
Setelah kejadian kecebur kolam, kini aku berusaha cepat-cepat untuk pulang ke apartemen, yang mana Ana sudah kelihatan mengigil kedinginan. Rudi terpaksa kusuruh pulang sendirian dengan menaiki taxi. Walau sempat ada penolakan sebab masih berdandan ala wanita, akhirnya dia mau mengalah juga saat tahu kondisi Ana yang kacau.
"Kamu gak pa-pa, Ana?" tanyaku khawatir.
"Aku gak pa-pa, Mas."
"Maafkan aku, telah terlambat menolongmu tadi," ucapan sesal.
"Aku baik-baik saja kok, Mas."
Ana nampak terus saja mendekap tubuhnya sendiri.
Sheeet, secepatnya mobil berhenti, saat melewati toko pakaian.
"Tunggu disini! Ada yang ingin kubeli."
"Heeem."
Tak butuh waktu yang lama untuk seorang Adit membeli sebuah pakaian.
"Pakailah ini! Gantilah baju, pasti kamu sudah kedinginan," suruhku.
"Terima kasih, Mas."
Hanya seyuman manis keberikan padanya.
"Sama-sama."
Pintu mobil kututup rapat, agar Ana bisa leluasa berganti pakaian didalamnya.
Wajahnya yang sudah tertidur lelap dalam mobil, seakan-akan tak jemu-jemunya diriku memandang wajah ayu itu.
"Ana ... Ana. Bangunlah, Ana!" panggilku saat ingin turun dari mobil.
"Eeh ... eh, iya, Mas! Ternyata kita sudah sampai!" ujarnya dengan mengerjapkan mata.
"Iya, kita sudah sampai."
"Kok mas Adit mengantarkan aku pulang ke sini?" tanyanya dalam kebingungan.
"Aku tidak mau mengantar kamu pulang ke rumah, yang masih dalam keadaan kacau begini, takutnya bapak nanti akan khawatir," penjelasanku.
"Baiklah Mas, kalau menurut kamu itu baik."
Tit ... tit ... tit, suara kode pin rumah kutekan.
Ceklek, pintu kubuka.
Jebret, suara pintu tertutup kasar.
Bruuuk, suara tubuhku menubruk tubuh Ana dengan memeluknya dari belakang.
"Maaf Ana. Maafkan aku yang telah menyakitimu. Diri ini benar-benar ketakutan sekali waktu kamu tercebur di kolam tadi, diriku sungguh takkan bisa hidup tampamu jika kamu tak berada disisiku," ucapan dengan lelehan air, yang sudah berhasil membasahi sudut pelupuk mata.
"Iya, Mas! Sudah ... sudah, Aku sudah memaafkan kamu kok," jawabnya.
Kini Ana sudah membalikkan badan, dan tangannya kini telah mengusap lembut pipiku untuk menghapus airmata.
"Kenapa Mas Adit jadi cengeng begini, sih?" ucapnya berusaha memecah kesedihan.
"Aku cenggeng begini demi kamu, tahu!" jawabku dengan sedikit teriak-teriak akibat dikatain.
"Iya ... iya, tidak usah ngegas gitu kali! Mas Adit itu pria baik, tampan, cool, ngak cengeng, menawan, perfeck, pokoknya the bestlah," pujian Ana.
"Hehehe, benarkah itu?" cegegesanku.
"Iya, Mas. Masak ngak percaya sekali dengan omonganku," ucapnya dengan memasang wajah cemberut.
"Iya ... iya, Anaku sayang. Cuuup," sebuah ciuman dipipi kudaratkan padanya.
"Iiih, maunya."
Duh, betapa senangnya jika Ana sekarang merespon baik atas sikapku. Tidak seperti kemarin-kemarin yang nampak ogah dan susah untuk didekati.
Kuantar dia sampai dalam kamar. Tubuhnya langsung kuberikan selimut agar segera menghangatkan tubuh. Sebelum pergi kutatap nyelanang. Rasanya tidak tega saja membiarkan dia berbaring sendirian.
Di dalam kamar tidur sendirian, aku sedang memikirkan sesuatu untuk memberi kejutan padanya. Badan sudah berguling ke sana sini, tapi mata enggan sekali untuk terpejam, akibat tak sabarnya diri ini menunggu hari pagi, yang akan membuat Ana benar-benar kembali sayang padaku.
"Ahh ... aaah, iiihhh" Rambut sudah kuacak-acak.
"Susah sekali mau tidur saja, pasti ini gara-gara terbayang kejutan besok. Nanti suasana harus kubuat seromantis mungkin, untuk memberi yang kejutan special, dan semuanya tak boleh disia-siakan lagi. Inilah kesempatan untuk mendapatkannya lagi dan semua harus terwujud," guman dalam hati berbicara sendiri.