naya kini mempengaruhi pikiran dan keraguan ini," rancau hati yang binggung.


Gantian aku yang duduk termenung mengantikan Naya, saat kebingungan begitu menghantui. Rasanya sungguh berat sekali atas keputusan yang akan menikah dengan Karin, rasanya hati begitu tertampar atas penuturan Naya barusan, saat hanya Adrianlah yang jadi keinginannya sekarang.