Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
N2=Istriku Yang Hilang>>>Teringat Akan Keguguran


Aku hanya bisa sabar, ikhlas, pasrah, dan terutama tawakal, saat buah hati yang kedua tak bisa hadir ditengah-tengah kami. Sungguh aku tak menyangka kalau dalam rahimku sudah ada benih seorang bayi, kalaupun aku tahu itu pasti diriku akan selalu berhati-hati serta menjaganya. Untung saja mas Adit suami yang pengertian atas kecerobohanku, malah dia selalu support keadaanku, yang kadang ada rasa kesedihan saat kehilangan yang kami tunggu-tunggu.


Pakaian sudah rapi, untuk menjalankan ritualku sehari-hari yaitu mengantarkan makan siang pada suami tercinta. Walau dia orang kaya dan bisa membeli makanan yang dia inginkan, tapi bagiku masakan seorang istri itu lebih afdol untuk dimakan suami, sebab pastinya akan menambah rasa kasih sayang dan cinta dalam membina rumah tangga. Sebenarnya aku tak tahu apakah mas Adit menyukai masakanku apa tidak, yang jelas setiap aku membawakan untuknya dia selalu lahap tanpa ada sisa sedikitpun. Padahal bapak sering kali mencemoohku, masakan yang kurang asinlah, kurang bumbulah, tapi pada kenyataannya mas Adit tak pernah mengomentari masakan yang kubawa, mungkin baginya rasa asin dan tak enak makanan, dapat tertepis dengan rasa cinta dan menghormati penjuangan istrinya yang lelah memasak.


Tok ... tok, pintu telah kuketuk.


"Masuk?" Suara mas Adit menyuruh.


"Nanti bawa semua file-file perjanjian ke dalam ruanganku, karena akan segera menandatanganinya," ucap mas Adit pada pegawainya.


Langkah sudah berjalan mendekati suami, yang tengah sibuk menandatangani kertas yang dibawa pegawainya. Kepala pria pegawainya telah mengganguk, tanda sedang menyapa diriku yang baru datang.


"Saya permisi dulu, Pak, Buk?" pamit pria pegawai Mas Adit.


"Iya," jawab kami kompak.


Setelah pegawai melenggang pergi, kini tangan berusaha meletakkan rantang makanan dimeja kebesaran suami bekerja.



"Tumben-tumbennya belum waktunya makan siang, kamu sudah datang kesini?" tanyanya sambil mengoyang-goyangkan kursi kerjanya ke kiri kanan.


"Makan siang gak perlu tepat waktu, siapa tahu Mas sudah lapar, jadi aku kesini agak awal waktu," jawabku santai.


"Kamu masak apa hari ini?" tanyanya sudah mendekatiku yang tengah berdiri, sambil mengenggam erat tangan.


"Kamu lihat sendiri," suruhku.


Kami berdua sudah berjalan disofa ruang tamu. Tangannya mulai lihai satu persatu membongkar rantang nasi. Terlihat ekspresinya wajahnya sudah kecut seperti tak suka, akibat melihat lauk yang kubawa.


"Ini ngak salah yang kamu bawa?" tanyanya heran atas melihat lauk.


"Enggak," jawabku enteng.


"Ini oseng tempe sama kecambah, ini urap kecambah sama bayam, ini orak-arik telur sama kecambah. Ya ampun sayang, aku bisa keriting seperti kecambah yang sudah kamu masak ini. Apa gak ada lauk lain selain ini? Daging kek atau ayam gitu," keluhnya tak senang.


"Gak ada sih, Mas. Kamu itu tidak usah ngeluh, kenapa! Aku sudah capek-capek masak lho! Jadi hari ini harus dimakan semuanya," jawabku menyuruh.



"Tapi kenapa harus kecambah semua, Ana?" Kebingungan Mas Adit.


"Udah jangan banyak tanya, kooop!" sendok yang berisi nasi dan lauk, sudah kumasukkan cepat kemulutnya yang cerewet.


"Enak sih lauknya, tapi kenapa menu hari ini kecambah semua?" tanya Mas Adit lagi, dengan mulut sibuk mengunyah makanan.


"Gak ada apa-apa sih, Mas! Cuma aku ingin badan Mas sama aku sehat aja," terangku.


"Maksudnya? Bukankah kita sekarang sehat dan baik-baik saja," tanya lagi.


"Memang kita sehat secara fisik, tapi yang kuinginkan sekarang adalah dalam perutku ini, biar kita sehat bisa secepatnya mendapat keturunan yang kedua," penjelasanku.


"Kamu masih belum bisa melupakan kejadian keguguran kemarin?" responnya sudah menatap wajahku lekat-lekat.


"Aku sudah lupa, Mas. Tapi alangkah bahagianya jika Aliya nanti ada temannya, biar kalau mau bermain tidak seorang diri," jawabku bersikap biasa-biasa saja.


"Beneran yang kamu ungkapkan barusan, kamu gak kepikiran yang aneh-aneh 'kan?" tuturnya lembut.


Jarak duduk yang awalnya saling berhadapan, kini dia mulai mendekatiku yang sibuk mau menyendok nasi yang ada dinampan rantang.


"Hhhhh, gak ada, Mas! Aku memang ingin sekali menambah anggota keluarga kita, supaya rumah tak sepi dan selalu ada kegembiraan dan canda tawa anak-anak kita nanti," jawabku yang kini menatap wajah Mas Adit.


"Aku memahami apa yang kamu rasakan, aku juga merasa sedih apa yang sudah terjadi, tapi kesedihanku tak lebih besar seperti yang kamu punya. Kamu jangan berlarut-larut atas kejadian itu, sebab itu akan membuat hatimu kian sedih. Lupakan semua, buang jauh-jauh kejadian itu, sebab tak baik jika kita mengingatnya, karena itu sudah jalan takdir untuk menguji kesabaran kita," ucap mas Adit penuh ketenangan, yang ditambah memeluk erat tubuhku juga.


"Iya, Mas. Cuma aku ada sedikit rasa penyesalan saja terhadap diri sendiri, sebab tidak berhati-hati untuk menjaganya, sehingga kecelakaan yang tidak diinginkan itupun terjadi," responku yang sudah mengalirkan bulir airmata.


"Kamu jangan menyalahkan diri sendiri apalagi takdir, semua sudah diatur oleh Allah sedemikian rupa. Lagian kamu kemarin juga tidak tahu bahwa kamu sedang hamil, jadi tidak perlu sesedih ini. Kamu juga ngak perlu capek-capek memasak seperti apa yang kamu inginkan, jika Allah sudah berkehendak memberi kita amanah, pasti hari yang kamu inginkan itu akan datang juga," Dia berusaha menghibur kesedihan ini.


"Terima kasih, Mas. Aku benar-benar tak tahu apalagi yang harus kuucapkan, selain terima kasih banyak-banyak padamu. Sungguh lelaki seperti kamu patut diacungi jempol, selalu mengerti apa yang ada dalam hatiku."


"Iya, sama-sama, sayang."


"Aku tidak bisa membalas kesetiaan dan kasih sayang dengan harta maupun benda lainnya, yang kubisa hanya cinta dihati saja dapat kuberikan. Kamu jangan marah maupun menjauhiku, disebabkan karena diriku tak seperti wanita diluaran sana, yang selalu anggun dan bisa menyenangkan hati suaminya dengan sebuah kemesraan," ucapku dengan mengelus-elus pelan pipinya yang halus, sudah menampakkan kemenawanan dan ketampanan.


"Aku tak perlu apapun darimu. Aku akan lebih senang jika dirimu yang apa adanya ini, selalu menjadi Ana yang baik hati dan penuh cinta kasih terhadap diriku maupun orang lain. Cintamulah yang kubutuhkan, sebab tanpa hatimu aku takkan dapat menemukan apa itu arti cinta sejati yang sesungguhnya. Seharusnya akulah yang harus berterima kasih, sebab kamu masih mau menerimaku, walau hati kamu dulu sudah teriris oleh sebuah tajamnya luka. Aku tahu cintamu itu lebih besar melebihi apapun, jadi akupun juga akan mencintaimu melebihi apapun yang ada didunia ini," jelasnya yang sudah memeluk tubuhku secara erat.


"Iya Mas, terima kasih."


Pelukan mesra kamipun terus saja bergulir, sampai lupa untuk makan. Kecupan kening yang begitu mesra itupun diberikan.


"Besok aku akan masakkan daging, hari ini maafkan aku karena keegoisan yang tak terkendali, memasakkan semuanya dengan menu kecambah," jelasku tak enak hati.


"Gak pa-pa, Ana. Walau tidak makai daging, kecambah inipun sehat serta enak. Lagian ini sangat bermanfaat untuk menyuburkan," balasnya tersenyum ramah.


Rasanya tak tega juga melihat suami hanya berlauk kecambah, sungguh rasa hati inipun ada beribu penyesalan. Akibat keinginan sesaat yang begitu egois, dimana suami sampai menahan lauk yang tak menyelerakan itu.


"Aku mau ke ruangan Rudi sebentar, ada file penting yang ingin kutanda tangani. Kamu disini dulu, jangan kemana-mana, sebab aku dari tadi nunggu Rudi, tapi file itu sekarang belum juga diantarnya, jadi mau datang keruangannya saja," ungkap Mas Adit ingin berpamitan.


"Iya Mas, ngak pa-pa. Aku akan menunggu kamu disini, sampai urusan Mas sama sekertaris Rudi selesai," jawabku.


"Kamu beneran gak pa-pa 'kan ditinggal sendirian, aku cuma sebentar saja, jangan pergi, oke!" tutur kata yang sepertinya tak tega meninggalkan aku sendirian.


"Iya, pergilah sono. Aman kok!"


"Sipp, awas kalau aku kembali kamu tidak ada."


"Iya. Janji masih disini."


"Ya, sudah aku pergi dulu."


"Oke."