Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
Ikhlaskan semuanya


Rasanya sungguh bahagia sekali, saat Karin sudah menjauh dari Chris. Tapi tidak tahu apakah ini kesempatan baik untukku ataukah sebaliknya. Karin sepertinya masih menginginkan Chris hadir dalam hidupnya.



"Apakah aku harus gigih lagi mendekati Karin lagi, ya? Tapi bagaimana kalau dia tidak mau! Emm, tapi akan kuusahakan saja sebab siapa tahu berhasil," guman hati yang bingung.


Dezzzt ... dert, gawai sudah bergetar, yang sekarang menampakkan nomor yang tidak dikenal.


Kling, handphone layar sentuh sudah kugeser untuk segera mengangkatnya.


[Hallo, siapa ini?]


[Hallo juga. Bisakah kita bertemu?]


Dari nada suaranya dia adalah Chris.


[Emm, boleh juga. Dimana kita akan bertemu?]


[Aku akan kirimkan alamatnya. Aku harap kamu segera datang, sebab ada hal penting yang ingin kubicarakan sama kamu]


[Ok, aku akan segera kesana. Kirim saja lokasinya]


[Baiklah]


Tut ... tut, gawai sudah terputus.


Kling, sebuah pesan akhirnya sudah masuk, tertuliskan beberapa nomor dan alamat jalan .


Hari ini aku mengambil cuti, jadi bersantai sedikit untuk melewati hari. Awalnya yang bersantai dikasur, sekarang bangkit untuk segera menemui Chris.


Mobil telah melaju ke tempat yang sudah janjikan. Tidak butuh waktu lama untuk sampai. Ketika masuk, terlihat Chris sudah menunggu dengan santai.


"Ada apa, Chris?" sapaku sudah menghampirinya.


"Oh, rupanya kamu sudah datang. Duduklah dulu, nanti kita akan membicarakan hal serius," jawabnya ramah.



"Emm, baiklah."


"Kamu mau minum apa, biar kupesankan," imbuhnya.


"Ok."


"Kamu pasti bertanya-tanya, kenapa mendadak kusuruh datang kesini," Pembukaan pembicaraan Chris.


"Tentu itu. Apakah ini bersangkutan dengan, Karin?" tebakku.


"Betul itu."


"Aku tahu Karin sangat mencintaimu, tapi dia tidak ingin bersamamu melainkan dengan diriku. Kita sebagai sesama pria harus memahami itu, jadi tidak usah memaksakan kehendak siapa yang bakalan akan dipilihnya. Setelah kupikir-pikirkan, mungkin aku terlalu egois ingin memiliki Karin, saat hati dan pikirannya bersama orang lain, walau kami sedang berjalan bersama menikmati kisah kami."


"Dia terlalu sempurna untuk kita cintai. Terlalu baik untuk kita sakiti. Terlalu rapuh untuk kita lepas. Biarkanlah aku atau kamu saja yang cukup tersakiti," jelas Chris sendu.


"Aku tahu, Chris. Maafkan aku!" Hanya inilah yang bisa keluar dari mulutku sekarang.


"Aku mencintainya melebihi apapun termasuk diriku sendiri, tapi takdir sepertinya tidak bisa menyatukan kami. Sekarang kupasrahkan dia padamu. Lindungi dan cintai dia dengan segenap jiwamu. Mungkin dengan bersamamu dia akan bahagia," cakap Chris serak.


"Maafkan aku, Chris. Bukan maksud hatiku untuk menyakiti maupun menjauhkanmu dari Karin. Sungguh, ini diluar dugaanku," tutur isi hati merasa bersalah.


"Iya, aku paham. Mungkin takdir yang sudah diatur oleh Tuhan, memang tidak bisa berpihak padaku. Jaga dia baik-baik, Adrian. Aku hanya bisa berdoa agar kalian tetap bahagia selamanya, tanpa ada yang tersakiti lagi," ucap Chris berusaha tegar.


"Pasti itu, Chris. Dia adalah wanita yang special dalam hidupku, pasti akan kujaga dia dengan baik. Apa kamu beneran akan melepaskan, Karin?" tanyaku masih ragu.


"Iya, Adrian. Lebih baik melihat dia bahagia bersama orang lain, dari pada nanti ujung-ujungnya kami sendirilah yang akan terluka," balasnya yang akhirnya legowo menerima semua kenyataan.


"Terima kasih, Chris. Kamu memang pria sejati, bisa melepaskan wanita yang kamu cinta, padahal didalam hatimu pasti sangatlah sakit," pujiku.


"Terima kasih. Aku begitu tersanjung. Huff, tidak apa-apa, Adrian. Walau ini terasa berat, tapi sebagai pembelajaran saja, kalau orang yang kita cintai belum tentu bisa kita miliki," sautnya berbesar hati.


"Iya, benar itu."


Benar juga apa yang dikatakan Chris. Kita akan bahagia, jika melihat orang yang kita sayang juga bahagia. Kami akhirnya berdamai, walau ada salah satu dari kami yang tersakiti.


Obrolan terus terjadi, sampai kami melupakan yang namanya permusuhan. Yang ada sekarang adalah saling bercanda sebagai seorang lelaki. Ternyata Chris orangnya asyik diajak bicara dan supel pada orang yang baru dikenalnya, patut saja Karin bisa betah berlama-lama dengannya.


Sakit memang susah disembuhkan, tapi jika kita ikhlas untuk melepaskan segalanya, semua akan baik-baik saja bahkan hati bisa berdamai dengan diri sendiri, tanpa ada rasa cemburu maupun balas dendam.


Merelakan adalah jalan utama untuk seseorang kembali bangkit menjalani hidup.


Walau kabut terus saja mengiringi hidup, namun perjuangan untuk mengarungi harus tetap terjalankan, karena kita hanya menumpang hidup didunia fana ini, yang pastinya akan abadi di akherat kelak.