
Byuuur, Nola menerima ganjaran telah kukerjai, yang tubuhnya sudah basah kuyup oleh air kolam renang. Akupun tertawa puas sekali, akhirnya kekesalanku telah terbayarkan dengan mengerjai Nola.
"Ana?" panggil seseorang, yang sepertinya aku mengenal suara itu.
Badanpun sudah berbalik, dengan mata melihat siapakah orang yang memanggil namaku dari belakang.
"Mati aku ... ya ampun, Mas Adit!" Ketakutanku saat suami sudah berdiri menatap tajam ke arahku.
Sebab tak ingin mas Adit mengetahui penyamaranku, kaki berusaha melenggang pergi untuk kabur.
"Eeeiiith ... mau kemana kamu?" cegahnya.
"Jangan main kabur begitu saja kamu, ayo sekarang ikut!" Suruhnya yang sudah mencekal tanganku, dan berusaha menariknya.
"Maaf anda siapa, ya? Aku tidak mengenal anda!" Kepura-puraanku yang berusaha menghindar.
Seketika acara tarik menarik terhenti.
"Heeeeh ... hhh," Hembusan nafas Mas Adit berat.
"Kamu jangan berpura-pura lagi, Ana!" ucap mas Adit mengelus rambut, yang telah tergerai memanjang.
"Ya ampun kemana rambut palsunya?" Kepanikkanku.
Mata kini sudah melihat ke arah belakang mas Adit, dan ternyata rambut itu telah jatuh dilantai keramik, mungkin diri ini tadi tidak sadar benda itu jatuh, sebab terlalu kuatnya aku tertawa.
"Kenapa? Apa yang kamu lihat?" tanyanya curiga.
"Hhehee," tawaku kecut.
Ruueeek, kumis palsupun secara kuat sudah ditarik mas Adit.
"Aaa ... aaa," Suaraku kesakitan.
Tidak menyangka jika langsung ditarik. Perekatnya bikin sakit saja.
"Aah ... bener-bener apes dan sial banget, dah! Kenapa juga Mas Adit bisa tahu. Aah ... ahhh, sial- sial banget. Pasti dia akan marah besar," guman hati yang sudah ketakutan.
"Ayo cepat, ikut aku sekarang!" bentaknya.
Akupun yang mati kutu tidak bisa bicara, langsung mengikuti langkah suami tanpa melawan ataupun kabur darinya. Wajahnya terlihat bringas ada api kemarahan, tapi diri ini masih bisa tenang-tenang saja, sebab semuanya bisa kujawab. Kalau Mas Adit tidak memancing duluan cari masalah, akupun tak akan melakukan ini semua.
Mobil yang terparkir didepan gedung pesta, sekarang sudah dibuka cepat-cepat oleh Mas Adit.
"Masuk kamu sekarang!" perintahnya tegas.
Dengan pakaian masih seragam pelayan, diri ini menurut saja atas perintahnya. Mobil perlahan-lahan sudah mulai melaju, untuk segera pulang ke rumah. Didalam mobil tidak ada percakapan sama sekali dari mulut kami, dan mata ini hanya menerawang fokus ke arah jalanan.
Rasanya malas sekali ingin berbicara dengan suami. Rasa hati yang gondok ada amarah masih saja membekas merajai hati, walaupun mereka berdua sudah kukerjai.
Tak butuh waktu lama kamipun sudah datang ke rumah apartemen, dan tangan langsung saja membuka pintu mobil, dan segera melangkah pergi meninggalkan Mas Adit yang belum turun dari mobil.
Kling ... teeet ... tet, berulang kali angka lift sudah kutekan kuat-kuat, agar secepatnya tertutup, dikarenakan tak ingin Mas Adit ikut masuk, tapi lift yang lambat sudah kalah cepat dengan langkah suami yang berlarian ingin ikut masuk lift. Mulut ini masih saja diam seribu bahasa, sebab enggan dan malas sekali berbicara padanya.
Mulut hanya diam tak menangapi omongannya.
"Kamu senang dengan semua yang kamu lakukan pada kami tadi?" tanyanya serius lagi.
Akupun lagi ... lagi tak menanggapinya, yang kurasakan sekarang adalah tidak ingin menjawab apapun dari pertanyaannya.
Kling, lif sudah terbuka dan kaki berusaha melangkah masuk rumah, dan ingin cepat masuk ke kamar, tapi tangan sudah dicekal suami.
"Tunggu! Aku belum selesai ngomong sama kamu," ujarnya menyuruh.
"Gak ada yang perlu dijelaskan, jadi aku mau istirahat sekarang. Pusing nih kepala!" jawabku malas.
"Kamu jangan membuat emosiku kian memuncak, jadi dengarkan suamimu ini bicara apa! Semua belum ada kejelasan dari mulut kamu. Kenapa kamu kok bisa mencelakai orang!" ujarnya penuh penekanan.
"Sudahlah, Mas! Tidak ada yang perlu dijelaskan. Kalau Mas ingin tahu kenapa? Tanya saja pada diri kamu sendiri, kenapa aku bisa melakukan itu semua," jawabku tak mau kalah.
"Kamu kian hari kian membantah saja, dan tak patuh lagi pada suami kamu sendiri," responnya yang sudah emosi.
Kami sama-sama menatap tajam dengan emosi masing-masing. Ego kian memuncak. Diantara kami sepertinya tidak mau ada yang mengalah.
"Kenapa? Mas, ngak suka 'kah apa yang kulakukan? Kalau kamu ngak suka acuhkan saja kejadian tadi, dan sekarang biarkan diriku pergi," jawabku membantahnya.
"Diam kamu, iiiihhh!" Kekesalannya menahan amarah.
Tangan yang tergenggam erat cuma bisa terangkat diudara. Sepertinya dia ingin berbuat kasar namun tidak tega.
"Aku tidak ngerti apa yang terjadi sama kamu, yang jelas aku sungguh kecewa atas tingkah kamu dipesta tadi, yang menurutku sudah sangat ketelaluan. Kamu sungguh tega mempermalukan muka kami, dan hampir saja mencelakai kak Nola, yang untung saja api itu tak mengenai kulitnya, ditambah dia bisa berenang. Kalau dia celaka bisa-bisa aku juga yang akan kena imbasnya, karna kamu telah berusaha mencelakai orang," terangnya marah.
"Bela terus ... bela dia, memang dia lebih berarti dan penting, dari pada istrimu ini," jawabku sendu.
"Kamu ngomong apaan sih, hah! Aku bicara masalah dipesta, tapi jawaban kamu sangat lain! Kamu sedang tak gila 'kan? Bisa-bisanya kamu itu sudah membuat ide yang konyol, dan menurutku sangat ekstrim yang bisa menghilangkan nyawa orang, haaahh! Apa kamu sadar atas kesalahan kamu itu?" Lengkingan suaranya yang kian emosi.
Airmata rasanya mau menetes. Baru kali ini dia berani membentak dan berbicara kasar. Rasanya tidak terima jika kau disalahkan disini.
"Aku memang gila dan sudah tak waras, itu semua akibat ulahmu juga. Seharusnya kamu itu berpikir kenapa aku bisa melakukan itu semua. Apakah dibenak kamu itu tak terbesitpun tentang perasaanku? Atau jangan-jangan kamu sudah mulai jatuh hati padanya?" ucapku yang emosi juga.
"Jangan katakan kalau kamu melakukan ini semua, akibat ada rasa cemburu! Aaaah ... Ahaha, aku rasa kamu memang sedang cemburu buta, tapi apakah kamu tak bisa membedakan urusan bisnis dan cinta itu bagaimana, hah! Aku melakukan itu semua lantaran ada bisnis sama dia. Dan betapa bodohnya kamu itu, yang sudah dikuasai oleh rasa cemburu, telah membutakan mata hati kamu untuk mencelakai orang," terangnya kian memuncakkan amarah.
"Terserah apa yang Mas bilang. Yang terpenting aku sudah puas sekali membuat kalian berdua merasakan apa yang sepantasnya kalian dapatkan," tuturku dengan mata sudah berkedut-kedut ingin mengalirkan air.
Braaaaak, kututup pintu kuat-kuat dan segera mengkuncinya dari dalam. Rasanya malas sekali berdebat dengan suami, yang pastinya dia tak akan mau mengalah, karena dia begitu kecewa atas kelakuanku, yang hampir membuat kakak kesayangannya mengalami kecelakaan api dan air kolam.
"Brookk ... brookk ... buka Ana ... buka pintunya ... brok!" perintahnya.
"Kamu jangan main menghindar begitu saja, kamu harus menjelaskan itu semua, aku belum selesai ngomong ... brook ... brook ... buka pintu, sekarang!" perintahnya yang masih sibuk mengebrak pintu.
Telinga sudah kututup kuat-kuat dengan bantal, yang tak ingin mendegar lagi ocehan suami, dan tiba-tiba lelehan airmatapun telah meluncur dari pelupuk mata. Rasanya sungguh kecewa sekali pada suami, karena dia tak menyadari kesalahannya, malah berbalik marah padaku. Memang sepatutnya aku yang tak boleh marah, sebab memang semuanya adalah kesalahanku, tapi sungguh rasa hati yang kecewa, telah menyulutkan kobaran api amarah yang telah terpancing.