Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
N2=Istriku Yang Hilang>>Kunjungan Mertua


Sudah beberapa hari ini kami telah berpisah tempat, dan dengan terpaksa aku kini menginap dirumah bapak. Beliau tidak bisa berbuat apa-apa lagi, 'toh kalaupun beliau membantu percuma saja, sebab mas Adit sedang hilang ingatan, dan melupakan semua kenangan-kenangan manis tentang kami.


"Kamu jangan capek-capek, Ana!" tegur Bapak saat melihatku sedang mengiris wortel.



"Mana ada Ana capek, Pak! 'kan cuma ngiris-ngiris sayuran saja."


"Bapak tahu, kamu gak akan capek gara-gara cuma mengiris sayuran saja. Tapi maksud bapak pikiran kamu itu, kalau bisa jangan terlalu stres, ya! Sebab nanti bisa-bisa mempengaruhi daya tahan tubuh kamu, dan perkembangan cucu Bapak nanti," Keresahan beliau berucap.


Mungkin beliau sudah khawatir sebab aku sering kali kosong akibat segudang pikiran.


"Iya, Pak. Bapak ngak usah terlalu khawatir, keadaan Ana sekarang benar-benar cukup baik sekali, kok."



"Ya sudah kalau begitu. Bapak akan melayani tamu-tamu yang sedang datang, kamu hati-hati mengiris semua sayurannya" ujar beliau ingin pergi.


"Oke, Ana baik-baik saja kok!" simbatan supaya menenangkan beliau.


"Beneran lho ya!" senyuman manis Bapak terlempar kepadaku.


"Iya."


Benar perkataan Bapak. Walau aku sedang tidak bekerja terlalu kuat memakai kekuatan otot, tapi pikiran yang sudah kacau membuat tubuh kini kian hari kian melemah. Nafsu makanpun kini begitu tak berselera, semuanya serasa pahit dilidah.


"Hai, menantu kesayangan, Mama." Sapaan Mama yang tiba-tiba datang.


Pisau kutinggalkan, dan segera menghampiri beliau yang tengah berjalan ke arahku.


"Mama!" sambutku langsung menyalami tangan punggung beliau.


"Bagaimana kabarmu sekarang, Nak?."


"Alhamdulillah sehat-sehat saja."


"Maafkan Mama ya, baru bisa menjeguk kamu. Mama akhir-akhir ini sangat sibuk di perusahaaan Adit, semenjak dia sedang terkena kecelakaan. Sementara papanya sedang sibuk sama perusahaan sendiri," Penjelasan mertua.


"Beneran menantu Mama baik-baik saja, nih?" tanya seperti tidak percaya.


"Beneran, Mama."


"Syukurlah kalau begitu."


Lengan sudah dielus-elus pelan oleh beliau.


"Maafkan Mama ya sayang, atas semua kelakuan Adit. Mama benar-benar tidak menyangka jika Adit akan setega itu, untuk melakukan pengusiran sama kamu," Ada rasa bersalah mama sehingga muka sekarang memasang kesedihan.


"Mama tidak usah meminta maaf. Mas Adit melakukan itu semua sebab tidak sengaja, 'kan akibat pengaruh hilang ingatannya," jawabku dengan melepaskan pelukan.


"Terima kasih, Ana. Kamu masih saja berbesar hati dan terus bersabar menghadapi anak Mama itu," tambah beliau.


"Iya ma, sama-sama."


Kuajak beliau duduk, agar kami bisa lebih nyaman berbicara.



"Oh iya, bagaimana dengan cucu nenek sekarang? Apa sehat-sehat saja disini?" Mama mertua mendekatkan wajahnya diperutku, seperti sedang ingin mengobrol dengan bayi kukandung.


"Alhamdulillah dia baik, Ma."


"Syukurlah. Mama benar-benar takut dan khawatir sekali sama keadaan kamu. Adit memang sudah keterlaluan mengusir kamu dengan keadaan berbadan dua begini," rasa tak tenang mertua.


"Mama tidak usah khawatir. Mama tahu sendiri Ana adalah wanita kuat, lagi pula ada bapak yang selalu siap siaga melindungi dan merawat Ana," penjelasanku.


Walau aku sedang bersedih dan terluka, aku berusaha tersenyum lebar supaya mertua tidak khawatir terus-menerus, dengan keadaan yang kurasakan sekarang. Sungguh keberuntunganku mempunyai mertua yang sebaik beliau, yang mana selalu memperhatikan keadaan menantunya.



Banyak obrolan yang kami bahas. Mama berkali-kali tidak sengaja menangis. Keresahan beliau sangat akut. Tidak tahu jalan terbaik apa yang harus dilakukan untukku, sementara anaknya tidak mengingat sama sekali atas kebersamaan yang sudah kami lalui.