
Panas hati bikin kelakuan menganas. Tidak peduli jika yang kusiksa bakalan meringkuk kesakitan. Bagiku rasa sakit harus dibalas kesakitan juga. Susah untuk menjatuhkan dan menjauhkan Ana, sehingga jalan pintas dengan menyiksa tubuhnya maka akan terpuaskan.
Sekarang langkah kaki sudah masuk ke dalam kamar, untuk segera berdandan yang cantik. Tak sabarnya diriku menginginkan kekasih hati beralih memandangku saja, akibat kesal kemarin-kemarin yang gagal sempat menolakku. Karena sudah beberapa minggu tak bertemu, sehingga hari ini aku harus membuatnya tertarik dan terpana, biar hatinya kian luluh dan tertambat hanya padaku.
Gaun merah diatas lutut kini sudah membalut tubuhku, dan betapa anggunnya diri ini sekarang, yang ditambah lagi oleh wajah yang sudah kupoles tipis-tipis dengan make up, sehingga menambah aura kecantikanku keluar. Tubuh sudah terpantul di kaca, dan berkali-kali kubolak balik ke kiri dan kanan bertanya pada diri sendiri apakah aku sudah cantik apa belum?.
"Ternyata kamu cantik juga, Salwa! Tak disangka ternyata Aditlah yang bodoh, dengan matanya yang telah buta memilih wanita br*ngs*k itu!" gumanku dalam hati.
"Kali ini aku tidak mau kau lepas dariku. Semoga dengan hilangnya Ana kau akan mengalihkan pandagan hanya untukku seorang," Dengan percaya diri bisa mendapatkan Adit.
Banyak pria yang sebenarnya terpikat atas kecantikannku, tapi tetap saja tidak ada yang srek dihati. Banyak yang kutolak mentah-mentah. Mereka semua nampak bodoh hanya ingin harta dan wajahku saja, beda dengan Adit yang dulu rela berkorban apapun hanya untuk mencintaiku seorang, termasuk rela menyelingkuhi istrinya sendiri. Setelah lama terpisah, hanya bisa meruntukki diri sendiri sebab melepaskan yang tersayang. Kini semua hanya ada penyesalan.
Pikatan terus gencar kulakukan. Dulu mudah sekali, sekarang begitu susah makanya apapun cara akan terlakukan demi dia kembali. Yakin sekali bahwa didalam dasar hati Adit masih ada seberkas kenangan percintaan kami. Menaklukkan dengan cara licik adalah jalan utama. Penolakannya bikin sakit hati saja, maka dari itu terluapkan pada istrinya.
Mobil sudah terparkir rapi didepan restoran bapak Ana. Disini aku akan berpura-pura mampir makan, sebab tak mau ada yang curiga atas kedatanganku yang tiba-tiba. Diri ini sengaja datang ke restoran, sebab Adit pasti sedang binggung mencari Ana yang sudah dua hari kuculik.
"Hai Aliya yang cantik!" kepura-puraanku menyapa, yang mana anak Adit sedang digendong neneknya.
"Salwa? Kamu."
"Hmm, ada apa?"
"Mau ngapain kamu disini?" ketus mama Adit menyambutku.
"Tante, ngak usah ketus begitu, kenapa! Kedatanganku ke sini cuma mau makan, dan bersilahturahmi pada Ana. Lagian aku sama Ana, dan Adit sudah berteman dengan baik. Jadi tidak usah terlalu berburuk sangka dulu, iya 'kan Adit?" Penjelasanku dengan berbalik menjawab secara ketus.
"Berteman? Dengan Ana? Apa ngak salah itu!" ucapnya mama Adit lagi, yang sedang tak percaya.
"Dih, dibilangin tidak percaya. Ya sudahlah, malas ngomong sama orang yang tidak percaya.
"Sudah ... sudah, Ma! Biarkan Salwa disini. Mungkin benar yang dia katakan, niatannya memang sedang berkunjung. Dan yang terpenting sekarang adalah kita harus memikirkan Ana, dimana keberadaannya sekarang?" Perkataan Adit yang sudah membelaku.
"Wow, kamu beneran sedang membelaku, Adit? Asyik, tidak sia-sia aku berdandan dan berkunjung ke sini. Mungkinkah ini awal aku akan mendapatkan kamu," guman hati yang gembira.
Mencoba berbasa-basi dan bergabung ikut urusan mereka.
"Memang ada apa dengan, Ana? Dan tumben-tumbennya kalian berkumpul semua begini?" Kepura-puraanku bertanya.
"Kami semua sedang binggung, sebab sudah dua hari Ana telah menghilang, dan sampai sekarang tidak tahu keberadaannya," saut Bapak Ana sedih.
"Ya ampun, astaga. Malang sekali nasibnya," sahutku yang pura-pura tak mengetahuinya dengan wajah kupalingkan ke kanan, akibat tak tahan menahan senyum.
"Kenapa Salwa? Sepertinya kamu itu kok tidak ada rasa bersedih, kelihatannya seperti tersenyum begitu," Kecurigaan Mama Adit.
Berusaha menetralkan ekspresi. Jangan sampai ada gelagat yang mencurigakan dari bahasa tubuhku baik wajah maupun yang lainnya.
"Gak kok tante, aku memalingkan muka sebab sedang mau bersin saja," alasan kobohoganku.
"Hmm, mungkin benar."
Mama Adit seperti mulai curiga, namun untuk kali ini masih belum ketahuan.
"Aku benar-benar turut bersedih sekali terhadap keadaan Aliya sekarang, yang sudah dua hari tidak bertemu dengan ibunya," Kepura-puraanku yang sudah menangis tanpa mengalirkan airmata.
Melangkah mendekati calon mertua yang suka ketus dan jahat. Dia baik orangnya, tapi ketika ketahuan Adit masih berpacaran denganku saat sudah menikah, beliau mulai banyak protes dan tidak suka. Dulu waktu kami masih pacaran, beliau selalu memanjakan diriku dan dianggap sebagai anak sendiri. Selalu shopping, liburan, bahkan makan di restoran bersama. Sampai orang yang lihat kadang iri, kok bisa belum ada status yang pasti kami berdua selalu kompak.
"Aduh kasian sekali kamu, sayang!" imbuhku berucap, sambil mentoel pipi anak Ana yang pipinya chubby.
"Sini biar papa gendong," ujar Adit yang berusaha merebut bayi itu dari gendongan ibunya.
Sungguh bayi yang lucu. Tidak ada gerakan aktif dan tidak rewel walau gendongan sudah beda orang.
"Kamu yang sabar ya, Adit! Aku yakin pasti Ana akan segera ditemukan," Perkataanku yang berusaha menghibur.
"Terima kasih ya, Salwa! Kamu sekarang sudah berubah drastis, menjadi lebih baik hati dan peduli. Terima kasih, ya!" Puji Adit yang membuat hatiku senang bukan kepalang.
"Yess ... yes, ternyata Adit sekarang mulai mempercayaiku. Satu langkah rencana telah berhasil lagi. Tapi kok, terdengar memuakkan harus berdrama memuji yang berkaitan dengan Ana," kegembiraanku dalam hati yang bersorak ria kegirangan.
Kesel sih, tapi ngak pa-pa juga. Mungkin untuk saat ini harus terus memuji tentang istrinya yang sok cantik itu.
"Oh ya, kamu kemarin-kemarin ada ketemu sama Ana gak, Salwa?" tanya Mama Adit yang sudah mimijit pelipisnya, mungkin sudah merasakan pusing.
"Ngak ada, Tante. Kemarin aku tidak ada keluar kemana-mana, cuma seharian penuh dirumah saja." Kebohonganku memjawab.
"Ooh, ya sudah."
Semua orang sudah dibuat binggung dan pusing kepala, akibat mencari keberadaan Ana. Sementara diriku hanya menatap penuh kebahagiaan dan biasa-biasa saja, saat semua orang berusaha sibuk menelpon ke sana-sini, serta tak lupa mereka sampai menghubungi pihak kepolisian juga. Sikapku memang kubuat sewajarnya saat bersama mereka, sebab tidak mau ada yang curiga.