
Kenangan indah saat bersama
Melewati masa-masa indah.
Kau adalah wanita yang selalu menentramkan hatiku
Tiada kata yang indah selain menyayangi.
Tak sanggup aku memikirkan lagi
Habis tenaga ini untuk mencoba meraihmu.
Kau seluruh cinta dan ragaku
Tapi sangat susah untuk mengapai itu.
Seandainya engkau dapat kumiliki
Laut dalampun akan kusembrangi.
Akan kupersembahkan mutiara indah
Untuk menghiasi kecantikanmu.
Seandainya kamu terima cintaku
Pasti aku berusaha terbang ke langit
Untuk memetik bintang nan indah disana
Kuberikan padamu sebagai pengingat.
Cinta ini bukan hanyalah permainan
Bukan untuk dibuang kasih sayang ini.
Cinta ini tulus dalam lubuk hati
Dengan ketulusan sepenuh dada.
Namun apalah daya ini
Kau tidak bisa melupakan dirinya.
Sehingga membuatku gila
Saat hati terus saja terpenjara oleh cintamu.
Inilah cerita tentang hati yg terluka, ingin memiliki Karin namun dia lebih sakit tak bisa melupakan Adrian sama sekali.
Yang terasa hanya tentang kecewa, saat terus bertahan dalam sebuah delima. Ingin sekali bahagia bersamanya tapi sakitlah yang akhirnya terus diterima. Begitu lelah karena telah kulakukan segalanya, tetapi dia masih tidak bisa memautkan hatinya untukku.
Pilihan yang membingungkan saat ingin pergi, namun jika bertahan pasti akan bertambah sakit. Kisah ini sangatlah pahit.
Harus sampai kapan aku menerima perasaan yang selalu terluka. Dunia ini terasa sangatlah sempit, ingin pergi sejauh mungkin tak bisa karena diriku masih terlalu mencintainya.
"Oh, Tuhan. Apa yang harus kulakukan pada wanita yang kucintai saat ini? Dia masih tidak bisa melupakan Adrian sepenuhnya. Apa aku 'lah yang harus mengalah lagi agar dia terus bahagia. Dia begitu sedih dan aku tidak tega melihatnya seperti itu terus," guman hati saat bertandang ke rumah Karin.
Nampak Karin duduk santai diteras rumah, sambil memandangi bunga yang sedang bermekaran dihalaman. Tatapannya lagi-lagi kacau dan kosong. Rasa sedihnya itu begitu menusuk jantungku juga. Sampai kapan harus melihat keadaannya itu, mungkin hanya waktulah yang akan bisa menjawab.
"Hei, Karin!" sapaku.
"Eeh kamu, Chris."
"Mari duduk sini!" Tangannya sudah menepuk pelan ubin keramik, agar aku segera duduk berada bersebelahan dengannya.
"Iya."
Badan langsung saja duduk. Wajah yang sedih itu telah disembunyikan dibalik senyuman saat terlempar ke arahku. Balasan senyuman kecutpun balik kuberikan.
"Tumben kamu datang ke sini sore-sore. Ada apa?" tanyanya.
"Aku hanya ingin berkunjung melihat keadaan kamu."
"Terima kasih kamu masih memperdulikanku."
"Bagaimana dengan pekerjaan ditoko, apakah baik-baik saja dengan itu?" imbuh berkata.
"Alhamdulillah, baik dan aman."
"Baguslah kalau begitu."
"Aku datang kesini ada maksud dan tujuan tertentu, yang ingin kubicarakan padamu," jelas mulut ini.
"Benarkah? Apakah itu? Kelihatannya sangat serius sekali," tanya bertubi-tubi.
"Tidak tahu apakah ini akan baik untuk kita, atau malah akan membuat rasa hati kian sedih," Pilunya ucapan.
"Maksud kamu apa, Chris?" Kebingungan Karin.
Bola mata Karin sudah melihat ke arah wajahku dengan tatapan serius. Lingkaran mata kami sudah sama-sama saling mengunci. Netra indahnya mengisyaratkan ada bejuta pertanyaan, yang ingin segera dia ketahui.
"Maafkan aku. Mungkin ini berat tapi jalan terbagus untuk kita, menurutku saat ini sih."
"Maksudnya?."
"Aku akan pergi ke luar negeri."
"Apa?" Kekagetannya.
"Iya, Karin. Maafkan aku jika tidak bisa berada disisimu lagi."
"Kenapa harus keluar negeri. Untuk apa kamu kesana? Bukankah disinilah kehidupanmu sekarang," bantahnya tak percaya.
"Ada kerjaan dan bisnis disana yang harus kukerjakan. Mungkin inilah jalan terbaik untuk kita berdua. Terdengar mustahil atas keadaan kita, tapi ini adalah jalan satu-satunya agar kau dan aku bahagia," Suara mulai serak-serak basah.
"Maakan aku, Chris. Apa ini ada kaitannya kalau aku tidak bisa menerima cintamu untuk saat ini," Karin mulai tak enak hati sambil kepala tertunduk.
Isak tangis mulai terdengar darinya. Giliran diriku merasa tak enak hati.
"Bukan ... bukan itu, Karin. Ini murni kalau aku ada kerjaan disana. Kalaupun sudah selesai pasti akan kembali datang kesini," ucapan berbohong agar Karin tidak menyalahkan dirinya.
"Tapi sama saja, Chris. Kamu akan jauh dariku, saat hanya kaulah yang aku butuhkan sekarang. Apakah tidak bisa dibatalkan rencana kamu itu?."
"Maaf, tidak bisa."
Dagunya sudah kuangkat agar sejajar dengan wajahku. Bulir-bulir airmata telah kuhapus dengan jari jempol secara lembut. Senyuman manis namun sesak didada telah kulempar untuknya.
"Yakinlah kalau kamu akan baik-baik saja tanpa diriku."
Tatapan sendu mulai terpancar untuknya.
"Banyak orang yang menyayangi dan pastinya hidupmu akan baik-baik saja. Kamu mulailah belajar untuk melupakan kenangan bersama Adrian, sebab selama aku tinggal nanti tidak akan ada lagi yang bisa membantu dan menghiburmu lagi. Hanya dirimu yang bisa merubah semaunya," Pesan yang mungkin terakhir akan bertemu.
"Maafkan aku, Chris. Selalu menyakiti dan membuat hatimu kecewa, bahkan sudah memanfaatkanmu untuk menjadi pelipur lara ini," cakapnya tak enak hati.
"Shhhuuuut," Jari telunjuk sudah tertempel dimulutnya yang mungil.
"Jangan katakan itu, Karin. Aku ikhlas berada disisimu yaitu menjaga dengan sepenuh hati. Tidak usah merasa bersalah begitu. Kita ini adalah sahabat sejati yang harus saling membantu satu sama lainnya," ucapan berusaha menenangkannya.
"Terima kasih, Chris."
Kesedihannya terasa mendalam sekali. Tanpa ragu dia langsung memeluk tubuh ini. Dekapannya terasa hangat tidak ingin terpisah.
"Bila kau rindu padaku cukup mengenangku. Jika kau ingin bertemu sebutlah nama ini berkali-kali agar kamu lebih tenang. Hari-hari berikutnya kita tidak akan bisa memeluk seperti ini lagi," ucapan yang terakhir kalinya bersama dia.
Isakkan kian kuat. Tidak tega tapi harus terjadi. Akupun tidak ingin terus terpenjara dalam kenangan bersama Karin. Terlalu parah untuk terus menahan sakit. Lebih baik pergi biar dia bisa sadar dan lebih bahagia lagi menjalani hidup.
"Maafkan aku, Karin. Mungkin inilah jalan satu-satunya agar aku bisa lepas untuk tidak mencintaimu lagi."
"Engkau terlalu berharga untuk kusakiti. Emosiku kapan saja bisa meledak dan aku tidak mau kamu kena imbasnya, sebab rasa ini sudah terlalu dalam untuk memilihmu, tapi apalah daya seakan-akan kau anggap tidak pernah ada disisimu. Semoga kamu bahagia dan tidak lagi memikirkan orang yang sudah tiada itu," guman hati yang tidak tega sambil terus memeluk tubuh kurusnya.
Perpisahan telah terjadi jua. Berat ingin melepaskan, namun demi kebaikan kami berdua harus menahan sesak ini.
Dalam hatinya terus saja ada nama Adrian, dan itu tidak mungkin untuk memaksa dia untuk beralih kepadaku. Persahabatan ini tidak mungkin akan putus begitu saja, hanya gara-gara masalah sepele tidak terima akibat cinta ditolak.
Kenangan manis kami biarlah tersimpan dalam memory pikiran masing-masing. Sekarang melupakan adalah sebuah jalan pintas.
Tangannya yang selalu kugenggam kini lepas sudah. Raut wajah Karin yang nampak indah dipandang, kini hanya bisa mengenang saja. Suara canda tawanya hanya bisa terdengar lagi lewat hembusan angin. Aroma khas tubuh tak lagi dapat kuhirup, namun hanya berkhayalah bisa mengembalikan bau itu.