Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
Pertemuan dengan bocah imut


Cukup lelah sekali aku harus mencari, namun kesabaran atas rasa ingin menemukan tetap harus terjaga, agar bisa bertemu dia yang selama ini kurindukan. Kaki kini perlahan-lahan berjalan menyusuri jalan, untuk merileks 'kan pikiran dan hati yang terus saja kusut. Semburat rasa jenuh akan penantian, sungguh membuat rasa hati begitu muak dan lelah tak bisa menemukannya. Netra terus saja menyusuri keindahan alam, dengan jalanan yang sudah banyak kendaraan motor yang melaju disepanjang gang kecil.



Kaki yang sudah mulai pegal, seketika berhenti disebuah bangunan yang sudah terdengar ramai anak kecil sedang belajar dalam menuntut ilmu. Ya, aku sekarang berdiri tepat di TK (Bunda kasih), saat nampak anak-anak kecil sedang memakai kaos olahraga untuk melakukan pemanasan melenturkan tubuh. Aku yang melihat keceriaan mereka sungguh menghilangkan rasa jenuh dan lelahku sejenak, saat menatap seksama canda tawa ceria mereka saling berbahagia.


"Andaikan aku dapat menemukan kamu, Karin? Mungkin anak kita akan sebesar murid-murid Tk itu. Huuuff, sayangnya itu hanya mimpi dan angan-anganku saja, untuk bisa menyentuh dan membelai wajah keimutan anak yang sempat kamu kandung," guman hati yang mengingat kembali dia yang kurindukan.


Netra terus mengawasi tingkah polah mereka, dengan posisi tubuh sedang bersandar pada tembok pagar gerbang sekolah yang sedikit terbuka. Terlihat guru sudah selesai mengajar pelajaran olahraga, dan para guru itu sudah mulai masuk semua ke dalam kelas. Sedangkan murid-murid yang baru selesai menerima pelajaran, kini dibiarkan bermain sesuka hati dengan beberapa alat permainan yang disediakan dari sekolah.



Aku yang sedang menatap seksama mereka, tiba-tiba penglihatan telah pecah sebab fokus pada salah satu murid perempuan, yang kini keluar dari gerbang sekolah yang terbuka sedikit. Dia berlarian kecil yang segera ingin menyebrang jalan, saat bunyi musik penjual es krim telah hampir sampai didekat depan sekolah.


"Kamu memang tak sabar untuk menunggu penjual itu datang kesini, anak manis. Hingga tanpa menunggu lagi kamu sudah berani menyebrang sendirian untuk membeli," guman hati yang merasa heran melihat anak kecil berwajah manis dan imut itu, sedang tergesa-gesa ingin membeli es krim.


Nampak bocah perempuan imut itu, dengan pintarnya membeli memakai uang pecahan lima ribuan, yang baru saja dia sodorkan pada penjual itu. Tak berselang lama dia selesai juga membeli, membuka dan langsung memakan, hingga mulutnya kini terlihat sudah belepotan oleh es krim cokelat. Tapi tiba-tiba aku dikejutkan oleh sebuah motor yang berlainan arah tengah ngebut ingin menabrak gadis manis itu.


"Hei kamu, awas ... awas ada motor," teriakku memperingatkan.


Namun karena anak kecil itu tengah asik dengan es creamnya, sampai tak dengar lagi atas teriakkanku. Kerena tak ingin terjadi sesuatu dengan anak itu, dengan sekuat tenaga diriku langsung berlari secepat kilat mencoba menyelamatkan.


"Awaaaas, minggir!" teriakku sekencang-kencangnya.


Weeeeeees, sebuah motor dengan melesatnya telah melaju dengan kecepatan tinggi, tanpa melihat ada korban yang siap dia tabrak apa tidak.


Bhuuuuugh, dengan sigap aku menangkap tubuh anak itu, dan kini telah berguling-guling terbentur diaspal jalanan, tanpa memikirkan lagi tubuh yang bakalan kotor.


Mungkin karena terkejut atas apa yang barusan terjadi, membuat bocah manis ini tiba-tiba menangis sekuat-kuatnya, hingga semua orang dan para guru kini berhamburan ingin mendekati kami.


"Mas ... mas, kamu ngak pa-pa?" tanya Bapak penjual es krim, yang sudah mendekatiku dan berusaha menolong.


Serta merta diri ini belum bisa menjawab, saat panik menghampiriku juga, yaitu ketika tubuh masih sibuk memeluk erat bocah yang masih menangis sekencang-kencangnya.


Guru yang datang, salah satu dari mereka langsung tanggap untuk mengendong bocah itu, mungkin dengan maksud mau menenangkannya.


"Mas ngak pa-pa, 'kan?" tanya salah satu Ibu-ibu yang ikut berkerumunan.


"Saya ngak pa-pa, bu!" jawabku santai.


"Aaaa ... awww," Suaraku kesakitan saat merasakan siku kini telah terluka.


"Kamu sepertinya terluka parah, lihat! Siku sudah banyak sekali mengeluarkan darah, mungkin akibat benturan keras diaspal tadi," ucap salah satu guru.


"Iya, mas. Mungkin kamu terluka akibat membentur aspal tadi, karena menolong murid dari sekolahan ini," simbatan jawaban Ibu-ibu yang lain.


"Benar-benar kurang ajar si pengendara montor tadi, masak tidak lihat apa? Bahwa ini adalah sekolahan yang banyak khusus anak-anak kecil. Heeuuh, bikin kesal saja, kenapa dia tadi bisa melaju kencang sekali berkendara? Sekarang pakai kabur segala, tak ada rasa tanggung jawab pulak," Ocehan salah satu warga.


"Sudah ... sudah, biarkan saja pengendara itu kabur, 'toh sekarang dia tak disini lagi untuk dimintai pertanggung jawaban. Sekarang masnya ikut kami masuk ke sekolah saja, untuk mendapatkan perawatan luka yang kelihatan parah itu, ayo mas!" tawar salah satu guru.


"Iya, bu!" jawab kepasrahanku saat telapak tangan terus saja mendekap luka yang sudah menganga sakit.


Akhirnya aku nurut saja dimana guru mengiringku ke tempat untuk mengobati.


Semua orang kelihatannya sudah bubar, saat mengetahui keadaanku dan bocah itu hanya ada luka kecil. Karena terlalu syok, membuat bocah itu terus saja menangis tanpa diam, hingga membuat diri ini trenyuh ingin menenangkannya juga.


"Sini ... sini, bu guru. Biar saya saja yang mengendongnya, siapa tahu dia nanti akan diam," pintaku untuk mengambil alih bocah itu, saat kaki masih sibuk berjalan mengiring dari belakang.


Entah mengapa, tiba-tiba bocah yang kugendong sekarang diam seketika. Tangan yang terlukapun kutahan sekuat tenaga atas rasa sakitnya, saat sibuk mengendong tubuh si bocah yang terasa berat sekali tubuhnya.


"Terima kasih," jawabku yang kini duduk dibangku terbuat dari kayu.


"Aya sini ... sini, sayang. Om, mau mengobati lukanya. Biar ibu saja yang mengendong kamu, 'kan kasihan jika tangan omnya yang berdarah kayak gitu tidak segera diobati," ucap bu guru mencoba membujuk, agar anak kecil yang kuselamatkan mau beralih digendong.


Dengan kuat tangan mungilnya semakin mengeratkan pelukan dileherku, hingga terasa sekali membuat diri ini seakan-akan mulai tercekik. Si bocah terlihat begitu mengelengkan kepala kecil, yang nampak seperti menolak atas permintaan gurunya.


"Maafkan dia ya, mas. Saya juga heran sama dia hari ini, biasanya dia yang paling aktif, tidak nakal dan pintar diantara teman-temannya, tapi aneh sekali dia hari ini nampak manja sama masnya yang padahal baru saja ketemu," ucap keheranan sang guru.


"Biarkan saja, bu. Mungkin dia terlalu kaget atas kejadian tadi, jadi dia ingin menenangkan diri bermanja ria sama saya," jawabku pasrah.


"Ya sudah, kalau begitu. Saya tinggal dulu ambil minuman untuk masnya, agar bisa meredakan rasa syok atas kejadian tadi," ujar bu guru berusaha pamit.


"Iya, bu. Tidak usah repot-repot, saya baik-baik saja, kok!" jawabku tak enak hati.


"Ngak pa-pa, mas. Hanya air saja. Ya sudah, saya tinggal pergi dulu," pamit bu guru.


"Iya, bu!" jawabku menganggukkan kepala pelan.


Setelah kepergian guru, kini aku berusaha mengendorkan tangan si bocah manis yang kalau tak salah dengar namanya tadi Aya.


"Kamu ngak pa-pa 'kan, sayang?" tanyaku padanya yang masih berusaha meredakan tangisan, saat masih sempat sesegukan parah.


"Iya, om. Aya baik-baik saja," jawab Aya santai saat tangan mungil menghapus airmatanya sendiri.


"Baguslah kalau baik-baik saja. Kamu tidak boleh menangis, 'kan anak manis dan paling pintar disini, masak harus cengeng begini," bujukku biar dia tak menangis lagi.


"Iya, om. Maafkan Aya, yang sudah membuat tangan om terluka. Gara-gara es krim tadi, om ganteng hampir celaka," celotehnya menyesal yang mulai sendu menangis lagi, mungkin ada rasa penyesalan terhadapnya.


"Ngak pa-pa, anak manis. Jadi kamu tadi itu tidak berhenti menangis, akibat telah menyesal dan takut jika om marah akibat luka ini?" tebakku bertanya.


Si manis Aya hanya mengangguk pelan, sambil terus mengusap lelehan airmatanya.


"Sudah ... sudah, om ngak pa-pa kok. Jangan nangis lagi. Lain kali hati-hati dan perlahan-lahan saja jika mau menyebrang. Serta tak lupa lihat kanan kiri ada kendaraan apa tidak, ok!" jelasku menasehati.


"Iya, om."


"Bagus, anak pintar."


"Tapi Aya sedih, sebab es krim sudah jatuh dan tadi baru setengah Aya memakannya," keluhnya mulai sendu lagi.


"Kamu jangan sedih lagi, sebab nanti om akan belikan yang banyak dan enak untuk kamu," ucapku menghiburnya.


"Benarkah itu? Wah, hore ... hore, terima kasih, om. Cuuup, janji ya, om!" Dengan hatinya yang gembira, tiba-tiba si Aya yang comel mendaratkan kecupan sayang dipipiku.


"Iya, sama-sama. Om akan tepati janji. Tapi kamu juga harus janji juga, jangan sedih lagi dan menangis," cakapku memperingatkan.


"Pasti dong, om. 'Kan Aya anak baik dan pintar," jawabnya memuji diri sendiri.


"Baguslah kalau kamu paham," imbuh ucapku sambil membelai pelan rambutnya.


Namanya juga anak kecil, kejadian yang hampir mencelakainya seketika dilupakan, saat hanya es krim 'lah yang dipikirkan.


Rasanya hati begitu damai sekali, saat bersama dan banyak ngobrol sama si Aya. Walau kadang celotehannya tak jelas dan sedikit kemana-mana atas penjelasan, tapi hati begitu terasa tentram dan senang sekali.


"Kenapa hatiku seakan-akan begitu membuncah gembira sekali saat bersama Aya tadi. Apakah ini yang dinamakan kerinduan, jika saja anak yang dikandung Karin kemarin bisa bersamaku. Oh Tuhan, pertemukanlah segera kami jika mereka masih hidup, biar aku bisa memeluk erat mereka dengan penuh kasih sayang," rancau hati gundah saat sudah duduk termenung didalam mobil, yang berhenti terparkir dipinggir jalan.