Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
Pemakaman telah berakhir


Bunga kamboja putih telah berguguran jatuh diatas semua pemakaman. Satu persatu orang yang hadir mengantarkan jenazah Adrian sekarang sudah pulang. Kini hanya ada diriku dan pihak keluarga Adrian. Berkali-kali kesedihan tak bisa hilang dari wajah mereka.



Pelukan demi pelukan tak luput terus terjadi, untuk saling menguatkan diantara mereka. Karin sudah terduduk didepan gundukan tanah yang masih memerahkan tanahnya. Wajah dia yang berantakan tidak lepas menitikkan airmata terus. Tangannya terus saja membelai lembut tanah basah, yang sudah banyak bertaburan bunga.


"Ya Allah, apa yang harus kulakukan pada Karin? Aku tidak tega melihatnya, yang nanti akan terus-menerus dalam kesedihan ditinggal. Lebih baik melihat dia memangis ketika patah hati, daripada dalam kondisi yang terpuruk begini," guman hati yang kini ikut-ikutan menitikkan airmata.


Keadaan mulai sepi, saat keluarga Adrian mulai kembali ke rumah masing-masing. Hanya Karinlah yang sekarang enggan beranjak dari pemakaman itu, walau sudah beberapa orang mencoba membujuknya.


Nampak rasa sedih dari orangtua angkat juga, saat tidak kuasa menyaksikan anaknya yang sudah larut dalam tangisan.



Bapak Karin sudah memberi aba-aba agar aku bisa mengajak Karin pergi, dengan cara menepuk pelan bahu sambil berlalu pergi. Hanya anggukan kecil kuberikan, sambil menghapus lelehan airmata yang terus saja membasahi pipi. Langkah mulai mendekati Karin, yang masih terpaku duduk tidak mau beranjak pergi.


"Ikhlaskan dia. Doakan dia. Jangan terlalu larut dalam kesedihan ini, bukankah Adrian ingin kamu tetap tersenyum dan bahagia walau tanpa dia disisimu lagi," ucapan yang mencoba menenangkan karin, sambil bahunya terus saja kuelus pelan-pelan.


"Iya, Chris. Aku sangat tahu itu. Tapi kenapa kejadian ini begitu cepat, sementara aku belum sempat membalas cintanya itu?" Penyesalan yang datang diakhir.


"Adrian pasti akan memahami itu. Masalah hati yang kemarin, aku juga sangat memahami ketika kamu sulit menerima itu, saat dialah orang yang sudah menorehkan luka."


"Cukup dengan menjalankan amanah dia yang terakhir, kamu bisa membalas cintanya itu. Jangan bersedih lagi, ada Naya yang harus kamu pikirkan juga, sebab dalam jiwa Adrian bersemayam ada pada Naya," imbuh mencoba menyadarkan Karin.


"Kenapa saat aku ingin mendapatkan perhatiannya. Saat ingin mendapatkan kasih sayang dan cinta, tapi harus terpisah oleh dunia ini. Apakah ini memang takdirku agar tidak bisa bersamanya. Kami selalu terpisah walau takdir terus mempertemukan kami?."


"Betapa sedih dan teriris hati ini. Melihat dia yang ternyata mencintaiku sepenuh hati, namun aku hanya bisa membalas dengan mengacuhkan dan membencinya saja," Karin langsung saja memeluk erat tanah pemakaman basah itu.



"Semua sudah digariskan, maka kamu harus menerima takdir ini. Hanya Tuhanlah yang tahu takdir manusia, jadi kita harus tetap mensyukuri takdir itu, walau dalam keadaan terpuruk sekalipun," Masih berusaha membuka jalan pemikiran Karin.


"Iya, Chris."


"Ayo kita pergi dari sini, hari sudah terlihat kian gelap sekarang," ajakku saat awan mulai berubah menjadi gelap, yang sepertinya akan turun hujan.


Bahu Karin kutarik perlahan-lahan, agar dia mau bangkit tidak memeluk gundukan itu lagi.


"Aku akan pergi dari sini. Maafkan aku tidak bisa menemani kamu lebih lama lagi. Hanya doaku dari jauh yang bisa menemani kamu. Jangan lupakan aku, kak. Hatiku akan tetap bersama kamu, walau sekalipun kita telah terpisah oleh ruang dunia ini," Karin telah berpesan.


Bahu tangannya sudah kupegang, agar dia bisa menopang tubuh dan berdiri kuat. Mulai kutuntun perlahan agar dia mau berjalan. Wajah terus saja menengok kebelakang, yang seakan-akan Karin masih tidak rela meninggalkan area pemakanan ini.


Hati siapa yang tidak pilu, jika orang terdekat kita menghembuskan napas terakhir. Orang yang sehari-hari mendampingi kita tiba-tiba terbujur kaku. Terlebih, kematian adalah sesuatu yang dirahasiakan. Tidak ada seorangpun yang tahu kapan dan di mana seseorang dipanggil oleh Allah SWT. Namun yang pasti, setiap orang ditakdirkan untuk mendatangi tempat kematiannya, berikut dengan cara dan waktu sesuai ketentuan takdir.


Isak tangis tentu akan membuncah. Kadang isak tersebut semakin kuat kala seseorang yang kita cintai meninggal dengan cara yang tragis. Bolehkah kita bersedih hati saat kehilangan orang yang kita cintai? Bolehkah kita terus menerus meratapinya? Mungkin jawabannya adalah tidak.


Banyak sekali kursi yang berjejer sekarang didepan halaman rumah Adrian. Masih banyak saja pelayat yang datang. Tubuh Karin sudah lemah dan aku hanya bisa memapahnya ke dalam rumah duka.


Rasa lelah yang melanda Karin, membuatku harus mengantar ke dalam kamar almarhum, agar bisa sejenak mengistirahatkan hati dan pikiran.


Banyak foto terpajang indah atas diri Adrian, sehingga semua itu seakan-akan tidak bisa melupakan kenangan kami semua saat bersama.


"Tidurlah sebentar. Tenangkan dirimu. Aku tahu kamu begitu sedih dan berat menjalani kedepannya nanti," suruhku yang sudah membenahi selimut untuk Karin sampai sebatas perut.


"Terima kasih, Chris. Kau selalu ada untukku," jawabnya lemah.


"Iya, sama-sama."


"Kita adalah teman, tidak mungkin aku akan membiarkan kamu dalam kesendirian."


"Hmm."


"Ya, sudah. Aku mau kebawah dulu, untuk membantu keluarga Adrian."


"Iya, Chris. Terima kasih sekali lagi."


Senyuman manis namun berat untuk terlakukan, adalah yang tertera dari bibirku sekarang. Dihadapannya aku harus berpura-pura tegar dan kuat, ketika melihat wanita yang aku cinta sedang dalam keadaan drop.


Mungkin hanya akulah disini yang patut jadi penyelamatnya sekarang. Orangtua angkat tidak bisa menenangkan, malah akan semakin membuat Karin lemah saat butuh pelukan kasih sayang mereka.


Ucapan selalu hadir untuknya agar dia lebih kuat, semoga bisa membuka mata hatinya yang sekarang benar-benar dilanda kepiluan.